
Keken tidak pulang semalaman dan itu membuat Farah bertambah kesal. Sejak semalam Dini meninggalkannya sendirian dan ia berharap Keken akan pulang dini hari namun nyatanya tidak. Keken pun hanya mengirimkan satu pesan bahwa dirinya menginap dan saat Farah membalas ia menginap dimana, Keken tidak membalasnya.
Saat di rumah mommy Imelda walaupun Keken selalu pulang dini hari, ia pasti akan tidur disamping Farah dan memeluknya dari belakang. Dan setiap pagi Farah akan mengomel pada Keken karena mencari kesempatan memeluknya saat tidur. Dan pria itu selalu diam dan tersenyum menerima semua omelan Farah, tidak pernah membalasnya dengan kemarahan. Dan hal itu yang membuat Farah kecanduan untuk dipeluk Keken saat tidur. Mungkin juga ini keinginan sang bayi yang minta dimanja oleh ayahnya.
Dan benar saja saat Keken pulang ke rumah pukul delapan pagi, Farah menatapnya dengan tajam seolah ingin menerkamnya. Keken yang melihat istrinya mendiamkannya hanya bisa tersenyum.
"Masih bisa tersenyum disaat seperti ini!" Farah berkacak pinggang sembari melotot. Ia sangat kesal karena semalaman tidak bisa tidur, berharap Keken pulang dan memeluknya seperti biasa.
" Aku kerja, tolong berikan aku sarapan." Keken membuka kaosnya hingga terlihat otot dadanya yang begitu sempurna. Perutnya terasa lapar karena belum sempat sarapan di Cafe Michelle.
" Tidak ada makanan, aku belum masak." ketusnya. Boro-boro untuk masak disaat hatinya gundah gulana menunggu Keken pulang. Pikirannya kemana-mana karena ucapan Dini. Memang saat ini dia belum mencintai Keken tapi dia juga takut Keken akan meninggalkannya sebelum satu tahun.
" Kamu kerja dimana? Kenapa setiap pagi kamu pergi lalu siang pulang hanya untuk makan lalu pergi lagi sampai dini hari." Akhirnya keluar juga pertanyaan dari mulutnya. Ia begitu penasaran karena Keken selalu berada di luar, entah apa yang dia lakukan.
"Pokoknya aku kerja, tumben kamu tanya pekerjaanku. Kangen ya sama aku." Keken mengedipkan matanya menggoda
"Siapa juga yang kangen, aku hanya penasaran kenapa kamu tidak betah di rumah padahal ada aku dan bayimu ini."
"Kamu boleh tidak peduli padaku tapi kamu harus peduli dengan bayimu ini." Farah mau tak mau harus beralasan atas nama bayinya.
"Kamu kerja apa?" tanyanya lagi, namun matanya melirik ke tangan Keken dan kaos yang tergeletak seperti ada cipratan cat dan bau khas minyak cat.
"Kamu abis ngecat ya?" selidik Farah dan Keken hanya menganggukan kepala.
"Iya."
"Hanya ngecat saja, kenapa harus menginap?" tanyanya penasaran. Namun Keken hanya menggulum senyum dan itu membuat Farah tidak berani bertanya lagi.
Terbesit rasa iba pada Keken karena pria itu mau bekerja apa saja, bahkan ia rela melakukan pekerjaan kasar yang tidak pernah terbayangkan sama sekali.
" Ternyata dia masih berhubungan dengan mantannya." gumam Farah dalam hati
" Aku akan membelikan kamu makanan, sebentar." Farah dengan cepat mengambil dompetnya dan pergi membeli makanan. Namun saat ia pulang ke rumah, di depan kontrakannya terlihat ibu-ibu yang sedang riuh dan heboh.
Dan Farah melotot saat melihat suaminya sedang memamerkan tubuh kekarnya pada ibu - ibu sekitar.
__ADS_1
" Ada apa rame begini." Farah terlihat begitu tidak suka saat rumahnya rame.
"Ini suami neng Farah ganteng amat, baik banget lagi mau bantuin ibu angkatin meja untuk jualan." ucap salah satu wanita paruh baya tetangga kontrakan Farah yang biasa menjual minuman serbuk untuk anak-anak.
"Badannya bagus yang neng, bikin merinding disko." sahut wanita lainnya
Keken hanya menggulum senyum, ia sudah terbiasa melihat wanita menggilai tubuhnya yang kekar. Idaman setiap wanita.
" Pakai bajunya." Farah mendelik kearah Keken yang masih tebar pesona dengan ibu-ibu kampung.
" Sudah ya ibu-ibu, Keken mau sarapan dulu." Farah mendorong suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
"Baru beberapa hari tinggal disini sudah bikin heboh." gumam Farah dalam hati, ia hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Namun saat ibu-ibu itu membubarkan diri datanglah nenek Ijah dan suami brondongnya. "Neng Farah sudah pulang?" tanyanya
"Sudah Nek."
"Mana suaminya?"
"Keken makan Nek." Ia tidak memang sengaja tidak mau memperkenalkan Keken pada nek Ijah yang punya kontrakan, karena ia terkenal genit dan suka banyak mulut. Meskipun dia tidak pelit dan suka anak-anak namun Farah tidak mau berurusan dengan nya.
" Eh, tampan banget ya suami neng Farah." ucapnya setelah melihat wajah Keken.
"Nenek kira sama Hilman yang biasa datang kemari ternyata nikahnya sama pria lain."
"Eh, neng.maap nih ye, nenek denger denger eneng nikah karena hamil diluar nikah ya. Bener nggak sih?" tanyanya dan itu membuat hati Farah sedikit, wajahnya mulai murung dan hanya tersenyum kecut.
Keken yang mendengar pun tak kalah kesal pada nenek itu.
" Umur nenek ini memang sedang lucu - lucunya, lagi ngegemesin kayak balita yang sedang pinter - pinternya ngomong sampai tidak tahu mana ucapan yang perlu ditanyakan, mana yang tidak!" sindir Keken dengan kesal, ia melirik suami nek Ijah yang kemungkinan umurnya tidak jauh beda dengannya.
" Kamu menyindir saya! "ucapnya dengan tidak terima
" Memangnya nenek kesindir. Im so sorry. "Keken memasang wajah polosnya.
__ADS_1
" Saya bisa mengusir kalian dari sini sekarang juga! Ini kontrakan saya" ancamnya dengan berkacak pinggang, ia seolah tidak terima ada orang yang berani melawannya
" Tidak perlu mengancam saya, saya pun bisa melaporkan anda dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan."
"Kalau nenek mau mengancam, ancam saja malaikat izroil agar dia mau memberi waktu yang lama untuk nenek memperbaiki diri hidup di dunia. Mati masuk surga, tanah warisan untuk keluarga."
"Kamu nyumpahin aku mati!" serunya lagi dengan nada tinggi hingga terlihat beberapa warga berkerumun. Ucapan Nenek Ijah memang terkadang menyakitkan hingga membuat orang sakit hati, namun tidak ada satu orang pun yang berani melawannya karena ia salah satu orang kaya di daerah itu. Dan masyarakat disitu selalu menganggap angin lalu ucapan dari nenek itu.
" Siapa juga yang nyumpahin, aku hanya bicara fakta. Hidup hanya sementara bukan selamanya, jika mau kaya harus bekerja, mati masuk surga jangan foya-foya dan merasa paling kaya sampai bikin orang terluka."
Dan dengan kesal Nenek Ijah pergi dengan suami brondongnya.
" Pintar sekali ceramahmu."ucapnya setelah pasangan beda usia itu menghilang dari pandangannya.
" Sok - sok an bilang jangan foya-foya dan merasa paling kaya tapi dirimu terkadang seperti itu. " sindirnya. Farah masuk ke dalam kontrakan dan duduk di tepi ranjang. Perkataan nek Ijah begitu menyakitkan untuknya, memang benar ia hamil di luar nikah tapi tidak seharusnya ada orang yang bertanya seperti itu. Farah merasa terhina. Ia hanya bisa menghela nafas panjang dengan kasar. Raut wajahnya berubah sedih,label yang akan diterimanya sepanjang hidup bahwa dia hamil diluar nikah dan ia sangat takut anaknya akan menjadi korban bully nantinya.
"Jangan berpikiran macam-macam." Keken mendekat ke ranjang dimana Farah duduk.
"Aku akan melindungimu, kalau perlu kita pindah dari sini. Kita sewa apartemen agar tidak ada yang berani ikut campur urusan kita." Keken menyentuh tangan Farah namun gadis itu segera menepisnya.
"Aku sudah terbiasa hidup disini, inilah hidup di kampung. Mereka akan selalu berbisik-bisik membicarakan aib orang lain tapi itu hanya sebagian dan yang lain ada yang tidak masalah."
"Memangnya kamu punya uang untuk sewa apartemen atau membeli apartemen?" tanyanya lagi
"Saat ini aku bisa sewa apartemen untuk satu tahun kedepan, aku tidak mau kalau kamu bersedih seperti ini." balas Keken, "Aku akan pinjam uang ke tante Navysah.
" Ishhh... "desis Farah, ia tak habis pikir Keken akan mencari pinjaman agar dia bisa hidup dengan nyaman. Ia memukul dada Keken
" Kamu sedang dihukum, tidak ada yang akan membantumu! "ucap Farah.
" Aku tidak mau kamu pinjam uang kesana kemari, kita bisa berhemat jika tinggal disini dan aku akan bekerja. Aku sudah memikirkan untuk jual makanan secara online. "
" Aku tidak setuju, aku tidak mau kamu kelelahan. Fokuslah pada kehamilanmu. Itu saja!"
" Tapi jika aku tidak bekerja aku bosan, pokoknya aku mau jualan. Kamu tenang saja aku bisa jaga diri dan bayi ini. "
__ADS_1
" Aku tidak setuju! "kekeh Keken, ia pergi ke ruang tamu dan merebahkan diri.
" Dasar menyebalkan! " ucap Farah dengan menghentakkan kakinya.