Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 134 (Bertemu Wina)


__ADS_3

"Bapa....." Farah terkesiap saat tahu ayahnya datang. Ia tidak menyangka pria itu datang ke kontrakannya.


"Farah, kenapa wajahmu seperti itu." Pak Ilham melihat mata Farah yang bengkak dan rambut yang berantakan tidak terawat. Dini pun hanya bisa menelan salivanya, ini pertama kalinya dia melihat ayah Farah datang ke kontrakan namun disaat yang tidak tepat.


"Ti... tidak ada apa-apa pak, a... Aku hanya belum mandi, hihihi..." Ia terpaksa berbohong untuk menutupi masalahnya.


"Aku pulang dulu." Dini pamit mengundurkan diri, ia lebih baik pergi daripada harus diinterogasi keluarga Farah.


"Katakan pada bapak, apa yang terjadi denganmu?" ia tahu anaknya sedang berbohong, walaupun ia jarang memperhatikan anaknya namun pak Ilham tahu kalau Farah sedang berbohong.


"Bapak...." lirih Farah, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan karena saat ini dirinya begitu bimbang dengan perasaan nya sendiri apalagi ia masih kepikiran tentang Keken saat ini, suaminya sedang bersama wanita lain.


"Ada apa?"


Farah menceritakan tentang rumah tangganya pada sang ayah. Sudah lama Farah tidak berkeluh kesah dengan bapaknya dan sekarang ia merasa ada seseorang yang menguatkan dirinya disaat terpuruk seperti ini.


"Telepon Keken sekarang, suruh dia pulang dan kamu minta maaflah." pinta bapak


"Aku tidak mau!"


"Lalu kamu mau apa?"


"Pokoknya aku tidak mau telepon dia!" kekehnya, "Aku tidak mau minta maaf."


Pak ilham mengulas senyum, ia mengingat almarhum istrinya yang juga keras kepala seperti Farah saat ini.


"Kok bapak senyum?" tanyanya


"Bapak mengingat almarhumah ibu, dia sepertimu tidak mau meminta maaf hingga bapak yang selalu meminta-minta maaf duluan.


Farah hanya menggerucutkan bibirnya hingga terdengar gelak tawa dari bapaknya." Tingkah lakumu sangat mirip seperti ibumu. "


" Bapak kesini ingin menjemputmu, kita tinggal di rumah sementara waktu. Aisyah kangen dengan mu."


"HAH...!"


"A... aku tidak bisa pergi kesana karena___" Farah menghentikan ucapan nya.


"Karena ibu tirimu." Bapak menggulum senyum.


"Dulu bapak takut jika dia menyakitimu tapi sekarang bapak lega karena kamu sudah menikah dan pria itu pasti melindungimu. Bapak sudah tidak ingin apa-apa lagi." pak ilham selalu mengulas senyum saat mengatakannya.


"Bapak akan menceraikan ibu tirimu jika dia berani memukul Fadil lagi."


"HAH...!!" lagi-lagi Farah terkejut dengan keputusan bapaknya.


" Memangnya Fadil dipukul lagi pak ?"


"Hmm..., dan ini yang terakhir karena bapak sudah tidak tahan dengan sikap ibumu itu. Bapak kira dia akan berubah nyatanya tidak!"


"Apa tidak ada jalan lain pak? Walaupun ibu tirinya begitu menyebalkan tapi Farah berterima kasih karena ia mau merawat ayah nya.

__ADS_1


" Tidak ada, bapak sudah lelah dan ingin hidup tenang. Setelah kamu menikah bapak merasa lega. "


" Beri dia kesempatan sekali lagi pak, kasihan adik-adik juga jika kalian berpisah." Farah meminta bapaknya untuk memikirkannya, berpikir ulang bahwa perceraian bukan jalan yang terbaik.


" Ternyata anak bapak sudah dewasa, kamu masih mau memikirkan kebahagiaan adik - adikmu. " ucap pak Ilham


"Ayo kita kerumah, bapak ingin kamu menginap disana. Dan jika pria itu mencintaimu maka dia akan datang ke rumah kita."


Keken


Ia melihat proyek pembangunan yang sedang berjalan di daerah Utara. Tugas yang diberikan Raffa tidaklah sulit, ia hanya mengawasi jalannya pembangunan dan sesekali bertemu klien untuk membahas proyek tersebut.


Keken hanya mengeluh karena panas, ia yang terbiasa bekerja di ruang ber AC kini harus turun ke lapangan secara langsung. Udara yang begitu terik dan sesekali membakar kulit putih nya namun Keken tidak menyerah karena semua ia lakukan demi istri dan anaknya.


Siang ini ia bertemu Wina di sebuah Cafe mall tak jauh dari tempatnya bekerja. Keken sengaja memilih tempat yang strategis agar tidak membuang banyak waktu.


Wina, gadis berperawakan tinggi, cantik dan langsing itu menemui Keken. Ia sengaja datang terlebih dahulu karena dia tahu Keken orang yang tidak suka menunggu.


"Sayang..." sapanya, " Eh lupa, ternyata kamu sudah menikah dan aku tidak berhak berkata sayang." ucapnya lagi sembari menutup mulutnya.


Keken hanya tersenyum sembari mengulurkan tangan. "Bagaimana keadaan ibumu?"


Tidak seperti pria lain yang suka berbasa - basi tentang wanita cantik justru Keken lebih suka bertanya tentang kabar ibu gadis itu.


"Mama baik, dia sampai sekarang masih sehat dan itu berkatmu."


" Ken, maafkan aku karena selama ini a... aku__" Wina menundukkan kepala nya.


"Aku tahu dan kamu tidak perlu meminta maaf." Keken


"Semuanya dan itu karena perintah mommyku kan." jawab Keken. "Aku tahu semuanya tanpa kamu beri tahu."


"Maaf." ucapnya dengan menyesal


"Tidak perlu meminta maaf karena ini bukan salahmu, ini karena mommyku selalu ikut campur dengan hidupku."


"Yang terpenting sekarang aku bisa menikah dengan Farah." Keken tergelak tawa. Ia tahu mommy Imelda yang merancang rencana tentang kejadian di club malam sampai dirinya berkelahi dengan Hilman dan mommy nya yang selalu menyuruh Wina untuk melakukan akting itu. Keken tahu karena ia mengenal baik Wina, saat di club gadis itu sengaja memeluknya dengan erat padahal Wina hanya akan memeluk dan mencium Keken jika pria itu sudah memberinya izin. Ada sesuatu yang salah saat itu hingga Keken berpikir pasti ibunya yang telah bermain di balik layar.


"Aku menerima uang dari mommy mu sebanyak ini." Wina mengeluarkan satu lembar cek bernilai ratusan juta, hadiah dari mommy Imelda karena ia telah berhasil membuat skenario di club hingga menyebabkan Hilman dan Keken berkelahi dan berakhir dengan menikahnya Keken dengan Farah.


" Lumayan banyak. "Keken melihat nominal cek itu lalu mengembalikan nya pada Wina." Kenapa tidak kau cairankan? "


" Aku tidak berhak dan ini untukmu saja. "Wina menolak cek itu karena merasa bersalah sudah menjual kepercayaan Keken padahal pria itu begitu baik padanya. Ia memang menyukai uang tapi sekarang Keken lebih membutuhkannya.


" Ambilah, ini milikmu. "Keken menyodorkan kembali cek itu."


"Tapi Ken, a... aku__" Wina menundukkan kepala. " Maaf, aku terpaksa melakukan nya karena mommy mu menakutkan."


"Aku tahu itu, terima kasih karena aktingmu bagus dan bisa membuat Farah menikah denganku."


"Ah, aku kira kamu akan marah." Wina tersenyum bahagia dan merasa lega karena akhirnya ia bisa jujur serta Keken tidak membencinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan marah padamu Win, jadi ambillah cek ini sebagai hadiah. Pergunakanlah dengan baik."


Wina berkaca-kaca, bahkan disaat Keken sedang tidak punya uang pun ia masih memikirkannya. Keken pria baik.


" Aku akan pergi ke Singapura dan hidup disana karena mama ingin membuka lembaran baru dan aku ingin bekerja. " sambung Wina lagi


" Benarkah. Tapi kamu pergi bukan karena ingin melupakanku kan?" Keken terkekeh


" Dan itu salah satu alasanku, karena kau juga sudah menikah, aku ingin melupakanmu. Aku sayang kamu Keken." Kali ini Wina berkata jujur, sejak menjadi selir Keken ia memang ada perasaan dengan pria itu namun cintanya bertepuk sebelah tangan,Keken hanya menganggapnya sebagai teman.


" Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu. " Keken pun tahu dengan perasaan Wina." Kita masih bisa berteman dan tetap menjaga komunikasi. Kapan kau akan pergi? "


" Satu bulan lagi, lebih baik aku bekerja di luar negeri yang gajinya besar karena sekarang sumber keuanganku sudah menikah dan aku tidak mau mengemis lagi padanya." Wina menangis sembari memukul dada Keken. Ia pasti merindukan pria itu.


Keken tergelak tawa.


" Aku akan tetap memberimu uang, tinggallah di Indonesia. "


Keken memang sumber penghasilan Wina selama ini dan itu dia lakukan semata-mata karena merasa kasihan dengan gadis itu.


" Tidak! Semuanya telah berakhir, Ken. Aku tidak mau menerima gaji recehan karena aku terbiasa menerima ratusan juta. "kelakar Wina, ia tahu Keken dimiskinkan oleh mommy nya, maka dari itu Wina merasa kasihan. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia pun tidak bekerja.


" Sial*n!! "umpat Keken," Tunggu saja, sebentar lagi aku akan kaya kembali. "


" Dan jika kau butuh penghangat malam aku akan datang kembali. "goda Wina sembari mengerlingkan matanya. Mereka tertawa bersama.


" Lebih baik aku minta sama Farah daripada denganmu, dia lebih ___"Keken teringat dengan istrinya kembali.


"Hahahaha, ternyata kau benar-benar mencintainya dan sekarang aku tersisih tidak terpakai lagi." Wina pura-pura kesal namun dalam hatinya bahagia akhirnya Keken menemukan wanita yang menurutnya baik.


"Ini data kenalanku yang berminat membeli mobil darimu." Wina memberikan beberapa lembar formulir dan data konsumen pada Keken.


"Mereka tertarik karena harga yang kamu berikan lebih murah dari dealer lain nya." sambung Wina


" Wow..., banyak juga Win yang mau beli mobil. Kamu memang pintar dan bisa diandalkan." Keken memuji kepintaran Wina dalam berbisnis, gadis itu supel dalam pergaulan hingga memudahkan dirinya untuk menawarkan suatu barang.


" Jangan lupa komisiku." ucapnya sembari tersenyum.


" Lu tenang aja, hari ini gue proses langsung ke dealer. Besok komisi lu cair langsung aku transfer beserta bonusnya."


"Oke aku tunggu, lumayan untuk perawatan karena sekarang atm berjalanku sudah kere dan dia milik wanita lain dan aku tidak boleh mengganggunya."


Keken terbahak mendengar sindiran Wina.


"Keken, aku pasti merindukanmu" Wina kembali berkaca-kaca, bersama Keken ia merasa bahagia.


"Aku juga pasti merindukanmu. Sudahlah jangan menangis, nanti aku antar kamu ke bandara untuk yang terakhir kalinya. Aku menyayangimu sebagai teman." Keken


"Terima kasih untuk semuanya, Ken. Aku senang bisa mengenalmu dan semoga kalian selalu bahagia.Aku juga pasti merindukan Kenzi si per kasa, huhuhu..." disela-sela tangisan nya Wina masih bisa berkelakar.


"Kau itu, sekarang Kenzi sudah milik pribadi. Sudah tahu kemana dia akan pulang." balas Keken dan mereka tertawa bersama.

__ADS_1


"Dan milikku sekarang karatan." kelakar Wina lagi.


Dan saat mereka mengobrol, ponsel Keken menerima sebuah pesan dari nomor baru hingga akhirnya pria itu mau tak mau pulang lebih cepat.


__ADS_2