Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 77


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Farah mencoba memberanikan diri untuk meminta alamat kantor Keken pada mommy Imelda. Mau tak mau ia harus bertemu secara langsung dengan si pemilik yang sudah menitipkan benih padanya.Dan kini helaan nafas panjang Farah terdengar berulang kali.


" Mau aku antar tidak?" tawar Dini, ia melihat Farah yang selalu cemas dan gugup berulang kali saat bercermin. Ia sesekali duduk di tepi kasur, berdiri lalu mondar mandir tidak jelas hingga membuat Dini pusing.


"Apa aku terlihat sangat gugup?" tanyanya


Dini menganggukan kepala.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya tapi aku harus mengatakan kebenaran ini." ia kembali merebahkan dirinya di kasur,bergulang guling kesana kemari tanpa menjawab pertanyaan dari Dini


"Ya sudah aku anterin ya, aku tidak mau kamu mati berdiri saat bertemu dengannya." kelakar Dini


" Si*lan lu, Din!" ketus Farah, "Justru dia yang akan mati berdiri setelah tahu kebenarannya." sahutnya lagi Farah


" Yakin, mau diantar tidak?" tanya Dini sekali lagi, "Aku bisa cuti hari ini, si Vania kan kerja pasti kesini weekend doang. "


"Ya sudah anterin aku ya, aku takut sendirian kesana." pinta Farah


"Naik motor saja pelan-pelan, nanti aku yang bawa, kamu tinggal duduk manis. Kalau pakai taxi mahal mending buat makan malam entar beli nasi goreng mang Aris. Oiya, jangan lupa isiin bensin nya." cerocos Dini sembari menggulum senyum, entah kenapa akhir - akhir ini ia suka menggoda Farah agar si bumil itu berteriak dan kesal.


" Ya ampun, medit banget sih punya temen satu ini. Itungannya akurat banget dah kayak mesin kalkulator. "seru Farah seraya mengerucutkan bibirnya. Dini hanya tertawa melihat Farah mengomel.


Mereka mengendarai motor ke perusahaan Keken, namun sebelumnya mereka mampir ke dalam minimarket terlebih dahulu untuk membeli makanan dan minuman.


" Dimakan dulu roti dan air nya, kamu belum makan sejak pagi." ia mengeluarkan sepotong roti dan minuman dari kantong plastik.


"Aku tidak lapar." Farah menolak roti itu, namun lebih memilih minum air mineral.


"Bukan untuk kamu, tapi untuk ponakanku." ketus Dini, ia tahu sejak pagi Farah tidak mau makan karena mual. Tadi ia sengaja mampir membeli makanan agar Farah mau makan sepotong roti untuk mengisi perutnya. Terkadang Dini tidak tega melihat sahabatnya semakin kurus, selera makan Farah menurun drastis setelah hamil.


" Tapi ini beneran masih mual Din." ucap Farah sembari menahan perutnya yang kian bergejolak ingin dikeluarkan.


"Tapi beneran ya setelah ketemuan sama pria br*ngsek itu, kamu harus makan roti ini. Aku tidak mau kamu sakit."


"Iya Aunty ku yang menyebalkan dan terkadang pura-pura pelit." sahut Farah dengan gaya dan suara anak kecil.


"Untung lu cantik Far, pantaslah kalau ngomong dengan gaya imut kayak gitu. Kalau yang ngomong modelnya kayak teh cucu, udah gue cekik saking keselnya." Dini


Farah terkekeh.


"Ya sudah, aku masuk ke kantor dulu ya. Kamu tungguin aku di parkiran ini saja. Aku cuma sebentar." sambungnya lagi


"Yakin, tidak mau diantar sampai lantai atas? Aku khawatir sama kamu."


"Tidak! Aku bisa kok. Ini masalah aku dengan dia, tolong beri aku kesempatan untuk bicara empat mata dengannya." pinta Farah


"Oke! Aku tungguin kamu di parkiran ini."


Farah masuk ke dalam kantor dan bertanya pada resepsionis agar bisa bertemu dengan Keken.


Di sisi lain,


Pekerjaan Keken kian menumpuk dan satu jam lagi rapat akan segera dimulai. Ia membaca materi yang akan di bahas dalam rapat tersebut.


Sinar matahari begitu terik dan membuat Keken sedikit kegerahan padahal pendingin ruangan sudah menyala dengan temperatur seperti biasa.


" Antoni, kok laporan banyak banget seperti ini. Pusing aku ngeceknya." keluh Keken sembari memijit kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Ini baru sebagian tuan, karena tiga hari yang lalu tuan Fafa pun tidak masuk kerja." jawab Antoni


"Kok bisa dia tidak masuk kerja? Kemarin aku bertemu dengannya tapi dia tidak mengatakan apapun. Sial*n!" umpat Keken


"Tuan Fafa izin cuti karena nyonya Hanin sakit dan dia harus menemaninya, tuan."


"Ya ampun bucin banget dia sama si Janin sampai - sampai rela tidak masuk kerja." Keken menggelengkan kepala tidak percaya dan tersenyum kembali saat membayangkan Fafa dan Hanin dulu menikah,tidak ada cinta diantara mereka. Keributan dan pertengkaran kerap menerpa rumah tangganya. Namun, sekarang berbeda sepupunya itu begitu mencintai anak dan istrinya. Dan Mereka hidup bahagia.


"Tut.. Tut.. Tut..." terdengar suara telepon kantor.


"Iya."


"Maaf tuan, ada seorang wanita ingin bertemu anda.Namun dia belum membuat janji temu." ucap sekretaris Keken diujung telepon

__ADS_1


"Siapa?" tanya Keken yang masih berkutat dengan berkasnya


" Nona Farah, tuan."


Seketika Keken menghentikan jemari tangannya yang sedang menulis. Ia mengenyitkan dahi dan bertanya-tanya untuk apa Farah datang menemuinya.


"Hallo.. Hallo tuan. Bagaimana, apa saya usir saja?" tanyanya


"Jangan! biarkan dia masuk." perintah Keken sembari menutup teleponnya. Hatinya mulai bergemuruh saat mendengar Farah datang menemuinya.


"Perasaan ini masih sama." gumam Keken dalam hati, ia menyentuh dadanya. Dan Antoni melihat itu, namun seperti biasa dia selalu berwajah datar


"Saya akan menunggu anda tuan, tolong pelajari berkasnya terlebih dahulu sebelum rapat dimulai. Permisi." pamit Antoni


Keken seolah tidak mendengar suara Antoni dengan jelas, dia dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan rahasia tempat dimana dia beristirahat. Dan dengan cepat Keken merapikan baju sembari menatap wajahnya di cermin.


" Aku begitu tampan, Farah pasti terpesona denganku. Eh, tapi dia kan menikah minggu ini. Apa jangan - jangan dia datang untuk memberi undangan pernikahannya." Keken bermonolog sendiri, dirinya yang semula begitu semangat untuk bertemu Farah, kini menunduk lesu.


" Aku harus tahu diri, dia akan menikah. "lirihnya sembari keluar dari kamar persembunyiannya dan duduk di kursi sembari membaca kembali berkas yang menumpuk.


" Tok.. Tok.. Tok.. "


" Masuk. " jawabnya. Hati Keken mulai tak menentu, gugup ketika pertama kali melihat Farah masuk dari arah pintu.


"Hai Farah, apa kabar?" tanyanya basa-basi. Ia mencoba meredam debaran hatinya yang kian bergemuruh.


"Baik." Farah menatap Keken dari kejauhan. Saat akan mendekatinya, Keken memintanya untuk duduk di sofa tamu.


"Sebentar lagi aku selesai, kamu mau kan tunggu sebentar. Ini berkas penting yang harus aku selesaikan sekarang."


"Iya." Farah hanya menjawab singkat dan duduk di kursi sofa. Sedangkan Keken dengan hati bergemuruh masih melanjutkan pekerjaannya,sedikit salah tingkah saat kedua matanya bertemu dengan mata Farah. Keken kembali mengatur nafasnya agar tidak gugup.


" Farah, kau ingin minum?" tanyanya basa-basi tanpa melihat kearah gadis itu.


"Tidak terima kasih."


Keken hanya melirik sekilas lalu kembali menyibukan diri dengan berkas yang menumpuk.


Farah melirik Keken dan sesekali menghela nafasnya, matanya menyusuri tiap ruang kerja Keken yang terlihat begitu luas. Vas bunga yang tertata rapi dan pewarnaan dinding ruangan dengan warna krem membuat ruangan Keken menjadi lebih indah, klasik dan berkelas.


Tiga puluh menit Farah duduk di sofa tanpa sepatah katapun dari Keken yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya Keken lupa ada seorang wanita yang sedang menunggunya untuk bicara. Hingga suara ketukan pintu dari luar mengganggu dirinya.


"Masuk..!!" seru Keken


Seorang gadis cantik berkulit putih dengan mata sedikit sipit datang ke ruangannya. Wajah yang pernah ia temui di restoran dulu. Wajah yang tidak asing.


" Bukankah dia pacar Keken?" gumam Farah dalam hati. Matanya mengekor kearah gadis cantik itu.


"Oh, ternyata kamu ada tamu, Ken." Michelle masuk dan sempat melirik Farah.


"Mm.., sepertinya kita pernah bertemu tapi dimana ya?" Gadis itu mencoba mengingat - ingat dimana ia pernah bertemu dengannya


"Di restoran D&R nona." balas Farah


"Oh ya aku ingat, kau gadis itu. Perkenalkan aku Michelle." ia mengulurkan tangan


"Farah." ucapnya sembari tersenyum


Michelle menelisik dari ujung rambut hingga kaki penampilan dari Farah, tidak terlalu cantik tapi dia memiliki senyum yang indah.


" Sekarang aku mengerti." lirih Michelle sembari tersenyum dan berbalik kearah Keken.


"Nona bicara dengan saya." Farah merasa Michelle bergumam lirih padanya


"Tidak!" ia menoleh sejenak dan melanjutkan langkah kakinya.


"Hai Ken, apa kau sudah siapkan semuanya." Michelle mencondongkan badannya sedikit kearah Keken dan menatap berkas Keken


"Ada yang tidak aku mengerti, kau bisa membantuku?"


"Tentu saja sayang, apa sih yang tidak untukmu." goda Michelle sembari mengedipkan matanya. Dan ini pertama kalinya Michelle menggoda Keken, terlihat aneh karena biasanya Keken yang selalu menggoda dirinya.

__ADS_1


" Kamu sakit mata? Sejak kapan kamu genit seperti itu. "tanya Keken dengan lirih dan menggulum senyum


Michelle tergelak tawa, tidak seperti biasanya. Entahlah, ia seolah ingin memberi pelajaran pada Farah yang masih duduk di sofa itu. Dulu Michelle cemburu karena Keken yang terkenal playboy bisa jatuh hati pada gadis itu yang menurutnya biasa saja. Tidak terlalu cantik.


" Setelah kita berpisah, aku rasa diriku semakin cantik dan menarik. Lihat auraku begitu bersinar." lirih Michelle


" Ya, kau memang bersinar seperti lampu taman." kelakar Keken dengan suara lirih


"Jahat...!!!, kamu pikir aku botak mengkilap gitu kayak lampu taman" Michelle mengerucutkan bibirnya sembari mencubit lengan Keken bertubi-tubi hingga Keken merasa geli dan tertawa keras.


"Ampun Cell!!, udah ah geli tau, takut ada yang bangun entar bahaya." ucapnya lagi


"Plak..!" Michelle memukul lengan Keken kembali. "Dasar omes, otak mesum!"


Farah yang melihat kejadian itu hanya bisa membuang wajahnya kearah lain. Ingin rasanya ia mengumpat. Bukan karena cemburu tapi lebih kearah kesal. Bagaimana tidak kesal, ia harus menunggu tiga puluh menit untuk bisa bicara dengan Keken. Sedangkan, gadis itu baru datang langsung bisa mengobrol dan bercanda hingga membuat Keken tertawa.


" Aku tunggu di ruang rapat, kamu selesaikan dulu semuanya. Ingat, kali ini papahku yang turun tangan langsung jangan buat dia kecewa karena jauh-jauh datang kemari." Michelle sengaja mengedipkan matanya lagi


" Siap nona besar, kali ini aku yakin papahmu akan merestui kita. " goda Keken sembari mengedipkan matanya dan hanya dibalas dengan acungan jari tengah oleh Michelle.


Bercanda dengan Michelle membuat otaknya sedikit membaik. Ayah Michelle yang baru saja datang dari Amerika sengaja mampir ke perusahaan Keken untuk rapat dan membahas masalah investasi. Hubungan percintaan mereka sudah tamat namun pertemanan mereka masih terbilang bagus, bahkan Michelle seringkali membantu Keken saat ada masalah pekerjaan. Merestui, ah itu tidak mungkin karena gadis itu sedang dijodohkan dengan anak dari sahabat papahnya, meskipun saat ini Michelle belum tertarik pada pria itu tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan bersama karena pria itu kaya raya dan ini masalah bisnis.


"Farah, aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi." pamit Michelle


"Iya."


Keken kembali menatap berkas dan dengan terburu-buru ia membacanya agar cepat selesai. Dan tanpa disadari kini Farah semakin kesal karena diabaikan lagi. Ia menghampiri Keken dengan mata menyalang.


"Apa aku bisa bicara denganmu? Tidak lama cukup lima menit." ucapnya dengan ketus


"Oh, ya ampun Farah. Aku hampir lupa bahwa ada kamu disini. Maaf." Keken mulai menutup berkasnya.


"Karena kamu hanya bisa melihat pacarmu saja, sedangkan aku tidak terlihat bahkan sudah menunggumu tiga puluh menit yang lalu!" sindirnya.


"Itu karena aku sibuk dengan pekerjaanku dan ini sangat penting, maaf." ucapnya dengan menyesal.


" Aku tahu karena aku memang bukan orang penting hingga kamu mengabaikanku." mata Farah mulai berkabut.


"Aku kesini hanya ingin kamu tahu bahwa aku hamil anakmu." Farah melempar empat tespek kearah tubuh Keken.


" Apa... Haaa.. Hamil." Keken terkesiap, ia mengambil tespek yang dilempar Farah dan terlihat dua garis merah di benda itu.


"I.. Ini beneran?" tanyanya tidak percaya


"Kamu pikir aku bohongan!!" Farah meneteskan airmata. "Kamu pikir disaat seperti ini aku bisa berbohong!" teriaknya.


"Aku juga tidak mau hamil anak ini, tapi nyatanya aku hamil anakmu!" teriaknya lagi sembari menangis


Keken masih linglung, diam seribu bahasa. Hanya bisa menatap benda pipih bergaris dua itu. Ia benar-benar syok.


" Jawab aku!" teriak Farah, "Kenapa kamu diam, HAH...!!" Farah melihat Keken yang diam membisu tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Oke, sekarang aku tahu jawabanmu. Ternyata kamu tidak menginginkan bayi ini. Aku pun tidak mau kamu bertanggungjawab, aku masih bisa mengurusnya sendiri. Permisi!" pamit Farah, ia mengusap airmatanya dan keluar dari ruangan Keken dengan membanting pintu. Berlari meninggalkan pria br*ngsek itu sembari menangis tersedu- sedu.


" Aku akan menjadi seorang ayah? Benarkah? Apa ini mimpi? Aku harus senang atau harus sedih? Bagaimana dengan pernikahan Farah dengan pria itu?" Keken bermonolog sendiri.


Dan saat dirinya tersadar, ia telah kehilangan sosok Farah yang sudah menghilang dari hadapannya.


" Farah...!!" teriak Keken sembari keluar dari ruangannya,mencari gadis itu.


" Tuan. Maaf, anda tidak bisa keluar saat ini karena rapat akan segera dimulai." ucap Antoni sembari menahan lengan Keken.


"Ta.. Tapi aku harus mengejar Farah. Dia hamil anakku An, dia hamil. Aku akan menjadi seorang ayah." Keken tersenyum lebar saat mengatakan akan menjadi ayah.


"Saya tahu tuan, saya mendengarnya. Tapi kumohon selesaikan terlebih dahulu pekerjaan anda karena Tuan Michael sudah datang. Setelah itu baru anda mencari nona Farah. "


"Ta... tapi.. Aku harus mencarinya."


"Saya tahu tuan, nyonya Imelda sudah mempersiapkan segalanya. Anda tidak usah khawatir tentang keadaan nona Farah."


Keken terkesiap, mommy nya ternyata sudah tahu bahwa Farah hamil dan tidak memberitahukan padanya. Luar biasa.Mommy nya selalu gerak cepat satu langkah di depan.

__ADS_1


" Baiklah... "Keken menunduk lesu dan mau tak mau harus mengikuti rapat walaupun dalam hati ia begitu mengkhawatirkan Farah.


__ADS_2