Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 202


__ADS_3

Disisi lain,


Dini semalaman menginap di rumah Navysah untuk menemani Farah, entah kenapa wanita itu tidak ingin tidur sendirian. Sedangkan, Inka dan Inha kuliah dan sibuk dengan kegiatannya masing - masing maka dari itu Navysah meminta Dini untuk menginap sekaligus membantu keperluan Farah.


"Apa kau tidak ingin bekerja di restoran D & R? Jika kau ingin pindah katakan pada tante, restoran juga membutuhkan karyawan part time jadi kau bisa mengatur waktu kuliah dan bekerja. Tapi ingat, jika bekerja disana kau tidak boleh malas." Navysah kini sarapan bersama Farah dan Dini karena anak - anaknya sudah pergi kuliah.


" Belum ada niatan pindah tan, karena aku masih nyaman kerja di Utara. Tapi bolehkah, saat aku membutuhkan pekerjaan ini aku menghubungi tante lagi? "


" Tentu saja, jika kau butuh pekerjaan katakan pada tante." Navysah menyukai sifat Dini yang cekatan dan rajin bersih-bersih. Beberapa kali ia melihat gadis itu membantu asisten rumah tangga membersihkan dapur dan kamar Farah. Dini anak yang rajin walaupun wajahnya terlihat galak.


" Terimakasih sudah menemani Farah disaat seperti ini." Navysah mengenggam tangan Dini, mengatakan rasa terima kasih nya dengan tulus. Navysah ikut terbantu dengan adanya teman Farah ini karena beberapa kali Navysah melihat Farah tertawa dengan nya.


"Iya tan, ini sudah tugasku. Farah sudah aku anggap keluarga, saat aku berada di titik terendah dia selalu memberiku semangat." Dini


"Ya sudah tante titip Farah dulu, ada pekerjaan yang harus tante selesaikan." pamit Navysah. Ia harus menghubungi beberapa dokter kenalan untuk meminta bantuan. Keken akan dipindahkan ke rumah sakit Jekardah jadi ia harus menyiapkan segala fasilitas pengobatan yang terbaik untuk ponakan nya.


" Makanlah yang banyak, ayo aku suapin." Seperti biasa Farah malas makan, ia hanya ingin tidur dan menonton televisi,ingin melihat perkembangan berita tentang suaminya namun sayang semua televisi dan ponselnya disita oleh tante Navysah. Farah tidak diperbolehkan melihat sosial media, bahkan ponsel Dini pun tidak boleh dia pakai.


"Aku kangen Keken." ucapnya


"Iya aku tahu, makan dulu baru kangen Keken,kasihan anakmu nanti kelaparan." Dini menyuapi Farah dengan telaten, seperti biasa dia mendapatkan tugas seperti baby sitter namun ia tidak pernah mengeluh karena Farah adalah salah satu teman terbaiknya dan wanita itu butuh suport disaat seperti ini.


" Bagaimana kalau setelah makan kita jalan-jalan di taman belakang. Sudah lama kau tidak olahraga, dasar pemalas. "Dini


" Aku tidak mau, aku ingin tidur saja. Bosan tidak ada handphone dan televisi. "


" Sudahlah tidak usah mengeluh, ini semua demi kebaikanmu. "


" Tapi aku benar-benar bosan dan ingin melihat perkembangan berita Keken, bagaimana aku bisa tenang dan tidur nyaman sementara suamiku belum ada kabar, apa dia masih hidup atau tidak. "Farah meneteskan airmatanya lalu mengusap ya dengan cepat.


" Kau bersabarlah, Keken pasti ketemu dia baik-baik saja. Please, jangan terlalu dipikirkan ingat kamu sedang hamil. "Dini mengelus perut Farah yang membesar.


" Iya, iya aku tidak akan memikirkan Keken tapi aku akan memimpikan nya. "Farah


Dini merasa kasihan dengan sahabatnya ini, Farah begitu rindu dengan suaminya dan dia tahu wanita hamil ini pasti berharap Keken segera ketemu. Tubuh Farah sedikit kurus bahkan lingkaran matanya menghitam karena kurang tidur. Saat malam Dini selalu mendengar suara tangisan Farah yang terisak di bawah bantal namun ia pura-pura tidak tahu, biarkan Farah menumpahkan segala rasa sakitnya dengan menangis karena itu lebih baik daripada menahan nya.


" Bagaimana kalau kita jalan - jalan ke pantai, aku ingin kesana. " Farah ingin mengingat Keken saat bersamanya di Bali.

__ADS_1


" Aku tidak mau, panas! "


" Tapi, aku mau. "rengek Farah


" Aku tidak berani membawamu keluar, apalagi jika sendirian. Tante Navysah pasti akan marah denganku. "


" Kau harus ijin terlebih dahulu dengan nya dan meminta pengawal untuk menjaga kita. "


" Tidak perlu pengawal, kita pergi dengan nya saja. "Ucap Farah saat melihat seseorang turun dari lift rumah.


" Alif.... "teriak Farah. Pria itu melihat Farah yang sedang melambaikan tangan.


" Apa? " Ia duduk lalu mengoles sepotong roti dengan selai nanas lalu memakan nya. Alif terlihat rapi dengan kaos santai dan celana jeans panjang.


" Sepertinya pria ini akan pergi. "gumam Dini dalam hati.


" Ayo kita ke pantai, aku ingin kesana. "


Alif mengernyitkan dahi lalu melirik jam tangan nya." Ini sudah jam delapan, kalau kesana sekarang pasti sampai sana jam sembilan, panas."


"Tidak apa-apa jika panas, aku biasa panas - panasan apalagi saat ada Keken pasti setiap malam aku kepanasan bersamanya." kelakar Farah


"Pria ini tampan juga tapi aku harus sadar diri karena dia tidak akan melirikku. Aku akan fokus kuliah dan kerja keras, aku ingin emak bangga padaku." gumamnya dalam hati. Saat pertama kali melihat pria itu ia terpesona akan ketampanan nya.


"Kok kamu melamun Din?"tanya Farah


" Eh, tidak siapa juga yang melamun. "


Alif menoleh sesaat gadis itu, lalu tidak peduli dan melanjutkan makan nya lagi.


" Kau tidak bekerja Lif? " Kali ini Dini berinisiatif bertanya pada pria itu.


" Sudah tahu aku dirumah kan, berarti aku libur masih tanya lagi. "


Dini meremas tangannya, ternyata seperti ini rasanya diabaikan oleh seseorang. " Pria ini menjengkelkan." batin nya.


" Hahahaha... ternyata Dini ada teman nya. Kau tahu kalian ini mirip sama sama ketus dan bicara to the point. "Farah terkekeh

__ADS_1


Alif dan Dini saling memandang sesaat lalu mereka mengalihkan pandangan kearah lain.


" Ayo kita ke laut. "ajak Farah lagi


" Sama mang Ari saja, aku ada urusan. "tolak Alif


" Ah, malas ah kalau sama mang Ari, dia lebih suka nungguin princess di kampus daripada anterin aku. " keluh Farah. Sopir keluarga Navysah yang satu itu memang berbeda, dia ditugaskan khusus untuk menjaga dua princess.


" Ya sudahlah, aku tidur saja. " Farah merajuk dan pergi ke kamarnya.


" Kamu kenapa menolak ajakan ibu hamil sih, kasihan Farah."


"Bukan begitu, aku akan ke perpustakaan nasional. Ada yang harus aku cari disana jadi tidak bisa antar kalian." Alif


"Kau suka buku?"


"Tentu saja makanya aku pintar dan jadi dokter."


"Kau sombong sekali!" Dini mendengus kesal, pria ini tampan tapi menyebalkan juga.


"Ah, membosankan lebih baik aku dengarkan musik." Dini mengeluarkan handphone nya lalu memasang headseat.


" Paling kau dengar lagu dangdut." cibir Alif, " Ponselmu kuno, kau tidak beli handphone keluaran terbaru."


" Aku tidak mendengarkan lagu dangdut tapi ini lagu pop terbaru yang sedang trending di yutube. Dan memang ponselku kuno tapi ini sangat berjasa, ini hartaku yang paling berharga karena aku belum mampu membeli ponsel lagi. "


Alif menatap sekilas pada gadis yang sedang memakai headseat itu.


" Coba aku dengar. "Alif menarik satu headseat lalu memasangnya di telinga kanan.


" Enak kan di dengar, kalau pakai speaker suaranya lebih bass dan bagus. Kau suka? "


" Lagu ini tidak buruk, aku juga menyukainya. "


Dengan usil ya Dini mengganti lagu itu dengan musik dangdut milik Natata si goyang arwah. Alif mendelik padanya sedangkan Dini tergelak tawa.


" Wajahmu lucu sekali.... " Dini masih dalam mode tawanya.

__ADS_1


"Kau itu sengaja ya!" Namun bukan nya marah, Alif juga ikut tertawa karena ia mengingat Natata yang suka menggoda sahabatnya.Mereka tertawa bersama dengan pikiran masing-masing.


"Apa.. apaan ini!" suara seorang pria membuat mereka terkejut.


__ADS_2