
Hilman mengantarkan Farah ke kontrakannya dengan membawa beberapa kantong cemilan. Setelah pulang dari rumah sakit, mereka mampir ke minimarket terdekat untuk membeli kebutuhan Farah termasuk cemilan.
Farah tidak mau mampir di restoran karena ibu dari bang Hilman sudah membawakan makanan untuknya, ia ingin makan masakan dari calon mertua.
Beberapa kali pintu diketuk namun Dini belum juga keluar. Farah membuka tas nya dan mengambil ponselnya.
"Aku pergi dengan teh Cucu ke bioskop, kami pulang sore hari. Bersenang-senanglah." satu pesan dari Dini untuknya.
"Jangan berbuat m*sum, awas kamu!" ancam Dini. Dan Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Kenapa?" tanya Hilman
Farah memberikan ponselnya agar Hilman membaca pesan dari Dini. Terlihat senyum dari bibir Hilman yang tidak Farah ketahui karena saat ini gadis itu sedang membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum.."
"Walaikumm salam.." Hilman menjawab dari belakang Farah.
Hilman menaruh beberapa plastik belanjaan dan mengikuti Farah ke dalam ruangan kedua.
Farah sedikit kaget karena Hilman mengikutinya, biasanya Hilman akan duduk di ruang pertama tempat ruang tamu yang berisikan televisi dan karpet untuk bersantai.
" Kenapa abang ikut kesini?" tanya Farah, namun Hilman tidak menjawab, dia hanya menarik tangan Farah dengan sedikit kasar sehingga tubuh gadis itu menubruknya.
"Sebentar saja, aku ingin memelukmu seperti ini." Hilman memeluk Farah, mencari ketenangan disana. Farah hanya diam dan membalas pelukan sang kekasih. Sudah lama sekali ia tidak memeluk Hilman seperti ini.
" Aku kangen kamu Far, kangen banget. Ingin rasanya cepat - cepat halal. "
" Aku juga kangen, abang sabar ya tahun ini aku milikmu." Farah tersipu malu, ia benar - benar berharap waktu cepat berlalu dan dia bisa menikah dengan orang yang dicintainya.
" Empuk."
" Isshhh... Abang kok m*sum sih! " Farah langsung mengurai pelukan dari Hilman.
" Aku pria normal, tadi ada yang empuk tapi bukan bantal, hehehe..." kelakar Hilman
Farah tersipu malu, wajahnya berubah merah dengan segera menutup dadanya dengan kedua tangannya, walaupun Farah selalu pakai baju longgar namun Hilman yang notabene pria normal tahu ukuran d*da Farah yang cukup besar.
" Ini masih original, nanti kalau sudah halal akan aku berikan padamu bang."
"Iya, abang tahu. Terima kasih sudah menjaganya untuk abang." ucapnya sembari menyapu bibir Farah dengan tangannya.
__ADS_1
Farah mengerutkan dahi karena Hilman selalu menyapu sudut bibirnya, seolah menginginkan ciuman dari Farah.
"Abang mau apa?" tanya Farah
"Cium sedikit boleh?" Hilman selalu meminta ijin pada Farah jika ingin menciumnya.
Farah menganggukan kepalanya, mengijinkan Hilman untuk menciumnya.
Dengan lembut Hilman mencium bibir Farah, lembut dan menuntut. Menyusuri rongga mulutnya hingga Farah beberapa kali menepuk punggung Hilman agar segera menghentikannya. Farah seolah sesak nafas karena ini pertama kalinya ia mendapat serangan yang begitu menuntut dari Hilman.
" Jangan menahan nafasmu, ambil nafas seperti biasa." lirih Hilman di sela-sela kegiatannya.
Farah dengan cepat menghirup udara hingga terdengar tarikan nafasnya yang cepat.
Hilman menghentikan kegiatannya dan tertawa melihat Farah yang seolah kehabisan nafas. "Kamu itu benar-benar polos, apa ini ciuman pertamamu."
Farah menganggukan kepala." Aku tidak pernah pacaran, kan cuma bang Hilman yang pertama dan terakhir."
Hilman tersenyum bahagia, ia kembali memeluk Farah. "Aku tahu."
"Abang kan sudah beberapa kali pacaran." Farah mengurai pelukannya kembali.
"Ini bibir udah bekas dan berpengalaman kemana-mana, berapa gadis yang sudah mencicipinya." Farah mencubit lembut bibir Hilman dengan tangan nya,sembari mengerucutkan bibirnya sendiri.
Hilman yang hampir berusia tiga puluh tahun sudah pernah tiga kali pacaran dan tentunya berciuman sudah hal yang wajar saat pacaran. Hanya dengan Farah dia tidak berani, ia ingin benar-benar menjaga Farah hingga halal untuknya.
Farah tersipu malu saat mendengar Hilman mengucapkan kata sayang untuknya.
" Ayo makan dulu setelah itu minumlah obat." perintah Hilman. Dengan cepat Farah mengambil piring dan sendok untuk mereka berdua. Hari ini benar-benar quality time bersama Hilman tanpa ada gangguan dari Dini maupun Vania.
" Minggu depan abang bawa contoh undangan nya. " ucapnya di sela-sela makan." Kalau gaun nya kita pesan disini saja agar kamu tidak perlu bolak-balik ke Bogor, cukup abang saja yang kesini."
"Iya bang."
"Ingat! Semakin dekat dengan hari pernikahan maka godaan nya semakin besar, aku tidak mau kamu sakit dan jangan terlalu dekat dengan pria lain."
Farah hanya mengulas senyum, calon suaminya begitu posesif dan cemburuan.
"Jangan tersenyum seperti itu dengan laki-laki manapun, bisa jadi mereka kepincut denganmu dan aku tidak suka."
"Abang apaan sih! Kok banyak sekali peraturan nya. Mana ada pria yang suka denganku yang miskin ini." Farah tergelak tawa.
__ADS_1
"Aku ngomong beneran sayang, kamu harus jaga jarak dengan pria manapun. Dan jangan tebar pesona, senyumanmu hanya untuk abang."
"Ya ampun abang, masa aku harus murung, jutek, ketus kan aneh. Kalau begitu orang pasti berpikiran kalau aku kesambet." Farah terkekeh
" Aku Farah bukan Dini." sambungnya lagi.
"Betul juga ya, kalau kamu jutek jadi aneh rasanya." ucap Hilman
"Bang, boleh aku bertanya?"
"Apa?"
" Saat Antoni cerita tentang Zahira, apa abang tidak merasa iba padanya?"
"Kenapa aku harus iba dengan wanita penghianat itu!" Hilman mengatakannya dengan ketus.
"Dia selingkuh dan memilih pria yang lebih kaya dariku."
"Tapi sekarang aku bersyukur karena aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya."
"Tapi bang, bisa jadi dia begitu karena keadaan. Apa dia sudah menjelaskan apa alasannya?" Farah
"Tidak! Aku tidak butuh penjelasan dari seorang penghianat karena dia pasti akan membela diri."
" Bagaimana jika itu terjadi denganku? Apa abang tidak ingin mendengarkan penjelasan dariku jika aku seperti Zahira."
"Ngomong apa sih kamu! Apa jangan - jangan kamu ingin meninggalkanku juga!" Hilman mengusap bibirnya dengan tisu, ia sudah tidak berselera makan saat Farah membahas mantannya yang dulu.
"Tidak bang, tidak ada pikiran sedikitpun untuk meninggalkanmu,ini hanya perumpamaan." Farah melirik wajah Hilman yang mulai kesal.
"Farah, please jangan membahas lagi masalah Zahira karena aku muak dengan nya."
"Maaf" Farah menyesal karena mengungkit masa lalu Hilman, ia menganggukan kepala dan menurut akan permintaan calon suaminya
"Aku tidak akan membahasnya lagi."
"Apa kamu sudah bilang bapak, dia yang akan menjadi wali kita nanti nya."
"Belum bang, waktunya tidak tepat saat kemarin aku bertemu dengan nya. Mungkin nanti aku akan datang ke kantor ayah, aku tidak mau datang ke rumah itu apalagi bertemu ibu tiriku."
"Terserah kamu saja yang penting kamu harus ijin dengan bapak dan nanti aku juga akan datang lagi bersama keluargaku kesana. Ingat Farah, dia ayahmu dan akan menjadi wali kita restu darinya begitu penting jadi aku harap kamu tidak membencinya."
__ADS_1
"Iya bang." Farah hanya tersenyum kecut, hatinya tidak bisa dibohongi dan saat ini masih enggan untuk bertemu orangtuanya.