Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 192


__ADS_3

Mereka tiba di mall PI tepat di pusat jekardah, tanpa basa basi Inka mengajak Farah ke tempat perlengkapan bayi.


"Ini bagus Far, stroller keluaran terbaru." Inka menunjukan stroller warna hitam kombinasi navy. "


Lagi-lagi Farah ingat suaminya, dia berharap bisa belanja perlengkapan bayi dengan Keken namun sepertinya pria itu sangat sibuk.


" Iya bagus, coba aku lihat harganya." Farah membaca label harga lalu ia melotot, membaca kembali angka nol yang berurutan.


"Du... dua puluh li.. lima juta." Ia terkejut, ternyata memang angka nol ada enam buah yang berurutan di label itu.


"Memangnya kenapa? Emang harga stroller ini segitu." Inka terlihat tenang, tidak terpengaruh dengan harganya.


"Inka, ini pasti salah harga. Memangnya sebagus apa stroller ini kok harganya puluhan juta. Apa rodanya berisi emas murni." Farah memeriksa roda stroller itu.


"Kau itu, malu-maluin. Ini masih murah. Ada juga stroller seharga ratusan juta produk impor dari luar negeri."


"HAH... itu beneran harga ratusan juta?" ia masih tidak percaya


" Sini, aku tunjukan stroller seharga mobil." Inka menggandeng tangan Farah menuju ke ruangan berkaca, mereka masuk ke ruang VVIP, terlihat ada sofa untuk duduk pelanggan hingga mereka tidak perlu memilih sembari berdiri karena karyawan yang akan mengambil barangnya dengan cepat.


Inka menunjukan label harganya.


" Ya ampun, mahal sekali. Apa stroller ini memiliki emas berlian hingga harganya sangat mahal. "


Inka tergelak tawa, istri mas Keken begitu polos tapi Inka menyukainya karena dia apa adanya.


" Ayo mau beli yang ini atau yang tadi?"


" Tidak!! Lebih baik aku beli di toko lain nya. Yang benar saja, harga disini tidak masuk akal. "bisiknya di telinga Inka.


" Ya sudah kalau tidak mau, ayo kita beli beberapa baju untuk calon anakmu. Sebentar lagi kamu melahirkan masa belum ada persiapan. Anakmu cowok apa cewek? "


" Cowok. "


" Oke, serahkan padaku. Kalau urusan belanja dan fashion, Inka ratu nya." Ia membanggakan diri seperti biasa, dengan cepat ia melihat pakaian bayi bahkan dengan terampilnya memasukan barang ke keranjang tanpa melihat harga. sedangkan Farah hanya mengikutinya, lalu tanpa sengaja dia melihat harga baju itu.


" A... apa ini!?! " Farah melihat harga jumper bayi begitu mahal. "Dua juta?!" ia menelan salivanya


"Sudahlah, kau tutup mata saja. Jangan melihat harga, jangan menganggu aku belanja. Urusan harga tidak perlu risau karena mommy Imelda yang membayar ini semua.


" Ta... tapi... "


" Hushhh...berisik!"Inka dengan cepat menutup mulut Farah. Ia kembali memilih dan memasukan perlengkapan bayi ke dalam troli.


" Inka, ini anakku lho kenapa kamu yang belanja dan memilih warna dan model bajunya. "Farah menggerucutkan bibirnya. Ia begitu heran karena tangan Inka begitu lincah memasukan semua keperluan bayi tanpa bertukar pikiran dengan nya.


"Oh iya ya, kenapa aku yang semangat belanja. Ini tangan tidak mau diam, kebiasaan sat set sat set kalau belanja, hehehe ." Jiwa belanja Inka begitu besar, ia tidak menyadari ternyata troli nya hampir penuh.


" Ini terlalu banyak ka bajunya." Farah menghitung sudah dua lusin Inka memasukan pakaian baby newborn ke dalam troli."


"Sudah tidak apa-apa, pumpung gratis dari mommy Imelda. Aku malah ingin membeli itu, itu, itu." Inka menunjuk pada baby walker, tempat tidur anak dan ayunan model terbaru.


"No....!!! itu pasti mahal dan aku ingin belanja dengan Keken, aku ingin dengan nya." Farah berkaca-kaca kembali, entah kenapa begitu merindukan suaminya.


"Baiklah jika itu keinginanmu, tapi kita harus beli yang di troli ini ya, aku malu jika semua barang ini dikembalikan ke tempat nya lagi."

__ADS_1


Farah mengangguk,lalu Inka membayar dengan kartu yang Imelda berikan.


"Inka, itu beneran total belanjaan aku semua?" Farah melotot melihat total belanjaan nya.


"Iyalah, memang kenapa? Segini bagi mommy Imelda tidak ada artinya. Kau tahu, jika bayi ini lahir dengan baik dan selamat maka dia generasi penerus kerajaan bisnis Om Feri dan kau tahu artinya?"


Farah menggelengkan kepala.


"Bayi ini lahir langsung jadi sultan dan kamu ibunya sultan. Kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan, tujuh turunan tidak akan habis tuh kekayaan mommy Imelda."


"Benarkah." Farah memang tahu mommy nya sangat kaya namun ia pun tidak tahu berapa total kekayaan mertuanya,karena yang ia pikirkan hanya bisa bahagia bersama Keken dan putra kecilnya. Tidak ada sedikitpun meminta harta atau belas kasihan dari orangtua Keken.


" Kenapa diam?" tanya Inka saat melihat Farah melamun.


"Tidak apa-apa, aku hanya kangen Keken."


" Ya sudah nanti telepon mas Keken, sekarang kita makan biarkan semua barang ini pengawal yang bawa."


Inka menggandeng tangan Farah agar mengikutinya, ia berjalan dengan sangat pelan. Sangat berbeda karena biasanya Inka berjalan cepat dan berkali-kali helaan nafas panjang terdengar darinya.


" Kau tidak suka denganku?"tanya Farah karena melihat Inka yang berjalan pelan dan beberapa kali menghentakkan kakinya.


" Aku bukan tidak suka denganmu, tapi kamu jalan nya sangat lambat seperti siput jadi aku bosan,kau tahu tanganku sudah gatal ingin belanja ke tempat itu, itu, itu. " Inka menunjuk ke store tas, baju branded dan sepatu. "


" HAH...!! "Farah terbelalak dengan mudahnya Inka menunjuk toko branded sesuai keinginannya." Kau memang gila belanja. "


" Iya, emang aku gila belanja. " Lalu mereka masuk ke toko sepatu. Inka dengan sumringah memilih sepatu kesukaan nya lalu ia membelikan juga untuk Farah.


"Pakai yang ini." Inka menyodorkan sepasang sandal santai untuk Farah. "Nyaman kan?"


"Bungkus yang ini, ini, ini, mbak." pintanya pada karyawan toko.


Farah melolong, Inka benar-benar gila sandal langsung dibungkus tanpa melihat harganya.


"Kau beli empat pasang?" tanya Farah saat melihat sandal dan sepatu pilihan Inka.


"Iya dong, aku beli empat tapi yang sepatu warna putih ini untuk Inha, dia suka sepatu warna putih." Inka selalu mengingat kembaran nya dan membelikan sepatu untuk nya.


"Kau baik juga masih ingat saudara kembarmu saat belanja."


"Tentu saja aku ingat, walaupun Inha judes seperti itu dia juga selalu ingat aku saat dia belanja. Dia memberiku barang walaupun dengan cara yang menyebalkan." Inka mengingat saat Inha membeli baju untuknya, dengan menyebalkan Inha memberikan baju tapi sebelumnya sudah diberi aroma ketek. Inha benar-benar kurang ajar.


" Kalian memang so sweet, aku jadi ingin punya anak kembar. "harap Farah


" Jangan! Lebih baik kau punya anak satu-satu daripada kembar karena tanpa disadari banyak orang yang akan membanding-bandingkan. Kau itu tidak tahu rasanya dibandingkan. " gerutu Inka


" Apalagi saat kecil mereka akan memakai baju yang sama dan itu sangat menyebalkan. Mereka akan membully kita. "


" Pokoknya tidak enak jika anak kembar, kita sering bertengkar walaupun hal-hal kecil. "


" Benarkah, maaf aku tidak tahu. " Farah


" Tidak apa-apa santai saja." Inka kembali masuk dari store satu ke store lainnya hingga Farah merasa lelah.


" Kapan kita makan? aku lapar. "Farah sedikit kelelahan karena Inka tanpa henti berbelanja kesana kemari.

__ADS_1


" Oh ya ampun aku lupa. "Inka menepuk jidatnya." Ayo kita makan,kau mau makan apa? Bagaimana kalau makanan jepang, aku ingin makan itu. "


" Aku tidak mau makan makanan jepang, jadi inget Keken saat sekarat."Farah


" Baiklah, kau mau makan apa? "


" Aku mau pizza. "Farah mengingat saat Keken di rumah ayahnya. Pria itu memesan pizza untuk keluarga dan Farah kangen suasana itu.


" Oke. "


Mereka masuk ke restoran cepat saji dan membeli beberapa makanan pizza dan spaghetti.


" Kita makan di store mama Navysah ya, kau belum pernah lihat kan. Disana sedang live online."


"Memangnya boleh jika aku main dan menganggu disana."


"Tentu saja boleh, ayo kita kesana. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya jualan online. Aku biasa jadi host toko mama."


"Benarkah." Farah menganggukan kepala, ia ingin sekali melihat cara jualan Inka di online shop.


Mereka akhirnya sampai di butik Navysah. Mereka makan bersama dengan karyawan dan tanpa canggung Inka pun duduk bersila sembari memakan pizza. Mereka tergelak tawa sembari menunjukan tingkah lucunya.


"Apa kau senang disini?" tanya Inka karena Farah tiada henti tertawa melihat beberapa karyawan melakukan tingkah konyol.


"Aku senang disini." Tanpa sadar Farah melupakan Keken sejenak, bercanda dengan mereka membuat suasana hatinya senang.


Inka tersenyum, saat di toko baju ia selalu melihat Farah murung. Dan saat itu juga Inka mendapatkan pesan dari Imelda agar membuat Farah senang, karena Keken belum juga ditemukan. Inka berkaca-kaca saat membaca pesan nya.


"Kok kamu sedih, kenapa ka?"


"Aku tidak apa-apa Farah, ini mataku gatal karena debu baju." bohongnya.


"Lima belas menit lagi kita live, kau lihat caraku berjualan ya siapa tahu nanti kau bisa membuka butik atau toko online."


Farah menganggukan kepala.


Dan benar saja, saat Inka live toko begitu banyak penonton, bahkan penjualan nya cukup banyak. Gadis itu pintar sekali dalam berkomunikasi dengan pelanggan, ia bahkan tidak canggung melontarkan candaan hingga membuat penonton banyak memberinya give.


"Gimana, aku hebatkan dalam berjualan. Satu hal yang penting dalam berdagang yaitu jujur dan komunikasi yang baik agar penonton senang dan mereka mau membeli barang kita. "


"Ah, Farah aku lelah sekali. Mulutku dan tenggorokanku kering ingin minum boba."


"Itu hanya alasanmu saja ingin makan dan minum lagi, dasar perut karet!" Farah heran Inka benar-benar kuat makan padahal saat live dia sempat menghindar dari kamera lalu makan pizza lagi dan minum es jus.


"Hihihi, aku memang tukang makan. Kalau tidak ngemil aku bisa stres." ucapnya.


"Inka, apa Inha pernah disini dan menggantikan dirimu live?


" Pernah, tapi penonton nya sepi, penjualan juga sepi


Dia tidak pandai komunikasi dan merayu penonton yang ada mereka diomelin si Inha karena mereka memberi stiker bunga, cinta, kiss dan tanda finger love. Inha gadis yang kaku, tidak bisa dia jualan online seperti ini. "


Farah tergelak tawa membayangkan Inha berjualan online dan bernada ketus seperti biasanya. Aneh juga rasanya.


" Inka, aku ingin pulang. Aku lelah. "Farah

__ADS_1


Inka melihat jam yang melingkar di tangan nya, memang ini sudah sore dan Farah terlihat kelelahan." Baiklah ayo aku antar pulang. " ia kembali menggandeng tangan Farah menuju mobil.


__ADS_2