Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 36 ( Papih dan anak yang sama gilanya)


__ADS_3

"Siapa?" tanya Keken, ia melihat Farah tersenyum lebar saat melihat ponselnya.


"Bang Hilman, calon suamiku." Farah masih dengan senyuman manisnya.


"Ken, tolong kamu jangan bersuara. Aku tidak ingin bang Hilman salah paham karena dia orang yang cemburuan." pinta Farah


Keken menggengam stir mobilnya dengan kuat, entah kenapa hatinya tidak suka saat mendengar nama calon suami Farah.


"Assalamualaikum bang."


"Walaikumm salam." terdengar suara balasan dari ujung telepon.


" Apa tidak terlalu cepat." jawab Farah, Keken dengan sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Desain undangan terserah abang, aku ngikut saja."


" Aku tidak ingin mengundang banyak orang, yang penting nantinya acara berjalan lancar dan khidmat."


" Iya bang, iya, ya sudah. Assalamualaikum.." Farah menutup telepon dan tersenyum lebar kembali


" Udah mau bikin undangan pernikahan? "tanya Keken basa- basi tanpa melihat kearah Farah.


" Sudah, ada beberapa desain. Nanti hari minggu abang kesini mau nunjukin contohnya. "ucap Farah


Keken masih dengan wajah datarnya.


" Kapan kamu menikah? "


" Tiga bulan lagi, do'ain ya agar semuanya berjalan lancar. " jawab Farah


" Ya. " hanya itu yang terucap di bibir Keken namun hatinya menolak.


" Apa dia begitu baik? "tanya Keken


" Maksud kamu bang Hilman?! "


" Tentu saja dia baik, dia satu-satunya lelaki terbaik yang aku miliki. Aku bahagia sebentar lagi aku akan menikah dengannya. " lanjut Farah lagi sembari tersenyum.


" Dia memberiku cinta dan kasih sayang yang banyak. " Farah menggulum senyum saat mengatakannya.


" Hari gini hanya ngasih cinta dan kasih sayang. Hellowww... kamu harus realistis, semua butuh uang bukan hanya cinta!" Keken masih bicara dengan nada tidak suka


" Tentu saja hidup butuh uang dan dia juga bekerja bukan pengangguran "


" Ken, apa kau tahu butik untuk gaun pernikahan di daerah Jekardah? Abangku ingin segera fitting baju pengantin. " lanjut Farah, wajahnya tersipu malu saat mengatakannya.


" Aku tidak tahu!" ketus Keken


" Ngapain juga buru-buru fitting baju kan masih tiga bulan lagi, bisa jadi kamu tambah gendut atau tambah kurus. Dan calon suamimu bisa jadi seperti itu juga!" kata Keken, suaranya masih terdengar tidak suka, nadanya terdengar meninggi.


" Kenapa kamu yang sewot! Ngomongnya nggak usah ngegas juga kali. "Farah cemberut karena Keken memancing emosinya," Kalau aku gendut, aku bisa diet dengan mudah. "


Dan mereka saling diam hingga mobil Keken tepat mengantarkan Farah di depan kontrakannya.


" Terima kasih,brak!" Farah membanting pintu mobil Keken dengan keras.


"Dasar cewek gendeng!" teriak Keken dengan kesal.


"Kenapa aku cemburu, ini tidak benar.Ini pasti salah." gumam Keken dalam hati


* **


Keken tiba di mansion tepat setelah adzan magrib.Kali ini Keken sengaja mampir menemui ibunya dan tidak pulang ke apartemen. Dengan langkah terburu-buru dia masuk mencari wanita yang melahirkannya.


" Mommy... "sapa Keken sembari memeluk ibunya dari belakang


Imelda terkejut karena Keken memeluk dirinya dari belakang dan ini sudah sangat lama tidak Keken lakukan padanya.


" Tumben kesini, masih ingat mommy? "sindir Imelda. Sudah empat bulan Keken tidak pernah berkunjung menemui dirinya di rumah. Keken selalu beralasan sibuk bekerja padahal Imelda tahu anaknya selalu main di club malam.


Keken terkekeh dengan sindiran ibunya," Maaf mih, baru ada waktu sekarang. Keken kangen mommy."


" Yakin kangen mommy?! Bukannya kamu suka menghindar jika bertemu mommy." sindir ibunya kembali


Hubungan kedekatan Imelda dan Keken kurang begitu baik. Mereka sama-sama keras kepala tak jarang mereka beradu pendapat ,apalagi jika Keken selalu dimanjakan dan dibela ayahnya maka Imelda akan meradang.


Imelda seorang wanita yang tegas, kehidupan di masa lalu membuat sifat dan karakternya begitu kuat dan mandiri,berbanding terbalik dengan sang anak yang suka bermain dan jarang serius dalam hal apapun.

__ADS_1


"Iya mah, Keken beneran kangen. Cup.. Cup.. Cup..." Keken mencium pipi ibunya bertubi-tubi.


"Mih, makasih ya sudah menjadi mommy Keken yang selalu sayang dan selalu sabar. Keken selalu bikin kesel mommy, selalu bikin masalah untuk mommy maafin Keken ya mih." ucap Keken dengan begitu tulus


"Kamu kesambet setan mana?"


Imelda sebenarnya merasa terharu karena ini pertama kalinya Keken mengucapkan rasa terima kasih dan meminta maaf padanya. Namun ia tidak ingin menunjukan sisi lemahnya dengan menangis di depan anaknya.


" Ishh.. Mommy, Keken ngomong kayak gini dibilang kesambet. Seharusnya mommy menangis dan berkata," iya Ken, mommy menyayangimu,kamu mau minta apa akan mommy kabulkan " Keken meniru suara dan gaya ibunya.


" Kamu itu UUD, ujung ujungnya duit! " ketus Imelda, dan Keken hanya terkekeh.


"Apa yang kau lakukan?!" suara seorang pria yang terdengar begitu berat kini menatapnya dengan tajam. Tanpa menoleh pun Keken tahu suara itu milik siapa.


" Beraninya mencium dan memeluk istriku!" ucap Feri, ayah dari Keken.


"Tapi dia mommy aku.Papih sudah tua tidak usah cemburuan." Keken menarik tangan ibunya agar duduk. Dan dia berbaring di pa ha sang ibu, kebiasaan yang sering Keken lakukan. Belaian ibunya membuatnya nyaman.


" Walaupun dia mommymu, papih tetap cemburu. Dan perlu diingat, papih belum tua yang tua itu mommymu." Feri melirik istrinya yang kini melotot kearahnya. Imelda memang lebih tua tiga tahun dari Feri.


" Mih, tuh mih. Mommy dibilang tua sama papih. "Keken tersenyum sembari memprovokasi ibunya agar marah dengan ayahnya


" Biarkan saja papihmu bicara begitu, walaupun mommy tua pada akhirnya dia akan kembali ke pelukan mommy. "


" Hahahaha... Jelas akan kembali lah, mana ada yang berani melawan singa betina sepertimu sayang. " Feri menggelengkan kepala, berapa banyak wanita yang selalu menggoda Feri namun Imelda selalu mengintai pergerakan suaminya dan membuat jera para wanita itu, hingga mereka kapok dan tidak berani merayu suaminya.


" Si judes kemana mih, dia tidak menginap disini? " tanya Keken, ia tidak melihat Inha berada di mansion.


"Inha hari ini pulang ke rumahnya, Mommy kesepian tidak ada dia." Imelda menghela nafasnya dengan berat. Inha sudah seperti anaknya sendiri, sejak Keken pindah ke apartemen hanya Inha yang menemani Imelda.


"Makanya kamu nikah Ken, lalu beri kami cucu. Navysah saja sudah punya cucu,malah bulan ini nambah dua.sedangkan aku belum punya cucu sama sekali." Feri membayangkan kembali saat keluarga Davian begitu bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya, anak dari Raffa.


Keken hanya tersenyum kecut, hatinya kembali teringat pada Farah. Perempuan yang berhasil membuat hatinya bergetar dan selalu penasaran, namun sayangnya dia akan menikah sebentar lagi.


"Keken sudah putus dari Michelle."


"Benarkah, apa kau ketahuan selingkuh dengan wanita lain?" Feri mengerti kelakuan anaknya di luaran sana. Keken tumbuh seperti ayahnya yang selalu bergonta - ganti pasangan. Playboy kelas atas dengan sejuta pesona yang dimiliki nya.


"Tidak pih, memang sudah harus diakhiri karena perbedaan keyakinan."


"Ya paling beberapa perempuan lainnya sebagai cemilan." kelakar Keken sembari tersenyum


" Dasar bajing*n tengik! Belum berubah juga kamu. Masih suka Cepu alias cemilan put*ng, hahahaha..." Feri tergelak tawa, jiwa casanova menurun pada anaknya. Dan kini Imelda menatapnya dengan tajam.


" Mommy tahu kamu kesini karena ada yang ingin dibicarakan, katakan pada mommy apa yang membuatmu sedih seperti itu. " Sejak kedatangan Keken ke mansion, Imelda menelisik wajah anaknya yang tidak bersemangat.Dan itu bukan sifat Keken


"Tidak ada apa-apa mih." bohong Keken


"Apa ada hubungannya dengan wanita itu? Mommy dengar kamu mengambil alih proyek di Utara, apa karena wanita itu."


Keken hanya menghela nafas panjangnya, Ibunya bukan orang sembarangan dan mudah di bohongi. Dia selalu mencari informasi tentang semua wanita yang berada di sekitar Keken.


" Wanita siapa? Yang mana? " Feri merasa ketinggalan informasi tentang sang anak.


"Wanita yang bekerja part time di apartemen anak kita sayang." jelas Imelda


"Cantik tidak? sexy? Putih? Stok Cepu gede nggak?" tanya sang ayah yang mengarah ke bagian fisik.


Imelda begitu gemas karena Feri masih saja bicara me sum disaat anaknya ingin bicara serius.


"Gede yah, sumber kehidupan aman terkendali. Cukup untuk bikin kenyang, dan gilanya lagi si Kenzi blingsatan kalau deket dia. Tau aja si Kenzi yang original, hahahaha..." kelakar Keken


Imelda melempar bantal kearah suaminya dan Ia menjambak rambut anaknya.


"Isshh... Sakit mih." desis Keken


"Kamu itu sama saja seperti papih, kapan sih Ken kamu berubah." gerutu Imelda


"Masih ingat kan ucapan mommy, jangan sampai ngerusak anak orang dan belajarlah lebih serius dalam bekerja. Hanya kamu satu-satunya anak mommy."


"Keken akan berusaha berubah mih." janjinya


"Kok papih nggak yakin ya." Feri meragukan perkataan anaknya. " Kalau kamu benar-benar ingin berubah, kurang - kurangin nongkrong di club, kurangin Cepu, kurangin nen . Yakin bisa?!"


Keken hanya menunjukan deretan barisan gigi yang rapi. Papih nya tahu kebiasaan Keken yang buruk itu.


"Lihat tuh si Fafa, dulu bandel kayak kamu tapi setelah menikah dia jadi anak baik dan bertanggung jawab pada istrinya. Apa perlu papih nikahkan kamu segera agar insyaf seperti Fafa?"

__ADS_1


"Keken belum ingin menikah pih, masih ingin bersama ayah dan mommy. Keken ingin kalian bangga dengan Keken." kilahnya


"Cuih! Bajing*n cilik ini pintar sekali bicara. Sekarang papih tanya, prestasi apa yang sudah kamu berikan pada ayah dan mommymu ini?"


" Bagian mana yang membuat kami bisa bangga denganmu, Ken!" Feri menggeleng kepala


Keken mengenyitkan dahi mencoba untuk berpikir, apa pernah dia membanggakan ibunya selama ini." Kok, aku merasa tidak punya prestasi apapun ya pah selain bikin onar. "


"Lah, itu lu tahu. Berarti lu masih waras Ken kagak hilang ingatan." ujar sang ayah sembari terkekeh.


Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya, kepalanya sedikit pusing mendengar obrolan unfaedah yang tidak ada habisnya.


" Kamu sebenarnya anak yang pintar Ken, tapi pemalas!" ucap Mommy Imel


" Iya, anakmu memang pintar. Pintar banget malah. Pinter ngerayu wanita dengan bibir manisnya,pinter bikin onar di club malam, pinter tawuran pulang - pulang babak belur, pinter balap liar sampai nginep di kantor polisi. " Feri menjabarkan kelakuan Keken yang negatif sejak dulu.


" Masa lalu pih, jangan diungkit. "pinta Keken


" Menikahlah, agar kamu lebih bertanggung jawab. " ucap Feri kembali, ia begitu tidak sabar ingin segera menikahkan Keken agar dia bisa pamer cucu pada Davian.


" Tapi masalahnya wanita itu sudah bertunangan dan akan segera menikah. "Keken menundukan kepalanya, wajahnya terlihat sedih. Akhirnya ia mau bercerita dengan kedua orangtuanya.


" Cari wanita lain, masih banyak wanita yang single. "


" Nggak mau pih, Keken cuma mau dia. Dia wanita pertama yang membuat hati Keken bergetar. "


" Yaelah, sok-sok an hatimu bergetar, liat jidat licin aja langsung mepet ke ranjang." cibir Feri. Imelda kembali melempar bantal sofa kearah suaminya.


" Sayang ini muka, bukan ring basket! " ucap Feri sembari menangkap bantal yang dilemparkan istrinya.


" Kamu diamlah! "ketus Imelda," Aku ingin bicara dengan Keken. "


" Apa yang membuat kamu ingin bersamanya?"tanya Imelda. Baru pertama kalinya ia melihat Keken begitu menginginkan seorang wanita dan mau bercerita dengannya. Biasanya Keken akan sembunyi - sembunyi pacaran dengan wanita lain dan tidak pernah memberitahukan pada orangtuanya, namun tidak kali ini, Keken mulai terbuka dan mau bicara jujur.


" Dia wanita yang baik, bukan dari kalangan atas. Dia anak dari keluarga biasa mih. Keken ingin melindunginya dari orang-orang yang jahat, Keken suka dengannya,suka dengan kepribadian dan sifat dia yang mandiri mih."


"Tapi dia akan menikah tiga bulan lagi. Calon suaminya juga orang baik, wanita itu terlihat bahagia dengannya."


" Ya ampun Ken, kalau kamu menginginkannya, kamu harus berusaha merebutnya, tikung sebelum janur kuning melengkung!" Feri memberi semangat pada anaknya, semangat yang tidak patut dicontoh.


" Mas...!! "Imelda menatap tajam wajah suaminya." Memberi saran itu yang benar bukan yang salah. "


" Lah, salahnya dimana?! "tanyanya," Sebelum janur kuning melengkung masih milik umum. "


" Dulu saat aku akan serius dengan seorang wanita, kamu juga nikung dan akhirnya kita menikah. " Feri tersenyum geli karena dulu Imelda benar-benar gengsi tidak mau mengakui perasaannya sendiri hingga akhirnya Feri dan Navysah membuat beberapa rencana.


"Benarkah seperti itu pih?" Keken menatap tidak percaya bahwa dulu ibunya seolah penikung.


"Mana ada seperti itu!" kilah Imelda dengan kesal


"Yaelah kagak mau ngaku." Feri


" Apa tidak ada perempuan lain? "tanya Imelda pada anaknya. Ia mengalihkan pembicaraan yang lebih serius


" Pilihlah salah satu wanita dari foto yang mommy berikan waktu itu. Mereka dari kalangan atas dan pintar. Wanita itu cocok sebagai pendampingmu Ken."


"Keken tidak mau! percuma mommy berikan satu tumpuk foto wanita cantik dan mereka punya berkarier, nyatanya mereka tidak bisa membuat Keken tertarik. Mereka cantik tetapi angkuh, sombong, karena mereka anak orang kaya mereka bersikap sesuka hatinya." Keken begitu menggebu, ia teringat sudah beberapa kali mengikuti kencan buta dengan wanita yang akan dijodohkan oleh ibunya. Dan beberapa dari wanita itupun sudah memiliki kekasih, mereka hanya mengikuti perintah orangtuanya untuk datang ke tempat pertemuan dan berakhir masing-masing karena memang tidak ada ketertarikan diantara mereka.


"Tapi mommy tidak setuju dengan gadis itu dan dia sudah memiliki calon suami, jangan pernah merusak kebahagiaan orang lain."


"Calon suaminya itu juga pria baik, biarkan dia bahagia. Gadis itu sudah mengalami banyak penderitaan sejak kecil, mommy rasa pria itu mampu menjaga dan melindunginya." sambung Imelda lagi


" Wah, ternyata mommy sudah menyelidiki gadis itu. Luar biasa. " Keken terpukau seperti biasanya, ibunya selalu bergerak cepat jika Keken berhubungan dengan seorang wanita.


" Ini semua demi kebaikanmu. " ucap Imelda


" Ken, papih hanya ingin mengingatkanmu bahwa dalam agama kita tidak memperbolehkan untuk mengambil seorang wanita yang sudah di khitbah. Carilah wanita lain, papih yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. " Feri memberikan nasehat untuk anaknya.


" Tumben sekali papih bicara bijak, sepertinya ayah kesambet! " cibir Keken sembari menggulum senyum


" Dasar anak sableng! Beraninya meledek papihmu ini." Feri menjitak kepala Keken.


" Papih memang selalu kesambet. Kesambet wewe gombel berwujud wanita se xy. " Feri menggerakan tangannya ke depan sembari merem*s - rem*s


"Hahahaha...papih memang juaranya,suka cepu wanita sana - sini, enak ya yah Ken juga suka hahaha...." Mereka tergelak tawa bersama.


"Papih dan anak, kalian emang pria br*ngsek!!" Imelda menjambak kedua pria yang selalu kompak dalam hal me sum.

__ADS_1


__ADS_2