Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 63 ( Janin ini milik pria itu)


__ADS_3

Dini


Pelanggan tidak begitu ramai karena jam makan siang sudah berlalu, saat ia membereskan meja dan menaruh beberapa piring kotor di dapur, Dini tidak menemukan Farah. Ia hanya bertemu Iqbal yang kini menggantikan chef Ardi memasak.


"Farah kemana?" tanyanya pada Iqbal


"Tadi pergi sama chef Ardi nggak tahu kemana, tapi kulihat chef Ardi kesal sama dia. Hari ini bikin ulah lagi, tidak mau memasak sayur dan bolak-balik toilet lagi. Farah kenapa ya, kok semakin kesini dia seenaknya sendiri mentang-mentang mau keluar kerjaan. " Ia berprasangka buruk pada Farah yang kini tidak serius dalam bekerja.


" Kalau dia sudah tidak betah kerja disini mending resign sekarang aja daripada bikin chef Ardi susah. "gerutu Iqbal lagi


" Hushhh... lu punya mulut nggak bisa dijaga, sih! " sembur Dini." Farah lagi tidak enak badan jadi dia seperti itu nanti kalau dia sehat lagi pasti seluruh nya dia pegang. Lu jangan ngomong seenak udel lu aja! " Dini tidak terima saat Farah disudutkan oleh teman kerja nya, memang dalam seminggu ini kinerja Farah menurun tapi bukan berarti ia pemalas dan bersikap sesuka hatinya, itu bukan sifat Farah.


" Emang kenyataannya begitu, lu aja yang belaian dia terus! "Iqbal sedikit emosi


" Gue bukan nya belaian Farah, tapi lu kan tahu selama ini kerja Farah bagus dan baru seminggu ini dia lagi kurang semangat. Lu jadi orang jangan sok pinter, kayak kerjaan lu bener aja!" sembur Dini lagi


" Gue tahu lu suka ngerokok di kamar mandi sampai lupa waktu, kadang lu juga main game online di samping pohon depan tapi gue sama Farah diam saja karena kita masih anggep lu temen. Tapi kalau cara lu begini, nyalahin Farah terus gue bakal laporan sama mbak Riri biar lu kena SP! " ancam Dini


" Eh, jangan dong. "Iqbal mulai khawatir karena selama ini Dini tahu kebiasaannya yang suka curi-curi waktu di tempat kerja." Maafin gue deh, gue janji nggak bakalan rese lagi. "


" Terserah. " Dini tidak peduli dengan janji manis pria itu, yang ia pikirkan sekarang dimana Farah berada.


Ia begitu khawatir dengan sahabat nya, memang beberapa hari ini sikap Farah berubah dan sering menjengkelkan.Dia selalu memilih dalam memasak dan tidak disiplin. Beberapa kali Farah kena tegur mba Riri karena sering keluar masuk toilet beberapa kali.


" Farah, kamu tidak fokus. Kenapa?"


" Kalau semedi di toilet jangan terlalu lama, pelanggan sedang menunggu masakanmu!"


"Jangan kelamaan di toilet nanti bertelur."


" Farah, keterlaluan sekali kamu ini pilih-pilih masakan. Beberapa hari ini kamu tidak jelas, kinerjamu menurun!"

__ADS_1


Dalam seminggu ini mbak Riri selalu mengomel dan kesal pada Farah, tidak seperti biasanya. Dan itu membuat Dini bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu padahal saat di rumah ia baik-baik saja.


* **


Mereka terkejut ternyata Dini menguping pembicaraan. Farah merasa seperti tersangka yang kedapatan mencuri, wajahnya begitu pias dan ketakutan.


"Farah, benarkah kamu hamil? Jawab aku?" Dini mendelik, meminta jawaban jujur dari temannya.


"Tidak mungkin! Aku tidak hamil." ucap Farah


"Tunggu sebentar." Dini mengingat ingat masa menstruasi Farah yang selalu datang setelah masa menstruasi dirinya. " Terakhir aku haid dua minggu yang lalu dan kamu belum ___" Dini meremas jari tangannya. "Ini tidak mungkin!"


Dini selalu tahu jadwal menstruasi Farah karena mereka teman dekat dan satu atap. Keseharian Farah, Dini selalu hafal.


"Jawab aku, Farah!" Dini menatap tajam pada temannya. Emosinya sedikit naik karena dia bukan tipe orang yang sabaran.


"Turunkan nada bicaramu, ini tempat umum." pinta Ardi pada Dini


"Aku tidak tahu, benar-benar lupa dan tidak tahu." Farah berkaca-kaca


"Sebaiknya kalian pulang dan beristirahat. Aku akan menghandle semuanya." Ardi masuk kembali ke restoran dan meninggalkan dua sahabat yang kini saling terdiam.


Dini melajukan motornya dengan cepat, emosinya begitu naik turun karena masih saja Farah tidak menjawab pertanyaannya. Setelah mendapatkan ijin dari mbak Riri dengan alasan sakit, Dini kini menuju apotek untuk membeli beberapa tespek.


Ia yang selalu irit dan suka gratisan kini membayar lima tespek sekaligus. Dini tidak peduli sekarang di dompetnya tersisa beberapa lembar karena saat ini yang terpenting menuntaskan rasa penasarannya.


"Pakai itu! Tiga saja yang dua buat besok,mana tahu tespeknya error. Katanya pengecekan paling bagus di pagi hari tapi sekarang aku tidak mau menunggu sampai besok, bisa-bisa aku tidak bisa tidur karena penasaran." ketus Dini


"A.. aku... ta__" suara Farah tercekik di tenggorokan. Ia berkaca-kaca, takut suatu kenyataan buruk terjadi.


"Please Farah, jangan takut ada aku dan Vania. Kita hadapi sama-sama, kamu tidak sendirian." Dini merengkuh tubuh Farah dengan lembut dan Ia mendorong Farah kedalam toilet.

__ADS_1


Dini harap-harap cemas, ia menunggu Farah keluar toilet. Setelah beberapa saat ia mendengar teriakan dari dalam toilet.


"Tidak!! Huaaaaa....." terdengar suara teriakan dari Farah, Dini begitu terkejut hingga berlari dan tersandung tas kerjanya. Ia tersungkur namun segera bangkit dan masuk kedalam toilet.


Terlihat Farah yang meringkuk di dalam toilet kecil sembari memegang tespek bergaris dua. Dini terduduk lemas tak percaya sahabatnya kini tengah hamil. Ada janin di perut Farah.


"Jangan menangis, sudah jangan menangis. Ada aku dan Vania." Dini memeluk Farah yang masih menangis keras. Ia seolah tidak percaya gadis sepolos Farah bisa hamil diluar nikah dengan tunangannya. Diantara mereka bertiga Farah tidak pernah neko-neko, ia selalu menjaga diri dari pergaulan bebas namun nyatanya takdir berkata lain, Farah hamil.


"Aku sudah hancur, a... aku hamil Din, huhuhu..." Farah terisak, hatinya begitu sakit saat tahu kenyataan bahwa saat ini dia hamil.


"Ayo berdiri, aku bantu kamu ke kamar." Dini hanya bisa menghela nafas panjangnya, memapah Farah yang kini lemah tak berdaya. Ingin rasanya ia mengomel dan memaki gadis itu namun saat melihat wajah Farah yang pucat, segera Dini urungkan.


"Farah, ini kamu kok berat banget kayak karung beras." kelakar Dini agar teman nya sedikit terhibur


"Huaaaa... Huhuhu.... Kamu nyindir aku, kamu samain aku sama karung beras karena aku tambah gendut." Farah semakin menangis kencang, entah mengapa ia selalu sensitif akhir akhir ini.


"Eh, bukan seperti itu. Mungkin aku saja yang lemah, ini tadi kakiku sakit karena jatuh." Dini sengaja berbohong, padahal Farah memang bertambah berat.


Farah merebahkan dirinya di kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal. Malu, itu yang saat ini dia rasakan. Ia hamil sebelum adanya pernikahan.


Dini mengumpulkan tiga tespek dan memasukanya ke dalam kantong plastik.


" Jangan menangis, nanti anakmu ikutan sedih." tanpa terasa Dini meneteskan air mata melihat Farah yang begitu terpukul dengan kehamilannya.


"Sebentar lagi kamu akan menikah, Hilman pasti menyayangimu dan calon anaknya. Kamu tidak usah khawatir." Dini mengira janin itu milik Hilman.


"Ini bukan milik Hilman." ucap Farah dengan frustasi.


"Apa!!!" Dini terkesiap dan bertambah lemas.


"A.. a.. apa maksudmu?? suaranya tercekik di tenggorokan.

__ADS_1


__ADS_2