
Keken begitu kecewa saat mendengar penjelasan dokter bahwa Istrinya kelelahan hingga membuatnya hampir keguguran jika saja tidak ditangani dengan segera.
"Kandungan nyonya Farah lemah pak, mohon jaga kesehatannya."
" Seminggu ini harus istirahat total tidak boleh banyak pikiran."
"Saya sudah memberinya vitamin dan obat penguat janin. Keadaan nyonya Farah sudah mulai membaik."
Kalimat itu yang selalu terniang di telinga Keken hingga membuatnya sedikit emosi dengan sikap istrinya yang keras kepala.
"Merilis restoran baru, apa itu!" geramnya. Ia sudah menduga istrinya beberapa kali pergi keluar karena ada projek yang akan dilakukannya.
Keken hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berucap syukur karena calon anaknya masih bisa diselamatkan, jika tidak ia pasti akan murka pada istrinya.
"Aku harus melakukan sesuatu."
* **
Farah terbangun, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore, ternyata ia tertidur cukup lama namun tidak mendapati siapapun. Ruangan itu berdinding putih dan hanya ada satu tempat tidur. Ia berada di ruangan VIP. pikirnya.
"Keken dimana?" satu kalimat yang keluar dari mulutnya adalah suaminya. Ia meraba perutnya dan masih bisa merasakan perutnya yang membesar dan denyut jantung calon bayinya.
"Alhamdulillah dia selamat, ibu merasa bersalah padamu Nak.Ibu egois dan selalu mementingkan diri sendiri. Mulai sekarang ibu akan memprioritaskan kamu, ibu akan nurut dengan perkataan ayahmu." Farah masih membelai perutnya dengan lembut.
"Keken..." Farah mendengar suara pintu terbuka dan yakin itu pasti Keken namun ternyata ia melihat seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah mansion mommy Imelda.
"Maaf nona, saya disuruh Den Keken untuk menjaga anda." ia menghampiri Farah dan menata beberapa pakaian dan makanan ke dalan lemari kecil.
"Keken dimana?"
"Den Keken pergi, ada urusan penting."
"Mommy?"
"Nyonya Imelda dan tuan Feri sedang pergi ke Solo untuk mengurus bisnis." jawabnya
"Kapan Keken pulang bu." Farah merasa risau karena belum bertemu Keken, ia ingin meminta maaf atas kejadian ini.
"Tidak tahu non, bibi hanya diminta untuk mengurus nona."
Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tahu Keken pasti marah dan kecewa dengannya karena tidak sekalipun ia menurut dengan suaminya.
Lama Farah menunggu suaminya hingga tertidur pulas dan Keken hanya bisa menemuinya di tengah malam.
__ADS_1
"Den,nona Farah menunggumu sejak sore hari. Ia selalu bertanya tentang aden."
"Terima kasih bi, sudah menjaga Farah." ucapnya dengan tulus. Dan bibi merasa terharu karena anak majikannya banyak berubah, bahkan ia tanpa ragu mengucapkan terima kasih.
"Kenapa bibi berkaca-kaca, bibi ada masalah?" Keken melihat bibi itu seolah ingin menangis.
"Bibi senang aden banyak berubah setelah menikah, dulu aden selalu berteriak dan gampang emosi bahkan tidak pernah meminta maaf ataupun mengucapkan terima kasih. Sekarang aden akan menjadi seorang ayah, bibi ikut senang." ucapnya, ia yang sudah puluhan tahun bekerja di mansion Imelda dan merawat Keken sangat tahu prilaku pria itu. Sejak kecil Keken selalu ingin menang sendiri dan tidak mau disalahkan.
" Terima kasih karena bibi sudah merawatku dari kecil dan lihat sebentar lagi bibi akan memiliki cucu, anakku lelaki bi." Keken menggenggam tangan bibi yang telah merawatnya.
" Bibi do'akan aden selalu bahagia bersama keluarga kecilnya."
" Aamiin." Lalu Keken mendekat kearah istrinya, mencium kening dan mengelus calon anaknya dengan lembut. Semarah apapun Keken pada Farah ia tidak sanggup untuk jauh darinya, namun hatinya terlalu sakit karena Farah tidak pernah sekalipun menuruti perkataan nya bahkan wanita itu belum bisa mencintainya. Ia harus bisa tegas dan mengambil sikap agar Farah tidak berbuat sesuka hati. Sudah cukup kesabarannya untuk menghadapi Farah, si keras kepala. Ia pria yang memiliki harga diri dan tidak ingin melanjutkan hubungan yang terpaksa ini. Keken menyerah.
" Terimakasih karena kamu mau bertahan untuk ayah, sehat - sehat disana. Ayah akan menemuimu saat kamu lahir." Keken mencium perut istrinya untuk yang terakhir kali. Ia bahkan berkaca-kaca menahan airmatanya dan bibi bisa melihat kesedihan itu. Den Keken sangat mencintai istrinya.
"Den..., jangan begini kasihan non Farah." ucapnya
"Aku sudah memikirkannya dengan baik bi, biarkan Farah menentukan cintanya sendiri. Biarkan dia bahagia, yang terpenting anak ini milikku." Keken menatap nanar, ia sudah bertekad untuk menghindari istrinya untuk sementara waktu.
"Den..." Bibi terisak saat melihat Keken begitu rapuh.
"Aku pergi dulu, jangan bilang Farah kalau aku kesini." Keken memeluk asisten rumah tangga yang ia anggap seperti ibunya sendiri dan pergi dari ruangan itu.
Farah masih saja menanyakan keberadaan Keken, dimana pria itu berada. Saat ia ingin menelepon nya, ia kehilangan ponselnya.
" Bibi tahu dimana ponselku? Aku ingin menelepon Keken."
"Saya tidak tahu non." jawabnya
"Apa Keken tadi malam kesini bi, aku bermimpi bertemu dengannya."
"Tidak Non."
Farah hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya, semalam ia merasakan kehadiran Keken dan mencium aroma khas suaminya. " Aku kira dia datang ternyata hanya mimpi."
" Keken, dimana sih!? Aku ingin bertemu dengannya. Aku__" Ia menghentikan ucapanya. Hatinya merasa kehilangan sosok Keken yang ceria dan selalu membuat dirinya kesal.
"Aku sedang hamil anaknya dan kini di rumah sakit tetapi dia tidak peduli denganku, huhuhu..." Ia menangis karena hari mulai malam dan Keken tidak menampakkan diri.
"Jangan menangis non, den Keken sedang sibuk bekerja nanti juga aden kemari." bohong si bibi.
"Sesibuk apakah dia hingga tidak menemuiku!" Farah kian terisak, ia benar-benar merindukan Keken. Sudah beberapa hari dia di rumah sakit namun suaminya tidak menampakkan diri.
__ADS_1
Dan pintu pun terbuka, Farah berharap itu Keken yang datang.
"Ken...." Namun bukan suaminya yang datang. Wajahnya terlihat kecewa lagi. Dini, Vania dan Chef Ardi lah yang datang.
"Ternyata kalian." Farah menghela nafas panjangnya
"Kau tidak suka kami yang datang, memangnya kamu mengharapkan siapa?" tanya Vania
"Keken belum menemuiku sejak aku masuk ke rumah sakit, aku tahu pasti dia marah padaku." Farah
Dini merasa sedih melihat tatapan Farah yang kosong, ia tidak tega melihat temannya bersedih seperti ini namun kemarin Keken sudah menjelaskan duduk perkaranya dan ingin mengambil sikap,ia meminta Dini untuk menjaga Farah.
" Dini, kau punya nomor ponsel Keken kan, aku ingin menelepon nya." pinta Farah. Namun gadis itu terdiam hingga Farah menepuk bahunya.
"Dini, kau dengar aku tidak!" Farah melihat Dini melamun.
"Eh, iya ada apa."
"Mana ponselmu." Farah menadahkan tangannya dengan cepat dan menelepon suaminya. Berkali-kali ia menelepon namun tidak diangkat Keken. Ia pun menghubungi nomor ponselnya nun tidak aktif.
"Keken kemana sih!" Farah begitu frustasi, ia hampir saja membanting ponsel dini tanpa sadar namun Vania merebut ponsel itu.
"Jangan dibanting, si pelit tidak akan mampu lagi membeli ponsel keluaran terbaru." ejeknya
"Iya kali ini kau benar Vanila, aku memang harus berhemat dan tidak mampu membeli ponsel baru." Ia merebut ponselnya.
"Aku ingin telepon mommy Imelda." Farah
"Aku tidak punya nomor ponselnya." Dini
"Bi, kau pasti punya nomor ponsel mommy kan. aku ingin menghubunginya." pintanya dengan wajah memelas
"Maaf nona, saya lupa nomer ponsel nyonya besar dan saya tidak membawa ponsel juga." ucapnya. Keken memang sengaja meminta bibi tidak membawa ponsel karena ia tahu pasti Farah akan memintanya untuk menelepon. Sedangkan bibi hanya bisa berkomunikasi lewat ponsel suster yang ia pinjam.
" Dini.... aku harus bagaimana, huhuhu... " Pikirannya kian kalut karena Keken sama sekali tidak menghubunginya.
" Kamu tenanglah, aku akan disini menjagamu dan pria itu pasti datang esok hari."
"Aku tidak bisa tidur tanpa aromanya." Farah menyeka airmatanya, ia sudah tidak peduli jika kedua sahabatnya mengolok-olok dirinya.
" Aku sudah membawa parfum Keken, kau tidurlah.Aku akan menjagamu." Ia menyemprotkan sedikit parfum di lengan baju Farah.
Saat Keken meneleponnya, ia mengingatkan Dini untuk membawa parfum agar Farah tidur dengan pulas.
__ADS_1
Dan benar saja gadis itu mengantuk dan tertidur dengan cepat.