
Dini yang sedang menunggu kini merasa jenuh karena Farah tak kunjung datang. Satu jam telah berlalu namun tidak ada tanda-tanda Farah datang menemuinya. Ia yang merasa haus dan lapar kini hanya bisa meneguk susu kotak rasa coklat yang ia beli dari minimarket.
"Gue masih laper." lirihnya, ia menghela nafas panjangnya
"Ini si Farah mana sih, kok nggak nongol- nongol? Apa dia nyasar ke ruangan pria itu? Apa jangan - jalan Farah pingsan atau tersesat di lift kantor?"tanyanya bermonolog, ia mulai berpikiran yang tidak - tidak tentang Farah karena tidak satu kalipun gadis itu mengirim pesan.
" Apa aku harus masuk ke dalam? Farah tidak bisa dihubungi lagi. " Dini beberapa kali menekan tombol nomer ponsel Farah namun tidak pernah terhubung. Ia pun bertambah kesal dan khawatir sesuatu terjadi pada sahabatnya.
"Tin... Tin.. Tin..." suara klakson mobil begitu nyaring hingga membuat Dini beberapa saat menoleh kearahnya.
"Minggir...!!!" teriak seorang pria dari dalam mobil. Kepalanya menyembul dari balik jendela mobil.
Dini masih terdiam, pikirannya kosong karena Farah masih tidak menampakan diri. Ini sudah terlalu lama, pikirnya.
"Woiii!! Lu budeg ya!!" teriak pria itu lagi. Dini terkesiap dan segera memindahkan motornya ke tempat lain.
"Sorry...!!" teriak Dini. Ia menghela nafas panjangnya dan masih berkutat pada ponselnya,berharap Farah akan menelepon nya.
Pria itu turun sembari membanting pintu mobilnya dan berjalan mendekati Dini.
"Apa kau tidak bisa membaca dan tuli?" tanyanya
"Apa maksudmu ??!" Dini menatap tajam wajah pria itu dengan kesal. Pria itu turun dan memaki dirinya. Menyebalkan.
"Aku tanya, apa kau tidak bisa membaca dan tuli?" tanyanya lagi.
" Lihat tulisan itu." pria itu menunjuk pada papan yang tertulis bahwa parkiran ini khusus untuk VVIP.
"Parkiran VVIP."
" Nah loh lu bisa baca! Ngapain lu parkir motor disini! Dan kenapa saat gue klakson berulang kali lu kagak denger." kesalnya
"Maaf." potong Dini, ia tidak ingin masalah ini panjang dan hanya kata maaf saja yang bisa dia katakan. Matanya mulai fokus dengan ponselnya kembali berharap Farah akan menghubunginya.
"Hallo.... Nona!! Kau mengabaikanku!!" pria itu melambaikan tangannya di depan wajah Dini.
"Apaan sih lu!! Gue kan udah minta maaf jadi apa lagi!" kini gantian Dini yang kesal karena merasa terganggu dengan pria itu.
"Seharusnya aku yang marah, kenapa lu yang sewot!!" pria itu tak mau kalah. "Dan seharusnya lu minta maaf dengan wajah menyesal bukan hanya sekedar maaf doang dengan wajah jutek seperti itu."
"Oh, ya ampun pria ini begitu menjengkelkan." gumam Dini.
" Wajahku memang jutek seperti ini, tuan. Dan aku sudah meminta maaf tadi jadi kumohon jangan ganggu aku!"
"Dih... Dih... Dih... Kepedean lu! Siapa juga yang mau gangguin lu, maemunah!" serunya. "Eh, asal lu tahu ya, gue kalau mau gangguin cewek juga milih-milih, gangguin cewek sexy, berkelas, cewek kaya bukan kayak lu yang pake motor sejuta umat kayak gini. Menjengkelkan! " ejek pria itu dengan menendang pelan roda motor Dini. Ia berjalan menjauh dari gadis itu.
"Wah, cari perkara lu sama gue! Gue sudah bilang jangan gangguin gue. Beraninya nendang si blacky. Gini-gini blacky sangat berjasa buat gue dan Farah." ia mengelus body motornya seolah begitu menyayangi.
__ADS_1
Dini dengan senyuman licik mengambil satu kotak susu coklatnya lagi dan dengan sengaja menumpahkan di body bagian depan mobil pria itu.
" Hei pria tengik, Lihat ini!! teriak Dini. Ia kembali mengucurkan susu kotaknya lagi.
Pria itu menoleh dan melihat mobilnya diguyur dengan susu kotak hingga terlihat kaca mobilnya terkena percikan juga.
" Woi..!! Cewek stres, ngapain lu!! " pria itu berteriak sembari berlari kearah Dini. Dan dengan cepat gadis itu tancap gas dengan motornya dan menghilang dari pandangan.
"Sialan!! Kurang ajar!! Mobil kesayangan gue kotor gara-gara cewek stres itu." geram Khaffi dengan wajah memerah menahan amarah.
* **
Farah berjalan menjauhi gedung perusahaan milik Keken. Hatinya begitu kesal saat melihat reaksi Keken yang hanya diam membisu saat dia mengatakan bahwa dirinya hamil. Farah sampai tidak sadar menyusuri jalan cukup jauh hingga duduk di tengah taman kota dan merenung kembali nasibnya.
"Dia memang br*ngsek!" teriaknya
" Dia tidak mau bertanggungjawab." sambungnya lagi
"Kita harus kuat Nak, ibu akan merawatmu sendirian. Kita akan pergi dan tidak perlu kembali lagi." Farah menghembuskan nafas panjangnya. Masalah yang ia hadapi begitu berat hingga terkadang membuatnya sakit kepala.
"Aku lapar..." lirihnya, ia membuka dompet dan hanya tersisa satu lembar uang sepuluh ribu.
" Aku lupa mengambil uang di Atm dan sekarang ponselku mati. Aku lupa tidak menghubunginya, dia pasti menungguku."
Farah terdiam dan melirik ke kanan kiri, berharap ada satu pedagang yang datang. Namun setelah menunggu lima belas menit tidak ada tanda-tanda pedagang akan datang.
Waktu hampir menunjukkan pukul empat sore, tidak terasa ia menghabiskan waktu dua jam lebih untuk melamun. Farah kembali menyusuri jalan hingga ia berada diatas jembatan. Dan tepat dibawahnya terdapat aliran sungai. Ia melihat ke bawah sungai itu. Air yang berwarna gelap, kotor dan banyak sampah.
Ia masih melihat aliran sungai itu dari atas jembatan.
"Ternyata begini rasanya tidak diperdulikan, tidak diinginkan, bahkan nasibku sangat si al. Kenapa tuhan begitu kejam padaku, kenapa tidak ada yang sayang padaku bahkan ibuku meninggal karena aku." lirih Farah
"Andai saja aku tidak hamil.aku akan___" Farah melihat kearah bawah dengan seksama, fokus pada sesuatu yang membuatnya kian fokus.
"Tunggu, sepertinya...." Farah menaikan kakinya kearah besi jembatan. Ia memfokuskan kembali pandangannya kearah bawah.
"Ihh... beneran deh, itu apaan ya?" Farah makin menaikkan kaki keatas besi yang mendatar.
"Citt..." suara decit mobil yang berhenti secara mendadak.
"Brakk!!" pintu mobil ditutup secara keras
"Farah....!!! teriak seseorang.
" Jangan Farah, jangan lakukan itu. Aku janji akan bertanggung jawab dan menikahimu. Tolong jangan bunuh diri, kita bisa bicara baik-baik, Far. Aku janji akan menikahimu! " teriak Keken, pria itu mendekat kearah Farah dan mendekapnya, mencoba menghalangi Farah agar tidak bunuh diri.
" Lepaskan..!! Dasar pria gila! Beraninya menyentuh tubuhku. " Farah menggeliat saat Keken berusaha memeluknya.
__ADS_1
" Tidak Farah, aku tidak akan melepaskanmu!!"
"Khaffi, tolong bantu aku." pinta Keken. Khaffi yang tadi mengendarai mobil kini hanya diam, ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Aku harus apa? tanyanya
" Makan pecel lele di kebon! " sentak Keken dengan kesal." Bantu aku angkat Farah, sekarang bo doh!!! " ucapnya lagi.
" Oh.. " Khaffi mencoba menarik baju Farah, ia tidak berani menyentuh gadis itu karena Khaffi tahu Keken akan melotot padanya karena cemburu." Aku jadi serba salah. "gerutunya.
Disaat Farah kian meronta karena Keken mendekapnya begitu erat, sandal kesayangannya tercebur ke dalam aliran sungai yang deras dan ia berteriak histeris.
"Sandalku...!!!!" teriaknya begitu keras. Dan Keken berhasil membuat Farah turun dari besi jembatan, masih dengan pelukan erat tidak ingin dilepaskan. Ia begitu takut Farah bunuh diri.
" Farah, kumohon jangan bunuh diri. Aku akan bertanggungjawab dengan menikahimu. "
Farah mendelik kesal dan menatapnya tajam.
" Siapa yang mau bunuh diri! Dasar pria br*ngsek!" sentak Farah, ia begitu kesal sampai ubun-ubun karena sandal kesayangannya yang baru satu minggu dibeli kini jatuh ke dalam sungai. Sandal yang ia beli saat bersama kedua adiknya di Mall.
" Gara-gara kamu sandal kesayanganku jatuh,huaaaa... huaaaa... "Farah menangis keras, sandal mahalnya sudah terjun ke sungai dan tidak mungkin bisa kembali.
" Aku benci kamu! Dasar br*ngsek! "umpat Farah, ia melepaskan sandal yang tersisa dan memukulnya kearah tubuh Keken. Emosinya kian meluap, dengan keras memukul tubuh Keken sebagai pelampiasan.
" Aw... Aw.. Aw... Sakit! " Keken meringis kesakitan
" Kamu jahat! Sandal mahalku lenyap sudah,Huhuhu... "Farah masih tersedu -sedu,tidak ikhlas jika sandalnya hilang.
" Jadi kamu tidak bunuh diri? "tanya Keken, ia mengira Farah akan bunuh diri maka dari itu ia mengejarnya setelah mendapat informasi dari pengawal ibunya.
" Siapa yang mau bunuh diri!! Aku masih waras dan tidak akan melakukan hal itu! "teriaknya lagi
" Lalu kenapa kamu naik ke besi jembatan itu? Aku kira kau akan bunuh diri. " tanya Khaffi kali ini.
" Saat aku melihat ke bawah, aku melihat pria dan wanita yang sedang me sum si semak-semak dekat kali itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa penglihatanku tidak salah tapi gara-gara kalian sandal kesayanganku jatuh padahal umurnya baru satu minggu. Itu sandal mahal yang pernah aku miliki, huhuhu.... "jelas Farah masih dengan mode kesal.
" Dan ini semua karenamu!! "teriak Farah lagi, hingga beberapa orang yang lewat kini berkerumun mendekat kearah mereka.
" Tidak terjadi apa-apa pak, bu. Silahkan dilanjutkan perjalanan anda. " Khaffi mencoba mengusir beberapa warga yang berkerumun. Ia lebih baik mengusir warga daripada berurusan dengan pasangan yang kini sedang ribut.
"Jadi gara-gara sandal kamu menangis?" tanya Keken lagi
"Iyalah karena sandal, memangnya apa lagi, sungguh aku benci banget sama kamu, Ken!!" Nafas Farah naik turun saking emosinya sama Keken. Keringatnya bercucuran dan kepalanya mulai pusing kembali. Wajahnya kian pias.
"Ya sudah nanti aku ganti satu lusin. Kamu tenang saja, aku Keken si crazy rich." ucapnya dengan sombong seperti biasa.
Farah tidak peduli dengan ucapan Keken karena saat ini ia merasa bumi berputar terasa cepat dan tangannya mencoba meraih sesuatu agar bisa menahan dirinya.
__ADS_1
"Farah, are you ok?" Keken melihat Farah yang mulai limbung.
"Farah...!!" teriak Keken, ia menangkap tubuh Farah yang tergolek lemas ke dalam pelukannya.