Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 72


__ADS_3

Keken datang ke rumah ibunya dan langsung naik menuju kamar pribadinya. Terasa asing, itulah yang Keken rasakan karena sudah lama tidak menempati kamar tersebut. Ia melihat foto dirinya dengan pigura yang besar dan hanya tersenyum kecut.


"Aku setampan dan se sexy ini, bagaimana bisa gadis itu tidak menyukaiku. Menyedihkan." lirih Keken dengan tatapan nanar.


Belum sempat dia duduk di ranjang, terdengar suara langkah kaki ibunya masuk ke dalam kamar.


"Kok pulang tidak minta dijemput sama sopir mommy." Imelda memeluk putra semata wayangnya dengan lembut.


"Ada Khaffi mom , biar dia ada kerjaan daripada ngumpet di kamar mulu dah kayak perawan aja."


"Tadi kamu kumpul sama temen - temen?"


" Iya."


Keken menuju ranjangnya dan menepuk bantal yang biasa ia pakai untuk tidur. " Kok bantal aku bau wangi seperti __" Keken menghirup aroma bantalnya, wanginya seolah tidak asing baginya.


"Baru di cuci kemarin, pakai softener baru." potong Imelda dengan cepat, ia terpaksa berbohong agar Keken tidak tahu bahwa Farah pernah tidur di ranjang milik putranya.


" Oh."


Keken masih menghirup aroma bantalnya yang terasa nyaman dan Imelda berulang kali melihat tingkah anaknya yang aneh.


" Sepertinya dia tahu aroma itu milik Farah, apa anakku sedang merindukannya?" gumam Imelda dalam hati


"Sayang, apa kau ingin makan sesuatu, chef kita akan memasak untukmu."


"Apa ya?" Keken mencoba berpikir apa yang ia inginkan, sejak di Cafe Michelle Keken sudah makan kue dan minum kopi namun ia masih menginginkan sesuatu.


"Kok aku pengen makan ikan gurame bakar ya mom dengan sambal pedas sama sayur sop buatan tante Navysah pasti enak itu."


" Baiklah mommy akan meminta chef kita untuk masak ikan bakar tapi untuk sayur sop buatan tante besok saja, dia sedang ke Bandung bersama Om Davian. "


" Keken maunya mommy yang masak, bukan chef. "pintanya


" Oh my God, Keken! Kamu kan tahu mommy tidak jago masak. Rasanya pasti aneh. "

__ADS_1


" Pokoknya Ken mau mommy yang masak, titik! "


Imelda mengenyitkan dahi, putranya tidak terlalu suka dengan ikan karena bau amis dan ia kembali menghela nafas panjangnya. Ia tidak berani menolak permintaan Keken karena mungkin ini keinginan dari calon cucunya.


" Baiklah mommy akan masak untukmu. "


" Mom, ngapain tante ke Bandung? Kok si Fafa tadi nggak ngomong kalau emaknya pergi"


" Ke rumah tante Ifa disana, ada tanah saudara yang mau dijual dan rencananya Navysah mau beli untuk wakaf masjid lagi."


"Oh begitu, emang ya tanteku itu solehot banget. Salut Keken sama dia, pengen deh tuker tambah sama mommy Keken." kelakarnya sembari tertawa


Imelda mencubit gemas putranya, tak pernah diambil hati jika Keken bercanda dengannya seperti itu. Ia malah bahagia karena masih bisa melihat anaknya tertawa daripada selalu murung.


" Ya sudah kamu istirahat dulu, mommy akan masak." Imelda menutup tubuh anaknya dengan selimut dan ia keluar dari kamar Keken


* **


"Mom, kau tahu dimana parfumku? Aku mencarinya namun tidak ketemu." tanya Keken, ia datang ke dapur setelah menerima telepon dari ibunya bahwa makanan sudah siap.


"Iya juga ya mungkin sudah habis." Keken melihat ikan gurame bakar yang berbentuk tidak jelas, terlihat beberapa berwarna hitam karena pembakaran.


" Sambalnya buatan mommy jangan dimakan ya, sebentar lagi chef akan selesai membuat sambal untukmu." ia menyuruh chef pribadinya untuk bekerja lebih cepat agar putranya tidak menunggu lama.


Keken mencocol ikan dengan sambalnya, terasa asin dan bau terasi yang kuat." Enak kok. "ujarnya


Imelda dan chef saling berpandangan, bagaimana bisa Keken mengatakan bahwa sambal itu enak padahal melihat bentuknya saja sudah bikin bergidik ngeri.


" Beneran enak? " tanya Imelda


" Enak mom, asin dan terasinya terasa. Tomatnya asam, enak! "


"Mau ketawa takut dosa." gumam Chef itu dalam hati, ia menggulum senyum melihat Keken dengan cepat mengisi piringnya dengan nasi dan makan dengan lahap. Tidak seperti Keken yang biasanya, ia selalu minta dilayani walaupun hanya sekedar mengisi nasi di piring


" Kupotong gajimu lima puluh persen jika berani tertawa!" Imelda melotot dengan tajam kearah chef pribadinya. Seolah tahu apa yang dipikirkan chef tersebut

__ADS_1


"Maaf nyonya saya tidak berani tersenyum apalagi tertawa melihat tuan Kendrew." ia menundukan kepala dan menyesal


Keken tidak peduli dengan ibunya yang kini sedang mengomel pada chef, ia dengan asyik memakan nya tanpa beban.


"Enak Ken?" tanya Imelda sembari duduk di sampingnya


"Enak mom." Keken masih mengunyah tanpa melihat kearah ibunya.


"Lusa jadi meeting sama orang perwakilan dari perusahaan Wiko."


"Jadi mom."


"Kalau kita bisa bekerja sama dengan perusahaan Wiko, sudah tentu nilai saham kita naik dan kita akan merambah ke infrastruktur jalan,tidak cuma properti, sekarang kita punya akses untuk main di jalan tol." ucap Keken. " Dan setelah kerjasama ini berhasil, Keken bisa beli lamborgini. Wuih, keren kan mah. "


" Kamu itu selalu foya-foya tidak pernah puas dengan satu kendaraan. Ingat ya Ken, kamu harus menghargai uang jangan cuma menghamburkan saja, pemborosan!"


" Pumpung masih muda mah, muda foya-foya tua masuk surga. "Keken terkekeh dengan ucapannya sendiri


" Mana ada peribahasa seperti itu! " cibir Imelda.


" Kalau mau masuk surga ya ibadah, banyakin kebaikan, santuni anak yatim piatu, taat pada Allah. Suka foya-foya masa minta surga, malu sama malaikat Ridwan yang jaga pintu, itu kunci surga pasti langsung diumpetin kalau kamu nongol Ken, lalu langsung deh kamu disuruh pulang lewat jalur neraka. " kelakar Imelda


" Ih, mommy kok ngomongnya begitu. Masa Ken masuk neraka sih, ketampanan Keken berkurang dong. "


" Emang ketampananmu bisa merayu malaikat seperti kamu merayu cewek - cewek dengan gombalan recehmu itu! Mana ada seperti itu. Makanya mommy selalu bilang jaga sikap kamu, jadi anak baik jangan sampai menghamili an____"


"Jangan sampai menghamili anak orang." potong Keken dengan cepat,


" Kalau itu terjadi, semua fasilitas akan dicabut dan harus angkat kaki dari rumah serta apartemen. Semuanya harus dari nol." ucap Keken kembali, ia selalu menirukan ancaman ibunya.


"Mommy tenang saja, sih! Keken tidak menghamili siapa - siapa maka dari itu Keken mau beli lamborgini keluaran terbaru." ucapnya


Imelda hanya tersenyum kecut, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Keken bahwa putranya telah menghamili Farah. Sesuai permintaan gadis itu, Imelda tidak akan buka suara sampai gadis itu mengatakannya sendiri pada Keken.


" Mommy tidur dulu, kamu jangan lupa istirahat ya" Imelda merasa sedikit pusing membayangkan putra semata wayangnya hidup dari nol. Ada rasa kasihan, karena Keken terbiasa hidup enak dan serba dilayani namun ia harus tega pada anaknya agar Keken lebih menghargai hidup dan tidak menyepelekan uang.

__ADS_1


"Yes mom."


__ADS_2