
Mereka sampai di kontrakan Farah pukul sepuluh malam, sepanjang perjalanan tadi Farah berbuat ulah. Dia mampir ke minimarket dan membeli beberapa makanan lagi, bukan hanya itu. Farah membeli es cream dan duduk di depan minimarket dengan santai nya hingga membuat Khaffi geram.
"Hari ini seru ya, kapan - kapan kita jalan lagi."Farah tersenyum sumringah
" Tidak!!! "Kali ini Dini dan Khaffi kompak kembali.
" Memangnya kenapa sih, kalian tidak suka jalan denganku? "
" Tidak!! " Keduanya menjawab secara bersamaan lagi.
" Wow.. Wow.. Wow.. kalian memang kompak, mungkin saja jodoh. " Farah cengengesan
" Amit... amit!" Khaffi melirik Dini yang menurutnya tidak menarik sama sekali. Gadis biasa yang tidak cantik, judes, ketus. Big No, batin nya.
" Ogah! " Dini pun tak mau kalah, menatap pria itu dengan tajam. Pria songong, pelit, menyebalkan. Big No, batin nya.
"Kamu itu banyak mau nya, capek aku duduk di depan minimarket. Mana banyak nyamuk dan perutku masih mual!" gerutu Khaffi
"Benar, aku juga malas kalau cuma nongkrong di minimarket. Ngapain coba!" sahut Dini
"Aku sedang mengenang dulu saat bersama Keken, saat di minimarket dan banyak wanita yang meliriknya." Farah tersenyum saat mengingat suaminya.
"Dia bukan pahlawan jadi tidak usah dikenang, yang terpenting sekarang doakan dia agar semua tugasnya selesai dengan cepat dan bisa pulang kesini." Khaffi
"Benar kata dia, jangan terlalu dipikirkan nanti kamu kangen dia, aku yang repot." Dini
Farah menganggukan kepala lalu melirik wajah Khaffi yang masih terlihat pucat. "Kau sakit?"
"Hanya mual dan sedikit pusing."
Mereka berjalan hingga sampai di rumah Farah.
"Duduklah sebentar, aku buatkan teh hangat."
Farah masuk ke dalam dapur lalu membuat segelas teh.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan dompetku." Khaffi melirik Dini yang sedang mengganti chanel televisi. Dan gadis itu menatap sekilas padanya.
" Mm..." Dini kembali mencari chanel kesukaan nya namun hanya ada film sinetron.
"Ah, tidak seru. Coba ada Vania." gumamnya dengan lirih. Ia kangen saat bertiga bisa menonton film lewat video.
Khaffi melirik gadis itu kembali namun tidak direspon lalu Dini malah pergi keluar rumah, entah kemana.
"Minumlah, nanti aku belikan obat." Farah
Khaffi menyesap teh itu dan terasa nikmat.
__ADS_1
" Tubuhku sepertinya meriang, masuk angin Far. Aku pulang dulu ya."
Namun belum sempat Farah menjawab Dini kembali masuk ke dalam rumah dan memberikan beberapa merk obat.
" Minumlah obat itu, ada obat cair untuk masuk angin, obat mual dan sakit kepala." Dini
"Bagaimana kamu tahu kalau Khaffi masuk angin?" tanya Farah.
" Dia tidak terbiasa kena angin malam dan dulu aku juga pernah seperti itu saat emak jualan di malam hari, jadi aku tahu tanpa dia bicara." Dini
Khaffi kembali menatap Dini lalu pria itu meminum obatnya." Ini beneran obat kan, bukan racun?"
"Ya sudah jangan diminum." Dini mendekat lalu ingin mengambil obat itu, kesal karena dituduh memberinya racun.
"Aku hanya bercanda, kenapa kamu serius." Khaffi merebut kembali obat itu dan meminumnya.
"Din, coba punggung Khaffi dikerik pakai minyak kayu putih agar dia sedikit membaik." Farah
"Kamu saja sana!" ketusnya
" Tidak bisa, kalau Keken tahu aku pasti dimarahi karena menyentuh tubuh Khaffi."
"Dan aku pasti akan dinikahkan sama pria itu jika emak tahu diriku menyentuh seorang pria walaupun hanya punggungnya." Dini.
Emaknya sangat keras mendidik dan tidak mengijinkan Dini berbuat me sum apalagi menyentuh tubuh pria sembarangan.
"Whatt!! Kamu bilang apa?" Khaffi menatap tak percaya. "Cuma ngegosok punggung saja bisa dinikahkan. Oh my God, emakmu sangat kuno. Ini zaman milenial, yang ciuman dan berhubungan suami istri itu sudah biasa dan mereka tidak menikah alias kumpul kebo. Bagaimana bisa emakmu berpikiran aneh seperti itu, ajaib!!" Khaffi
"Memangnya kenapa kalau emak ku kuno, dia memang kuno tapi selalu menjaga anaknya dengan baik. Jika kamu berprinsip berhubungan suami istri itu biasa bagimu ya terserah tapi jangan sekali-kali mengejek prinsip emakku kuno karena yang dia lakukan itu demi menjaga harkat dan martabat keluarga,agar anak-anaknya selamat dari pergaulan bebas! " Dini menahan rasa amarahnya, nafasnya naik turun saat mengatakan nya. Khaffi benar-benar membuatnya kesal sampai ubun - ubun. Matanya pun berkaca-kaca ingin menangis.
" Aku memang suka menonton adegan panas tapi aku tidak pernah melakukan nya dengan pria manapun dan jika Farah meminta aku menggosok punggungmu, itu pun akan ku tolak mentah-mentah. Prinsip keluargaku memang kuno jadi jangan pernah menyamaratakan prinsipmu dengan prinsip orang lain. " Ia meninggalkan kontrakan Farah daripada harus berdebat dengan pria itu lagi.
" Kamu si, kan Dini jadi pundung gitu. "Kini giliran Farah yang kesal pada Khaffi.
" Sudahlah aku pulang saja, disini tambah pusing. " Khaffi merasa bersalah karena tidak sadar mengejek prinsip ibu Dini namun ia gengsi untuk meminta maaf.
* **
Seminggu kemudian,
Khaffi masih dihantui rasa bersalah karena ucapan nya sudah menghina keluarga Dini. Ia dengan sengaja pergi ke kontrakan Farah dengan membawa beberapa makanan.
"Ini semua buat aku." Farah terkejut Khaffi membawa empat plastik cemilan untuknya.
"Iya dari Keken, yang satu plastik untuk si judes." ucapnya
"Tapi Keken tidak bilang ya saat telepon tadi."
__ADS_1
"Mungkin dia lupa." Padahal Khaffi yang sengaja membawa makanan untuk Farah dan Dini juga sebagai permintaan maaf pada gadis itu.
"Duduk nya di depan saja, takut ada fitnah." Farah menyuruh Khaffi duduk di teras depan rumah karena saat ini mereka hanya berdua.
"Kau cari siapa?" Farah datang dari dapur membawa segelas kopi namun saat di teras ia melihat Khaffi melirik kearah kontrakan Dini.
"Si judes kemana?"
"Oh Dini, dia masuk kerja setelah itu kuliah malam. Biasanya baru pulang jam sepuluh malam."
Khaffi melirik jam tangannya dan ini sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tiga jam masih lama.
"Memangnya dia kuliah dimana? Ambil jurusan apa?"
"Di universitas U, tak jauh dari sini. Dia ambil bisnis manajemen."
"Oh."
"Kenapa? Kau ingin bicara dengan nya."
"Tidak!"
"Biasanya Dini lewat jalan tikus, jalan yang pernah kita lewati dulu karena lebih cepat jika lewat situ." Farah yang polos tanpa sadar memberi tahu dimana Dini biasa lewat.
"Oh."
"Keken gimana kabarnya?"
"Dia baik, kamu gimana sih, katanya bawa cemilan perintah dari Keken tapi tidak tahu kabar dia." Farah mulai curiga dengan kedatangan pria ini.
"Mungkin saja dia ingin bertemu Dini." gumamnya dalam hati.
"****!!" gumam Khaffi dalam hati, lupa bahwa dirinya belum menelepon Keken. Kebohongan nya hampir ketahuan Farah.
Mereka mengobrol hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Aku pulang dulu." Pamitnya
"Kau tidak nungguin Dini, mana tahu ada yang akan dibicarakan."
"Buat apa nungguin si judes, aku kesini karena anterin pesanan Keken bukan untuk bertemu dengan nya." Khaffi pura-pura tidak peduli padahal hari ini ia sengaja datang untuk meminta maaf pada Dini atas kesalahan nya. Wanita itu tidak pernah membalas sekalipun pesan dan permintaan maaf dari Khaffi hingga akhirnya dia dihantui rasa bersalah.
" Ya sudah hati - hati jangan pulang terlalu malam karena banyak begal. Aku pun sebenarnya khawatir dengan Dini, dia perempuan dan selalu pulang tengah malam."
"Tidak perlu khawatir, dia wanita kuat. Setan aja tidak berani sama dia." Khaffi
"Ishhh.. kau itu, bukan setan yang ditakuti tapi orang jahat. Sekarang sedang marak kejahatan jalanan, begal, pemerk*saan, tawuran malam, ngeri banget apalagi Dini perempuan."
__ADS_1
Khaffi hanya terdiam lalu pamit kembali pada Farah.