
Seperti biasa Keken terlihat begitu sibuk dengan tumpukan kertas yang menggunung di ruang tamu. Seharian ini ia tidak banyak bicara seperti biasanya, terkadang hanya meminta pada Farah untuk menyiapkan kopi dan roti sebagai cemilan. Sesekali ia keluar rumah untuk solat berjamaah dan merokok di teras. Namun malam hari setelah pulang dari masjid Keken terlihat begitu kesal, tidak seperti biasanya yang selalu ceria bahkan saat ia membuka pintu kontrakan, Keken membantingnya dengan keras hingga membuat Farah terkejut.
"Pulang dari masjid itu bawa pahala bukan bawa dosa apalagi ngomel - ngomel begitu tidak jelas." Farah melihat suaminya yang terlihat begitu kesal dan menggerutu, entah apa yang membuatnya kesal apalagi saat melihat mata Keken seolah ingin menerkam seseorang. Mengerikan.
" Sandal aku hilang! "seru Keken dengan nada kesal." Maling tahu aja mana sandal yang bagus, heran aku! "
" Yasudah beli aja, sih! "ucapnya dengan enteng
" Kamu pikir sandal itu murah! " ketus Keken
" Yaelah cuma sandal jepit biasa saja, beli di warung pak haji juga ada. "
" Diamlah! Jangan banyak ngomong, aku sedang kesal! "perintah Keken, ia membuka baju koko, sarung dan membuangnya di sembarang tempat.
" Memangnya berapa harga sandal jepit itu? " Farah membuka dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang pada Keken agar membeli sandal jepit di warung pak haji.
" Apa - apaan ini." Keken menerima uang dua puluh ribu.
"Katanya sandal jepitnya ilang, yasudah beli sana di warung."
Keken menghela nafas panjangnya, Farah mengira dia benar-benar miskin hingga tidak mampu membeli sandal jepit lagi.
"Sayang, sandal jepitku beli di Amerika dan seharga sepuluh juta. SEPULUH JUTA!!" Keken menegaskan kalimat terakhir
Farah melebarkan pupil matanya, terkejut dengan harga sandal Keken yang menurutnya terlihat biasa saja seperti sandal lainnya.
"Se.., sepuluh ju.. juta." Farah terbata, " Jangan mengada-ada, mana ada sandal jepit sepuluh juta."
" Kalau kamu tidak percaya, lihat saja online shop. Sandalku kualitas nomer satu produk luar negeri dan kau tahu sepatuku tidak pernah aku taruh diluar karena apa, karena sepatuku seharga tujuh puluh juta." ucap Keken dengan kesal
Farah terkesiap hingga dirinya duduk lemas bersebelahan di samping ranjang dengan Keken.
" Tujuh puluh juta,itu uang semua. "
" Daun Farah, Daun!! " Keken kesal karena istrinya tidak percaya ada sepatu semahal itu.
Keken berbaring di ranjang Farah dan memeluk guling. Sudah lama ia tidak tidur si ranjang empuk dan berharap Farah akan berbagi tempat dengannya.
" Aku tidur disini ya. " pintanya, ia merenganggkan tubuh ke kanan dan ke kiri hingga berbunyi krek, pegal.
"Enak saja! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ,sudah sana pergi dari tempat tidurku." Farah mengusir Keken agar bangkit dari ranjangnya dan pindah ke ruang tamu, tempat dimana Keken tidur selama ini.
"Di depan dingin, sepertinya mau hujan dan badanku terasa sakit. Apa kau tidak kasihan padaku." Keken memasang wajah memelas agar Farah mau berbagi tempat dengannya.
"Tidak!!" Farah menarik tangan Keken agar bagun dan mendorongnya ke ruang tamu.
"Jahat sekali!" gerutu Keken. Ia yang masih bertelanjang dada langsung menarik sofabed dan tidur dengan cepat, kondisi tubuhnya lelah dan besok ia harus meeting dengan sekretaris pak Michael, ayah dari Michelle.
__ADS_1
"Semoga besok deal, dan aku bisa kembali bekerja di kantor mommy." gumam Keken, ia sudah tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu klien.
Dan semakin malam hujan mengguyur kota Jekardah dengan deras, hingga kilatan petir mulai terdengar walaupun tidak terlalu keras. Farah mulai panik saat mendengar suara petir, ia begitu takut dan rasa cemas mulai melanda dirinya.
"Ken, keken..." panggil Farah dengan keras saat lampu mulai padam. Aliran listrik langsung padam saat petir menggelegar dengan keras.
Tak ada sahutan dari ruang tamu karena Keken tidur terlelap.
"Ken, Keken...." teriak Farah lagi dengan keras, ia begitu takut karena gelap tak ada satu cahaya pun. Farah mulai menangis terisak karena ketakutan.
"Hah, iya yang." Keken yang merasa terusik dengan suara keras Farah kini bangkit dan menghampiri istrinya yang masih menangis di dalam selimut.
"Ken,aku takut." Farah merangsek ke tubuh Keken dan mendekapnya dengan erat.
"Ada aku disini, kamu tenanglah." Keken mengelus rambut istrinya, masih terlihat wajah ketakutan Farah dari sinar ponselnya.
" Apa ada lilin atau lampu?"
"Ada lilin di dapur." jawab Farah
"Aku akan mengambilnya."
"Aku ikut." Tanpa melepaskan pelukannya, Farah mengikuti Keken ke dapur dan mengambil beberapa lilin untuk penerangan. Keken menggulum senyum saat dirinya dipeluk oleh Farah, rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan olehnya karena Farah benar-benar menempel kemanapun ia berada.
"Sudah nyala lilin nya, jangan takut." Keken menaruh lilin di ruang tamu, kamar Farah dan dapur
" Kamu jangan pergi kemana-mana, aku takut gelap dan petir." masih dalam keadaan Farah memeluk tangan Keken. Mereka duduk di samping kasur dengan pencahayaan seadanya.
"Jangan pergi, pokoknya kamu jangan pergi kemana - mana." pinta Farah
"Iya sayang, aku tidak pergi kemana- mana. Kenapa kamu begitu ketakutan, hmm?"
Farah terdiam namun matanya menatap Keken dari dekat. Tangannya tak mau lepas memegang lengan Keken yang kokoh.
" Sejak ibu meninggal dan ayah tidak peduli denganku, aku selalu sendirian. Aku ketakutan disaat petir mengggelegar dan mati lampu, hal itu seakan membuatku sulit untuk bernafas apalagi saat aku sendiri. Ada rasa panik menyerang, rasa cemas bahkan ketakutan berlebih. Inilah kelemahanku. " Farah menundukkan kepalanya, hidupnya benar-benar menyedihkan dan sekarang Keken tahu kelemahannya.
" Kamu tidak usah khawatir, ada aku disini. "Keken memeluk erat istrinya, mencium pucuk rambut Farah. Istrinya yang terlihat mandiri, kuat dan percaya diri kini terlihat sisi lemahnya.
" Tidurlah, aku akan menjagamu. "
" Kamu tidak akan pergi kan? "
" Tidak sayang, aku ada disini. Dan sekarang tidurlah karena ini sudah larut malam." Keken menarik selimut Farah agar menutupi tubuh istrinya, namun matanya melihat sesuatu yang sangat indah. Daster Farah tersingkap keatas hingga ia bisa melihat kaki mulus istrinya di sela-sela cahaya lilin.
" Ini tidak benar, si Kenzi mulai terbangun." gumam Keken dalam hati. Ia dengan cepat menarik selimut agar pandangannya tidak tertuju pada pa ha mulus istrinya.
Dan tak disangka saat Farah ingin tidur dan memiringkan badannya kearah Keken, salah satu bagian da danya menyembul dan Keken dapat melihatnya dengan baik. Mungkin efek wanita hamil, payu dara Farah kian membesar dan itu bisa terlihat dari bentuknya. Kenzi kian memberontak.
__ADS_1
" Godaan apalagi ini." gumam Keken dalam hati, ia berusaha menahan hasratnya selama ini untuk tidak menyentuh istrinya. Namun matanya berkata lain, tempat tersembunyi yang selalu ia rindukan dari setiap wanita kini seolah menantangnya untuk disentuh. Sumber mata air yang selalu memabukkan untuknya. Kenzi kian memberontak.
Ingin rasanya ia menyentuh sesuatu yang menyembul itu, namun hanya bisa menelan salivanya dan herannya lagi Farah tidak tersadar saat da danya sedikit terbuka keluar dari tempat persembunyiannya.
" Sayang." nafas Keken kian berat, ingin rasanya mencicipi sesuatu yang enak yang selalu dirindukannya.
"Apa?" Farah menutup mata karena mengantuk namun tangannya masih memegang lengan Keken.
"Ada nyamuk." bohongnya, ia menangkup da da Farah dengan tangannya.
"Ya ampun, ini beneran tambah besar." gumam Keken dalam hati setelah berusaha mencuri kesempatan untuk memegangnya.
Farah tidak bergeming. Ia masih menutup matanya. Sedangkan Kenzi, dibawah sana kian mengamuk ingin dipuaskan.
"Aku bisa gila." lirih Keken, ia begitu frustasi saat Kenzi menegang. Mulai berpikir alasan apalagi agar Farah bisa diajak bekerja sama.
"Sayang." Keken menusuk - nusuk pipi Farah agar terbangun.
"Apaan sih, Ken!" Farah sedikit kesal karena ia gagal masuk ke alam mimpi karena Keken selalu menganggunya.
"Aku ingin cerita." Keken mulai beraksi, obrolan - obrolan kecil harus ia lakukan untuk mengelabui istrinya. Mainkan,pikirnya.
"Cerita apa."
" Cerita putri salju, kau tahu kan." Keken berpikir cepat, ia harus mendapatkan sesuatu yang enak apalagi suasana mendukung untuk saat ini. Namun,ia harus berhati-hati karena Farah bukan tipe wanita yang mau dipaksa.
"Putri salju yang tidur selama bertahun-tahun dan hanya ditemani tujuh kurcaci, kau tahu kan?" Keken kian mendekat masuk dalam satu selimut.
"Iya aku tahu cerita itu." Farah mengucek matanya karena benar-benar mengantuk.
"Dan hanya pangeranlah yang bisa membangunkan putri salju dari tidurnya, kau tahu dengan cara apa?"
"Ciuman, mereka berciuman Ken. Masa hal begitu tidak tahu." ketus Farah
"Iya, ciuman seperti ini." Keken mencium kilat bibir istrinya dan Farah hanya memukul dadanya, ia tidak punya tenaga untuk mengomel karena rasa ngantuknya begitu mendera.
"Lalu kurcaci itu ada yang menyentuh tangan putri salju saat dia tertidur. Seperti ini." Keken meraba tangan hingga lengan bagian atas Farah.
" Memangnya begitu ceritanya, kok aku tidak tahu." Farah yang mengantuk masih tidak fokus dan hanya menuruti Keken
" Iya, berarti kamu baru tahu ya. "Keken terkekeh, dalam hatinya tertawa keras karena berhasil membohongi istrinya.
" Ada juga kurcaci yang melakukan seperti ini. "Keken mencium jenjang leher Farah, menyapunya dengan lembut
" Aduh, geli Keken. "Farah bergidik karena Keken menyentuh titik lemahnya.
" Ada juga yang kurcaci yang memegang wajah putri salju seperti ini. " Keken meraba wajah istrinya dan berputar-putar di bibir, meremas tangan Farah agar rileks, menyentuh setiap lekuk tubuhnya yang berbalut kain daster.
__ADS_1
"Tanggung, tinggal sekali lagi pumpung kesadaran Farah masih setengah." Keken kembali bercerita tentang putri salju hingga akhirnya tanpa sadar Farah mengikuti perintahnya. Menciumnya dengan lembut hingga menyapu leher jenjang istrinya, menyes*pnya hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana. Farah sedikit berisik saat Keken mulai meraba tubuhnya dan menciumnya. Entah kenapa ia terhanyut dalam bualan dan sentuhan suaminya. Keken benar-benar pintar dalam memanipulasi keadaan. Farah mulai tidak terkendali saat Keken menyentuh titik - titik sensitifnya hingga dirinya kian tidak berdaya. Ia menikmati setiap sentuhan Keken. Sesekali berteriak dan mendes*h nikmat.
Kenzi tidak tinggal diam, ia mulai menerobos sesuatu yang sangat ia inginkan sejak dulu. Menghangatkan diri disebuah lembah dari dinginnya udara malam. Keken tersenyum puas setelah pelepasan dan dirinya ambruk disamping istrinya.