Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 27 ( Impian bersama Hilman)


__ADS_3

Farah dan Hilman berada di rumah sakit, sepanjang perjalanan Hilman selalu menggengam tangan Farah dengan hangat. Perhatian Hilman begitu besar dan inilah salah satu yang membuat Farah luluh dan mau menerima lamarannya.Hilman pria yang baik.


Sejak di rumah Farah selalu merajuk dan tidak ingin pergi ke rumah sakit, namun Hilman dengan sabar membujuk sang kekasih, ia tidak ingin melihat Farah sakit.


" Nona Farah kelelahan, sebaiknya istirahat beberapa hari. Jangan melakukan aktifitas yang terlalu padat karena istirahat juga penting untuk kesehatan." sang dokter perempuan memberikan wejangan dan selembar resep dokter. "Ini resepnya, jangan lupa minum yang teratur."


"Terima kasih dok." ucap mereka bersamaan.


Sembari menunggu obat yang sedang diracik sang apoteker, Farah selalu bersandar di lengan Hilman. Mencari kedamaian dan menghirup aroma parfumnya, "Sedikit menenangkan bisa bersama orang yang dicintai. " ucap Farah dalam hati.


" Setelah ini jangan lupa makan, tadi Ibu bawain makanan untuk kamu. Dia kangen dengan calon menantu tersayang." goda Hilman sembari membelai rambut Farah.


"Ayah juga nitip salam untukmu."


"Walaikumm salam, aku juga kangen mereka bang, sudah lama tidak kesana."


"Kangen aku tidak?!" Hilman mengulum senyum.


"Ih, abang apaan, sih! Bikin aku malu tahu." wajah Farah bersemu merah. Ia begitu bersyukur karena orangtua Hilman begitu baik dan sayang padanya dan pria yang akan menjadi suaminya ini selalu membuat Farah tersenyum bahagia.


"Kata mama, dia ingin segera gendong cucu. Semoga saja setelah kita menikah, kamu bisa segera hamil seperti ibu itu." Hilman menunjuk seorang ibu hamil sedang berjalan di depannya.


Farah yang melihat ibu hamil itu dengan reflek mengelus perutnya sendiri, berharap semoga keinginan Hilman segera dikabulkan setelah mereka menikah.


" Aamiin ya bang, semoga semua rencana kita dipermudah dan dikabulkan Allah." ucap Farah

__ADS_1


"Aamiin."


"Kata mama, kalau kamu hamil pasti bayinya akan secantik kamu jika perempuan dan setampan aku jika laki-laki."


" Rambut kamu indah, mata kamu bagus, kulitmu hitam manis semoga nanti bayi kita berambut dan matanya mirip kamu dan berkulit putih seperti abang, hidungnya seperti abang jangan mirip kamu yang sedikit pesek, hehehe.. "Hilman membayangkan jika mereka menikah dan hidup bahagia memiliki anak dan berharap anaknya seperti dirinya.


" Isshh..., abang ah! Masa aku cuma nyumbang rambut dan mata doang, semuanya milik abang. Biar pesek begini tapi banyak pria yang suka denganku." Farah menggulum senyum saat mengatakannya.


" Kamu milikku tidak ada yang boleh suka sama kamu." jiwa posesif Hilman kembali terlihat, ia merengkuh pinggang Farah. Ia tidak ingin kehilangan Farah.


" Pasti banyak juga yang suka abang kan dikantor? Kenapa abang lebih memilih Farah daripada wanita lainnya yang lebih cantik." Farah begitu penasaran, karena selama dia berhubungan dengan Hilman, ia tidak pernah tahu apa yang membuat Hilman jatuh cinta padanya. Hilman lelaki yang tidak banyak bicara, ia lebih menunjukan rasa sayangnya dengan perbuatan daripada membual.


" Wanita cantik itu banyak, cantik banget malah. Tapi mencari yang bisa membuat kita nyaman itu sulit, mencari yang bisa berbagi disaat susah dan senang itu sangat sulit Farah. Dulu saat aku masih pegawai biasa kamu mau denganku, selalu menyemangatiku walaupun saat itu kita hanya sekedar teman. Aku berusaha keras agar aku bisa bersamamu, aku ingin membahagiakanmu Far. "


" Saat aku tidak sengaja mendengar kisah hidupmu yang dulu dari tante Eri, hatiku langsung bergetar. Kamu begitu kuat dan sabar menghadapi semuanya. Selalu bersikap seolah tidak ada apa-apa, selalu tersenyum walaupun kamu menderita, aku ingin membawamu ke kehidupanku agar tidak ada yang menganggumu dan tidak ada kesedihan lagi yang kamu tutupi. "


" Setelah kita menikah, kita tinggal di Bogor. Aku sudah menyiapkan sebuah rumah kecil untuk kita. Kamu boleh pulang kesini jika kamu kangen dengan adik - adikmu,walaupun ibu tiri dan ayahmu tidak peduli denganmu, kamu jangan sampai durhaka padanya,mereka keluargamu. Sebisa mungkin aku akan melindungimu agar ibu tirimu tidak kasar dan tidak memakimu lagi. Kamu harus bahagia Farah. "


" Aku tidak ingin kamu bekerja lagi, kamu sudah terlalu capek. Aku ingin melihatmu hidup nyaman dan menyambutku saat pulang kerja. Aku ingin kamu mendidik anak kita agar menjadi anak soleh dan soleha, anak yang sekuat dan sebaik kamu. "


" Abang... "lirih Farah, airmatanya mengucur disudut matanya. Ungkapan hati dari Hilman begitu membuat hatinya bergemuruh, pria itu begitu memikirkan kebahagiaan nya.


" Tapi aku malu jika hanya meminta uang darimu. " Farah hanya mampu menundukan kepala, ia sudah terbiasa bekerja keras dan menghidupi dirinya sendiri, jadi jika Farah hanya berpangku tangan, ia merasa malu.


"Kenapa harus malu, setelah menikah kamu istriku, kamu tanggung jawabku jadi tidak perlu malu."

__ADS_1


"Aku juga ingin ada yang menemani mama di rumah. Ibu kesepian saat ayah bekerja, ia juga ingin bermain bersama cucu dan menantunya juga."


Farah kembali bersemu merah, setiap ucapan yang Hilman katakan padanya seolah kebahagiaan berada di depan matanya, sebentar lagi Farah mimpimu akan menjadi kenyataan.


" Terima kasih karena memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu bang, aku bahagia." Farah kembali memeluk erat dan menyembunyikan wajahnya di lengan Hilman.


"Ternyata kamu hobi ngetek di lenganku ya." Hilman terkekeh karena baru tahu sisi lain dari sikap Farah yang manja.


"Abang wangi." Farah kembali menghirup aroma parfum Hilman.


" Wangilah, masa bau dapur. Itu kan kamu." godanya lagi


"Aku kan chef, jadi pastilah bau dapur masa bau oli yang ada aku mekanik bengkel dong, hihihi ..." Farah tersenyum manis, senyuman yang selalu membuat pria terpesona akan dirinya.


Hilman dengan gemas mencubit pipi Farah, hingga sang gadis mengerucutkan bibirnya.


"Jangan seperti itu, bikin aku___" Hilman tidak meneruskan ucapannya, ia membuang wajahnya kearah lain, berusaha agar tidak berpikiran mesum pada tunangannya.


" Bikin aku apa?" tanya Farah penasaran


"Tidak ada, lupakan!"


"Tapi aku penasaran." Farah masih saja bertanya


" Tidak apa-apa." kilah Hilman kembali

__ADS_1


" Nona Farah!" teriak seorang apoteker, akhirnya Hilman merasa lega karena Farah tidak lagi bertanya, ia bergegas mengambil obat seraya mendengarkan sang apoteker menjelaskan tentang rincian obatnya.


__ADS_2