Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 133


__ADS_3

Keken bisa bernafas lega karena ibunya telah pulang ke rumah, ia pun kembali berkutat dengan ponsel dan berkasnya. Dengan serius Keken bekerja membaca file tentang berkas proyek di Utara yang masih belum kelar. Ia ditugaskan Raffa untuk kembali memegang projek di lapangan,bukan sebagai pimpinan.


"Lumayanlah," pikir Keken, gaji dari Raffa bisa menambah saldo tabungan yang akan ia pergunakan untuk persalinan Farah. Walaupun mommy pasti akan membantunya, ia tidak mau terlalu berharap lebih karena Farah menjadi tanggung jawabnya meskipun hubungan pernikahan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Aku harus bekerja keras dan itu cukup melelahkan." gumamnya dalam hati.


Terdengar suara ponsel yang berdering hingga akhirnya Keken menghentikan aktifitasnya, ia melihat satu nama yang dulu pernah menjadi lawan mainnya di ranjang.


" Dimana?"


"Oke."


" Besok jam sembilan di Cafe biasa."


"Oke sayang aku akan menunggumu." Keken menutup ponselnya sembari menggulum senyum. Namun, ia tidak melihat seorang wanita yang kini berdiri dengan membawa secangkir kopi. Farah terdiam saat panggilan telepon Keken berakhir.


"Sayang." gumamnya dalam hati, Farah menerka - nerka siapa yang telah menelepon suaminya di malam hari.


"Aku buatkan kopi." ia menyodorkan minuman di meja Keken.


"Terima kasih." Namun mata Keken masih sibuk dengan berkas yang menumpuk. Tidak ada senyuman di wajahnya apalagi sekedar pertanyaan basa - basi darinya.


"Lagi sibuk apa?" tanya Farah


"Projek di Utara masih berlangsung, aku sedang menangganinya." Keken bahkan masih tidak melihat kearah Farah. Nyeri, itu yang kini dirasakan istrinya. Keken kembali dingin setelah ibunya pulang.


"Jangan lupa diminum kopinya." Farah masih mencoba basa-basi dengan suaminya


"Mmm.."


" Tadi siapa yang telepon?" tanyanya lagi.


Keken menoleh kearah istrinya, "Wina."


" Besok mau ketemuan ya."


"Mmm."


Farah menghela nafasnya, Keken hanya menjawab singkat dan itu membuat Farah sedikit kesal. Ia tidak memiliki bahan pertanyaan lain.


"Terima kasih." ucap Farah


"Untuk apa kamu berterima kasih." Keken melirik istrinya lalu membereskan beberapa kertas yang berceceran lalu memasukkannya ke dalam sebuah map.

__ADS_1


"Karena kamu mau bertahan tinggal disini karena aku, jadi kita tidak pindah ke rumah mommy dan kamu juga minta mommy jagain aku saat persalinan nanti."


"Hahaha..., kamu tidak usah terlalu percaya diri. Aku tinggal disini lebih lama karena masih ada proyek di Utara yang masih harus dikerjakan bukan karena kamu." Keken tergelak tawa


"Dan satu lagi, aku minta mommy jagain kamu saat melahirkan karena belum tentu aku bisa berada di sisimu saat itu, karena sebentar lagi aku harus ke daerah Malang dan Bali. Ada beberapa proyek disana yang harus aku handle, kemungkinan aku tidak akan bertemu denganmu cukup lama jadi aku serahkan semuanya pada mommy. Bukan nya kamu sendiri yang tidak suka jika aku berada di sisimu dan tidak boleh mencampuri urusan masing-masing dan kamu selalu mengingatkan bahwa pernikahan kita hanya satu tahun. Itu kan kemauan kamu sendiri. "Keken masih tergelak tawa saat melihat wajah istrinya yang diam dan malu dengan ucapan nya sendiri. Farah meremas jari tangan nya. Ia begitu bodoh dan terlalu percaya diri kalau Keken melakukan itu semua karena dia. Ia berkaca-kaca. Memang benar ia yang menginginkan semua itu tetapi entah kenapa hatinya terasa sakit dan perih saat Keken menertawakan nya.


Farah beranjak pergi dari ruang tamu. Airmata nya mengalir deras hingga bantalnya terasa lembab. Ia menangis dan menutupi wajahnya dengan selimut. Memalukan.


Keken hanya tersenyum getir, ia terpaksa melukai hati istrinya agar dia tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak baik. Ia sebenarnya tidak bisa marah dengan Farah, rasa cintanya terlalu besar hingga rasa amarah itu menguap begitu saja namun ia ingin tahu, apakah Farah memiliki perasaan yang sama dengan nya atau tidak. Atau bisa jadi gadis itu masih berharap dengan mantan tunangan nya lagi.


* **


Mata Farah terlihat sembab setelah semalaman menangis, namun Keken hanya melirik istrinya seolah tidak peduli. Ia masih menggunakan mode diam. Tidak ingin ambil pusing, Keken berangkat bekerja tanpa pamit dan hanya berlalu begitu saja.


Tidak ada ciuman kening atau sekedar mengelus perut Farah, pria itu hanya pergi setelah mengucapkan salam. Seperti orang asing dalam satu rumah.


"Keken, si*lan!!!" umpat Farah dengan berteriak, ia sangat kesal karena Keken tidak menyapanya terlebih dahulu, tidak ada senyuman lagi dari Keken yang selalu ia tunjukkan. Keken benar-benar berubah tidak memperhatikan nya lagi.


Dini masuk ke dalam rumah Farah karena mendengar gadis itu berteriak, ia cukup terkejut karena rumah kontrakan Farah kini berantakan. Biasanya Farah akan membersihkan rumah dengan cepat karena gadis itu tidak suka menunda pekerjaan namun kali ini beda.


"Farah, kau baik-baik saja?" ia melihat Farah menangis dan kusut,tidak seperti hari sebelumnya.


" Apa perutmu sakit?" Dini kembali bertanya sembari mengelus perut Farah dengan lembut namun sang bayi tidak mau berdenyut, sangat berbeda jika Keken berada di sisinya. Si calon anak akan berdenyut berulang kali.


Farah menggelengkan kepala. " Aku sedang kesal dengan diriku sendiri, huhuhu..." Farah menangis sembari memeluk Dini.


"Aku kesal dengan diriku sendiri, Din!" teriak Farah lagi.


"Kamu tenanglah, duduk lalu ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"


Farah bercerita sembari sesekali menyusut air hidungnya. Ia benar-benar menceritakan masalah rumah tangganya pada Dini, yang menurutnya bisa dipercaya.


"Kamu yang salah!" satu kata yang keluar dari mulut Dini.


"Sudahlah jangan menangis terus, coba kita tanya Khaffi, siapa itu Wina." bujuk Dini sembari ia menyisir rambut Farah yang terlihat kusut.


"Potong rambut gih! Rambutnya udah mulai bercabang dan tidak teratur. Di salon Resti aja yang murah meringis, potong rambut sebahu gitu."


"Murah meriah bukan murah meringis Din." Farah membenarkan kalimat Dini yang salah.


" Eh, lu salah Farah. Makanya lu coba deh ke salon teh Resti. Setiap pelanggan dia minta potong rambut model A ntar hasilnya jadi B, lalu dia cuma minta maaf sembari meringis doang. Rambut mah kagak bakal nyatu lagi orang udah dipotong."


"Jadi dia tukang salon amatiran." sahut Farah

__ADS_1


"Tidak juga sih, cuma orangnya rada koslet aja, suka-suka dia kalau potong rambut tergantung mood nya, hehehe." Dini tergelak tawa, beberapa kali ia potong rambut disana hasilnya cukup memuaskan sedangkan teh Cucu pernah sekali potong rambut disana hasilnya jelek.


"Nggak ah Din, nanti kayak dora. Mana aku lagi hamil, bengkak begini badan nya."


" Tidak! Kamu pasti cantik apalagi rambutnya sudah hitam. Tidak perlu di cat warna - warni kayak tembok anak playground, gini aja udah bagus biar Keken tambah hiya.. hiya..." Kelakar Dini


" Huh stress.... "Setelah menceritakan masalah nya pada Dini, Farah merasa lega karena ada teman yang bisa diajak untuk bercerita.


Dengan cepat Dini menekan tombol dan tersambung dengan ponsel Khaffi.


" Apaan?! " tanya Khaffi di ujung telepon


" Ada Keken tidak? "


" Woi! Lu kira gue baby sitter nya si Modosa, kagak ada dia dimari."


"Oh,


Lu kenal Wina tidak?" tanya Dini lagi


"Wina?" Khaffi mengerutkan keningnya, " Emang kenapa dengan wina?"


" Keken semalam menerima telepon dari Wina, pakai acara sayang - sayangan segala."


" Oh, itu sudah biasa. Wina itu temen main Keken."


" Cuma temen?" tanya Farah lagi, ia merebut ponsel Dini karena begitu penasaran.


"Aku bilang dia temen MAIN Keken." ucap Khaffi dengan menekankan kata terakhir.


"Maksudnya?" Farah masih tidak mengerti ucapan Khaffi


"Oh ya ampun!" dengus Khaffi dengan kesal. " Dia wanita yang selalu menghangatkan malam Keken, selir malam Keken!"


"Hah....!!" Farah DAN Dini terkesiap dan saling memandang.


" Ternyata mereka teman duet koplo versi ranjang." ucap Dini


Farah segera mematikan ponselnya, ia meremas jari tangan nya kembali. " Teman main di ranjang." lirihnya


"Jangan berpikiran macam-macam." Dini mencoba berpikiran positif, ia tidak ingin sahabatnya berpikir negatif tentang Keken.


"Keken hanya ada keperluan dengan dia, paling cuma ngobrol." sambung Dini lagi.

__ADS_1


"Tapi Din, kata Khaffi dia___" ucapan Farah terpotong saat mendengar suara ketukan pintu, entah siapa tamu yang datang hari ini.


__ADS_2