Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 76 ( Terpuruk)


__ADS_3

Hilman seperti kehilangan arah setelah putus dari Farah ,ia frustasi dan tidak bersemangat untuk menjalani hidupnya.


Setelah pertemuannya dengan Farah yang terakhir kali, Hilman pulang dan menceritakan semuanya pada sang ibu tentang jatidiri Farah dan keadaannya saat ini. Ia berharap ibunya akan mendukung dan merestui Farah untuk menjadi istrinya, namun apa yang diharapkan tidak seperti kenyataan. Ibunya menolak keras dan tidak ingin melanjutkan pernikahan ini.


"Mau ditaruh dimana muka ibu saat keluarga kita tahu bahwa Farah hamil anak pria lain!"


"Ibu tidak bisa menerimanya sayang, kamu anak ibu satu-satunya. Ibu mohon sadarlah, masih banyak gadis lainnya."


"Ibu memang jahat karena tidak bisa menerimanya. Dan bayi itu bukan cucu ibu!"


"Mungkin Farah hanya alasan saja agar kamu iba dengan nya, ibu tidak sudi menjadikan nya menantu di rumah ini!"


Kata-kata itu yang selalu terniang di telinga Hilman, ibunya menolak keras agar dia tidak bersama Farah. Hilman semakin gila, tak ada dukungan keluarga. Ia pergi dari rumah dan pergi ke rumah sahabatnya.


" Makanlah terlebih dahulu, jangan terlalu dipikirkan." Antoni mengajak Hilman untuk makan bersama keluarganya. Ia melihat Hilman yang selalu meringkuk di tempat tidur, tidak punya semangat untuk beraktifitas. Rumah Antoni memang tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga buah kamar, mengharuskan dia berbagi tempat tidur dengan sahabatnya seperti dulu saat mereka kuliah bersama, Hilman sering menginap dan membantu orangtua Antoni mengantarkan kue. Ibu Antoni sangat baik, ia sangat senang jika ada Hilman datang karena rumah semakin ramai.


Kemarin malam, Hilman datang dengan penampilan berantakan, Antoni sudah menduga bahwa Hilman sedang ada masalah. Namun ia tidak menyangka ternyata masalah Hilman berkaitan dengan Keken, pimpinan di kantornya. Dan ini tentang Farah, ternyata gadis itu hamil dan Keken lah ayah si bayi itu, pantas saja saat di Mall tadi ia merasa aneh dengan Keken dan Farah, dan ternyata ini penyebabnya.


" Aku membencinya, dia telah merebut Farah dariku." geram Hilman, wajahnya kian mengeras saat membayangkan wajah pria yang telah merebut kekasih hatinya.


Antoni hanya bisa menghela nafas panjangnya, Hilman yang begitu ceria kini terlihat sangat menyedihkan.


"Aku akan memberi pelajaran pada pria br*ngsek itu! Beraninya dia menghamili calon istriku!"


"Apa kau yakin akan melawan putra mahkota dari keluarga Feriansyah?" tanyanya,


" Yang ada minimarket ibumu ditutup secara paksa dan ayahmu siap-siap dimutasi ke propinsi lain."


Antoni tahu bagaimana keluarga Feriansyah, mereka tidak akan tinggal diam saat anak semata wayangnya diganggu oleh orang lain. Seperti kasus-kasus sebelumnya, berita-berita yang mengabarkan tentang skandal anaknya, dengan cepat akan di takedown. Nyonya Imelda tidak akan membiarkan anaknya disakiti.


Kasus tentang banyaknya wanita disisi Keken pun dengan cepat menghilang. Mereka terkadang memberi uang damai dan tanda terima kasih sebagai uang tutup mulut dan itu jalan terakhir. Sangat mudah bukan.

__ADS_1


"Terkadang hukum tidak adil, mereka berpihak pada pemilik kekuasaan dan yang memiliki jabatan. Kamu harus tahu itu, Man." ucap Antoni


"Terkadang tumpul keatas, tajam kebawah. Sebaiknya kamu pikir ulang, bukan hanya dirimu tapi keluargamu juga Man."


Antoni mengerti bagaimana perasaan Hilman,dia butuh dukungan keluarga namun tidak ada yang membela.


Hilman butuh waktu untuk melupakan segalanya. Memang tidak mudah, tapi ia harus bangkit dari keterpurukan. Impiannya telah hancur dan tidak bisa kembali ke sediakala. Sangat menyedihkan, bukan.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku hanya ingin Farah, An." Mata Hilman menerawang jauh, tak terasa airmatanya turun di sudut matanya.


"Ikhlaskan, Farah bukan jodoh kamu."


"Tidak! Aku tidak akan mengikhlaskan Farah, dia milikku!" serunya, ia mulai tidak terkendali saat berbicara tentang Farah.


"Aku sangat kecewa! Takdir tidak berpihak kepadaku dan aku benci semua ini." Hilman meracau kembali, frustasi


"Jangan menyalahkan takdir. Mungkin ini yang terbaik untukmu."


"Itu sudah berlalu, sudah lupakan saja!"


" Mungkin saat itu Elia sangat kecewa padaku, mungkin saja dia menyumpahiku agar mendapatkan balasan yang setimpal karena aku menyakiti dirinya." racau Hilman lagi


"Jangan berpikiran negatif, sudahlah ayo kita makan." Antoni tidak ingin Hilman berlarut-larut dalam kesedihan. Ia sengaja mendorong tubuh teman nya untuk keluar kamar dan makan bersama.


"Eh, anak tante sudah bangun. Ayo kita makan." sapa bu Rahmi, ibu dari Antoni. Ia memberikan piring berisi nasi, lauk dan sayur.


" Kok banyak sekali tan, perutku mana cukup." Hilman melihat piringnya penuh dengan makanan yang sudah disiapkan ibu dari Antoni.


"Ah, masa sih! Ini kan sesuai porsimu dulu saat masih kuliah. Kamu selalu makan segitu." Bu Rahmi mengulas senyum.


Hilman tersenyum malu mengingat kejadian dulu. Ia memang selalu makan banyak di rumah Antoni, selain gratis, masakan ibu Antoni sangat enak.

__ADS_1


" Dulu aku serakah banget ya tan, tukang makan gratisan disini. " ia menampakkan sedikit senyuman.


" Emang, baru nyadar lu! " celetuk Antoni dengan tatapan datar. "Siapa lagi orang yang suka main, nginep gratisan selain lu. Dulu lu kere, Man makanya jangan sampai berurusan dengan keluarga Feriansyah. Kekuatan mereka tidak sebanding dengan keluargamu jadi menyerahlah."


" Keburukan tidak usah dibalas dengan keburukan, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ikhlaslah, mungkin dia bukan jodohnya Nak Hilman. Jangan memaksakan diri karena itu tidak baik. Ibu yakin Nak Hilman akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari gadis itu. " kali ini bu Rahmi memberi nasehat agar Hilman kembali bangkit menata hidupnya lagi.


" Aamiin. " Namun helaan nafas panjang Hilman masih terdengar


" Sakit hati sewajarnya, tidak perlu menyakiti diri sendiri dengan berlarut-larut dalam kesedihan dan kebencian. Tuhan pasti punya rencana lain untuk kamu dan itu pasti yang terbaik. " Antoni, tanpa melirik kearah sahabatnya.


"Tan, ini si kaku dari dulu modelnya begini terus. So cool, mana ada cewek yang naksir dia, tan. Bisa - bisa jadi bujang lapuk." kelakar Hilman


" Setelan pabriknya memang begitu bang, tapi yang suka banyak. Aku juga heran bang, kok bisa gadis - gadis suka sama kakak ku apalagi si princess gadis cerewet itu, nanyain kakak mulu nggak ada liburnya. " ucap Putri sembari menuang air putih di gelas. Ia baru saja pulang dari kampus


"Princess mana? Cantik tidak?" Hilman penasaran


"Cantik kok, anaknya juga baik tapi cerewet, dia temen aku satu universitas, anaknya bos besar pak Davian. Dia punya kembaran tapi yang satunya pendiam. Kakak tidak merespon dia bang padahal gadis itu kaya raya, aneh kan!"


"Putriiii...!!" suara Ibu Rahmi meninggi, ia tahu kalau putranya tidak suka membicarakan orang lain di meja makan apalagi soal wanita.


"Maaf bu." ucapnya dengan menyesal


" Benarkah! Wah aku jadi penasaran dia seperti apa, kenalkan padaku? Beri aku nomor telepon dan alamat rumahnya? Kalau kakakmu tidak mau dengannya, aku siap menikung tajam. "ucapnya berapi-api, ia tidak peduli saat tante Rahmi melirik tajam anak perempuannya. Hilman sangat senang bisa menggoda Antoni, ini seperti hiburan tersendiri disaat dirinya patah hati.


Antoni hanya diam tanpa ekspresi seolah tidak terganggu dengan cerita sahabatnya.


" Beneran! abang mau nomor dan alamatnya? Oke nanti aku kirimkan." jawab putri. Ia juga merasa senang bisa menggoda kakaknya.


"Semoga abang berjodoh ya dengan princess Inka. SAMAWA." sahut Putri dengan menekankan kata terakhir, dan benar saja ia melirik kakaknya yang kini sedang menggenggam sendok dengan erat. Ia terlihat kesal.


"Emang enak aku kerjain, kakakku yang selalu jual mahal dan pandai menutupi perasaannya." gumam putri dalam hati

__ADS_1


__ADS_2