Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 86


__ADS_3

Saat Keken melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah, ia mendapat telepon dari Wina. Suara gadis itu terdengar parau seperti orang mabuk. Ia meracau tidak jelas dan meminta Keken untuk datang.


"Tunggulah, aku akan datang." ucap Keken, ia menaikan kecepatan mobilnya ke suatu club malam untuk menjemput wanita itu.


"Kau mabuk berat." Keken melihat Wina yang terkulai lemas duduk dengan menundukkan kepalanya di meja bar. Beberapa botol tergeletak disisinya.


" Aku hanya minum sedikit." Wina terlihat berantakan dan meracau tidak jelas


"Ayo kita pulang." Keken membantunya untuk berdiri dan akan mengantarkannya ke apartemen. Keken tidak mau gadis itu dimanfaatkan pria hidung belang disaat mabuk berat seperti ini .


"Apa kau ada masalah, hingga seperti ini?" tanya Keken


"Tidak ada, aku hanya ingin minum."


"Jangan seperti ini lagi, aku tidak suka lamu minum terlalu banyak. Dan jangan pernah datang sendirian, ini sangat berbahaya untukmu." Namun dengan cepat Wina memeluk tubuh Keken dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.


"Maaf." lirih wina, ia menyambar bibir Keken dengan cepat. ********** dengan lembut hingga Keken terperangah karena mendapat serangan mendadak. Ini tidak seperti Wina yang pernah dia kenal. Gadis itu pasti akan meminta ijin padanya jika melakukan sesuatu.


"Bugh...!!" satu pukulan melayang di wajah Keken. Ia terhuyung kebelakang karena tidak siap menerima pukulan.


"Aku mengalah karena Farah hamil anakmu, tapi nyatanya kamu seperti ini dengan wanita lain,bugh..!" Hilman berteriak keras sembari memukul Keken. Mereka saling menyerang dan membalas. Suara musik yang begitu keras seolah meramaikan pergulatan mereka.


"Ini pasti salah paham." Keken kembali menangkis serangan Hilman. "Aku tidak melakukan apapun."


"Sudah tertangkap basah masih saja mengelak, dasar kamu pria br*ngsek!, aku akan merebut Farah kembali darimu!"


Dan Keken membalas pukulan Hilman dan menendangnya. Mereka saling serang hingga berdarah hingga beberapa orang berteriak karena ketakutan. Tidak berapa lama security membawa mereka dan menendangnya keluar karena membuat keributan.


"Maafkan aku Ken, ini permintaan ibumu." lirih Wina dari jauh. Ia melihat Keken terluka begitu juga dengan pria asing itu.


"Aku do'akan kamu bahagia dengan gadis itu."


Flashback On


Wina yang baru saja keluar dari kampus, kini dihadang dua orang pria berjas hitam.

__ADS_1


"Nona Wina, mohon ikut kami. Nyonya Imelda ingin bertemu dengan anda?"


"Nyo.. Nyonya Imelda." Wina tergagap saat mendengar nama ibunda dari Keken. Nyonya besar bukan orang sembarangan, ia tidak akan menemuinya jika tidak ada sesuatu hal yang penting.


"A.. aku akan ikut kalian." Wajahnya terlihat takut, saat mengikuti kedua pengawal itu. Sepanjang perjalanan Wina meremas tangannya, ia terlihat begitu cemas dan bertanya - tanya dalam hati, masalah apa yang akan dibicarakan oleh nyonya Imelda padanya.


"Apa ini masalah karena aku sering meminta uang pada anaknya?" gumamnya dalam hati


"Apa karena aku selir malam dari anaknya?" gumamnya dalam hati. wina menebak-nebak pada dirinya sendiri hingga membuat dirinya panik dan ingin buang air kecil.


"Stop... Stop sebentar, Aku ingin ke kamar kecil." pintanya pada kedua pengawal nyonya besar


" Maaf nona, kami tidak bisa!"jawab salah satu pengawal


" Apa kau pikir aku akan melarikan diri? Apa kau ingin aku buang air kecil disini? Apa kalian ingin melihat milikku yang begitu menggoda. " cerocosnya, ia begitu kesal karena tidak diijinkan untuk ke toilet


" Baiklah kalau benar kalian ingin melihat milikku,aku akan buang air kecil disini. Kalian pasti akan diomelin nyonya besar jika mobil ini bau tidak sedap. " Ia tersenyum menyeringai.


Mau tak mau pengawal itu menghentikan mobilnya di sebuah spbu.


" Ya ampun belum juga masuk toilet sudah teriak cepat, kalian benar-benar cerewet!"


Di dalam toilet wina berpikir bagaimana bisa lepas dari nyonya besar. Ia benar-benar takut bertemu dengannya. Namun saat ia tidak memiliki ide, kedua pengawal itu mengetuk pintu dengan keras. Wina pun pasrah, kedua pengawal itu benar-benar menjaganya di depan pintu toilet.


"Kau sudah datang?" sapa Imelda,ia turun dari lantai dua dengan anggun. Auranya begitu menyesakan dada bagi seorang yang melihatnya.


"Aku seperti dicekik secara perlahan-lahan." gumam wina dalam hati


"Nyonya..." sapanya


"Lakukan sesuatu untukku." perintah Imelda tanpa basa- basi


"HAH...!" Wina terkesiap mendengar permintaan nyonya besar. " Apa yang harus saya lakukan nyonya?"


Imelda meminta Wina untuk menarik perhatian Hilman agar masuk ke dalam club malam dan melihat Keken sedang bermesraan dengannya. Imelda ingin memancing emosi Hilman agar terjadi baku hantam dengan anaknya.

__ADS_1


"Tapi nyonya, ini akan merugikan Keken. Ia pasti akan babak belur dengan pria itu."


"Itu tidak masalah, memang anakku sudah sepantasnya mendapatkan itu." ucapnya dengan tegas


"Bagaimana jika aku gagal." Wina tidak yakin karena akan sangat sulit menggoda seorang Hilman untuk masuk ke dalam sebuah club malam. Pria bukan tipe yang suka hura- hura seperti Keken.


"Aku tidak menerima kegagalan dan sebagai imbalan kau akan mendapatkan uang." Imelda dengan cepat menekan ponselnya dan benar saja, saat ponsel Wina berdering, ia membelalakan matanya saat melihat jumlah nominalnya.


"Ini untukku semuanya nyonya?" Wina melongo masih tak percaya


"Apa masih kurang?"


"Tidak! Ini sangat banyak dan jujur aku suka. Tapi, aku seperti menjual kepercayaan Keken pada anda. Dia sangat baik padaku dan selalu membantuku disaat semua keluarga kami menjauh." Wina menundukkan kepalanya, ada rasa sesak dalam dada karena harus mengkhianati Keken


" Aku melakukan ini semua untuk anakku yang gila itu! Jika kau ingin berterima kasih padanya, kau harus berhasil membujuk Hilman untuk masuk ke dalam drama ini. Setelah itu, serahkan padaku. Apa kau mengerti?"


"Aku mengerti Nyonya."


"Bagus."


"Lakukan yang terbaik untuk kami dan ini yang terakhir kali. Hiduplah dengan baik, aku rasa Keken sudah tidak membutuhkan tubuhmu itu karena sekarang dia fokus dengan calon anaknya."


"HAH... Ca.. Calon anak!" ia terkesiap


"Jadi Keken akan menjadi seorang ayah, wah... si br*ngsek itu dengan mudah menyemburkan racun Kenzi pada gadis itu!" Wina menggeleng tidak percaya, namun sesaat kemudian ia menutup mulutnya dengan tangan.Dengan berani dia menghina putra mahkota di depan ibunya.


" Maaf nyonya saya tidak bermaksud untuk __"


"Memang anakku itu biang onar dan br*ngsek, selalu membuat repot semua orang dan membuat masalah." potong Imelda


"Tapi disisi lain dia pria yang rajin menolong dan baik hati, nyonya." Wina


" Mungkin bagi sebagian orang dia terlihat br*ngsek tapi sungguh hatinya tulus. Beberapa kali aku diajak ke sebuah yayasan amal. Dia tidak pernah berhitung jika untuk yayasan dan panti asuhan. " Wina membeberkan kebaikan Keken yang tidak diketahui orang.


" Aku tahu. " Imelda tahu setiap pergerakan anaknya dan apa yang dia lakukan di luar rumah.

__ADS_1


" Saya akan mencobanya nyonya, kalau begitu saya permisi.


__ADS_2