
Ditempat yang berbeda,
Terlihat seorang gadis yang sedang memilih beberapa barang di minimarket yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Beberapa hari yang lalu ia cuti karena sang ibu masuk ke rumah sakit hingga akhirnya mau tak mau ia harus menjaganya disana. Raut wajah lelah begitu terlihat, kulitnya menjadi kusam karena tidak terawat beberapa hari ini.
Ia tidak pernah malu dengan keadaan dirinya yang sederhana dan apa adanya. Tidak mau mendengar suara sumbang karena saat ini dia masih saja menjomblo diusia dua puluhan. Ia tidak peduli dan bahagia dengan caranya sendiri.
Ia selalu bersemangat menjalani hari-hari. Baginya hidup adalah perjuangan dan mencari nafkah halal untuk keluarganya. Bagi sebagian orang yang tidak mengenalnya ia terkesan pelit, tidak modal alias suka gratisan tapi bagi orang yang sudah mengenal karakternya sebenarnya dia orang yang penyayang dan mau berbagi.
"Farah suka tidak ya dengan ini?" ia menatap sebuah minuman orange jus kemasan besar. Ia selalu terlihat cuek dan berantakan namun tak pernah lupa akan salah satu sahabatnya itu.
"Aku masukin sajalah, beli secukupnya toh sudah ada makanan dari ibu." ia memasukkan beberapa cemilan ke dalam keranjang belanja. Sejak kemarin sang ibu yang baru sembuh dari sakit memasak beberapa makanan untuk bekal anaknya dan Farah. Dan sang ibu pun sudah tahu bahwa sekarang Farah sedang hamil, kehebohan pun terjadi di rumah bahkan ibunya lupa baru saja keluar dari rumah sakit saking bahagianya.
"Alhamdulillah, aku mau jadi nenek."
"Cucuku cewek atau cowok ya?"
"Kapan-kapan ajak Farah main kesini, ibu ingin melihatnya."
"Kamu jangan merepotkan dia lagi, sekarang dia sudah punya suami dan sedang hamil. Ibu tidak mau dia sakit karenamu."
"Yang isinya banyak untuk Farah, yang isinya sedikit untuk kamu."
Kalimat itu yang keluar dan selalu terniang di telinga Dini. Dan seperti biasa, Dini layaknya anak tiri bagi ibunya dan Farah anak emas. Ibunya begitu menyayangi Farah layaknya anak kandung, sedangkan dirinya terkadang disisihkan.
" Sebenarnya aku atau Farah sih anak ibu, kenapa dia selalu pilih kasih!" gerutu Dini. Ia berjalan ke kasir dan membayar semua belanjaan. Tak lama ia keluar dan menghela nafas panjangnya, udara begitu terik namun ia harus melangkahkan kakinya menuju rumah dengan barang bawaan yang lumayan banyak. Dan disaat menyusuri jalan yang sedikit sepi, tanpa sengaja ia melihat seorang pria yang berhenti di trotoar dengan menggunakan sepeda motor. Pria itu dengan sengaja mempertontonkan alat kela minnya kepada Dini dan tertawa lebar entah apa yang dia lakukan. Namun saat Dini menatap pria itu dan tanpa sengaja melihat alat tempurnya, tangannya ditarik seorang pria hingga tubuhnya menabrak tubuh pria tinggi itu. Dini mendongak keatas, melihat siapa pria yang menarik tangannya.
"Jangan dilihat, pria itu gila." Khaffi tanpa sengaja memeluk Dini, saat ia membalikkan badan Dini, tubuhnya saling membentur dan tanpa sengaja memeluknya.
"Apaan sih!" Dini tidak begitu suka jika ada pria yang menyentuh tubuhnya. Ia membuka kantong plastik dan mengambil satu kaleng cola. Dengan cepat ia berbalik badan dan melemparkan cola itu tepat ke wajah pria mesum itu.
"Bughhh...!!" cola melayang itu mendarat tepat di wajah pria mesum itu hingga terlihat benjol, ia meringis kesakitan.
"Br*ngsek lu!, punyamu kecil, buluk lagi jadi tidak perlu dipamerin. " umpat Dini ia menarik rambut pria itu dengan keras namun belum sempat ia menyeret pria itu dari motor, pria itu keburu melawan dengan menangkis tangan Dini dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Ia kabur dengan cepat.
"Kamu baik-baik saja." Khaffi membantu Dini yang terjatuh. Ia mengulurkan tangannya namun ditepis Dini. Ia masih mampu bangkit sendiri.
"Dasar jutek!" umpat Khaffi karena niat naiknya ditolak Dini
"Aku masih bisa bangkit sendiri." ucap Dini dengan datar
"Eh, kok lu nggak takut dengan pria mesum begitu? Biasanya gadis akan berteriak saat melihat alat tempur lelaki dan pastinya pria mesum itu akan menikmati saat gadis itu saat berteriak. Itu sensasi bagi mereka. Seperti eksibionis." Khaffi cukup terkejut saat Dini dengan berani melangkah maju dan melempar pria mesum itu dengan cola tanpa rasa takut,bahkan menghina dan menjambak rambut pelaku itu. Luar biasa beraninya.
" Kenapa aku harus takut, aku pernah melihat alat tempur pria seperti itu di ponsel bahkan lebih besar. Yang tadi tidak ada apa-apanya." cibir Dini. Ternyata video mesum yang terkadang Vania kirimkan padanya kini bermanfaat. Ia tidak perlu berteriak saat melihat alat tempur pria lagi.
" Dasar gadis sinting! "umpat Khaffi, baru kali ini ia melihat gadis gila yang jujur dan pemberani melawan kejahatan sek sual di jalanan.
" Apa jangan - jangan kamu pernah melakukannya dengan pacarmu makanya kamu tidak kaget dan terbiasa seperti itu." selidik Khaffi
__ADS_1
Dini menatap tajam pria tampan di depannya, beraninya pria itu menuduh tanpa bukti dan tidak berdasar. " Walaupun aku miskin tapi aku tidak sehina itu, asal kamu tahu tuan muda sombong, aku masih perawan dan aku tidak akan melakukan hal gila seperti itu. Walaupun aku menyukai uang, aku tidak akan pernah menjual keperawananku!" geramnya
Ia berjalan menyusuri jalanan lagi meninggalkan Khaffi yang termenung karena ucapannya.
" Apa pertanyaanku salah? "tanyanya dalam hati," Kenapa dia begitu sensitif. "lirihnya
" Hei gadis sinting! Jika kita bertemu lagi sebaiknya keramas terlebih dahulu, rambutmu bau apek dan lengket! "teriaknya.
Dan ia mendapat acungan jari tengah dari Dini sebagai balasan. Saat tubuhnya saling terbentur tanpa sengaja Khaffi menghirup aroma rambut Dini yang apek dan lengket karena keringat. Bau.
" Sialan!! Ternyata aku lupa keramas dan itu sudah lima hari yang lalu, malu banget aku ketahuan joroknya. "gumam Dini dalam hati sembari merutuki kebodohannya. Sejak ibunya sakit ia tidak punya waktu untuk keramas, tepatnya memang Dini malas untuk keramas.
* **
Dan ternyata mereka bertemu lagi di rumah Farah. Saat Dini mengantarkan makanan dari ibunya, ia melihat Khaffi yang sedang bertamu disana dan berbincang dengan Keken.
Khaffi hanya menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan Keken.
"Dia ngapain disini?" tanya Dini saat di dapur. Ia yang terbiasa hidup dengan Farah tanpa risih membuka lemari pendingin dan menaruh beberapa makanan dan minuman.
"Masalah kerjaan." jawab Farah. "Din, maafin aku ya." Farah menyesal karena beberapa hari yang lalu mereka bertengkar namun Dini masih saja memperhatikan kesehatannya dan membeli beberapa makanan kesukaan nya.
"Hmm..."
" Ibu gimana kesehatannya?"
" Dua minggu lagi adikku akan sunat." ujar Dini lagi " Dan Ini rendang, gulai ikan gabus kesukaan kamu dari ibu."
"Ya allah, ibu baik banget sama aku selalu bawa makanan." Farah berkaca-kaca setiap mendapat kiriman dari ibu Dini yang selalu baik dan menganggap dirinya anak. "Aku akan datang kesana, boleh kan?"
"Tentu bolehlah bahkan ibuku akan heboh kembali saat kamu datang, kamu kan anak emas dan aku anak tiri."
Farah terkekeh dengan ucapan Dini seraya memeluknya.
"Apaan sih, Far! Jangan berlebihan deh."
"Dih! Sekarang nggak mau dipeluk, dulu aja nempel. Kalau tidak ada aku tidak bisa tidur."
"Mana ada kayak gitu." kilahnya. Dini menggulum senyum saat mengingat ia dan Vania selalu berebut dan berbagi tempat tidur. Mereka akan selalu memperebutkan Farah karena gadis itu memang selalu wangi dan bersih. Mereka bertiga akan saling bercerita sebelum tidur bersama. Dan kedekatan mereka terjalin hingga sekarang.
" Tumben keramas." Farah melihat keanehan pada Dini karena gadis itu jarang keramas di sore hari.
" Rambutku sudah lengket, lupa keramas saat di rumah ibu." Dini tersenyum lebar sampai memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Dasar jorok!"
"Vania kok jarang kesini ya." Farah begitu merindukan sahabat karibnya yang sekarang jarang main ke rumah kontrakannya. Beberapa hari yang lalu dia menelepon Vania dan ternyata gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor hingga belum sempat menjenguknya.
__ADS_1
" Dia sibuk pacaran dengan chef Ardi " jawab Dini
"Whatt...!!! Jadi beneran berita itu, aku kira hanya gosip." Farah terkejut saat mendengar Vania yang dekat dengan chef Ardi dan ternyata gosip itu bukan isapan jempol belaka. Vania, gadis yang cukup selektif memilih pasangan dan entah kenapa ia dekat dengan duda beranak satu. Sedangkan chef Ardi, pria yang pendiam dan tidak banyak bicara, bagaimana bisa ia kepincut dengan Vania si gadis bawel.
Aku mau heran tapi dia memang Vania si gadis yang memiliki jurus seribu dalam menarik hati lawan jenis." Dini
" Makanya lu cari pacar, noh depan ada yang single. " goda Farah sembari memasukkan beberapa lauk ke dalam plastik.
" Siapa? "
" Itu temennya Keken, si Khaffi. Ia juga baik hati dan tampan. Memangnya kamu tidak kepincut dengannya? "Farah menaik turunkan alisnya seolah menggoda Dini
" Ogah!! "ucapnya dengan tegas," Kayak nggak ada lelaki lain. " ia begitu kesal saat mengingat pria itu mengejeknya karena rambutnya lengket dan bau apek.
" Dia banyak duitnya. "lirih Farah, tangannya tidak berhenti memasukkan setiap makanan ke dalam beberapa plastik. Hari ini jualan nya laku keras.
" No...!!! "Dini bersikukuh dengan pendiriannya, ia pun tahu diri tidak mungkin pria itu suka dengannya. Status ekonomi mereka berbeda jauh dan Dini sadari itu, terlebih lagi bagi Dini, pria itu sangat menyebalkan.
" Ngapain sih kamu jualan! Keken kan sudah kerja dan banyak duit." Dini tidak suka jika Farah berjualan walaupun hanya di rumah. Ia tidak mau Farah kelelahan.
"Cari kesibukan." jawabnya dengan mengulas senyum.
" Kalau kamu mau cari kesibukan, manjakan suamimu di rumah dan penuhi segala kebutuhannya bukan dengan cara seperti ini apalagi melihatmu dengan daster kelelawar seperti ini. Menarik kagak, enek iya!"
Seperti biasa ucapan Dini selalu menohok dan to the point dan itu tidak membuat Farah sakit hati karena sudah kebal dan terbiasa dengan ucapan pedasnya.
" Pengantin baru biasanya pakai baju dinas yang sexy, menerawang biar suami naf su. Lah lu pakai daster lebar ginian." Dini menepuk jidat, sejak Farah hamil selera fashion nya berbanding terbalik. Daster, daster dan daster yang dipakainya.
"Mana bau dapur lagi." sindirnya sembari mengendus aroma tubuh Farah
"Ih, jahat banget sih ngomongnya!" Farah menepuk lengan Dini dengan gemas. " Memangnya aku sebau itu." gerutunya dengan kesal
"Beneran bau Far, serius." ucap Dini dengan jujur
" Mandi terus dandan sono yang cantik, service suami sampai ia bertekuk lutut agar tidak ada wanita yang mengganggunya di luar sana. Kalian sudah halal kalau mau anu-anu juga sah sah aja. Apa mau aku kirim video dari Vania yang superhot." goda Dini
"Apaan sih! Mana ada anu - anu begitu."
" Jangan sampai nyesel ya kalau si Keken jajan di luar. Gue takut aja kalau ada gadis lain yang ngaku - ngaku jadi bini nya si Keken yang kedua.Emang kamu mau?"
Farah menggelengkan kepalanya.
"Yang penting udah gue ingetin, terserah lu." ucap Dini, " Itu di kulkas ada kue lapis jangan lupa dimakan takut basi." Dini pamit dan keluar dari rumah Farah dan saat di ruang tamu ia kembali bertatapan dengan Khaffi dan seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka tidak saling menyapa dan pura-pura bod*h.
* **
Eksibisionis (eksibisionisme) adalah suatu kondisi yang ditandai oleh dorongan fantasi dan tindakan untuk memperlihatkan alat kelamin kepada orang asing tanpa persetujuan orang tersebut. Pelaku eksibisionis memiliki keinginan yang kuat untuk diamati oleh orang lain ketika melakukan aktivitas seksual.
__ADS_1