Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 54


__ADS_3

Keesokan harinya berita gosip tentang Keken dan Farah terpampang di beberapa media online dan elektronik. Dan sengaja diberi caption yang berlebihan tentang gosip itu.


"Putra Konglomerat kencan dengan seorang gadis."


"Putra tunggal pewaris dari DaFe Grup akan menikahi seorang gadis cantik."


" Wanita baru dalam hidup sang Pangeran."


Dan di ruang kerja seorang wanita paruh baya meremas koran harian yang baru saja dia baca. "Apa-apaan ini!" Ia melempar koran itu kedalam tempat sampah.


Ia mengambil handphone dan menghubungi orang kepercayaan nya.


"Hapus semua berita online tentang Ken dan jangan lupa siapkan pengawal untuk berjaga di perusahaan. Jangan sampai ada wartawan yang masuk ke dalam kantor kita." perintah Imelda, ia mengeratkan rahangnya dengan keras.


"Siap nyonya."


Imelda menutup teleponnya dan hanya bisa menghela nafas panjangnya. Pagihari ia sudah dipusingkan dengan pemberitaan tentang anak tunggal nya yang digosipkan berpacaran dengan wanita cantik, namun tidak digamblangkan tentang nama gadis itu.


"Anak itu sangat sulit diberitahu, sudah kubilang jangan menggoda gadis itu tapi Keken tidak mau mengerti ." Imelda begitu gemas dengan Keken karena putranya sulit diatur.


" Ada apa sayang, kenapa pagi-pagi kamu marah. "Feri masuk ke dalam ruang kerjanya dan mendapati istrinya sedang menggerutu.


" Anakmu itu berbuat ulah lagi, dia ingin bermain-main dengan gadis itu. Aku tidak ingin Ken merusak kebahagiaan nya, sayang. Kasihan gadis itu sudah menderita sejak kecil biarkan dia bahagia bersama pria pilihannya."


" Dia juga anakmu sayang, sifat keras kepalanya menurun darimu. "


Dan satu cubitan keras mendarat si pinggang Feri


" Isshh.. Sakit sayang. "Feri meringis kesakitan, cubitan dari istrinya begitu keras hingga terlihat bekas merah di kulitnya." Kau itu tega sekali. "


" Aku tega karena kau menjengkelkan, ini tentang anak kita mas! "Imelda terlihat kesal karena suaminya tidak memberinya solusi.


" Kenapa tidak mendukung anak kita untuk bersama gadis itu, bukankah dia gadis yang baik dan mandiri? "tanya Feri sembari melingkarkan tangan di perut istrinya.


" Karena tidak ada cinta di mata gadis itu untuk anak kita. Aku ingin Ken bahagia dengan wanita yang mencintainya dan gadis itu tidak mencintai anak kita sayang. "


" Kau itu kuno sekali, cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Seperti kita, biarkan anak kita bahagia dengan memilikinya. "


" Dan maksudmu dengan merebut gadis itu dari tunangan nya ? Kau gila! " sembur Imelda sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Aku bisa saja memberikan dia uang banyak jika dia bersedia mencintai anakku tapi gadis itu berbeda, dia bukan cewek matre yang haus akan uang." sambungnya lagi


" Bukankah gadis seperti itu yang ingin kau jadikan menantu, lalu apa masalahnya?"


" Bacalah!" Imelda memberi sebuah amplop pada suaminya tentang profil Farah. Sudah satu bulan yang lalu Imelda menyuruh pengawalnya untuk mencari informasi tentang Farah dan ia mendapatkannya dengan mudah.


" Ya ampun, menyedihkan sekali gadis itu. Gadis yang malang. " Feri menutup berkasnya kembali


" Apa yang akan kamu lakukan sayang setelah melihat berkas itu? Aku pun tidak yakin Ken bisa membahagiakan gadis itu mengingat anak kita selalu berganti wanita setiap malam. " Imelda memijit kepalanya yang terasa pusing dengan tingkah anaknya. Anaknya memang petualang cinta. Dan ia takut anaknya akan mengecewakan gadis itu jika mereka menikah.


"Ken memang selalu berganti wanita tapi dia tidak bercinta dengannya.Dia hanya__"


"Aku tahu, dia hanya iseng - iseng seperti dirimu saat muda dulu. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya!"


Feri tergelak tawa dengan ucapan istrinya yang begitu menohok.


"Saat ini Ken hanya bercinta dengan gadis kampung itu, si Wina yang kini tinggal di apartemen studio milik rekannya."


Imelda memang selalu memantau gerak gerik anaknya agar tidak sembarangan bercinta dengan wanita malam apalagi jika menghasilkan benih. Dia tidak akan menerimanya. Keken anak satu-satunya dan harapan Imelda, anaknya bisa mendapatkan gadis yang baik dan santun.


"Kau memang istriku yang luar biasa, singa betina yang masih selalu mengaum untuk melindungi anaknya." Feri mencium pipi istrinya bertubi-tubi.


"Aku harus melindungi keluargaku dan keturunanku, aku ingin yang terbaik untuk anakku."


"Tidak usah mancing, ini masih pagi. Aku tahu apa yang ada dipikiranmu sekarang ini." Imelda dengan cepat keluar dari ruangan suaminya dan membawa berkas perusahaan yang belum sempat terselesaikan.


"Sayang, ayolah pemanasan sejenak. Pumpung masih pagi dan fresh. Junior sudah memanggilmu berkali-kali, ayo kita buat keturunan lagi siapa tahu Ken bisa memiliki adik! " teriak Feri, walaupun sudah tua ia sangat suka menggoda istrinya.


"Dasar pak tua gila, mana mungkin aku hamil lagi!" Imelda menutup pintu kamarnya dengan cepat, ia tidak ingin pagi ini berolahraga dengan desah*n panas.


"Sayang... Sayang... Ayolah." Feri mengejar istrinya ke dalam kamar.


O


"Apa?!" Imelda melotot dengan kesal karena suaminya masih kekeh dengan kenginginkan nya.


"Ay___" belum sempat ia meneruskan perkataan nya, pintu diketuk oleh seseorang.


"Siapa yang mengganggu keromantisan kita, akan aku pecat dia!" Feri membuka pintu kamarnya dan terlihat Keken yang meringis cengengesan

__ADS_1


" Pangeran Modosa, tumben sekali kau datang sepagi ini."


Keken masuk dan melihat mommy nya sedang duduk di tepi ranjang.


" Apa aku menganggu kalian? "


" Kau memang menganggu, papah ingin olahraga pagi dengan mommy mu." gerutu Feri dan Imelda langsung melempar bantal kearah suaminya.


" Papih, aku tidak mau memiliki adik jadi kuharap kau memakai pengaman." kelakar Keken


"Dasar gila! Mana mungkin juga mommy mu hamil lagi, dia sudah monopose."


"Baguslah.." Keken tertawa lepas, sedangkan mommy nya hanya mengelus dada melihat tingkah laku suami dan anaknya.


"Ada apa kamu kemari, Ken?" Imelda langsung to the point seperti biasanya.


" Mommy, aku mohon hentikan semua ini. Aku tidak mau para pengawal itu selalu mengawasiku." Keken meminta pada mommy nya agar dia bisa bebas dan tidak ada pengawalan khusus, ia merasa sesak nafas karena ruang geraknya dibatasi oleh pengawal ibunya.


"Apa kau bisa berjanji untuk tidak menggoda gadis itu, lepaskan dia Ken. Biarkan dia menikah dan hidup bahagia.Maka mommy akan menarik semua pengawal itu."


"Aku tidak bisa mom, aku tidak bisa karena aku mencintainya. Mommy, aku selalu meminta sesuatu padamu kan dan kali ini berikan aku gadis itu mih, aku ingin dia mih." pinta Keken dengan memelas


"Hei boy, apa kau sudah tidak waras!" baru kali ini Keken melihat putranya meminta sesuatu yang sangat sulit. " Kau ini meminta cinta seorang gadis sedangkan dia tidak mencintaimu, ini bukan seperti meminta permen lolipop Ken dan ini tidak mungkin!"


"Pih, aku mencintai gadis itu. Kali ini aku serius pih."


Keken! " sentak Imelda." Jangan melewati batasanmu dan mommy minta lupakan gadis itu! "ia mengatakannya dengan tegas.


" Tidak mih, aku tidak akan bisa melupakan Farah. " Keken mengatakan nya dengan nada tinggi juga.


" Mommy kau tidak akan mendukungku? kau tidak ingin aku bahagia? Mom.... "lirih Keken ia berlutut di depan ibunya dan menggengam tangannya seolah meminta restu agar mommy nya mengizinkan ia dengan Farah.


" Keken sadarlah Nak, jangan memaksakan kehendak karena tidak semua apa yang kita inginkan bisa terpenuhi dan terimalah takdir ini bahwa dia bukan milikmu."


"Tidak mih, Keken mau dia bagaimana pun caranya. Jika mommy tidak bisa memberikan apa yang Keken mau, aku akan bertindak sesuai keinginanku."


"Ken, jangan gila kamu!" Imelda memukul dada anaknya dengan kesal. Putranya benar-benar bebal, tidak mau mengerti.


" Keken memang sudah gila mih, karena gadis itu yang Keken inginkan bukan yang lain. Dan jangan pikir Ken tidak tahu jika mommy selalu membuat aku sibuk dengan pekerjaan, aku tahu itu semua perbuatan mommy. Dan perlu mommy ingat, seketat apapun pengawalan mommy Keken akan bisa lolos, aku akan bertindak sesuka hatiku. "

__ADS_1


" Ken, jangan berbuat ulah Nak! " Feri meminta anaknya untuk tidak melakukan kesalahan yang akan berakibat fatal untuknya.


" Tidak pih, aku akan bertindak sesuai keinginanku. Aku pergi. " Keken berlalu dari mansion ibunya dengan hati kesal.


__ADS_2