
Farah melihat Khaffi yang datang dan mengobrol dengan ibu tirinya. Mereka terlihat akrab dengan beberapa kali tertawa bersama.
"Khaffi, apa yang kau lakukan disini? "tanyanya
" Aku mengantarkan makanan untukmu, ini perintah si Modosa. Dia memintaku untuk menjaga si karung beras. "ujarnya sembari tersenyum
" Aku bukan karung beras tapi karung samsak tinju. " kelakar Farah
" Kau itu ada -ada saja, Yasudah ibu ke pasar dulu mau ambil gilingan daging dan sayuran. " bu Tami pamit
" Mandilah dulu bau tahu. " sindir Khaffi saat melihat wajah polos Farah yang baru bangun tidur.
" Kenapa si Modosa mau dengan mu yang jorok seperti ini. "gumam Khaffi, menjadi teman Keken sejak kecil ia tahu sifat Keken yang selalu menjaga kebersihan dan suka dengan wanita sexy namun nyatanya jodoh nya bersama Farah.
" Aku juga bersihkan dan wangi, saat hamil saja aku buluk seperti ini. Entahlah, aku pun tidak tahu kenapa aku jadi jorok seperti ini. " Farah mengira ini bawaan bayi yang membuatnya malas bersihkan badan.
" Kasihan sekali si jabang bayi selalu disalahkan ibunya dan selalu dijadikan alasan. "gerutunya
Farah tergelak tawa, Khaffi memang pria yang sedikit menyebalkan saat bicara.
" Aku mandi dulu dan kau jangan pergi, ada yang ingin aku katakan. "pintanya
" Aku akan menunggumu di depan teras, takut ada fitnah jika aku ada di dalam sini. "Khaffi berjalan keluar sembari menunggu Farah selesai mandi. Menyalakan sebatang rokok untuk mengusir rasa jenuh nya. Namun sepuluh menit menunggu Farah datanglah seorang gadis yang diantar seorang pria yang menggunakan motor matic. Mereka turun tak jauh dari tempat Khaffi duduk dan pria itu terlihat sedang membantu melepaskan helm milik si wanita.
"Aku pergi dulu, nanti sore aku jemput. " ujar si pria itu
"Aku akan meneleponmu lagi. " Dini terlihat malu-malu saat pria itu menyentuh pucuk rambutnya
" Kau butuh apa nanti aku bawa sekalian saat sore nanti. "
" Tidak usah, aku tidak butuh apapun. Nanti kita bisa makan bareng di pinggir jalan seperti biasanya. Mana makanan untuk Farah."
"Ini." Alvin memberikan bungkusan plastik.Mereka sempat mampir ke Toko buah dan jajanan kesukaan Farah.
"Baiklah sayang aku pergi dulu. " pamit pria itu dan Dini masih saja melihat pacarnya hingga menghilang dari pandangan.
"Cih! Masih baru sayang-sayangan beda tahun lagi jambak-jambakan. " Khaffi menyindir secara terang-terangan. Ia sudah pasti mendengar apa yang Dini dan pacarnya bicarakan karena jarak mereka cukup dekat.
" Sekarang enak ya punya ojek pribadi bisa kesana kemari gratis lagi. "
" Tapi kasihan sekali cuma dapat ojek roda dua bukan sopir roda empat. "sindir Khaffi lagi
" Dih! Sirik saja sama hubungan orang lain daripada ngurusin hidup orang mending cari pacar sana biar ada yang memperhatikanmu. " balas Dini. Ia merasa ini hari sialnya karena bertemu Khaffi kembali, si pria bermulut tajam dan menyebalkan.
__ADS_1
" Gue emang gak punya pacar tapi wanita manapun tidak akan menolak diriku. Kau dengar itu! "
"Bodo amat! Emang gue pikirin, lu mau punya pacar selusin pun bukan urusanku yang penting jangan ikut campur dengan hal pribadi ku! "
"Dih! kepedean lu. Siapa juga yang ikut campur dengan percintaan lu yang modalnya recehan gitu" Khaffi tak kalah sengit. " Pacaran kok makan di pinggiran, minta di restoran mahal baru hebat. "
" Dih! Kenapa lu yang ngatur, dah kayak sutradara film saja lu! " sembur Dini
"Mau di pinggiran atau di restoran kita tidak perlu cerita-cerita yang ada lu gangguin kita. "
"Sok cantik lu! " Khaffi
"Emang gue cantik buktinya Alvin suka sama gue. " pongah Dini
"Eh cewek sableng, suka itu belum tentu cinta bisa jadi dia hanya main-main sama lu. " Khaffi
"Mana ada jaman sekarang pacaran cuma pegangan doang, tidak mungkin. Pasti si cowok minta balas jasa bahkan lebih dari itu. "
"Seperti kamu!" sindir Dini dengan jelas, "Jangan berpikiran semua lelaki sepertimu, jangan berpikiran negatif tentang pacarku karena kamu tidak tahu dia seperti apa. Bisa tidak sih, kamu cukup diam dan tidak berkomentar dengan hidup dan privasi orang lain. " Dini
Khaffi membuang wajah kearah lain, wanita yang sedang jatuh cinta memang sangat sulit menerima nasehat padahal ia hanya ingin memperingatkan Dini agar berhati-hati dalam berpacaran.
" Kalau sudah di cobain sama pacarnya, lalu hamil dan ditinggalin baru tahu rasa lu. "lirih nya, namun Dini mendengar jelas apa yang dikatakan si pria menyebalkan itu.
" Apa maksudmu? " tanya Dini
"Aku tanya sekali lagi, apa maksudmu berkata seperti itu? " Dini begitu geram karena Khaffi pura-pura bodoh dan tidak tahu
"Apan sih Din, kagak jelas lu! "
" Tadi kamu bilang kan, jika aku dicobain duluan dan hamil baru tau rasa! Kamu nyumpahin aku?! " serunya
"Tidak jelas lu. " Khaffi
"Seharusnya aku yang bicara seperti itu, kamu itu yang tidak jelas! Selalu berkomentar negatif tentangku dan pacarku. Kamu iri atau kamu cemburu? "
"Wah tambah sableng lu! Siapa juga yang cemburu dengan lu, eh jangan mimpi ya Din! "
Suasana mulai memanas, bahkan Khaffi yang merokok kini mengilas rokoknya dengan kesal. Wajahnya mulai tidak bersahabat.
" Lalu apa maksudmu berkata seperti itu, kamu pikir aku wanita murahan yang bisa dicoba dengan laki-laki sembarangan! " Dini mulai berkaca-kaca, seolah tidak punya harga diri dimata Khaffi ini.
"Apa aku begitu murahan dihadapan mu? " tanyanya
__ADS_1
" Aku memang miskin dan jelek tapi aku masih punya harga diri dan kamu satu-satunya pria yang tidak pernah menghargaiku, selalu menghinaku sesuka hati, merendahkan martabatku bahkan meremehkan prinsip Ibuku. Aku sudah tidak tahu lagi harus berkata apa dengan mu, bahkan saat ini aku sangat malas menyebut namamu. Lebih baik kita tidak pernah bertemu selamanya, jangan bertegur sapa dan anggap kita tidak saling mengenal karena itu lebih baik daripada saling menyakiti. Kali ini sikapmu tidak bisa aku maafkan, hatiku terlalu sakit mendengar perkataan bodohmu itu! " Dini menangis dan berlari pergi dari rumah Farah. Niat hati ingin berkunjung dan menemani wanita hamil itu tapi nyatanya bertemu dengan pria sial*n yang selalu berkata pahit yaitu Khaffi
"Kenapa dia menangis, memangnya perkataan ku salah. " Khaffi tercengang, lalu membuka bungkus rokok nya lagi namun bayang-bayang Dini menangis kini menganggu pikiran nya.
"Sial! " umpat nya. " Apa yang aku katakan, sih! kenapa saat melihat dia aku selalu emosional padahal wanita itu tidak melakukan kesalahan apapun. "
" Ada apa? Kenapa kau kesal. " Kali ini suara Farah terdengar, ia terlihat lebih segar setelah mandi.
"Eh, tidak .. tidak ada apa-apa kok. " Khaffi tergagap
"Oh, aku kira ada apa-apa soalnya tadi aku mendengar suara berisik dan__" Dini melihat kantong plastik di sebelah Khaffi lalu ia melihat isinya.
"Tadi Dini kesini kan? " tanyanya
Khaffi diam tidak menjawab
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, aku tahu dia kesini karena ini pesanan untukku. " ujar Farah. Sehari sebelumnya Dini memang sudah menelepon dan ingin main ke rumah namun ternyata dia hanya meninggalkan bungkusan plastik dan sudah pasti ada masalah diantara mereka, pantas saja tadi ada suara ribut-ribut, pikir Farah
"Tidak ada apa-apa, orang Dini yang langsung pergi. " kilah Khaffi
"Sudah lah jika kau memang tidak ingin cerita maka aku yang akan bertanya pada gadis itu. " Farah
Mau tak mau Khaffi menceritakan pada Farah tentang pertengkaran nya dengan Dini. Ia tidak menyangka Dini akan semarah itu, sedangkan Farah yang mendengar cerita Khaffi pun merasa geram karena pria itu benar-benar menyebalkan.
" Khaffi, apa kau memiliki perasaan cinta untuk Dini? tanya Farah. "Aku melihat kau cemburu dengan pacar nya. "
" Pertanyaan macam apa itu! "Khaffi, " Mana ada cinta untuk gadis itu, yang benar saja. Farah, jika aku jatuh cinta maka aku akan memilih gadis yang lebih baik darinya. Wanita sexy, cantik, pintar. Masa sama si Dini kerempeng. " ejek Khaffi sembari menghela nafas panjang nya.
"Cinta tidak memandang fisik , cantik , sexy itu hal yang lumrah . Kata keken, dia bilang aku selalu manis dan cantik sedangkan bagi orang lain aku jelek, tidak terawat dan dekil . Tapi dia menerimaku apa adanya, kata Keken aku baik dan hatiku tulus. "
"Seperti itu juga pacar Dini, dia tidak memandang fisik . " sambungnya lagi.
"Kali ini kau sudah keterlaluan dan Dini pasti sakit hati dengan ucapan mu. "
. " Kau harus minta maaf padanya. "
"Kenapa harus aku, ogah. Tidak ada yang perlu minta maaf, besok juga baikan lagi dia. "
"Kau itu selalu begitu , selalu menganggap remeh lain nya. Kau seperti Keken yang menyebalkan dan tidak pernah meminta maaf. " Aku kesal denganmu! "
Farah membawa kantong plastik itu dan masuk ke dalam.
" Farah, kok masuk sih? Katanya ada yang ingin kau ceritakan, aku sudah menunggu mu lama. " teriak Khaffi
__ADS_1
"Tidak jadi! Malas aku lihat dirimu!! " teriak Farah
"Kurang ajar si Farah, sudah ditungguin malah kagak jadi. " dengus Khaffi dengan kesal.