
Mereka membawa Keken setelah mengurus semua administrasi. Lalu dengan cepat melajukan mobilnya kearah klinik kecil yang lumayan jauh dari desa itu.
" Abang, lama kali kau!" ucap seorang dokter muda yang sudah menunggu di pintu belakang klinik.
"Maaflah, abang harus mengurus administrasi si slamet ini." Pak Sam membuka pintu penumpang dan membawa Keken dengan brankar. Keken di tempatkan di sebuah ruangan khusus untuk pasien dengan beberapa alat kedokteran.
Dokter muda itu adik dari pak Sam, seorang dokter umum yang memiliki klinik kecil untuk pengobatan umum dan tempat persalinan.
"Lukanya cukup serius di bagian kepala, dia masih belum sadar. Aku akan mencoba memberikan beberapa obat dan meminta bantuan temanku yang ahli dalam bedah saraf." ucapnya
"Atur sajalah bagaimana baiknya." Pak Sam dan Pak Tono yang sudah menua cukup kerepotan membawa Keken pergi dari rumah sakit. Mereka sengaja mengganti plat mobil dan menghindari cctv rumah sakit.
"Dia siapa bang?"
"Tidak tahu."
Dokter muda bernama Cris hanya bisa menghela nafas panjangnya, seperti biasa abangnya selalu membantu orang tanpa melihat statusnya. Walaupun dia berwajah tegas dan garang namun Pak Sam orang baik yang bersifat dermawan dan humoris.
"Abang dan Tono menemukan dia di sungai tapi sepertinya dia sedang diburu dan akan dibunuh. Ada beberapa orang yang mencarinya. Abang tidak tega jika dia dibunuh, keluarga nya pasti sedang mencarinya."
"Tolong berikan pelayanan yang terbaik, nanti Ani dan Eki yang akan berjaga disini karena abang dan Tono harus pulang dan bersikap seperti biasa agar tidak ada orang yang curiga.
" Baik bang. "
" Ani, Eki sementara kalian akan tinggal disini untuk menjaga pria ini. Jika kau butuh sesuatu telepon bapak."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan Ani pak, pasti anak-anak akan mencariku." Ani yang berprofesi sebagai guru SD agak berat meninggalkan pekerjaannya.
"Ini hanya untuk dua hari kedepan, bapak minta kamu menjaganya. Nanti bapak akan kesini menggantikanmu."
"Baiklah."
Mereka berbagi tugas menjaga Keken walaupun mereka tidak tahu siapa pria yang kini berbaring lemah.
* **
Dan benar saja selama tiga hari terakhir ada beberapa orang yang mencari keberadaan Keken. Entah mereka siapa namun bu Siti selalu berbohong bahwa tidak melihat pria yang mereka perlihatkan fotonya.
__ADS_1
Ani pun sudah kembali dan sementara tinggal di rumah Bu Siti untuk keamanan karena saat ini pak Tono berjaga menunggu Keken.
"Bagaimana kabar si Slamet, apa dia ada perkembangan?" tanya bu Siti pada Ani.
"Belum bu, pria itu masih dalam kondisi koma. Cris belum tahu kapan pria itu akan sadar." Ani menghela nafas panjangnya sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Luka di bagian kepala begitu serius, si Slamet sudah dibawa ke rumah sakit untuk di ct scan dan penanganan lebih lanjut."
"Aku rasa dia pria kaya." sambung Ani lagi, "Kulitnya begitu mulus dan bersih.
" Kamu meraba-raba pria itu Ni?! "tanya Asri.
" Tidak! Mana berani aku melakukan itu, si Eki yang bersihin badan dia dan aku melihat kulitnya sangat bersih. "
" Kira-kira pria itu sudah menikah belum ya, aku maulah nikah dengan nya. "Asri, ia yang pernah melihat Keken dari video call sedikit tertarik karena wajah pria itu begitu tampan.
" Isshh, si slamet itu sepertinya sudah menikah kata Ayah. Ada cincin yang tersemat di jari manisnya. " Kali ini bu Siti menyahut
" Sayang sekali, padahal pria itu tampan."
" Lalu, bagaimana jika ada yang tahu kalau si Slamet ada di rumah sakit itu. Hidupnya sedang dalam bahaya, ibu takut ada orang yang mencarinya kesana. "
Mereka mengangguk mengerti.
Dan pak Sam datang dari kebun miliknya. Sehari-hari dia menyibukan diri dengan berkebun sedangkan istrinya di rumah menerima setoran dari sopir yang menyewa mobil angkutan umum miliknya.
" Ayah, tadi Juned ngomong mobilnya si Arif ada yang perlu diservis dan dia memberikan nota pembelian onderdil."
"Lalu mobil si Beni harus ganti ban karena sudah tidak pakai." sambungnya lagi.
" Ibu ngasih uang Juned berapa?"
"Satu juta untuk servis dan beli ban."
" Lalu Juned bilang apa lagi?" Pak Sam. memiliki asisten bengkel yang biasa mengurus mobilnya yang rusak.
" Tadi dia bilang, ada beberapa orang yang datang ke bengkel dan mencari si Slamet itu, tapi dia bilang tidak tahu. Tadi siang beberapa orang itu juga kesini dan memberikan foto si slamet tapi ibu bilang tidak tahu. Ibu takut pak."
__ADS_1
"Apa mereka menggunakan pakaian hitam lagi?
" Tidak! Mereka menggunakan kaos biasa tapi badan nya kekar seperti orang militer. "
" Ibu tidak tanya mereka dari mana? Siapa? Dan kenapa mencari slamet? "tanya Pak Sam lagi
" Tidak pak, ibu takut karena tadi sendirian. Asri dan Ani baru saja datang dan langsung makan. "
Pak Sam menyesap kopi hitamnya sembari berpikir, siapa lagi yang mencari si Slamet, kenapa banyak orang yang mencari dia.
* **
Rumah sakit,
Imelda menolak untuk dioperasi ring jantung sebelum menemukan anaknya. Yang ada dipikiranya hanya putra semata wayangnya. Dengan mengerahkan semua pengawalnya ia mencari Keken di desa- desa dan rumah sakit namun belum juga ditemukan.
"Nyonya, kesehatan anda sangat penting. Ini jalan satu-satunya agar anda bisa hidup lebih lama." ucap dokter
" Aku akan hidup dengan lama jika berada disisi anak ku. Dia nyawaku." Imelda berkaca-kaca, bagaimana dia bisa memikirkan kesehatan nya sedangkan Keken belum tahu dimana rimbanya.
" Sayang, dokter benar kau harus segera operasi sembari mencari keberadaan Keken. " Feri
" Tidak mas, aku tidak akan operasi sebelum menemukan anakku. Dia bilang ingin pulang cepat nyatanya dia belum kembali juga." Imelda tak kuasa menahan rasa sakitnya kehilangan anak. Ia hampir gila mencari Keken ke semua tempat.
" Tanpa Keken aku bisa apa, anakku.... "lirih Imelda.
" Sudah, sudah aku tidak akan memaksamu. Kita akan mencari Keken sampai ketemu baik itu dalam keadaan hidup ataupun mati. " Feri
" Dia pasti hidup!! " Imelda tidak terima saat suaminya mengatakan itu.
" Keken harus hidup, dia masih hidup!!" racau Imelda. Aku mommynya, aku yakin dia masih hidup, jangan pernah berkata Keken mati, aku tidak mau mendengar itu!" teriak Imelda, ia begitu frustasi dan hampir gila. Cobaan ini menghantamnya bagai badai besar yang membuat psikis nya terganggu.
"Sebaiknya anda membawa nyonya Imelda ke psikiater, tuan." ucap Dokter itu. Feri hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Aku tidak gila!!" Imelda kembali berteriak
"Nyonya ini bukan masalah anda gila atau tidak namun jika anda berkonseling ke psikiater maka beban pikiran anda akan sedikit berkurang." dokter
__ADS_1
"Aku tidak mau!" teriak Imelda. kehilangan Keken membuat dirinya selalu marah dan kesal. Nada bicaranya selalu meninggi, ini bukan sifat Imelda yang sesungguhnya.
Namun disela - sela mereka mengobrol dan berdebat, ponsel Feri berdering dan itu dari Davian.