
Hari ini Hilman datang ke tempat kerja Farah, ia mengambil cuti karena begitu merindukan kekasih hatinya. Kali ini Hilman sengaja memberikan surprise pada Farah dengan memberikan undangan pilihannya yang akan segera naik cetak dan ia akan mengajak Farah memilih gaun pernikahan mereka.
Farah yang bersiap akan pulang kerja kini terkejut melihat Hilman duduk sebagai pengunjung restoran.
Pakaiannya begitu rapi dan ketampanan nya membuat beberapa pengunjung wanita tertarik, beberapa diantaranya mencoba menggodanya dengan tersenyum dan itu terlihat sangat jelas oleh Farah hingga dirinya merasa cemburu.
"Ayo kita pulang, jangan disini banyak kuntilanak jadi jadian!" ketus Farah dengan kesal.
"Kuntilanak? Mana?" Hilman mengenyitkan dahi tidak mengerti ucapan Farah.
"Noh, noh, noh..." Farah menunjuk beberapa wanita yang sejak tadi melirik calon suaminya. " Mereka kegenitan, curi - curi pandang sama abang."
"Kamu cemburu sayang?" Hilman tersenyum bahagia karena berhasil membuat Farah cemburu. Selama ini Farah wanita yang pintar dalam menutupi perasaannya. Ia lebih suka diam dan seolah tidak peduli jika Hilman banyak yang suka.
" Mana ada wanita yang tidak cemburu saat calon suaminya digoda wanita lain." Farah membuang wajahnya kearah lain. Ia sudah tidak malu lagi mengungkapkan perasaannya kali ini.
"Aku suka kamu yang seperti ini." Hilman kembali tersenyum bahagia
"Ayo kita jalan ke mall, aku ingin jalan denganmu." Hilman menggandeng erat tangan Farah menuju ke sebuah mall terkenal di kota itu.
Mereka memasuki sebuah butik yang terdapat di mall itu, Hilman melihat beberapa kebaya untuk pesta pernikahannya.
"Kamu pilihlah yang mana? Aku ingin kamu memilih sesuai yang kamu inginkan."
"Abang..." lirih Farah
"Aku ingin kamu memakai kebaya ataupun gaun yang kamu sukai saat pernikahan kita nanti. Pernikahan yang kamu impikan, seperti seorang putri kerajaan." lanjut Hilman lagi
Farah merasa terharu karena Hilman begitu menyayanginya hingga dia akan mengabulkan keinginannya untuk membuat pesta pernikahan sesuai keinginan Farah. Namun, masih terbesit sedikit rasa bersalah karena kemarin dia telah membohongi Hilman.
" Abang..., a aku... " Farah terbata dan takut, kemarin dia sudah memilih gaun yang telah dirancang oleh tante Navysah.
__ADS_1
"Silahkan tuan, ada yang bisa kami bantu?" suara dari seorang karyawan toko membuat Farah bertambah kelu untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Tidak ada mbak! Maaf kami salah toko." Farah dengan cepat menarik tangan Hilman untuk keluar dari butik itu. Dan tanpa menghiraukan pertanyaan Hilman, Farah masih berjalan dengan cepat dan gugup.
"Kamu kenapa sih yang." ucap Hilman kembali, kata-kata sayang selalu meluncur dari bibirnya untuk Farah. Dan itu selalu membuat hati Farah berdesir
" Aku lapar, ayo kita ke restoran itu." kilah Farah, ia masih mencoba membuat alasan. Farah ingin jujur namun ia takut jika Hilman marah padanya.
"Kamu kenapa, ada masalah? Hilman sejak tadi melihat Farah makan dengan gugup dan tidak nyaman.
" Katakan padaku. " Hilman menyuap makanan terakhirnya. Ia sebenarnya tidak merasa lapar karena sejak di restoran Farah dia sudah makan beberapa hidangan, namun saat melihat Farah makan dengan gerakan cepat, terasa gugup dan tidak nyaman, Hilman ikut lapar kembali.
"Aku ingin jujur, tapi abang jarang marah padaku ya." Farah menundukan kepala, saat melihat wajah Hilman begitu serius ingin mendengarkannya.
"Tentang apa dulu, kenapa kamu begitu takut."
"Tapi beneran jangan marah ya?" pinta Farah kembali
"Aku tidak bisa janji untuk tidak marah, tapi aku akan lebih marah jika kamu berbohong padaku." Hilman menatapnya dengan intens
"Sebenarnya satu bulan terakhir aku bekerja part time di sebuah apartemen milik Keken, ia bos dari kak Antoni. Kau ingat, dulu kita pernah bertemu dengannya di restoran D & R."
Farah menceritakan awal mula bertemu dan semua yang telah terjadi satu bulan terakhir, saat dia sakit dan saat akhirnya pria itu membebaskannya dari pekerjaan part time. Beberapa kali Hilman mengeratkan tangannya dengan keras. Wajahnya begitu terlihat kesal karena selama ini Farah tidak jujur padanya.
"Maaf..." satu kata yang meluncur di bibir Farah.
" Jauhi pria itu! Aku tidak suka!" Hilman menekankan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.
" Mana ada pria yang tidak cemburu saat calon istrinya bersama pria lain!" Hilman meniru kalimat Farah saat sedang cemburu.
"Kami hanya teman dan aku akan menjauhinya." tegas Farah
__ADS_1
"Bayar semua utangmu padanya, Aku tidak mau kamu bertemu dia lagi." Hilman membuka dompet dan memberikan satu kartu sakti pada Farah.
"Tidak perlu, ini sudah berakhir. Aku tidak perlu membayarnya lagi."
" Simpan saja kartu itu, saat dia memintamu untuk datang jangan pernah mau." tegasnya
Farah hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju.
"Batalkan gaun yang kamu inginkan di butik tantenya itu. Aku tidak suka!"
"Tapi bang, aku suka dengan desain gaun nya, tante itu juga sangat baik."
" Aku tidak suka!" seru Hilman lagi sembari menatapnya tajam.
"Kamu sudah berbohong padaku, bilang kerja nyatanya jalan dengan pria lain. Aku tidak suka dibohongi seperti ini, Farah!" sentak Hilman dengan nada tinggi.
Farah hanya bisa menundukan kepala, airmatanya menetes di sudut mata. Ini pertama kalinya Hilman marah padanya. Selama Farah mengenal Hilman, pria itu hanya akan mendiamkan dia beberapa hari, namun tidak kali ini. Ia benar-benar marah.
" Nyesel aku kesini, aku ingin membuat surprise padamu tapi nyatanya aku dibohongi seperti ini." Hilman
Farah semakin merasa bersalah, suara isak tangis terdengar darinya. Hilman hanya membuang wajahnya kearah lain. Ingin rasanya ia menghapus airmata Farah dan meminta maaf padanya karena membuat Farah menangis namun segera ia urungkan. Baginya ini hukuman yang harus Farah terima agar tidak melakukan kebohongan lagi.
"Ayo kita pulang." ajak Hilman tanpa melihat kearah Farah yang terlihat begitu menyedihkan. Ia berjalan dua langkah di depan Farah.
Farah mengekori Hilman yang kini diam padanya. Selama di mobil tidak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir Hilman. Ia hanya fokus menyetir tanpa melirik kearah Farah.
"Ini contoh undangan pernikahan kita, aku ingin segera mencetaknya. Pilihlah mana yang kamu suka." ucap Hilman setelah sampai di rumah kontrakan Farah, ia memberikan beberapa undangan yang akan dipilih untuk pernikahan mereka.
Farah hanya menerima dan turun dari mobil tanpa melihat kearah Hilman. Dengan cepat Hilman melesat jauh tanpa menoleh kearah Farah.
"Huaaaaa... Huaaaa...." tangisan Farah pecah setelah mobil calon suaminya pergi. Hatinya begitu sakit saat Hilman mendiamkannya begitu saja.
__ADS_1
"Kamu kenapa Farah?" Teh Cucu yang sedang bertelepon ria di teras melihat Farah menangis sesenggukan.
"Tidak apa-apa." Farah menggelengkan kepala dan masuk ke dalam rumah kontrakannya. Ia meringkuk di tempat tidur sembari menangis. Farah menangis kian keras saat tahu bahwa Dini pulang terlambat. Tidak ada teman untuk berkeluh kesah dan menceritakan apa yang terjadi dengannya. Hingga malam tiba Farah tertidur karena kelelahan menangis.