
Keesokan harinya,
Keken bekerja seperti biasa mengunjungi proyek di daerah Utara dan rapat dengan beberapa investor. Namun sepertinya kali ini ada yang berbeda yakni Keken lebih giat bekerja. Ia selalu mengingat ucapan Farah bahwa dia harus selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan dengan banyak kemudahan.
"Gadis itu membuat diriku lebih sadar bahwa aku harus menghargai waktu." gumam Keken dalam hati.
Setelah semalam merenungi setiap perkataan Farah, kini akhirnya Keken sadar mungkin memang dia harus menyerah dan berusaha melupakan rasa cintanya, Keken bertekad hanya menganggap Farah sebagai teman tidak lebih. Dan itu yang terbaik.
Di jam makan siang Keken sengaja makan di restoran tempat Farah bekerja dan tentu saja dia mendapatkan pelayanan nomer satu di restoran itu. Riri, manager restoran dengan sigap melayani Keken secara langsung. Ia tidak ingin ada kejadian seperti kemarin yang membuat Keken marah dan mengancam akan membuat reputasi restoran itu buruk. Dan tentu saja sesuai permintaan Keken, setiap masakannya harus Farah yang buat.
"Silakan tuan." Riri menyajikan beberapa hidangan pesanan Keken. Terlihat begitu menggoda hingga Keken menelan salivanya.
"Tumis kangkung, ayam bakar, tempe, tahu beserta lalapan,sambal tomat ,ikan gurame bakar dan es kelapa. Semoga anda menyukainya tuan." Riri mengeja satu persatu makanan sembari menatap wajah tampan Keken. Kapan lagi dia bisa melihat pangeran tampan dan kaya secara langsung. Setelah kejadian kemarin Riri sengaja mencari tahu tentang siapa pria yang membuat keributan di restoran tempatnya bekerja. Dan Riri cukup tercengang, ternyata pria yang ada dihadapannya benar-benar Keken Putra Feriansyah seorang anak crazy rich Jekardah. Dan ia sengaja merias dirinya lebih cantik dan berharap pria di depannya terpesona dan bisa menjadi pacarnya.
Sambil menyelam minum air, pikirnya.
"Apa ada lagi yang dibutuhkan?" Riri masih dengan senyum manisnya berharap Keken akan memberi tempat dirinya untuk duduk di kursi sekedar menemaninya makan.
"Tidak ada." jawab Keken tanpa melihat kearah Riri.
"Panggilkan Farah sekarang juga." pinta Keken
"Untuk apa? Jika tuan butuh sesuatu biar saya yang ambilkan."
"Aku butuh Farah, SEKARANG!" Keken menekankan kalimat terakhirnya sembari menatap tajam pada Riri.
"Dia pikir dia siapa, tebar pesona padaku, sok cantik!" gumam Keken dalam hati, ia sesekali melihat Riri yang selalu menatapnya dengan intens. Seperti kebanyakan wanita yang bersikap genit untuk menarik perhatian dirinya.
" Ba.. Baik tuan." Dengan cepat Riri masuk ke pantry dan mencari Farah.
" Farah... Itu si pria sombong ingin bertemu denganmu!" ucap Riri dengan kesal karena tidak berhasil menarik perhatian Keken.
"Tampan sih, tapi ngeselin!" sambung Riri kembali
__ADS_1
Farah hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya, Keken selalu membuatnya repot karyawan di restoran. Dan terkadang beberapa teman kerjanya saling berbisik mengosipkan Farah dengan Keken.
"Pria gila itu kesini lagi heran deh gue Dip,kayaknya tuh cowok naksir lu." bisik Dini, ia sempat melihat Keken mencuri pandang pada sahabatnya beberapa kali.
"Mana mungkin dia suka sama aku Din, imposible. Aku juga tahu diri, aku itu siapa. Cantik kagak, miskin iya." timpal Farah
"Eh, lu jangan insecure gitu yang namanya cinta tidak memandang rupa, tahta dan__"
"Dan sekarang gue harus cepetan keluar nemuin si Keken, keburu ngamuk dia nunggu kelamaan." potong Farah dengan cepat, ia bergegas pergi ke tempat dimana Keken berada.
"Kok lama sih!" Keken cemberut, ia benar-benar tidak suka menunggu.
"Tanggung lagi masak, emang kenapa?" tanya Farah
"Duduk disitu." Keken menunjuk kursi di depan dengan dagunya.
"Kenapa lagi, sih!" dengus Farah dengan kesal. Disaat restoran sedang ramai pengunjung Keken malah ingin mengajaknya mengobrol. " Cepetan ada apa, gue lagi sibuk."
" Mau ngomong apa?" Farah pasrah saja dan duduk manis saat melihat wajah Keken berubah masam. Ia juga tidak ingin utangnya bertambah karena membuat sang pangeran gila itu kesal.
" Aku akan mengenalkan kamu dengan seorang desainer terkenal,bukankah kamu ingin membuat gaun pengantin. dia tante Navysah, tanteku yang paling cantik dan baik hati." ucap Keken dengan bangganya.
Farah mengenyitkan dahinya, mencoba untuk berpikir. Nama desainer itu tidak asing baginya.
" Navysah Adzani itu tantemu, desainer terkenal sekaligus pemilik butik di Mall PI? "tanya Farah, dan Keken hanya menganggukan kepala
" Wah... Luar biasa. Aku ngefans banget sama dia, desainnya bagus banget dan mewah. Aku ingin ketika aku menikah memakai gaun rancangannya. " Farah tersenyum sumringah, membayangkan betapa cantiknya dia jika memakai gaun pengantin dari butik Navysah
"Eh, tunggu dulu. Pasti mahal banget ya harga gaun nya, kira - kira kisaran harga berapa ya Ken. Aku takut uang bang Hilman tidak cukup untuk pernikahan kami."
"Cih! Mau bikin gaun saja masih mikir, memangnya calon suamimu kere, tidak mampu membeli gaun pengantin untukmu." sindir Keken. Sebenarnya Keken sedikit kesal karena wajah Farah begitu bahagia saat mendengar gaun pernikahan, namun Keken mencoba untuk sadar diri, ikhlas bahwa Farah bukan jodohnya.
" Mulutnya nggak pake filter!, Bang Hilman anak orang kaya bukan orang kere"Dengan kesal Farah meremas bibir Keken, ia tidak peduli Keken akan marah padanya, setiap kali ada orang yang menghina calon suaminya Farah akan tersulut emosi dan bertindak tanpa pikir panjang.
__ADS_1
" Wah... kau sudah berani main fisik." ucap Keken, namun hatinya kembali berdetak kencang saat Farah meremas bibirnya. "Ini hati sudah tidak beres, pikirnya.
"Kamu duluan yang menjelekan bang Hilman kan aku jadi kesal!" Farah membuang wajahnya kearah lain.
"Ini tangan kenapa sih beraninya remas bibir si pria gila itu,yang ada kelar hidup gue." gumam Farah dalam hati.
"Mau gue kenalin tidak?" tanya Keken.
"Kalau kamu mau, weekend kita ke rumah tante Navysah. Gue tahu lu suka yang diskonan, lu kere kagak punya duit. Kalau kita ke rumahnya apalagi gue ini ponakan kesayangannya, sudah pasti lu dapat harga diskonan. Makanya lu harus berterima kasih padaku?" Dengan gaya songongnya Keken kembali menghina Farah.
" Ya gue maulah, siapa juga yang menolak diskonan tapi kamu jangan hina aku gitu juga kali. " Farah mengerucutkan bibirnya dan berwajah masam, kesal karena Keken selalu mengejeknya. Namun, wajah Farah malah terlihat sangat imut saat kesal.
" Ya ampun! Lihat Farah begitu saja hati aku berdebar-debar, kacau ini." gumam Keken dalam hati
" Ini bibir belum terbiasa berkata sopan jadi lu terima saja kalau mulut gue sering keceplosan." seru Keken dengan membuang wajahnya kearah lain, mencoba mengatur ritme detak jantungnya.
" Lusa, kamu datang saja ke apartemenku nanti aku antarkan kamu kesana. Ingat jam delapan pagi sudah sampai di tempatku karena kamu juga harus beresin apartemen. Jam sepuluh kita harus sampai rumah tante Navysah, jangan sampai telat, dia tidak suka dengan jam karet. Paham?! " sambung Keken
" Kok bengong?" Keken melihat Farah diam, tidak menjawab.
" Aku bingung, setiap weekend bang Hilman datang menemuiku. Apa aku boleh mengajaknya? "
" Enak saja! Ngapain ngajak dia. Gue kan bilang, gue kenalin lu dulu biar dapat diskonan bukan langsung fitting baju. Urusan fitting nanti di tempat butiknya bukan sekarang. Weekend itu lu speak-speak tante gue dulu, rayu dia biar dapet diskonan gede. "
" Kok masih bengong. "Keken kembali melihat Farah diam tidak menjawab
" Aku sedang berpikir, alasan apa yang harus aku berikan pada bang Hilman. Selama ini aku tidak pernah berbohong padanya. "
" Terserah lu!" ucap Keken sembari menyeka mulutnya. Dia benar-benar kesal, perasaan cemburu masih menghinggapi hatinya,Keken menyelesaikan makan nya dengan cepat. Entah kenapa masakan Farah kali ini terasa tidak enak seperti perasaannya kali ini.
" Gue pergi dulu." Keken berlalu pergi meninggalkan Farah yang masih terdiam di tempatnya.
" Woi!! Bayar dulu, enak aja maen pergi! Masa crazy rich ngutang!" seru Farah sembari menahan tangan Keken dan pria itu hanya meringis, lupa bahwa dirinya belum membayar bill makanan.
__ADS_1