Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 139


__ADS_3

Esok hari,


Farah akhirnya kembali ke kontrakannya sendiri. Ia melihat banyak makanan oleh-oleh dari ayah dan ibu tirinya . Entah kenapa sekarang ibu Tami menjadi baik, ia berubah setelah ayah mengancam untuk menceraikan nya.


Meskipun terasa aneh, namun Farah harus bersikap baik pada ibu tirinya. Bagaimana pun juga dia sudah merawat ayah dan setidaknya dia mau berubah.


"Dasar stres!" umpat Farah saat melihat Keken bermain ponsel dan sesekali terlihat tersenyum sendiri.


Namun Keken tidak peduli, istrinya mengomel ia sedang berchating ria dengan seseorang.


" Kau tidak bekerja?" tanyanya


"Hari ini aku cuti."Keken masih dengan senyuman nya saat membaca pesan itu.


" Kau sedang apa? Kenapa tersenyum bahagia seperti itu. "


" Ah, tidak apa-apa. "Keken segera menyembunyikan ponselnya. Dan Farah semakin curiga kalau Keken sedang mengirim pesan dengan seorang wanita. Entah kenapa saat suaminya memegang ponsel dan tersenyum sendiri, Farah kembali berpikiran negatif. Label Cassanova yang tersemat pada Keken masih mempengaruhi alam bawah sadarnya, Keken belum bisa dipercaya untuk urusan wanita. Pikirnya


" Farah, kopi. " pinta Keken. Ia membuka laptopnya dan mulai membaca berkas kantor.


" Oh, ya ampun! Dia pikir ini warkop yang tinggal teriak kopi, cara memintanya sangat tidak sopan!" gerutunya. Ia memberikan Keken secangkir kopi dan pria itu masih tergelak tawa saat melihat ponselnya. Farah benar-benar kian penasaran siapa yang sedang berkirim pesan dengan suaminya.


" Apa ada yang lucu sampai kamu tertawa seperti itu, kau berkirim pesan dengan siapa, Ken?" Lagi-lagi Farah selalu penasaran.


Ia menyembunyikan ponselnya di bantal dan menepuk sisi di sampingnya agar Farah mendekat. " Apa kau begitu penasaran sayang? Apa kau cemburu jika aku sedang berkirim pesan dengan pacarku?" Keken mengerlingkan mata dengan gaya menggodanya.


" Aku tidak cemburu, kau dengar itu!" sentak Farah dengan tidak terima. "Mana ada aku seperti itu!"


"Jangan marah karena itu membuat kamu lebih cantik." bisiknya di telinga Farah hingga membuat gadis itu geli.


"Apaan, sih!"


"Coba jelaskan terlebih dahulu, Bagaimana bisa wanita tua itu berubah baik terhadapmu setelah itu baru aku beri tahu siapa yang mengirimkan pesan padaku" tanyanya


"Wanita tua, siapa?!"


"Ish, siapa lagi kalau bukan ibu tirimu yang mata duitan itu! Sikapnya tidak berubah sejak dulu, dia selalu menyukai uang."


"Oh, dia. Kemarin bapak bilang akan menceraikan nya jika ibu masih bersikap kasar sama anak-anak."


~Flashback On~


Setelah pulang sekolah, Fadil pergi ke tempat SSB (Sekolah Sepak Bola) bersama beberapa teman nya. Ia memang menyukai olahraga itu. Dalam seminggu ia hanya pergi dua kali dan itu tidak mengganggu kegiatan sekolahnya.


Setelah pulang dari SSB, mereka menjenguk Irsyad, teman sekolahnya yang sedang sakit typus. Seperti remaja pada umumnya Fadil dan teman-teman enggan untuk pulang karena ibu Irsyad begitu baik. Mereka dijamu dengan banyak makanan dan hingga akhirnya mereka lupa tujuan mereka kemari untuk menjenguk,bahkan Irsyad yang notabene sedang sakit ikut senang karena temannya datang hingga akhirnya mereka bermain Play Station hingga malam hari.


Ponsel Fadil yang tidak aktif membuat sang ibu murka karena anaknya belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia merasa khawatir jika anaknya terjadi sesuatu seperti dulu, babak belur saat terjadi tawuran. Bapak pun saat itu belum pulang karena lembur. Dalam dua bulan terakhir ia sering meminta lembur untuk menambah penghasilan. Pak Ilham berharap dengan uang hasil lemburan itu ia bisa menabung untuk membayar persalinan Farah, mengingat anak dan menantunya saat ini sedang kesulitan,pikirnya.


"Aku akan menjadi kakek, Farah akan memiliki anak dan aku sangat bahagia." ucapnya sembari tersenyum, memori saat Farah lahir begitu membekas hingga ia selalu mengingatnya. Farah begitu sehat dan bersih saat lahir, wajahnya yang tanpa dosa meluluhkan hatinya meski dia bukan darah dagingnya sendiri,Ilham begitu menyayangi nya saat itu.


Namun saat ia pulang ke rumah hampir tengah malam dengan kondisi lelah. Ia melihat anak lelaki nya ditampar di depan matanya, entah apa yang menyebabkan istrinya begitu murka dengan sang anak.


"Sudah berani melawan ibu! Kamu mulai bandel sekarang! Jangan berharap kamu bisa mengadu pada Farah karena saat ini dia sedang hamil, anak pembawa sial itu hamil seperti ibunya dulu!" teriak Bu Tami


Ilham yang mendengar teriakan istrinya begitu geram, ia mengeratkan rahangnya dengan keras. Beraninya Tami berkata kasar tentang anaknya. Sudah habis kesabarannya kali ini, istrinya sudah melewati batas.


" Jangan pernah memukul Fadil seperti itu!" Ilham menyuruh Fadil untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku tahu ini rumahmu, milikmu karena disini aku hanya menumpang. Tapi kamu sudah kelewatan, tidak bisa berkata lembut seperti almarhumah Melisa, bahkan saat masih hidup ia sangat baik dengan orang lain. Tidak seperti dirimu yang selalu berteriak dan marah, kalian itu bagaikan langit dan bumi!"


" Kamu membandingkan aku dengan Melisa! Kamu masih mencintainya? "


" Ya, tentu saja aku masih mencintainya karena dia wanita terbaik bukan dirimu!" Rasa lelah dan emosi kian menyelimuti hati Ilham hingga ia berani membanding-bandingkan istrinya dengan almarhumah.


" Aku beri kamu kesempatan, kamu harus meminta maaf pada Farah atau kita cerai! Aku sudah muak dengan sikap dan tingkah lakumu! " ancam pak Ilham.


" A... apa maksudmu?" Tami tergagap mendengar ancaman suaminya.


" Dulu kamu selalu mengancamku, sekarang itu tidak berarti lagi karena Farah telah menikah dengan pria baik. Dan aku yakin keluarga Keken tidak akan tinggal diam jika menantunya disakiti oleh ibu tiri sepertimu."


"Aku akan mengurus perceraian kita dan biarkan anak-anak ikut denganku karena aku yakin mereka tidak mau dididik oleh ibu sepertimu."


"Jangan pikir aku akan melunak kali ini karena aku serius. Aku tidak akan takut hidup di kontrakan seperti dulu daripada harus hidup dengan wanita ular sepertimu yang tidak mau berubah!" Pak Ilham mengancam ya lalu masuk ke rumah tanpa melirik kearah istrinya.


"Hah...!!, Pak, Bapak!! Kau tidak serius kan dengan ucapanmu!" Tami mengejar suaminya masuk ke dalam rumah.


"Aku serius, jangan pernah merendahkanku dan meremehkanku lagi." ia berlalu pergi meninggalkan Tami yang terdiam.


*Flashback Off *


"Begitu ceritanya?" ujar Farah


" Lalu wanita tua itu akhirnya berubah dan meminta maaf denganmu?"


Farah menganggukan kepala. " Ia meminta maaf dan memelukku." ucapnya


Keken tergelak tawa melihat istrinya yang begitu naif.


"Kau itu terlalu baik, bertahun-tahun wanita tua itu jahat padamu dan hanya dengan permintaan maaf dan pelukan kau luluh begitu saja." Keken terkekeh sembari menggelengkan kepala.


"Dia sudah meminta maaf, lalu aku bisa apa. Walaupun aku masih belum ikhlas tapi aku yakin dia akan berubah."


"Tapi aku tidak yakin sayang." Keken


"Kau tahu, wanita tua itu tidak ingin bercerai dengan bapakmu karena uang. Lihat, dia tidak bekerja dan tidak berpenghasilan. Semua pendapatan hasil dari gaji bapakmu dan sudah pasti kedua adikmu akan secara sukarela ikut bersama bapakmu, sedangkan dia? SENDIRIAN! " jelas Keken dengan menekankan kata terakhir.


" Wanita tua itu ingin hidup enak, dia sangat menyukai uang. Dulu, aku juga geram saat mendengar kartu atm bapakmu diambil olehnya hingga akhirnya aku kerjain balik. "cerocos Keken, ia keceplosan.


" Tunggu sebentar, apa maksudmu? " Farah mulai mencerna ucapan Keken." Jadi dulu kamu yang ambil kartu atm itu dan menaruhnya di depan pintu kontrakanku. "


" Sudahlah itu tidak penting! " Keken membuang wajahnya kearah lain. Ia kelepasan bicara hingga akhirnya Farah tahu kebenaran nya.


" Jangan bilang wanita yang aku temui di luar restoran saat itu orang suruhanmu? " Farah masih mengingat gadis yang menolongnya saat ia bertengkar dengan ibu tirinya di luar restoran.


Keken diam tidak menjawab.


"Jawab aku!" Farah menarik wajah Keken agar menghadap kearah dirinya. Hati Keken berdesir setiap melihat wajah Farah dari dekat dan itu berbahaya karena Kenzi akan terbangun dari tidurnya.


"Apaan, sih!" Keken memalingkan wajah.


"Ken, jawab pertanyaanku dengan jujur?" Farah memegang lengan suaminya dengan erat agar tidak bergerak, ia ingin tahu jawaban dari suaminya.


"Iya, aku yang menyuruh Wina memata - mataimu karena saat itu Ratu Medusa selalu mengunci ruang gerakku! "


"Aku yang menyuruh orang kepercayaanku untuk mengambil kembali kartu itu, itu milikmu bukan miliknya!"

__ADS_1


"Aku sangat kesal dengan wanita tua itu, dia sangat menjengkelkan karena selalu membuat kamu sedih dan menangis." jawab Keken lagi


Hati Farah berdesir saat tahu Keken lah yang mengembalikan kartu itu, pria itu secara sembunyi - sembunyi menolong dirinya tanpa Farah tahu.


" Lepaskan!! " pinta Keken, agar Farah tidak menahan tangannya lebih lama karena itu memancing hasrat Keken.


"Jangan seperti ini lagi, aku sudah menahan diriku saat dirumah bapak,aku takut jika Kenzi bangun memangnya kamu mau tanggung jawab!" gerutunya


" Aku kan sudah selesai cerita, sekarang gantian kamu sedang mengirim pesan dengan siapa?" Farah mengganti topik pembicaraan karena merasa gugup saat tahu Keken menginginkan nya.


" Sudahlah, kamu jangan lihat. Ini urusan laki-laki. " Keken membereskan berkasnya daripada harus menatap wajah Farah yang kian membuatnya sesak di bagian bawah.


" Si*l...!! " umpat Keken, bayang - bayang video yang Khaffi kirimkan semakin membuat kepala nya pusing karena hasratnya belum tersalurkan.


" Coba aku lihat!" Farah membuka bantal dan menemukan ponsel Keken. Ia menekan nomor sandi namun salah.


"Kok kamu semakin berani, membuka ponselku!" Keken sengaja menahan senyum saat melihat wajah Farah yang kesal karena tidak berhasil membuka ponselnya.


"Kamu sudah janji dan itu harus ditepati." ketusnya, "Ini nomor sandinya berapa, sih!?" ia semakin kesal


Keken menghela nafas dan menghampiri istrinya, "Kata sandinya, tanggal pernikahan kita." bisik Keken di telinga Farah, hingga gadis itu terkesiap saat tahu ponsel Keken menggunakan sandi pernikahan.


" 1210xx" Farah dengan cepat menelan tombol itu dan benar saja sandi diterima dan ponsel Keken terbuka.


Farah meremas tangannya saat menatap wajah Keken dari dekat bahkan hembusan pria itu menerpa hangat wajahnya.


"Khaffi??" Farah membaca deretan pesan yang masuk dari seorang yang ia kenal bahkan terlihat beberapa video namun belum sempat ia memutar, Keken merebut ponselnya.


"Jangan dilihat, ini berbahaya." ucap Keken


"Berikan padaku." Farah merebut ponsel itu lagi, ia begitu penasaran karena Keken terlihat panik.


"Farah, kamu akan pusing sepertiku setelah melihat video itu." Keken meminta ponselnya kembali.


Ia tidak peduli dengan permintaan Keken dan dengan cepat Farah memutar pesan video itu. Matanya melotot setelah melihat video panas, bahkan suara desah*n terdengar hingga akhirnya Farah menghentikan video itu.


" Kau gila ya!! Menonton video seperti ini!" semburnya. Keken hanya terkekeh melihat reaksi Farah yang berlebih dan gugup.


"Aku ini pria normal dan menyukai tontonan seperti itu. Kenapa kamu marah, aku sudah memperingatkanmu tapi kamu ngeyel."


"Sudah lihat kan, itu video me sum yang dikirimkan Khaffi padaku. Pria itu sama seperti diriku bukan pria polos yang kamu kagumi!"


"Apa kau ingin praktek denganku, Kenzi sudah bangun dan aku menginginkanmu." Keken mengerlingkan matanya dan sengaja mende sah di telinga Farah.


"Ihhh, geli tahu!!" serunya. "Aku tidak mau." Farah ingin bangkit namun tangan nya ditahan oleh suaminya hingga tubuhnya terjatuh tepat di pangkuan Keken.


Tanpa ragu Keken mencium bibir istrinya dengan lembut, ia sudah tidak kuat menahan hasrat karena Khaffi mengirimkan video seperti biasa.


" Ken..." Farah mulai pengap saat suaminya mencium secara menuntut dan heran nya Farah tidak menolak perlakuan lembut Keken padanya. Aneh.


"Ceklek..." pintu terbuka dan terlihat Dini terkesiap melihat adegan intim pasangan itu.


Keken dan Farah saling memandang dan menahan malu saat terpegok sedang bermesraan.


" Aku tidak melihat, kalian lanjutkan saja adegannya." Dini kembali menutup pintu dengan terburu-buru. Ia menggulum senyum setelah melihat Farah berbaikan dengan Keken lagi. Niatnya untuk sekedar melihat Farah kini diurungkan. Ia tidak tahu kalau Keken dirumah karena biasanya pria itu pulang tengah malam.


" Alhamdulillah, akhirnya mereka rukun kembali." gumamnya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2