Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 87


__ADS_3

Wina pergi ke sebuah Cafe, tempat dimana pria itu menghabiskan waktunya. Ia sengaja berpakaian sexy untuk menarik perhatian dan memilih duduk di seberang meja Hilman,tak lupa Ia memesan minuman yang menyegarkan.


Beberapa pria melirik kearahnya sembari mengerlingkan mata, namun Wina tidak peduli. Baginya pria tertampan dan baik hati hanyalah Pangeran Modosa yang selalu menghangatkan malamnya.


" Aku harus mengikhlaskan Keken." lirihnya sembari menghela nafas panjangnya. Saat mendengar Keken akan memiliki anak hati Wina terasa hancur, harapan nya sirna karena dipastikan Keken akan mengakhiri hubungan dengannya dan menikahi wanita itu.


Dulu, ia memang wanita yang menyerahkan diri pada Keken sebagai balas budinya karena pria itu telah membantu biaya operasi sang ibu. Namun seiring berjalannya waktu gadis itu memiliki perasaan pada Keken namun tak berbalas, pria itu tidak pernah menganggapnya kekasih. Keken hanya menghubunginya saat membutuhkan kehangatan.


Keken pria baik dan romantis yang membuat dirinya selalu merasa bahagia apalagi saat bercinta, pria itu selalu membuat dirinya ingin lagi dan lagi. Ia juga sangat loyal, memberikan apapun yang Wina inginkan.


Dulu Wina berharap Keken akan menjadi milik seutuhnya namun nyatanya pria itu memang benar-benar seorang cassanova. Ia selalu memakai pengaman di setiap malam panasnya.


Keken selalu berkata, sebelum dia mendapatkan wanita baik yang membuat hatinya bergetar maka akan selamanya si Kenzi tetap berada disebuah lapisan. Mengamankan diri dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.


" Pria itu selalu membuat aku kagum, ah aku sudah tidak bisa lagi bertemu Kenzi si perkasa." lirihnya. Namun matanya kembali melirik pria yang kini sedang bersama seorang wanita muda.


"Aku pasti kangen Kenzi." lirihnya, " Mulai sekarang aku harus mencari uang dan menjalani kehidupanku yang baru tanpa Keken walaupun ini tidak mudah." Wina bertekad merubah hidupnya setelah hubungan nya berakhir dengan Keken. Ia ingin menjadi wanita yang mandiri dengan bekerja keras mencari uang yang halal dan nantinya ingin bertemu dengan pria baik yang mau menerima dia apa adanya.


" Aku harus bisa move on karena sekarang sumber penghasilanku telah berakhir, Keken sudah dipastikan akan menikah dengan gadis itu." lagi-lagi Wina menghela nafas panjangnya. Terlalu berat namun ia harus kuat dan lepas dari bayang - bayang Keken.


Ia kembali melirik Hilman yang masih mengobrol dengan seorang wanita muda.


" Sepertinya gadis itu seorang mahasiswi sepertiku. " lirih Wina, ia melihat gadis itu membawa tas dan satu paperbag yang berisi buku.


" Pria itu cukup menarik, penampilannya humble dan seperti pria baik. "gumamnya dalam hati.


" Sejak tadi banyak pria yang tergoda padaku, kenapa pria ini terkesan cuek dan tidak peduli. " Wina sedikit kesal karena penampilannya tidak berpengaruh sama sekali pada Hilman.

__ADS_1


" Apa pesonaku tidak terlihat olehnya! "kesalnya." Oh ya ampun, sepertinya aku butuh skincare super mahal agar dia tertarik untuk melihatku, tapi nyatanya sekarang aku juga miskin. Atm berjalanku sudah dimiskinkan juga. " gumamnya lagi


" Kali ini aku harus berhasil, jika tidak aku yang akan dicekik nyonya besar atau bisa jadi dia mengambil kembali uangnya. Ini tidak bisa terjadi, aku tidak mau uangku berkurang. Aku sangat suka dengan uang. " Jiwa semangat nya kian berkobar saat mengingat jumlah uang yang diterimanya dari nyonya Imelda dan ia harus melakukan yang terbaik sebagai tugas terakhir , tidak boleh ada kegagalan.


" Apa mungkin dia adiknya." Ia melihat Hilman menyentuh pucuk rambut seorang gadis, terlihat begitu sayang pada wanita muda itu. Wina mencoba membaca situasi terlebih dahulu karena sebentar lagi drama akan segera dimulai.


"Sepertinya dia bukan adiknya karena wanita itu terlihat malu - malu." gumam Wina lagi


"Hai cantik, kau sendirian?" tanya seorang pria, tanpa permisi dia duduk di depan Wina.


"Aku menunggu seseorang, jadi pergilah." Wina menatap jengah dengan pria itu, drama nya akan segera dimulai namun terjadi beberapa gangguan.


"Mungkin saja kamu menungguku." goda pria itu


"Hello kakak ganteng, please aku ingin sendirian karena sebentar lagi temanku datang, MENGERTI!" Wina sengaja menekankan kata terakhir agar pria itu paham dengan ucapan nya.


" Hai Wina! " sapa seorang temannya yang ia sewa. Gadis itu sengaja membuat drama senatural mungkin hingga meminta bantuan sahabatnya.


"Kenapa lama?" Wina memberenggut seolah kesal pada temannya.


"Sorry, gue ada acara tadi." ia menunjukkan barisan gigi yang rata.


Wina memberikan kode untuk segera memulai permainan drama ini dan gadis bernama Sania itu menganggukan kepala.


"Aku putus dengan pacarku, huhuhu..." Airmatanya mengalir begitu saja, terlihat sangat profesional sekali dalam memerankan adegan hingga membuat Sania menggulum senyum dengan drama yang Wina mainkan. Jago akting.


"Ah, yang bener masa sih lu putus sama Pangeran Modosa itu. Dia kan crazy rich dan super tampan. Siapa ya namanya?" Sania pura-pura lupa

__ADS_1


"Keken, nama sebenarnya Kendrew tapi dia terkenal dengan nama Keken." Wina sengaja mengeraskan suaranya sedikit. Dan benar saja Hilman sempat menengok kearahnya.


"Aku benci dia, huhuhu...." ia kembali menangis.


"Dia bilang bosan padaku dan sebentar lagi akan menikah dengan seorang gadis."


Hilman kembali bercerita dengan gadis muda itu, namun tampaknya sesekali mencuri dengar.


"Kau tahu,nanti malam si Pangeran Modosa akan datang ke acara party club di daerah Selatan. Aku yakin, dia pasti akan membawa gadis itu. " ucap Sania


"Aku ingin tahu, bagaimana wajah gadis yang kini menjadi pacar si pria br*ngsek itu. Aku akan mencakar wajahnya hingga rusak." ancamnya. Hilman merasa kesal karena ada wanita yang akan menyerang Farah. Dalam benaknya Keken pasti sudah berbuat yang tidak - tidak pada gadis itu, hingga gadis itu dendam dan marah. Hilman mengepalkan tangannya, geram.


" Nanti malam di club Shine Selatan, si Modosa itu pasti akan datang. "ucap Sania


Dan malam itu, setelah mengantarkan Putri, adik dari Antoni,Hilman pergi menuju club malam. Namun, sesampainya disana ia terlihat kebingungan mencari Keken. Ia yang notabene jarang sekali masuk club kini hanya duduk di sofa yang tak jauh dari pintu agar dapat melihat satu per satu orang yang masuk dan sesekali pandangan nya ia tajamkan agar bisa melihat dimana Keken dan Farah berada. Namun nihil, pria itu belum nampak batang hidungnya.


Dan tak berapa lama, Keken datang. Ia sengaja melihat gerak - gerik pria itu dari jauh. Ingin rasanya Hilman memukul pria itu dengan segera, membalaskan dendam karena telah merebut tunangannya, namun ia masih bisa menahan emosinya.


Ia meneguk segelas alkohol yang ia pesan, rasanya cukup aneh karena memang jarang sekali meneguk minuman haram itu. Beberapa kali wanita datang kearahnya dan mencoba untuk menawarkan diri, namun selalu ia tolak. Saat ini target utamanya adalah si pria br*ngsek itu.


"Dimana Farah?" gumam nya, ia masih melihat ke segala arah untuk menemukan gadis itu.


Sedangkan dari jauh ia melihat Keken dan wanita yang pernah ia lihat di Cafe. Ia kembali mengepalkan tangannya merasa tidak terima karena disisi lain Farah hamil anak pria itu sedangkan disini pria itu bersama wanita yang kini mabuk dan meracau tidak jelas.


Ia benar-benar kesal saat wanita itu memeluk tubuh Keken dengan erat dan menciumnya di depan umum. Emosinya kian memuncak. Ia dalam pengaruh alkohol, dengan cepat menghampiri pria itu dan memukulnya tanpa ampun.


Mereka saling melawan dan menyerang satu sama lain. Wajahnya penuh dengan memar, begitu juga dengan Keken. Andai saja tidak ada security yang memisahkan mereka tentu saja dengan senang hati ia akan melanjutkan hingga permainan berakhir.

__ADS_1


__ADS_2