
Farah begitu senang karena kali ini bisa belajar memasak dengan Inha, kesempatan emas baginya. Ia tidak menyangka Inha akan turun kembali kebawah dan mengajaknya untuk memasak makanan western. Ini sebagai hadiah karena ia sudah membuat bolu yang enak dan membuat si ibu hamil senang dengan makanan nya.
Setelah selesai acara memasak yang kedua, Ia meminta ijin untuk pulang namun Keken memintanya untuk menunggu sebentar. Farah menolak permintaan Keken untuk mengantarkannya, dia mengingat perkataan Antoni agar segera menjauhi pria itu.
" Tidak perlu mengantarku, aku bisa naik ojek online sendiri." Farah menolak untuk yang kesekian kalinya pada Keken
" Kamu harus pulang denganku!" Kali ini Keken memaksa untuk mengantarnya walaupun berulang kali Farah menolak, Keken tidak menyerah.
"Kan kamu harus antar mommy kamu pulang, Ken."
" Kamu tenang saja, ada banyak sopir di keluarga tante Navysah." jawab Keken dengan enteng.
" Kalau sudah ada cewek, lupa sama orangtua." bisik Inha di telinga Keken
"Berisik! Jangan bilang mommy aku mau anterin dia pulang, yang ada mommy marah padaku." Keken kembali berbisik di telinga Inha, namun dibalas Inha dengan mengedikkan bahunya seolah tidak peduli.
Dan seketika terdengar suara teriakan dari ruang keluarga. Hanin yang berteriak kesakitan sembari memegang perutnya.
" Sakit Aaaa...!!! " Hanin menarik kaos Fafa dengan kencang, buliran keringat keluar dari kening Hanin dengan deras. Sesekali Hanin terlihat menggigit bibir bawahnya. Ia merasa mulas dan nyeri yang luar biasa.
"Aa... Perut aku sakit sekali A!" teriak Hanin, ia seolah tidak kuat menahan rasa sakitnya hingga menarik kaos Fafa hingga kusut.
" Ada apa ini?" Keken, Farah, Inha yang mendengar teriakan Hanin segera datang dan melihat Hanin terkulai lemas di lantai dengan kepala di dada Fafa yang tengah menopangnya.
" Sepertinya Hanin akan melahirkan, bantu aku ke rumah sakit!" Fafa panik melihat Hanin dengan wajah yang pucat pasi.
" Ini beneran si flora dan fauna akan segera launching! Aku akan mengabadikan momen ini." Keken dengan b*dohnya merogoh handphone di saku celana dan ingin memvideokan setiap kejadian.
" Emang lu saudara nggak punya akhlak! Ini beneran si Janin akan segera melahirkan bukan candaan. Dan satu lagi anak gue bukan flora dan fauna tapi Rain dan Raya!" Fafa mendengus kesal karena Keken tidak tahu tempat dan kondisi dalam bercanda.
"Lah, lu kan pernah ngomong sama gue dulu. Kalau si kembar launching bakal lu dokumentasikan, upload tuh di yutube chanel biar jadi cuan, cuan, cuan." Keken memperagakan dua jari yang digesek sebagai tanda uang.
" Nggak jadi! Ini diluar kendali, cepetan bawa Hanin ke rumah sakit!" teriak Fafa
" Ayo cepetan, Ken! " seru Farah
" Ayo mas! " timpal Inha
" Iya, iya kalian jangan panik nanti aku juga ikutan panik juga." Keken ingin mengendong Hanin, namun tangannya di hempas begitu saja oleh Fafa.
" Ngapain...! " seru Fafa
" Gendong Hanin lah, katanya mau ke rumah sakit. " jawab Keken
__ADS_1
"Tapi tidak perlu bantuin gendong biar aku saja, cepetan ambil mobil, kamu yang setir. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan, enak saja gendong bini gue!" kesal Fafa
Keken cengengesan dengan gaya nyelenehnya.
"******, emang!! Disaat kayak gini masih saja celamitan!" maki Fafa sembari melirik Keken
" Udah minta tolong masih aja maki-maki. Emang nggak tahu diri, lama-lama aku gelindingin juga ini si Janin biar lahiran di lantai, tidak perlu ke rumah sakit." gerutu Keken, ia keluar untuk mempersiapkan mobil yang akan dipergunakan untuk ke rumah sakit.
Fafa mengarahkan jari tengah pada Keken dengan kesal dan hanya dibalas senyuman oleh Keken.
Antoni, Raffa dan Khaffi yang mendengar keributan kini segera mendekat dan menyuruh Fafa untuk segera ke rumah sakit.
"Biar mas yang telepon mama Navysah dan ibu Ria. Kamu cepatlah ke rumah sakit!" ucap Raffa, "Tadi mama pergi ke restoran sama mommy Imel ada masalah di restoran."
"Iya mas!" Fafa dengan cepat masuk ke dalam mobil bersama Keken dan Farah.
"Aku ikut." Khaffi membuka pintu mobil bagian depan namun sudah terisi Farah yang kini duduk di samping Keken.
"Yasudah, biar aku yang turun." Farah akan beranjak dari tempat duduknya namun tangan nya ditahan oleh Keken.
" Jangan turun, biar Khaffi pakai mobil lain. Dia bisa menyusul ke rumah sakit." ucap Keken
" Gue kesini bareng Antoni tadi dan sekarang gue mau ikut ke rumah sakit. Gue mau lihat si flora dan fauna lahir." Khaffi masih menahan pintu mobil dan kekeh ikut naik ke mobil itu.
" Pokoknya gue ikut mobil ini, kalau gue pakai mobil sendiri boros bensin mending nebeng. "kekeh Khaffi, ia masih perhitungan disaat seperti ini.
" Nggak bakalan gue ijinin! "kekeh Keken," Dasar Pangeran Medit minggir sana! "
Fafa begitu kesal disaat Hanin ingin melahirkan, kedua teman gilanya saling ribut beradu mulut.
" Bangs*t emang kalian!! Bini gue udah mau lahiran kalian malah ribut, cepetan keburu si kembar lahiran di mobil!" bentak Fafa
" Baguslah, gue bisa lihat onderdil si Janin dari jarak dekat." ucap Keken dan Khaffi serempak.
"Emang kalian temen kurang ajar!!!!" teriak Fafa dengan kencang dan memekakan telinga semua orang.
Fafa menendang kursi Keken dari belakang dengan keras, sedangkan Khaffi yang keceplosan bicara segera menutup pintu mobil dan menjauh. Ia mengalah menggunakan mobilnya sendiri.
Satu jam berlalu, keluarga Navysah dan keluarga Bu Ria menunggu di luar ruangan persalinan. Untaian do'a keluar dari mulut mereka agar Hanin lancar dalam melahirkan kedua buah hatinya. Mereka tidak menyangka kalau Hanin akan melahirkan lebih cepat dari perkiraan dokter.
Keken, Farah dan Khaffi ikut menunggu, sesekali Keken melirik kearah Farah yang kini risau dan duduk seolah tidak nyaman.
"Kenapa?" tanyanya
__ADS_1
"Handphone aku mati, lupa aku charger padahal sore ini aku janjian sama adek aku di gang deket rumah."
"Adek kamu yang jadi korban tawuran itu?" tanya Keken. Farah mengangguk dengan cepat.
"Pakai handphoneku ini, masih ingat nomor teleponnya kan?"
"Masih."
Keken meminjamkan handphonenya tanpa ragu kepada Farah.
" Ada udang di balik bakwan." sindir Khaffi setelah Farah pergi menjauh untuk menelepon adiknya.
" Tapi sayangnya kali ini udang rebon, asin banget sampai - sampai tidak dilirik oleh seseorang. Kasihan deh lu."
"Nggak usah mulai." Keken mengerti arah candaan temannya.
"Baru kali ini aku lihat seorang Keken meminjamkan ponselnya, luar biasa." sindir Khaffi lagi, " Padahal tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh ponsel me sum itu selain sang pemilik, si Pangeran Modosa " Khaffi begitu heran karena dengan mudahnya Keken memberi pinjaman ponael paa Farah sedangkan yang Khaffi tahu Keken itu paling pelit dalam urusan pinjam meminjam ponsel.
Keken hanya menggulum senyum,ucapan Khaffi ada benarnya.
"Nggak usah senyum - senyum, Ratu Medusa sejak tadi melirik kearahmu. Mata lasernya begitu menyilaukan hingga seolah - olah ingin mengulitimu habis - habisan." bisik Khaffi pada Keken.
Keken melirik kearah ibunya yang duduk tak jauh darinya, benar saja kini tatapan sang ibu begitu menusuk dan seolah ingin meminta penjelasan. Keken hanya bisa menunduk dan pura-pura tidak melihat.
Terdengar suara tangisan bayi dari arah ruang bersalin Hanin. Semua keluarga berucap syukur karena Hanin dan kedua bayinya selamat.
"Alhamdulillah..." ucap mereka secara bersamaan. Dan tak lama kemudian Fafa keluar dari ruang persalinan dengan rambut kusut dan wajah yang sembab.
"Mah, mamah... maafin Fafa ya mah karena sering membuat mama kesal dan marah. Ternyata melahirkan anak begitu menyakitkan, Fafa sampai tidak tega melihat Hanin seperti itu." Fafa bersimpuh di kaki ibunya dan meminta maaf atas kesalahannya selama ini.
"Mama selalu maafin Fafa, kamu anak baik Nak. Dan sekarang kamu sudah jadi ayah, bersikaplah lebih dewasa dan bertanggung jawab. Mama sayang sama Fafa." Navysah memeluk anaknya dengan lembut, pelukan yang selalu dia berikan agar sang anak merasa nyaman dan damai.
Fafa mencium tangan dan kening ibunya, dan tak lupa ia mencium takzim sang ayah dan ibu mertuanya.
" Gue jadi speechless liat momen ini. " sahut Keken saat melihat Fafa begitu tulus meminta maaf pada tante Navysah.
" Ternyata Pangeran Modosa masih bisa terenyuh melihat hal yang beginian, gue kira lu cuma terenyuh lihat wanita tel*njang." sindir Khaffi
"Kalau itu bukan gue yang terenyuh tapi si Kenzi yang terenyuh sampai - sampai lupa daratan dan minta lagi." bisik Keken
Mereka tergelak tawa disaat semua orang meneteskan airmata kebahagiaan karena lahirnya si kembar. Dan mereka mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang berada disana terutama mommy Imelda.
Entah apa yang ada di pikiran mommy, namun satu hal yang pasti, Keken tidak bisa menghindar dari pertanyaan dan hukuman yang akan mommy berikan padanya.
__ADS_1