
Dua orang wanita yang sedang berada di dalam kamar pasien VIP kini saling terdiam. Mommy Alin menyisir rambut Farah dengan lembut hingga membuat Farah merasa nyaman. Kebiasaan saat mereka berdua, tanpa dilihat oleh Vania. Jika gadis itu tahu mommy nya menyisir rambut Farah, sudah pasti dia akan cemburu.
" Mommy sayang sama kamu."
"Aku tahu mom, terimakasih. Maaf sudah mengecewakan mommy." Airmata Farah masih turun dari sudut matanya
"Ini bukan salah kamu Nak, mommy sudah mendengar cerita dari Vania. Sudah jangan selalu merasa bersalah." Mommy Alin memeluk Farah dengan hangat.
" Kenapa setelah pemerk*saan terjadi kamu tidak lapor polisi?"
"Aku takut mom, aku malu jika orang tahu kalau aku diperk*sa.Apalagi pria itu kaya raya, sedangkan aku hanya wanita biasa."
"Aku kira semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu, nyatanya aku hamil seperti ini." Mata Farah kian berair saat menceritakan nya.
"A... Aku tidak tahu harus bagaimana mom. Pernikahanku gagal, aku hamil di luar nikah. Aku sangat frustasi mom, semua impianku hancur. Sudah tidak ada yang tersisa. Malu rasanya." ucap Farah sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
" Mommy yakin kamu kuat dan terimalah pria itu. Mulailah dari nol. Mommy bisa lihat ada cinta untukmu dimatanya. Saat dia menatapmu, matanya bersinar bahkan dia peduli denganmu. Lihat bagaimana dia melindungimu dari Dini dan dari minuman itu, ia sangat mengkhawatirkan sayang."
"Aku tidak mencintainya mom."
"Belajarlah mencintai, cinta bisa tumbuh saat kalian bersama dan mulai sekarang lupakan Hilman." ucap Mommy
"Tapi mom, bagaimana bisa aku melupakan bang Hilman. Aku masih mencintainya sampai detik ini, hanya saja aku tidak bisa bersamanya. Aku takut jalan hidupku seperti ibu, aku takut dia tidak bisa menerima anak ini."
" Maka dari itu, cobalah menerima keadaan ini. Menikahlah dengan pria itu,demi anakmu. "Mommy memegang tangan Farah. Dan gadis itu hanya menundukkan kepala.
" Janganlah pernah berpikir untuk melarikan diri. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, mommy tahu keluarga pria itu. Kemana pun kau pergi, akan dengan mudah mereka menemukanmu. "
" Ba.. Bagaimana mommy tahu kalau aku berpikiran untuk melarikan diri." Farah mendongak, tak percaya isi kepalanya bisa terbaca ibu dari Vania
" Mommy mengenalmu lebih dari siapapun. "
" Mommy sudah mentransfer semua uang hasil kerja kerasmu. " ucapnya lagi." Kamu pikir mommy tidak tahu apa yang akan kamu lakukan setelah menerima uang itu." ia menghela nafas panjangnya
"Perlu kamu tahu ibu dari pria itu bukan wanita sembarangan. Dia pasti sudah menyiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi, apalagi di dalam perutmu ini penerus dari keluarganya."
"Mommy, aku takut..." lirih Farah sembari memeluknya
"Kamu tidak perlu takut, karena mommy yakin mereka orang baik." Mom Alin
__ADS_1
"Pikirkan kembali perkataan mommy ini Farah, mulailah hidup dengannya. Belajarlah mencintainya, mommy berdoa agar kamu selalu bahagia."
" Mommy, dia pria menyebalkan dan seorang playboy. Aku takut tidak sanggup hidup bersamanya karena dia memiliki banyak wanita" lirih Farah
" Mommy tahu itu, siapa yang tidak kenal dengan Pangeran Modosa sang Cassanova dengan banyak wanita. Tapi perlu satu yang kamu harus ingat, Tuhan saja maha pemaaf masa kita sebagai manusia tidak bisa memaafkan. Mungkin nantinya dia akan berubah. Beri dia kesempatan lalu kita lihat, apa dia mau berubah atau tidak. "
Farah mengangguk tanda mengerti.
" Terimakasih mommy, terimakasih sudah memberiku nasehat dan sayang denganku. "
" Mommy sudah menganggapmu seperti anak, mommy sayang sama kamu seperti sayangnya mommy pada Vania. "
Namun saat mereka berpelukan, suara lengkingan keras terdengar dari arah pintu.
" Mommy...!!! Kenapa lama sekali! Lalu kenapa kalian berpelukan seperti itu, aku kan iri!! " teriak Vania
Mommy dan Farah menggulum tersenyum karena Vania selalu cemburu seperti biasanya. Gadis itu menghampiri sembari menatap tajam dan berwajah masam.
"Ini kan mommyku." Kali ini Vania bersikap seperti anak-anak yang tidak mau ibunya diambil. Ia memeluk ibunya bahkan sengaja memaksa untuk duduk ditengah - tengah mereka.
"Sudah pacaran saja masih saja manja dan kekanak-kanakan." ucap Mommy Alin sembari mengelus rambut anaknya.
"Jelaslah aku cemburu, mommy sudah sibuk kerja ngurusin catering, terus sebagian waktunya untuk kakak yang baru saja datang dari singapore, lalu ngurusin papih, lalu mommy sekarang perhatian sama kamu, terus waktu untukku kapan? aku dapat apa coba?" Vania merasa tersisih dengan segudang kegiatan ibunya dan merasa tersisih beberapa anggota keluarga yang membuat dirinya semakin jauh dari kasih sayang ibunya, merasa kurang diperhatikan hingga akhirnya dia protes.
" Kakak kan jarang dirumah makanya mommy meluangkan banyak waktu dirumah untuknya, sedangkan kamu selalu sibuk entah kemana, jalan terus sama si Ardi." jelasnya
"Maksud mommy chef Ardi?" Namun matanya melirik Vania seolah meminta penjelasan. Mommy menganggukkan kepala.
" A... aku tidak pacaran dengannya, kami hanya teman dan sesekali jalan. Itu saja." Vania tergagap, ia tidak menyangka mommy nya akan berkata seperti itu.
Farah menggulum senyum, Vania mulai menutupi hubungan nya kali ini.
"Aku mencium aroma kebohongan." kelakar Farah
"Apaan, sih! Siapa juga yang bohong." kilah Vania sembari merengut
"Eh, Far gue mau jujur tapi lu jangan marah ya?" Vania
"Iya."
__ADS_1
"Beneran ya."
"Iya bawel, apaan coba?"
"Aku telepon bapakmu, kalau kamu sakit. Kemungkinan dia akan kesini." ujar Vania
" Dan dari suaranya, bapakmu terlihat panik dan khawatir."
"Aku hanya ingin dia tahu bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja."
"Lalu bapak ngomong apa?" tanya Farah
"Dia hanya bilang terima kasih karena sudah memberinya kabar, ia berharap kamu baik-baik saja."
"Ck..!! Sudahlah, aku juga yakin dia tidak akan kesini. Bapak tidak peduli aku masih hidup atau mati."
"Farah..., tidak boleh berkata seperti itu Nak!" Mommy alin mencoba memperingatkan Farah.
"Bagaimana pun dia orangtua yang wajib dihormati, mommy tidak suka kamu berkata seperti itu."
" Tapi mom, ini kenyataan. Aku memang punya keluarga tapi seolah hidup sebatang kara."
"Mommy tahu, namun kita tidak boleh berprasangka buruk. Mana tahu ada suatu hal yang membuat bapakmu begitu. Doakan bapak agar tergerak hatinya untuk menyayangimu."
Farah hanya menundukkan kepala, entah kapan terakhir ia mendoakan ayahnya agar selalu mendapat kebaikan, ia pun lupa.
" Tapi yang aku heran bapakmu tahu kalau kamu hamil dan pernikahanmu batal. "
" Mungkin dari abang Hilman . "Farah mengingat perkataan Fadil yang melihat ayah berwajah muram akhir - akhir ini bahkan tidak semangat.
" Farah, mommy memang orang luar yang tidak patut ikut campur dalam urusan pribadimu tapi mommy mohon berbaik hatilah pada bapakmu walaupun dia bukan orangtua kandungmu. Dia pernah merawatmu dan membesarkanmu, itu tidak mudah Nak. Hormati dia selayaknya orangtua walaupun dalam hati kamu seolah menolaknya. Percayalah, Tuhan akan membalas kebaikanmu dengan berlipat ganda. "
" Iya mih. "
" Ya sudah mommy dan Vania pulang dulu. Kamu jaga kesehatan, jangan keras kepala dan menikahlah. "
" Denger tuh ceramah emak gue, turuti biar jadi anak soleha. "ucap Vania
" Ini lagi gadis stress selalu membuat mommy khawatir, awas saja kalo pacaran melebihi batas, mommy kawinin langsung! "ancamnya
__ADS_1
" Ayam kali ah dikawinin."jawab Vania. Dan gadis itu mendapat jeweran dari sang mommy.