Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 104


__ADS_3

Senja kembali menghampiri dan hujan rintik membasahi sebagian wilayah Jakarta namun hal itu tidak menyurutkan langkah kaki seorang pria tampan yang kini menyusuri jalan sempit menuju kontrakannya, banyak anak - anak bermain hujan karena ini salah satu hiburan murah bagi mereka dan ini pemandangan yang cukup unik bagi seorang Keken, ia yang terbiasa hidup di rumah mewah sangat jarang bermain hujan apalagi ibunya sejak dulu melarang dirinya.


Keken hanya mampu tersenyum mengingat masa lalu, ia yang bandel hanya bisa mengekspresikan diri dan bermain di rumah tante Navysah bersama sepupunya, dirumah itu ia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan di rumahnya.


Ia sengaja pulang cepat karena begitu merindukan istrinya. Omelan dan makian dari Farah selalu membuatnya tersenyum, entah kenapa gadis itu begitu kesal dengannya padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan. Namun saat dirinya tiba di depan rumah kontrakannya, senyuman itu menghilang saat melihat istrinya duduk di teras bersama pria lain. Pria yang dulu pernah mengisi hati Farah bahkan mungkin saat ini istrinya masih mencintai pria itu. Keken mengeratkan rahangnya. Ia semakin geram saat melihat istrinya tersenyum lebar, entah apa yang dibicarakan mereka sehingga keduanya tampak bahagia. Namun saat Farah menoleh kearahnya, gadis itu begitu terkesiap hingga berdiri mematung melihatnya.


"Ke.. Keken..." sapanya,


Pria itu pun ikut menoleh pada Keken dan tersenyum menyeringai. Entahlah.


"Aku pulang dulu, kamu istirahat ya." Hilman menyentuh bahu Farah dengan lembut dan gadis itu tidak menepisnya sama sekali. Hilman melewati Keken tanpa rasa bersalah dan hanya meliriknya dengan senyuman sinis.


"Ken, a.. aku bisa jelasin." Farah tergagap melihat Keken datang dan tidak menyapanya. Masuk ke rumah begitu saja.


"Berikan aku makan." ucap Keken sembari menurunkan tas ranselnya dan membuka lemari. Mencari kaos dan celana untuknya.


"A.. aku tidak masak. A.. aku akan membelinya sebentar." Farah begitu kaget saat mendengar lemari yang ditutup Keken dengan kasar. Ia terburu - buru pergi membeli makanan daripada melihat Keken semakin emosi.


" Tadi bang Hilman kemari dan aku tidak tahu dia akan kesini." ucap Farah di sela-sela makan bersamanya bersama Keken


Tak ada sahutan dari pria itu.


" A.. aku__"


"Farah, aku ingin makan dan tolong kamu tidak banyak bicara."ucap Keken, ia mengunyah nasi padang dengan cepat. Perutnya sangat lapar karena ia tidak sempat makan. Ia sengaja buru-buru untuk pulang ke rumah dan bertemu isterinya, namun ia tidak menyangka Farah menerima tamu lelaki saat tidak ada dirinya. Ingin rasanya memberi bogem mentah pada pria itu namun Keken mengurungkan hati.


Farah terdiam saat Keken memintanya tidak banyak bicara. Ia tahu saat ini Keken pasti marah padanya.


"Maaf." ucapnya setelah acara makan selesai. Kini Keken berbaring dan hanya menatap televisi seolah menghindari percakapan dengannya.


"Untuk apa kamu meminta maaf."


"Deg!" ini pertama kalinya Keken memanggilnya dengan sebutan kamu. Biasanya Keken selalu memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Ken, aku___"


"Farah, aku sangat lelah dan mengantuk. Aku ingin tidur." ucap Keken


"Ayah tidur dulu ya Nak! Beberapa hari ini ayah kelelahan." Keken mengelus perut Farah dan tak lupa ia menciumnya dengan lembut beberapa kali. Dan sontak itu membuat Farah semakin bersalah.


Farah hanya diam dan melihat suaminya tidur dengan lelap. Suara dengkuran halus terdengar darinya. Farah menelisik wajah Keken yang sedikit kuyu seperti orang kelelahan.


"Kamu pasti bekerja dengan sangat keras." gumam Farah dalam hati.


Flashback On


Sore hari,


Seperti biasanya Farah membereskan pekerjaan rumah. Setelah melakukan video call dengan Keken, ia tertidur pulas dan tidak melihat Dini lagi karena gadis itu pergi ke restoran seperti biasa.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar hingga Farah membukanya tanpa melihat siapa yang datang. Ia begitu kaget karena ternyata Hilman datang dengan wajah kusut.


"Abang..."


"Farah..."


"Duduk di teras saja." Farah mengajak pria itu duduk di luar karena tidak ada Keken dan takut terjadi fitnah.


Farah sebenarnya takut saat Hilman datang apalagi beberapa tetangga yang mereka kenal kini berbisik dan membicarakan dirinya. Hubungan Farah dan Hilman memang baik-baik saja sebelum ada Keken dan beberapa tetangga mereka pun tahu bahwa Farah mantan tunangan Hilman.


" Bagaimana keadaanmu?" Hilman menatapnya dengan lekat wanita yang pernah mengisi hatinya.


"Baik bang, abang gimana kabarnya?" Farah pun menatap pria yang pernah menjadi tunangannya dulu.


"Aku tidak baik-baik saja setelah kamu menikah dengannya." ucapnya, matanya berkaca-kaca melihat Farah.


"Aku menghubungimu namun tidak pernah bisa, aku meminta nomor ponselmu pada Dini dan Vania namun mereka pun tidak memberitahukan padaku."


" Satu bulan ini aku dinas di luar kota, aku kira bisa melupakanmu nyatanya tidak. Apa kamu bahagia?" tanyanya


Farah hanya menggulum senyum


" Apa pria itu menyakitimu? "


Farah menggelengkan kepala.


" Dia bertanggung jawab dan baik padaku. "ucap Farah


Farah kembali menggelengkan kepala.


" Farah, aku kesini ingin melihat keadaanmu. A... aku merindukanmu Far. " Hilman kembali menatapnya dengan intens, ingin rasanya ia menggenggam tangan gadis itu namun tidak berani karena beberapa orang masih hilir mudik. Ingin juga memeluknya namun tidak bisa.


"Abang..." lirih Farah


" Jangan pernah memutus komunikasi denganku, jika pria itu kasar segera hubungi aku. Ada akan selalu ada untukmu, Far."


"Bang..." Farah menunduk malu, "Aku ucapkan terima kasih tapi sungguh aku baik-baik saja walaupun dia menyebalkan tapi dia pria baik."


"Apa masih ada cinta untukku?"


Farah mendongak, terkesiap mendengar pertanyaan Hilman.


"Aku tanya sekali lagi, apa hatimu masih untukku?"


Farah diam membisu, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hilman.


"Tidak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya." Hilman mengulas senyum


" Aku harap masih ada kesempatan kedua untukku. Setelah kamu melahirkan bisakah kamu kembali padaku." Hilman menatap dengan penuh harap bahwa Farah mau kembali padanya lagi.

__ADS_1


"Abang..." lirih Farah


"Aku akan menunggu kamu Far dan aku harap cintamu itu masih untukku."


"Aku ambil minum dulu." Farah sengaja masuk ke dalam untuk menghindari Hilman, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena satu sisi ia memang masih mencintai Hilman dan satu sisi ia merasa menjadi istri durhaka karena menerima tamu disaat suaminya tidak ada.


" Minumlah... " Farah menyodorkan teh hangat dengan sedikit gula.


"Kamu masih tahu kesukaanku Far." Hilman menyesap teh itu dan rasanya tidak terlalu manis seperti kebiasaan dirinya yang hanya memberikan sedikit gula.


Farah hanya menggulum senyum.


"Berikan aku nomor ponselmu." pinta Hilman, ia kembali melihat Farah yang meremas jari tangannya.


"Tidak perlu takut dengan suamimu, aku yang akan bicara padanya." ucap Hilman


"Tapi bang?"


"Jangan khawatir, aku tahu kamu menikah dengannya karena terpaksa. Dan kita bisa mengulang cinta kita setelah kamu melahirkan, aku menerima kamu dan bayi ini Far."


"Abang, aku...." Farah bingung dengan dirinya sendiri. Mana yang harus ia pilih.


" Jangan pernah berpikir untuk mencintai pria itu, dia bukan pria baik Far. Dia selalu bergonta - ganti wanita dan aku tidak mau kamu sakit hati."


Farah memang tahu Keken suka berganti wanita namun semenjak menikah dengannya ia tidak pernah melihat Keken menggandeng wanita lain kecuali Michelle, mantannya.


" Hanya aku yang terbaik untukmu Far. " Hilman masih menatapnya dengan intens dan penuh harap. Namun belum sempat Farah menjawab, teh Cucu datang bersama anaknya dan menyapa mereka.


"Eh, neng Farah ada tamu abang Hilman." sapanya.


" Reunian ya neng, inget neng udah nikah. Si Aa pasti marah kalau ketahuan ada bang Hilman disini."


"Bang Hilman, neng Farah sudah menikah jangan ganggu istri orang bang. Mending sama teteh yang single ini. Sebelas dua belas kok sama neng Farah." godanya


Hilman hanya menggulum senyum, ia sudah biasa ia mendengar gombalan dari teh Cucu.


"Bang beli satu bonus dua masih kenceng semua, bang!" kelakar ya lagi


" Promosi terus agar laku." goda Farah sembari tersenyum


"Lagi usaha neng, mana tahu bang Hilman khilaf dan mau sama teteh hihihi." ucapnya.


" Teteh masuk dulunya bang." ia mengandeng putrinya untuk masuk ke dalam rumah


"Dia masih sama Far." ucap Hilman sembari tersenyum.


"Iya, makanya Dini kadang sebel sama teteh." Farah hanya bisa tersenyum


" Dulu saat kamu pergi, dia yang ajak abang ngobrol. Kalau si Dini hanya bertanya sekedarnya tapi kalau dia ada aja yang diobrolin." Hilman mengingat kebersamaannya bersama teh Cucu saat Farah tidak di rumah.

__ADS_1


" Iya, teteh baik banget. Kalau aku minta sesuatu pasti dia mau belikan bahkan saat malam. "


Dan mereka tertawa lebar saat mengenang kejadian di masa lalu dan tanpa disadari Keken melihat semua itu.


__ADS_2