Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 69 ( Bertemu Nyonya Besar lagi)


__ADS_3

Mereka tiba di kediaman keluarga Keken setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Farah dan Dini tampak tercengang melihat betapa mewahnya rumah nyonya besar. Halaman yang luas, taman yang begitu tertata rapi serta rumah besar berwarna putih dengan tiang yang menjulang tinggi.


Dini dengan pede nya berfoto selfie di beberapa tempat yang menurutnya bagus. Baru pertama kali ia melihat rumah seperti istana. Menurut Dini selama ia hidup rumah paling besar dan mewah yang pernah ia lihat hanya milik Vania, apalagi villa milik Vania yang di Bogor tapi semuanya tidak ada apa-apanya saat ia melihat istana milik keluarga Keken. Luar biasa.


"Kampungan!"bisik Farah ditelinganya. Ia begitu gemas karena sejak keluar dari mobil Dini selalu berlari kesana kemari dan berfoto ria.


" Biarin, ini untuk aku posting di sosial media. Bagus banget rumahnya, siapa tahu aku berjodoh dengan pria yang memiliki rumah sebesar ini." ujarnya


"Kalau begitu menikahah dengan si br*ngsek itu, maka kamu akan jadi tuan puteri selamanya." bisiknya


"Cuih! Aku juga ingin menikah dengan pria kaya tapi tidak dengan pria itu, ogah!" ucapnya


"Ehem... Ehem..." salah satu pengawal mencoba untuk berdehem. "Maaf nona, bisakah kita masuk sekarang, nyonya sudah menunggu anda."


Farah menganggukan kepala. Mereka masuk ke pintu utama yang begitu megah. Dan lagi-lagi Dini terkesiap melihatnya.


"Luar biasa..." Dini melihat ke segala arah, terlihat begitu indah dan mewah barang - barang milik keluarga Keken.


"Aku sudah pernah melihat hal seperti ini di rumah tante Navysah, rumah tantenya juga sebesar ini bahkan di halaman belakang terdapat rumah pohon Tarzan."


"Benarkah! Kok aku tidak diajak." protesnya. " Tante dia punya anak lelaki tidak, jodohin sama gue ngapa Far?" pinta Dini penuh harap


"Ada, mereka kembar. Sisa satu pria tampan yang belum menikah."


"Benarkah, ayo kenalin gue padanya agar nasib gue berubah jadi tidak perlu mikirin sekolahnya si Arman ."


" Aku bisa saja kenalin lu sama dia tapi sepertinya dia tidak tertarik dengan gadis ketus dan sawan model kayak lu, hihihi..." kelakar Farah sembari tertawa lebar. Mereka berjalan mengikuti pengawal itu. Sesekali terlihat beberapa pekerja tersenyum kearahnya dan menunduk hormat.


" Sial*n lu! " Dini pundung, namun matanya masih menjelajah ke segala arah. Otak kalkulatornya mulai bekerja seolah menghitung berapa banyak kekayaan keluarga Keken.


"Farah, kita seperti berada di sebuah mall ya. Mereka menunduk kearah kita dan tersenyum." bisik Dini


" Jangan berisik, ingat kedua pengawal itu memiliki seribu telinga." bisik Farah


Dini langsung mengangguk, ia langsung mengunci mulutnya karena takut dua pengawal itu mendengar percakapan nya.


" Silakan nona, nyonya besar berada di ruang itu." ucap salah satu pengawal


Dini dan Farah saling bertatapan, hati mereka begitu berdegup kencang.


"Kamu duluan." perintah Farah


"Ogah! Kamu aja, sana." ucap Dini


"Gue takut." ucap Farah


"Apalagi aku." balas Dini


Mereka saling mendorong dan ribut di depan sebuah pintu.


Dua pengawal itu juga saling bertatapan, sejak di dalam mobil mereka dibuat pusing oleh dua orang wanita yang begitu cerewet dan selalu berbisik saat bicara. Kedua gadis itu selalu bertanya dan tanpa henti bicara padanya dan membuat kegaduhan di mobil hanya gara-gara air minum.


"Silakan nona." pengawal itu akhirnya membuka karena tidak ada yang mau mengalah untuk membukanya.


Farah yang mendapat dorongan dari Dini kini masuk yang pertama kali, ia melihat sebuah ruangan baca yang begitu luas dan nyaman. Rak setinggi tiga meter menghiasi ruangan tersebut.


"Ini seperti perpustakaan." cerocos Dini, ia kembali terkesima melihat ruangan indah itu.


" Nyo... Nyonya..." Farah tidak menggubris ucapan Dini karena saat ini dia melihat nyonya besar duduk dengan Anggun di sebuah sofa sembari meminum teh.


Ini pertama kalinya Dini melihat ibu dari Keken, benar saja apa yang dikatakan Farah, ia melihat seorang wanita anggun dan masih terlihat cantik diusia senjanya. Cantik, namun sorot matanya begitu tegas seolah membuat orang tidak berdaya saat menatapnya.

__ADS_1


"Duduklah." ucap nyonya besar


Mereka dengan cepat duduk di hadapan nyonya besar, Farah hanya bisa menunduk dan meremas ujung bajunya. Takut, itu yang kini dirasakan Farah.


"Farah, kita berada di ruangan ber AC tapi kenapa terasa panas dan mencekam ya? Kita tidak sedang ikut acara uji nyali uka-uka kan,kenapa terasa mistis." bisik Dini,dan ia langsung mendapat injakan kaki dari Farah agar segera diam.


" Nona Dini, bisakah anda keluar sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Farah. "


" Tidak bisa! "


" Bisa! "


Mereka menjawab bersama, namun tidak kompak. Farah tidak ingin Dini keluar ruangan dan meninggalkan dirinya, sedangkan Dini ingin cepat - cepat keluar dari ruangan yang membuatnya sulit bernafas.


" Saya akan keluar nyonya." Namun Farah dengan kesal melotot kearahnya.


"Jangan pergi!" pinta Farah, ia tidak mau menghadapi nyonya Imelda sendirian karena takut.


"Aku harus pergi, bye!" Dini mengurai tangan Farah dan segera berlari meninggalkannya, tidak peduli nantinya gadis itu akan marah yang terpenting sekarang ia bisa keluar dari ruangan itu. Ia menutup pintu itu dengan cepat dan merasa lega.


" Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan uka-uka, ihhh... mengerikan, aku tidak bisa membayangkan jika Farah memiliki mertua seperti itu. " Ia bergidik ngeri


Dini bingung akan pergi kemana, namun salah satu asisten rumah tangga itu mengajaknya untuk melihat ke halaman belakang dan mempersilakan ia untuk makan cemilan.


* **


" Sudah berapa minggu ? "tanya Imelda sembari menatap perut Farah yang masih terlihat datar.


Farah terkesiap mendengar pertanyaan itu, bagaimana bisa nyonya besar tahu bahwa dirinya hamil.


" Maaf nyonya, sa... saya tidak mengerti pertanyaan anda. " Farah kembali menundukkan kepala tidak berani menatap Imelda.


" Aku tahu semuanya, jangan menutupinya lagi."


Imelda menghela nafas panjangnya, ia mendekati Farah dan memeluknya dengan lembut. "Maafkan Keken yang sudah merenggut kesucianmu."


"Aku sebagai ibunya Keken meminta maaf karena sudah gagal mendidiknya." Imelda mengelus punggung Farah, ucapannya begitu tulus agar Farah bisa memaafkan anaknya.


" Aku sudah hancur nyonya, sakit rasanya hidup seperti ini. Aku sudah tidak berharga lagi, aku tidak mau hamil bayi ini tapi aku tidak bisa menggugurkannya, aku tidak bisa sekejam itu huhuhu... " Farah menangis kembali dan memukul - mukul perutnya dengan kasar. Masih belum ikhlas menerima janin yang bersemayam di tubuhnya.


" Stop! Jangan lakukan seperti itu. "Imelda menahan tangan Farah agar berhenti memukul perut.


" Disini ada calon keturunanku, kamu tidak boleh memukulnya seperti itu. " Imelda yang selalu terlihat galak dan terkesan dingin kini merendahkan volume suaranya, ia mengelus perut Farah dengan lembut.


Farah merasa sedikit terkejut karena nyonya besar tidak seperti yang dia pikirkan, saat ini Farah melihat Imelda seperti nenek yang tidak ingin kehilangan cucunya, perlakuannya begitu lembut saat meraba perutnya yang masih terlihat rata.


" Bagaimana kalau kita ke dokter, kita cek kehamilanmu." pinta Imelda


Farah menggelengkan kepala tanda tidak setuju


"Kenapa? Apa kau begitu membenci bayi ini hingga tidak ingin melihat keadaannya?" selidik Imelda, tatapannya seolah menghunus ke jantung Farah. Terlihat sangat dekat hingga manik matanya bertemu dengan manik Farah.


Takut, pasti. Setiap perkataan Imelda begitu tepat sasaran, hingga tidak ada celah untuk berbohong.


" Aku memang benci bayi ini terutama saat mengingat pria itu, rasanya aku ingin membunuhnya. Dia merusak semua mimpiku, huhuhu..." maki Farah, ia tidak segan-segan mengatakan yang sejujurnya pada Imelda, ia sudah tidak peduli seandainya nyonya besar marah padanya karena memaki anaknya.


" Aku juga ingin sekali mencekik lehernya sampai mati tapi tidak bisa karena dia putraku satu-satunya. Menyebalkan bukan. "


Farah terperangah mendengar ucapan Imelda.


" Bahkan dia tidak tahu kalau kamu hamil. Bocah tengik itu sangat berani menantangku, dia sangat pintar mengelabui para pengawal hingga akhirnya menanam benih padamu, bocah si*lan itu sangat menjengkelkan! " geram Imelda

__ADS_1


"Apa kau ingin menikah dengan anakku?" tanya Imelda


"Aku tidak mau!" jawab Farah langsung


"Kenapa? Apa kau ingin melanjutkan pernikahanmu dengan pria itu? Apa kau yakin dia akan menerimamu? Bagaimana dengan kedua orangtuanya, aku tidak yakin mereka bisa menerimamu." Imelda bertubi-tubi bertanya tentang langkah Farah selanjutnya


"Aku tidak mencintai anak nyonya." jawab Farah


"Baru kali ini aku mendengar seorang gadis menolak putra tampanku." Imelda terkekeh sembari menggelengkan kepala.


" Dia sangat tampan dan kaya, banyak gadis tergila-gila padanya hingga menawarkan diri untuk tidur dengannya. Dan apa kau tidak tertarik dengan seluruh harta keluarga kami?"


"Dia memang tampan tapi br*ngsek!" ucap Farah tanpa tedeng aling-aling.


" Nyonya memang kaya raya tapi aku masih bisa bekerja untuk anakku ini. Aku memang suka uang tapi aku akan mencarinya dengan caraku sendiri,aku tidak tertarik dengan harta nyonya!"


" Aku tidak tahu akan melanjutkan pernikahanku atau tidak. Jika bang Hilman dan keluarganya menolakku aku bisa apa, aku harus sadar diri karena sekarang aku memang hamil anak dari pria lain. "


" Menikahlah dengan anakku, memangnya kamu mau anak ini lahir tanpa ayah. " Imelda mencoba meyakinkan Farah agar mau menikah dengan Keken,anaknya.Ia tidak akan membiarkan calon penerus keluarga Feriansyah lahir tanpa ayah.


" Aku tidak mau! " tegas Farah," Aku bisa membesarkan anak ini sendirian tanpa pria itu. " Farah masih tidak mau menyebut nama Keken


Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya, membujuk Farah tidak semudah yang dibayangkan dan ia tahu bahwa saat ini Farah belum bisa memaafkan anaknya.


" Apa kau ingin anak ini seperti dirimu? Hidup tanpa kasih sayang orangtua kandungnya?" Farah terkejut kembali, sempat bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa nyonya besar tahu tentang jati dirinya. Ia sedang berhadapan dengan wanita hebat yang memiliki power kuat hingga segala informasi bisa ia dapatkan.


"Tidak perlu kaget seperti itu, aku tahu segalanya tentangmu."


Farah hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya. Terlalu berat berurusan dengan nyonya besar.


"Saya masih kekeh dengan pendirianku, dan saya mohon nyonya bisa menghargai keputusanku. Tolong jangan paksa saya." pintanya, "Saya akan merawat dan mendidiknya agar menjadi anak baik."


"Saya mohon nyonya tidak mengatakan pada pria itu bahwa saya hamil. Biar saya yang akan bicara padanya, aku ingin tahu bagaimana reaksi pria br*ngsek itu!"


"Aku ingin tahu apa dia menginginkan anak ini atau ingin membuangnya. Seandainya dia tidak menginginkannya, aku yang akan merawatnya. Mungkin pergi jauh adalah yang terbaik walaupun aku tahu nyonya akan dengan mudah menemukanku, tapi aku memang butuh waktu untuk semua ini. Aku ingin hidup tenang, aku tidak ingin stres dengan semua masalah yang saat ini aku hadapi. "


" Aku tidak akan memaksamu, tapi mohon pikirkan kembali keputusanmu. Beri keputusan yang terbaik untuk anakmu ini, mommy tidak ingin dia lahir dan hidup dengan cacian dan bully an karena tidak memiliki seorang ayah. Kamu sudah cukup menderita, jangan sampai anakmu juga ikut menderita. " Imelda


" Ingatlah satu hal! Sejauh apapun kau pergi, aku bisa dengan mudah menemukanmu. Kamu tidak akan bisa lari dariku karena saat ini kamu mengandung keturunan dari keluarga kami. Pergilah jika kau ingin menenangkan diri dan saat kau ingin kembali hubungi aku. " suara Imelda dengan begitu tegas dan penuh penekanan.


Farah hanya bisa meremas ujung bajunya. Ia kembali menundukkan kepala dan Imelda kembali merengkuhnya, memeluk dengan lembut,memberinya kenyamanan sebagai seorang ibu.


" Maukah kamu memanggilku mommy?"


Farah mendongak kembali, menatap manik Imelda." Apa aku pantas memanggil nyonya besar dengan sebutan mommy? Rasanya aku terlalu hina, tak pantas menyebutnya. Aku sangat malu." lirih Farah


"Tidak perlu rendah diri , aku mommy dari pria br*ngsek itu sekaligus nenek dari anak yang sedang kamu kandung. Panggil aku mommy mulai sekarang, jangan merasa sungkan. Mommy akan berusaha menjadi ibu yang baik untukmu, walaupun terkadang mommy terlihat galak dan tidak tersentuh namun percayalah mommy melakukan itu untuk melindungi keluarga ini. Mulai sekarang kamu anak mommy, anggap aku ibumu. "


" Mommy... huhuhu... Aku beneran punya mommy.. huhuhu... " Farah menangis terisak, ia begitu bahagia mendapatkan kembali kasih sayang seorang ibu. Sudah lama ia tidak pernah merasakan dipeluk dan diperhatikan oleh seorang ibu. Tangisan bahagia dari seorang gadis malang membuat Imelda kali ini meneteskan air matanya.


" Kalau kamu butuh sesuatu katakan pada mommy. " ia mengusap rambut Farah dengan lembut. Farah mengangguk cepat.


" Kalau bayi ini menginginkan sesuatu katakan saja, mommy akan mengabulkannya.Apa dia begitu merepotkanmu?" Imelda mengurai pelukannya dan mengelus perut Farah


" Tidak! Dia tidak merepotkan, aku memang morning sickness dan lemas tapi itu masih wajar. Aku masih kuat. "


"Wah, cucu omah hebat. Semoga kamu tidak seperti ayahmu ya Nak, dulu dia sering membuat mommy repot dengan nyidamnya."


"Benarkah?"


"Iya."

__ADS_1


" Mommy, aku minta padamu kalau pertemuan kita kali ini jangan sampai dia tahu. Aku tidak mau kalau dia tahu aku pernah kesini."


"Tentu, apapun yang kamu inginkan pasti mommy kabulkan." Akhirnya Farah bisa tersenyum bahagia dan kedua wanita itu bercerita panjang lebar tentang Keken saat masih di dalam kandungan hingga besar. Farah tidak menyangka dibalik wajah nyonya besar yang terlihat galak dan dingin, perlakuannya begitu hangat dan menenangkan. Ia juga heran kenapa Keken begitu liar padahal ibunya baik dan lembut.


__ADS_2