
Malang
Di kota ini Keken memulai aktifitas barunya. Dua bulan waktu yang Imelda berikan untuk mengurus beberapa proyek di Malang. Dan jika dihitung dengan kalender maka saat ia pulang ke Jakarta, maka saat itu pula Farah sudah menikah dan berganti status menjadi istri Hilman. Keken hanya bisa tersenyum getir.
Pekerjaan yang mommy berikan begitu menumpuk hingga Keken tidak punya waktu banyak untuk sekedar liburan apalagi bermain di club malam. Skandal kasus korupsi yang terjadi di perusahaan cabang Malang membuat beberapa orang dipecat secara tidak hormat dan salah satu diantara mereka menerima hukuman penjara. Dampak dari semua ini adalah keuangan yang tidak stabil dan beberapa proyek terbengkalai. Investor mundur secara bersamaan karena perusahaan dalam keadaan tidak sehat.
Keken semakin larut dengan dunia kerjanya,tak pernah terbayangkan ia bekerja sekeras ini untuk membangun bisnisnya kembali. Dan setelah kejadian bersama Farah, ia begitu menyesali perbuatan nya dan dia berjanji tidak akan bermain dengan wanita malam lagi.
Saat libur, ia pernah pergi ke tempat wisata di Malang namun Keken tidak bersemangat hingga akhirnya ia kembali lagi ke apartemen, bayang-bayang Farah seolah mengikuti nya. Rasa bersalah nya kian membesar namun ia tidak bisa melakukan apapun karena gadis itu memutuskan komunikasi dengan nya.
Sesekali ia menelepon Fafa dan Khaffi untuk bertanya kabar namun kedua sahabatnya tidak sedikitpun membahas tentang gadis itu, Keken merasa ada yang tidak beres karena mereka kompak dan diam saat Keken bertanya tentang Farah.
Keken merasa frustasi dan dengan cara berolahraga dia merasa lebih baik, pikiran nya lebih tenang mulai dan emosi nya terbilang stabil.
Ia hanya bisa melihat fotonya bersama Farah saat di minimarket. Keken yang memfoto Farah secara diam-diam dan menjadikannya walpaper di handphonenya.
"Aku merindukanmu..." Keken selalu mengusap foto Farah disaat rindu. Sejak Keken di Malang tidak ada satu kabarpun tentang Farah. Semua komunikasi seolah tertutup rapat. Hilang tanpa jejak.
Sulit, tentu saja. Sekeras apapun Keken melupakan gadis itu nyatanya hati tak bisa berbohong. Keken masih berharap ia bisa bertemu dengan Farah lagi.
Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa Keken sudah satu bulan lebih tinggal di kota itu dan kali ini ia turun ke lapangan, mengecek proyek apartemen masih berjalan dan hampir tujuh puluh persen bangunan kokoh itu berdiri menjulang tinggi. Terlihat beberapa pekerja proyek masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Pak Keken, tolong pakai helm pengaman. Disini cukup rawan kecelakaan pak." ucap salah seorang mandor
"Nanti rambutku rusak, aku malas sekali pakai helm pengaman." Keken yang selalu menata rambutnya kini merasa keberatan saat diminta untuk memakai helm proyek.
"Ini demi keselamatan bapak, ini wajib dipakai pak." Mandor itu terus meminta Keken untuk memakai alat pengaman. ia masih berkeras memberikan helm pada Keken.
"Dasar cerewet!" gerutu Keken. Mau tak mau ia memakai helm itu agar sang mandor tidak berisik lagi.
Beberapa hari ini Keken merasa mual dan pusing hingga mengganggu aktifitasnya. Dan benar saja saat rasa mual itu kembali, Keken meminta ijin untuk menepi sebentar. Ia berdiri di sekitar gedung yang sedang dibangun.
"Hoek... Hoek..." Ia memuntahkan isi perutnya namun tidak terlihat muntahan apapun yang keluar dari isi perutnya.
"Apa-apaan sih ini!! Apa aku masuk angin karena kelamaan berendam tadi malam atau karena salah makan." ujarnya, ia mengingat - ingat kejadian semalam dan apa penyebab dirinya pusing dan mual namun nihil, ia sama sekali tidak menemukan jawaban karena semalam ia berendam dalam waktu yang wajar dan makan steak premium yang menurutnya aman.
Keken hilang fokus, ia masih memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Bapak baik-baik saja?" tanya mandor kontraktor itu. "Apa saya perlu menelepon dokter, bapak sedikit pucat."
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Bapak yakin?"
"Iya, kamu pergilah cek semua pekerja. Dalam satu tahun ini apartemen harus segera selesai , aku tidak mau menunggu lagi. Dalam bulan ini akan ada orang kepercayaan mommy Imelda yang akan mengawasi semua kegiatan di lapangan."
"Baik pak, saya permisi dulu."
Dan dalam waktu lima menit kejadian tak terduga menimpa Keken.
"Brugh...!!!" beberapa batu bata terjatuh dari ketinggian dan menimpa kepala dan tubuh keken hingga pria itu terhuyung karena pusing bahkan helm yang ia kenakan retak parah, darah segar mengalir di kepala hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.
~Imelda ~
Setelah mendapat kabar anaknya dari mandor kontraktor ia langsung pergi ke Malang. Setelah tiba di bandara ia langsung pergi ke rumah sakit menemui anaknya. Ia merasa khawatir karena Keken mengalami luka di bagian kepala.
"Keken..." lirih Imelda, ia melihat putranya terbaring lemah tak berdaya dengan kepala yang berbalut perban.
"Mommy..." sapa Keken,
"Apa ada yang sakit?" Imelda begitu sedih melihat keadaan anaknya saat ini.
"Hanya sedikit pusing yang lain aman terkendali." ucapnya sembari menggulum senyum dan mengerlingkan matanya.
"Dasar anak nakal! Satu bulan lebih meninggalkan mommy ini hasilnya." Imelda kesal karena saat ini Keken masih saja bercanda disaat sakit.
"Bukan aku yang meninggalkan tapi mommy yang mengirimku kesini."
Imelda melengos saat mendengar protes anaknya.
__ADS_1
"Farah bagaimana keadaannya mih?" tanya Keken
"Oh ya ampun, anak ini bukan nya bertanya kabar mommy papih nya malah bertanya tentang gadis itu!" Imelda menjewer telinga anaknya.
"Karena Keken kangen dia mih dan Keken tahu mommy yang menutup akses agar Keken tidak berhubungan lagi dengan Farah bahkan Fafa dan Khaffi tidak pernah sedikitpun membahas gadis itu saat meneleponku, kenapa mih?" Baru kali ini Keken terlihat begitu menyedihkan, ia bahkan menangis karena seorang gadis.
" Keken cinta sama Farah mih, kenapa mommy begitu kejam denganku. Hati Keken sakit sekali mih, sakit. "lirihnya sembari berkaca-kaca lagi.
Imelda merasa iba dengan keadaan anaknya, ia yang sejak tadi diam. kini memeluk putra kesayangan nya dengan erat.
"Mommy sayang denganmu, Ken. Tidak ada seorang ibupun yang mau melihat anaknya terluka, tidak ada sayang. Ini tidak semudah yang kamu bayangkan. Dan jika benar gadis itu jodohmu, maka allah akan mempermudah jalanmu."
"Tapi setidaknya jika mommy merestuiku, mommy akan membantuku bukan nya menjauhkanku dari Farah!" protes nya lagi, ia masih kesal dengan sikap sang ibu yang selalu menghalangi dirinya.
Imelda hanya memeluk anaknya, tidak peduli Keken akan membencinya lagi dan lagi. Ia hanya ingin yang terbaik untuk semuanya.
" Kamu tidak tahu apa yang mommy lakukan di belakangmu, sayang." gumamnya dalam hati.
* **
~Farah~
Satu bulan berlalu semuanya berjalan seperti biasa, hanya satu yang berbeda Farah yang terbiasa ceria kini berubah menjadi sosok yang diam dan tertutup. Semua planning pernikahannya berjalan dengan baik, persiapan untuk sewa gedung, undangan dan pakaian pengantin sudah siap. Namun, tidak ada rona bahagia di wajah Farah. Ia hanya mengulas senyum saat bercanda bersama Hilman. Senyuman yang selalu ia paksakan.
Farah berharap semua berjalan seperti biasanya dan ingin segera dihalalkan oleh Hilman agar ia merasa lebih tenang. Ia memang egois, tidak peduli apa yang akan terjadi setelah pernikahan tapi yang pasti ia tidak ingin kehilangan Hilman, lelaki yang ia cintai.
Tak peduli nantinya Hilman akan marah jika tahu bahwa ia sudah tidak peraw*n. Farah hanya berfikir ia harus menikah dan cepat - cepat pergi dari kota ini. Ia sudah tidak ingin lagi melihat pria br*ngsek itu.
"Kenapa kamu melamun?" suara itu membuyarkan lamunannya. Ia terhenyak kaget.
"Tidak ada apa-apa hanya sedikit pusing." ucapnya dengan berbohong. Farah dengan cepat menyeruput teh hangatnya.
Pengunjung restoran yang semakin hari semakin ramai terkadang membuat nya merasa kelelahan,namun Farah harus tetap berjuang sampai hari pernikahan tiba. Ia berharap ini pekerjaan terakhir sebelum acara pernikahan. Saat Farah menikah dengan Hilman otomatis ia akan pindah kota dan berakhir pula pekerjaannya sebagai asisten chef di restoran itu.
"Kamu semakin kurus." Hilman menelisik wajah Farah yang semakin tirus. " Jangan diet terlalu keras, aku menyukaimu apa adanya."
" Apa kau bahagia akan menikah denganku? Apa aku punya salah, kenapa akhir - akhir ini kamu tidak bersemangat untuk mempersiapkan pernikahan kita. Kamu selalu diam dan melamun, Farah?"
"Benarkah?" Farah ternganga, ia merasa tidak demikian.
"Iya, katakan padaku ada apa sebenarnya?" Hilman merengkuh pundak Farah agar bersandar di bahunya
"Aku tidak apa-apa." Farah bergelayut manja di lengan Hilman dan itu terasa sangat nyaman.
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin."
Hilman membawa Farah pulang setelah seharian mencari beberapa souvenir pernikahan. Hilman merasa heran tidak seperti biasanya Farah akan mencium pipinya sebelum menghilang dari pandangan, beberapa kali ia melupakan hal itu. Hilman hanya bisa menghela nafas panjang karena Farah sedikit berubah.
"Maafkan aku bang." ucap Farah sembari mengintip Hilman di balik gorden. Ia menangis setiap kali pergi bersamanya. Ada perasaan bersalah yang menjalar di hati karena ia tak sanggup untuk berkata jujur. Farah takut Hilman akan berubah fikiran dan membatalkan pernikahan padahal ia sangat mencintainya.
"Aku tidak bisa bicara dengan siapapun, huhuhu..." Farah terduduk di lantai. Ia begitu lemas karena pura-pura bahagia di depan calon suaminya, hatinya sangat sakit saat mengingat kejadian hari naas itu. Farah melihat satu tumpuk undangan yang berisi namanya dan Hilman. Undangan dengan warna putih kombinasi emas, terlihat simpel namun elegan.
"Aku suka undangan warna putih karena itu melambangkan cinta kita, sedangkan tinta emasnya seperti kamu bagiku." ia teringat ucapan Hilman saat memilih undangan terakhir sebelum naik cetak. Farah hanya bisa tersenyum simpul namun matanya selalu berkaca-kaca.
" Kamu tinta emas, sedangkan aku tinta hitam bahkan aku tidak berani jujur padamu. " Ia menahan tangis yang kesekian kalinya karena takut matanya bengkak dan itu pasti akan menjadi pertanyaan untuk Dini dan Vania, kedua sahabatnya.
Dan kali ini rasa pusing kembali mendera hingga akhirnya ia tidur untuk meredakan sakit kepalanya.
Hari berlalu dengan cepat, dua minggu lagi Farah akan menikah. Dan kini seperti biasanya ia membantu chef Ardi di restoran. Pengunjung tiap hari semakin bertambah, hingga beberapa hari lalu mbak Riri merekrut dua karyawan baru.
"Farah, kamu sakit?" Riri melihat Farah sedikit pucat dan tidak semangat dalam memasak. Beberapa kali Farah terlihat bolak balik ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Sedikit pusing,tapi aku baik-baik saja." ia memperlihatkan rentetan gigi yang putih dan bersih.
"Ayo semangat kerjanya, kalau bulan ini sesuai target lagi kita semua akan mendapat bonus!" Riri menyemangati seluruh karyawan dengan keras
"Chef Ardi senyum dikit dong, serius banget kalo masak." goda Riri
__ADS_1
Ardi hanya tersenyum sedikit, ia adalah chef berpengalaman dalam hal memasak. Sifatnya tak pernah berubah, hanya sedikit bicara. Ia selalu fokus melakukan yang terbaik agar cita rasa masakannya bisa dinikmati banyak orang dan Farah sebagai asistennya selalu mempermudah pekerjaannya. Farah orang yang cekatan dan cepat dalam bekerja, mereka satu tim yang solid hingga dulu pernah berhembus kabar bahwa Farah dan Ardi berpacaran, mereka pasangan yang cocok. Namun, semua terbantahkan karena Farah ternyata dilamar oleh Hilman.
Ardi yang berstatus duda hanya menganggap Farah seperti adiknya, umur mereka berbeda jauh dan Ardi sadar diri ia duda beranak satu dan itu tidak mudah diterima sebagian wanita yang single jika ingin menikah dengannya.
" Kalau kamu ingin istirahat pulanglah." ucap Ardi tanpa melirik kearah Farah yang kini sedang mengiris cabai dan tomat.
"Aku sehat."
"Tidak usah pura-pura sehat, aku tahu kamu tidak enak badan." Ardi dengan cepat menaruh cah kangkung yang sudah matang ke dalam beberapa piring.
Beberapa hari ini Ardi melihat Farah kelelahan, mungkin akibat banyaknya tamu yang datang di restoran, sedangkan Chef Intan sudah satu minggu mengambil cuti untuk pulang kampung. Hingga akhirnya Ardi sering lembur dan bekerja lebih keras.
Dalam seminggu ini pun Farah selalu bolak-balik kamar mandi dan terlihat pucat. Farah selalu mengunyah permen asam yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan sejak bekerja di dapur, perilaku Farah pun mulai berbeda.Farah tidak mau memasak sayuran, ia lebih suka membantu menggoreng ikan ataupun ayam.
"Aku mual kalau lihat sayuran." ucapnya kemarin. " Aku goreng ikan dan ayam saja chef, bolehkan untuk seminggu ini." Namun nyatanya dalam seminggu ini Farah masih tidak mau memasak sayuran. Ardi sempat mengernyitkan dahi, ia teringat akan Dahlia mantan istrinya yang dulu hamil anak pertama. Istrinya sama sekali benci dengan nasi dan sayur. Ia hanya ingin makan roti dan buah mangga muda yang terasa asam.
"Aku tidak boleh berpikiran buruk." gumam Ardi dalam hati. Ia kembali melanjutkan acara masaknya.
Namun keesokan harinya Farah bersikap seperti itu lagi dan lagi, tak mau memasak sayuran hingga beberapa orang komplain karena terlalu lama menunggu makanan. Dan akhirnya batas kesabaran Ardi habis, ia geram, kesal dan ada rasa penasaran. Ardi merasa ada sesuatu yang salah dengan perilaku Farah saat ini .
Riri dan Dini pun merasa ada yang aneh dengan sikap Farah yang beberapa hari ini tidak disiplin dan pilih-pilih masakan.
"Ayo kita bicara?" Ardi menarik tangan Farah ke luar restoran. Mereka sengaja bicara di luar agar tidak ada yang mendengar karena ini masalah yang terlalu pribadi.
"Maafkan aku." satu kata yang keluar dari mulut Farah, ia tahu kesalahan nya tapi entah kenapa memang Farah saat ini benci dengan sayuran.
" Kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan, katakan padaku?" tanya Ardi tanpa basa-basi. Empat tahun bekerja bersama Farah, mereka sudah mengenal karakter masing-masing.
"Tidak tahu bang, saat ini yang aku rasakan hanya mual saat melihat sayuran." Farah menundukan kepala, namun ia juga merogoh saku celana dan mengambil satu permen asam dan memakan nya.
"Kamu makan permen asam lagi?"
"Abang mau? ini aku punya banyak,ambilah." Farah merauk permen di saku celana dan menaruhnya di samping Ardi.
" Siapa juga yang mau permen asam, melihatnya saja air liurku seakan menetes. Memangnya kamu tidak merasa asam?!" Ardi kesal karena Farah begitu polos, mengira dia ingin permen asam itu.
Farah menggelengkan kepala, "Ini enak lho bang, tidak bikin enek." ujarnya dengan polos
"Apa kau ingin muntah di pagi hari?" tanya Angga
"Iya, tapi tidak keluar cuma mual aja."
" Sejak kapan?"
"Mm.. kapan yah." Farah menggaruk kepalanya dan mencoba untuk berpikir, " Seminggu ini lah, bang."
" Aku tidak suka lihat sayuran,terkadang mencium bau masakan membuatku pusing makanya aku sering ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan meredakan mual. "
" Sudah periksa dokter?"
"Tidak bang, aku hanya pusing sesaat nanti sore juga sembuh lagi. Aku sehat kok." ucapnya dengan yakin karena memang selama ini keadaan Farah baik-baik saja saat sore hari.
Ardi semakin risau, tanda-tanda menunjukkan Farah seolah mengalami gejala kehamilan,persis saat dulu mantan istrinya hamil. Morning sickness. Namun Ardi tidak percaya Farah hamil diluar nikah, mengingat gadis itu tidak neko- neko dan polos. Bahkan dulu dia tidak segan-segan menampar pria yang ingin melecehkannya. Farah gadis yang pemberani, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hubungan suami istri diluar pernikahan.
"Ini tidak mungkin, tapi aku harus memastikannya.Bagaimana caranya ya agar dia tidak tersinggung." gumam Ardi dalam hati. Ia melirik Farah dengan intens
"Ada apa bang? Kenapa?" Farah merasa ada yang ingin Ardi katakan padanya, sorot matanya tidak bisa berbohong.
"Dulu saat mantan istriku hamil dia selalu mual dan ingin makan buah yang asam. Pagi hari dia selalu muntah dan siang hari selalu sehat seperti biasanya." Ardi meremas jarinya berharap Farah mengerti apa yang dikatakannya.
"Dia selalu meminta ini dan itu, pilih - pilih makanan. Saat aku makan nasi goreng dia selalu marah katanya bau dan itu membuatnya muntah - muntah lagi."
Farah mencoba mencerna perkataan Ardi. Mimik wajahnya kini mulai berubah dan ia meremas jari tangannya." Mak... maksud abang aku ha.. hamil? "
" Maksudku... " belum sempat Ardi meneruskan perkataan nya, suara teriakan seorang wanita begitu mengejutkan mereka.
" Apa maksudmu Farah, kamu hamil!"
Farah dan Ardi menoleh kearah sumber suara,mereka kaget gadis itu mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1