
Seperti yang sudah - sudah Farah menyiapkan sarapan untuk suaminya, namun kali ini ada yang berbeda. Ia terlihat lebih segar dan cantik dengan memakai make up tidak seperti sebelumnya.
Inha berkali-kali menginjak kaki Keken karena merasa aneh dengan sikap Farah hari ini. Wanita itu selalu melirik kearah Keken dan bertingkah berlebihan. Contohnya saat gelas air minum Keken tersisa sedikit maka dengan cepat Farah akan mengisinya kembali. Lalu saat Keken lupa mengambil sepatu maka ia akan mengambilnya dari rak dan membawakan tas kerjanya.
"Nanti mau makan apa? Aku akan masak untukmu." tanya Farah pada suaminya.
"Tidak perlu karena aku tidak akan pulang hari ini."
" Kenapa tidak pulang?" Farah segera menghentikan acara makan nya dan menatap Keken meminta penjelasan.
" Ada pekerjaan."
" Kamu harus pulang, aku akan menunggumu. Tidurlah dirumah dan jangan terlalu lelah bekerja. "
Keken terkekeh, sejak kapan Farah peduli dengannya." Bukan nya kamu yang bilang jangan ikut campur, urusan kita masing-masing. Dan aneh sekali, ini tidak seperti dirimu yang sebelumnya. Bukankah dulu kamu selalu berharap agar aku tidak pulang ke rumah karena kamu muak melihat wajahku." Keken berkata dengan sinis, ucapan ini yang selalu Farah katakan padanya dulu.
Sakit, itu yang Farah rasakan sekarang, ternyata Keken mengingat setiap kata yang ia ucapkan dulu. Ia tidak pernah menyangka ternyata perkataan nya bisa sesakit ini.
"Aku akan tetap menunggumu." Farah menahan airmatanya walaupun ia ingin menangis. Akhir - akhir ini Farah selalu cengeng saat Keken tidak peduli dengan nya.
"Terserah." Keken mengusap mulutnya dengan tisu lalu ia meninggalkan ruang makan. Farah mengejarnya, berharap Keken mau melakukan sesuatu untuknya. Inha yang melihat interaksi mereka hanya bisa menghela nafas panjangnya. " Inilah kenapa aku tidak suka punya pacaran apalagi menikah muda, ini terlalu rumit." gumamnya
" Mengurus diri sendiri saja masih keteteran apalagi mengurus perasaan orang lain, aku tidak mau menikah muda." ucapnya dalam hati.
"Keken..." Farah mengatur nafasnya yang tersenggal, mengejar Keken cukup sulit karena langkah pria itu sangat cepat, Farah tidak bisa mengimbanginya apalagi saat ini ia sedang hamil dan berat tubuhnya bertambah.
Keken sempat khawatir saat melirik Farah yang mengejarnya, ia takut wanita itu terpeleset dan berakibat fatal bagi calon anaknya. Maka dari itu Keken memperlambat langkah kakinya.
"Ken...., bisakah kau memaafkanku. Aku janji tidak akan melakukan hal bo doh lagi dan akan menjaga kehamilanku ini."
"Mudah sekali kamu meminta maaf setelah semuanya terjadi, berkali-kali sakiti aku lalu meminta maaf begitu saja. Aku sudah tidak percaya dengan janji manismu, sudah habis rasa kepercayaanku padamu. Dan tentang anak itu, sudah seharusnya kamu yang menjaga nantinya jika anak itu lahir berikan padaku dan terserah kamu, jika kau ingin bersama pria itu akan aku kabulkan daripada kamu sembunyi - sembunyi bertemu dengannya. Aku sudah muak dengan kebohonganmu." Keken masih dengan mode sinis.
" Keken.... " Farah menangis sembari memeluk lengan suaminya. Perkataan Keken sangat menyakitkan. Memang benar ia selalu bertemu Hilman secara sembunyi - sembunyi namun kali ini ia ingin berubah, Farah ingin kembali bersama Keken.
__ADS_1
"Lepas, Farah! Aku akan bekerja." Keken mengurai tangan istrinya dan dia pergi setelah taxi datang. Farah hanya bisa menangis setelah mobil yang dinaiki Keken menghilang.
"Keken, huhuhu...." Airmata Farah tumpah setelah Keken pergi.
"Jangan ditangisi, mas Keken seperti itu karena kesalahanmu juga." Inha sebenarnya tidak tega melihat Farah selalu mengisi suaminya, namun ia juga geram karena Farah tidak menghargai kakaknya bahkan gadis itu selalu berkata kasar apalagi diam-diam bertemu mantannya.
" Kau mau makan apa? Aku tidak mau ponakanku kelaparan! " Disisi watak Inha yang ketus dan seolah tidak peduli sebenarnya pribadinya begitu hangat, hanya saja cara bicaranya selalu terlihat tegas.
" Aku ingin ke kamar, perutku sedikit sakit." Saat Farah mengejar Keken perutnya terasa kram.
" Baiklah. "Inha membantu menggandengnya menuju kamar.
" Makanlah terlebih dahulu lalu minum obat." Ia memberikan nampan berisi makanan, tadi Farah hanya makan sedikit saat sarapan bersama.
Mau tak mau ia menuruti perkataan Inha, ia tidak mau sesuatu terjadi dengan bayinya. Farah harus kini menjadi wanita yang penurut.
" Sudah tahu hamil malah lari, jika mommy tahu habislah kau!" ketusnya
"Maaf aku lupa, aku hanya ingin bicara dengan Keken dan memintanya untuk mencium perutku. Dulu Keken selalu mencium dan pamit dengan bayiku, tapi sekarang tidak." Farah begitu merindukan sikap Keken yang manis dan perhatian.
" Ini memang bayiku dan Keken. "Farah menyeka airmatanya lalu mengelus perutnya yang kian membesar.
" Aku tidak suka basa - basi, sebenarnya ini bukan urusanku tapi saat aku melihat mas Keken sedih, aku tidak terima. Jika kamu tidak mencintai kakakku lebih baik kalian berpisah saja daripada saling menyakiti,bukankah kau tidak mencintai kakakku lalu untuk apa dipertahankan?"
" HAH.. ber.. berpisah. "Farah terkejut dengan permintaan Inha.
" A... aku... "
" Aku apa? memangnya kamu cinta dengan kakakku, tidak kan? " tanyanya dengan ketus." Aku yakin suatu saat ada wanita yang bisa menerima mas Keken dengan baik, mencintainya dengan tulus tapi sepertinya itu bukan kamu!"
" Dan kamu bisa bahagia dengan mantanmu itu, bukankah kau ingin menikah dengannya!"
Ucapan Inha begitu pedas dan menusuk hatinya. Berpisah, bagaimana bisa ia berpisah dengan pria yang selalu membuatnya nyaman walaupun ia sering memakinya. Bayang - bayang wanita cantik dan sexy mulai bermunculan, membayangkan jika Keken memiliki istri selain dirinya. Perceraian, bukankah itu yang diinginkannya setelah melahirkan namun saat Inha mengatakan secara terang - terangan untuk bercerai dengan Keken, hati Farah menolak.
__ADS_1
"Aku tidak mau bercerai dengan Keken, dia suamiku!!" Farah
"Sampai kapanpun aku tidak mau bercerai dengan Keken, aku tidak mau, huhuhu...." Hatinya kian sakit membayangkan jauh dari Keken dan anaknya.
"Kenapa tidak mau?! Aneh." Inha masih bertanya dengan mode ketus namun di bibirnya menahan senyum. Akhirnya Farah mengakui perasaannya sendiri.
"A... aku tidak tahu tapi satu yang pasti Keken selalu membuatku nyaman dan dia perhatian, aku tidak mau kehilangan dia, aku sayang sama Keken, huhuhu..." Farah menangis hingga membasahi selimut yang ia pakai.
" Terserah, aku tidak mengerti dengan hubungan kalian yang rumit, tunjukkan padanya kalau kamu sayang dan perbaiki hubungan kalian, jangan saling menyakiti." Inha, ia mengomel seperti emak-emak yang memarahi anaknya.
"Bantu aku agar Keken mau menerimaku kembali, aku janji tidak akan berhubungan dengan abang Hilman lagi." Farah memohon pada Inha untuk membantunya berbaikan dengan Keken
"Kenapa harus aku, pacar saja tidak punya bagaimana aku bisa membantumu." cebik Inha, ia yang dingin dan jarang berhubungan dengan banyak pria tidak tahu bagaimana caranya menaklukkan hati pasangan.
"Kamu hanya membantuku agar Keken bisa pulang ke rumah, setelah itu tugasku."
"Kamu takut kalau Keken tidak pulang dan mampir ke rumah wanita lain?"
Farah menganggukan kepala.
"Pikiranmu sangat sempit, bahkan disaat seperti ini aku yakin mas Keken masih setia padamu." ia hanya menghela nafas panjangnya, Keken dulu memang pemuja wanita tapi setelah menikah dia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Bagi Keken segalanya tentang Farah dan calon anaknya.
" Mau kan bantu aku. "Farah memegang tangan Inha dengan penuh harap. Tatapannya begitu memelas hingga Inha merasa tersentuh dan tidak tega.
" Demi calon ponakanku. "Ia masih bernada ketus sembari melepaskan tangannya. Inha benar-benar wanita kaku dan tidak suka saat ada orang menyentuh bagian tubuhnya.
" Terima kasih, terima kasih. "Farah memeluk Inha dengan erat dan bahagia karena Inha mau membantunya.
" Lepaskan! Pengap tahu. " gerutunya
" Maaf, ini karena aku terlalu senang. "
" Iya, aku tahu tapi jangan terlalu kencang saat memeluk karena da damu besar, ngeri dan aku tidak mau da daku berlubang." kelakarnya
__ADS_1
Farah menggulum senyum ternyata Inha masih mau bercanda dengan nya.