
"Farah kau mau kemana?" Dini menarik tangan Farah agar tidak pergi mengikuti pria asing itu, pria yang protes dengan masakan Farah yang tidak enak.
"Jangan pergi! kamu tidak mengenalnya, aku takut kamu kenapa - napa." bisik Dini, namun matanya melirik kearah Keken dengan tatapan tajam dan penuh selidik.
" Kenapa bisik - bisik! Aku tidak akan menculiknya, kamu tidak perlu khawatir." Keken yang melihat Dini selalu menatap tajam padanya dengan cepat Keken menarik tangan Farah.
" Memangnya kamu siapa, beraninya membawa Farah pergi!" Dini menarik kembali tangan Farah, agar berada disisinya. Dan dengan cepat Dini berada di depannya seolah ingin melindungi sahabatnya.
"Kalau bapak mau komplen ya komplen saja tapi jangan bawa anak orang sembarangan!" ketus Dini lagi
"Apa!! bapak?!" Keken begitu kesal saat ada gadis yang memanggil namanya dengan sebutan bapak. Terlihat sangat tua.
"Aku masih muda, keren,berduit jadi jangan panggil aku bapak!"Keken mendengus kesal
"Dih! Narsis." Dini mulai jengah dengan sikap pria yang ada di depan nya yang terlalu percaya diri.
"Wah! Kau sungguh berani menantangku, punya banyak nyawa rupanya. Kalian berdua memang luar biasa, sangat berani menantang seorang Keken crazy rich Jekardah." ia kembali sombong, memamerkan status sosialnya.
" Crazy beneran kali! Nggak usah ngadi-ngadi, aku tidak ijinkan Farah pergi denganmu! "
" Si pria Crazy. " ejek Dini dengan begitu berani mengatakan Keken gila, ia berkacak pinggang sembari melotot.
"Dasar gadis sinting!" umpat Keken, ia hampir terpancing emosi saat mendengar ejekan Dini.
" Sudah Din, biar aku pergi dengannya. Dia si pria gila itu pemilik apartemen di daerah Selatan, Aku bekerja dengan nya. "bisik Farah di telinga Dini.
"What!! Jadi pria ini yang sering kamu ceritakan. Pria yang menurutmu bau, jelek, dekil, gendut, burik dan Mmphh___" Dini menatap Keken dari atas hingga bawah, belum sempat ia melanjutkan perkataannya, Farah membungkam mulut Dini dengan tangannya.
" Apa maksudmu?!" Keken mendengar dirinya disebut begitu buruk dan kini menatap Farah dengan tajam seolah meminta penjelasan.
"Tidak, bukan itu. Maksudku, a.. Aku __" belum sempat Farah menjelaskan, tangannya kembali ditarik oleh Keken dengan kuat dan meninggalkan Dini yang kini termenung di tempatnya.
"Hei, pria Crazy mau dibawa kemana temanku!!" teriak Dini saat melihat Farah dibawa oleh pria itu
* **
__ADS_1
"Maaf." satu kata yang terucap dari bibir Farah, ia selalu menundukan kepala tidak berani menatap wajah Keken yang kini sedang fokus menyetir.
" Aku bau, gendut, dekil, jelek! Kenapa kamu memutar balikan fakta, bicara sembarangan pada temanmu itu." kesalnya." Apa jangan - jangan dibelakangku kalian bicara buruk tentangku?"
"Tidak, mana ada seperti itu." bohong Farah, hatinya begitu takut saat Keken melotot padanya.
"Aku minta maaf."
" Lalu bagaimana dengan tawaranku tadi tentang bekerja di restoran D & R?" tanya Keken sembari melirik Farah dari kaca spion dalam. Ia berharap Farah berubah pikiran.
" Sudah aku katakan, aku tidak bisa. Jika aku pindah pekerjaan, maka Dini pun akan mengikutiku."
"Memangnya kalian kembar si*l, eh maksudku kembar siam sampai teman gilamu itu mengikutimu kemanapun,Aneh." Baru kali ini Keken melihat pertemanan yang unik, menurutnya.
"Bukannya begitu, hanya saja kami terbiasa bersama ada Vania juga. Dia pasti akan marah kalau aku jauh darinya."
"Wah, kalian pasti tiga kerangkeng."
"Tiga serangkai, bukan kerangkeng!" dengus Farah dengan kesal sembari mengerucutkan bibirnya." Kamu pikir kami macan." gerutu nya lagi.
" Lucu dan imut." gumam Keken dalam hati
"Dimana rumahmu?" tanya Keken dengan pura-pura padahal ia sudah mengetahui alamat rumah kontrakan Farah dari Amin.
"Lurus saja terus, nanti aku beri aba - aba."
Farah berharap Keken tidak akan mengantarkannya sampai kontrakan, nyatanya pria itu kekeh dengan alasan Farah masih terlihat masih sakit.
Keken hanya menganggukan tanda setuju.Ia kembali fokus menyetir dan sesekali melirik kearah Farah.
" Aku beri waktu kamu untuk berpikir, siapa tahu kamu berubah pikiran dan mau bekerja di D&R." ucap Keken
"Aku akan bicara dulu dengan calon suamiku, mungkin saja bang Hilman mengijinkanku." ucap Farah
Keken terhenyak, ia lupa bahwa Farah sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.
__ADS_1
" Hei! Kenapa harus dibicarakan dengannya, kalian belum jadi suami istri. Kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri, ingin bekerja dimana. Kenapa harus bicara dengannya, aneh." Entah kenapa Keken sedikit kesal karena Farah tiba-tiba menyebut calon suaminya.
"Kami memang belum suami istri tapi kami sudah bertunangan dan berkomitmen, semua masalah harus dibicarakan bersama dengan jujur."
"Aku memang berhak menentukan pilihan tapi dengan memberi tahukan padanya tentang masalahku, maka dia akan merasa lebih dihargai."
Keken mencengkram kemudi dengan kuat setelah mendengar penuturan dari Farah. Hatinya sedikit terusik karena sampai detik ini Keken belum bisa menemukan pasangan yang benar-benar mencintai dirinya apa adanya tanpa embel-embel dari nama besar kedua orangtua.
Setiap wanita yang Keken pacari tidak pernah jauh dari yang namanya uang, hanya uang yang mereka inginkan. Keken belum bisa menemukan seorang wanita yang bisa menggetarkan hati dan memahami isi hatinya. Hanya Michelle yang bisa dijadikan tempat curhat, namun jauh di lubuk hatinya Keken belum sepenuhnya mencintai Michelle dan sekarang hubungan nya sudah berakhir satu hari yang lalu.
"Hubungan itu butuh komunikasi apalagi saat long distance relationship." ucap Farah sembari melirik Keken, " Kalau tidak ada komunikasi, hancur semuanya."
"Dan harus saling percaya, curiga boleh over posesif jangan." ucap Farah lagi
Dan saat Farah bercerita, ponselnya bergetar beberapa kali. Ia melihat si nama si penelepon.
" Assalamualaikum Aisyah, ada apa dek?"
"Walaikumm salam kak Farah, hiks.hiks.hiks... Aisyah mau ngomong,kalau kak Fadil di rumah sakit katanya ikut tawuran terus dia kena lemparan batu dan dikeroyok musuh. Ibu sedang disana, kakak mau datang tidak?" Aisyah mengabarkan keadaan kakak lelakinya sembari menangis membayangkan keadaan naas sang kakak.
" Astagfirullah, kok bisa Fadil ikut tawuran!"
Dan Keken melirik Farah sembari menyetir mobil.
" Tidak tahu,huhuhu... "Aisyah masih menangis dan belum mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kakak lelakinya sampai terjadi seperti itu.
" Kakak akan ke rumah sakit, kamu kirim alamatnya ya dek. "
"Tapi disana ada ibu, bapak sudah dikabari tapi belum bisa datang karena masih ada pekerjaan." Aisyah tahu ibunya tidak menyukai kak Farah, entah apa yang membuat ibunya sangat benci padahal kak Farah sangat baik dan menyayangi keluarga.
" Kakak akan kesana, kamu tenang saja."
" Yasudah, adek kirim alamatnya sekarang ya kak. Assalamualaikum. "
"Walaikumm salam."
__ADS_1