
Seminggu kemudian,
Proyek pembangunan di lantai tiga telah selesai dan Keken merasa lega karena sudah ada beberapa orang yang memesan kamar kosan itu. Ia memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Michelle untuk mengelolanya,sedangkan ia masih sibuk mengurus Farah yang akhir-akhir kembali mual dan ngidam yang aneh - aneh.
"Masih mual?" tanyanya. Ia melihat Farah dengan wajah pucat dan lemas. Setelah sarapan, Farah kembali mual dan memuntahkan semua makanannya.Perutnya menolak semua makanan saat pagi hari namun saat sore ia bisa makan dengan lahap dan nyaman.
"Masih." ia memberi minyak kayu putih di bagian kanan kiri kepalanya.
Keken mendekat dan mengusap perut Farah dengan lembut dan tak lupa mencium calon buah hatinya. "Jangan rewel Nak, kasihan bunda."
Farah mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya ia mendengar Keken menyebut namanya dengan panggilan bunda.
" Panggil mama saja, jangan bunda!" Farah mundur dan duduk di tepi ranjang. Ia merasa tidak nyaman saat Keken menyentuh perutnya.
" Oke, terserah kamu saja yang." Keken tersenyum namun Farah membuang wajahnya. Entah mengapa hampir dua bulan mereka menikah, Farah masih ketus dan tidak membalas tatapan cintanya. Ia masih belum menerima suaminya.
"Nanti malam aku pergi, ada kerjaan."
"Kerjaan apa?" Farah mengenyitkan dahi
"Pokoknya ada, kamu tidak usah khawatir. Aku keluar rumah untuk bekerja." Keken mengelus rambut Farah dengan lembut. Akhir - akhir ini Keken selalu memberikan perhatian lebih padanya. Dan Ia hanya keluar saat malam tiba.
" Cih! Siapa juga yang khawatir, aku tidak peduli! "ketusnya. Namun dalam hati Farah berbeda, ia seolah tidak mengijinkan Keken untuk pergi di malam hari. Walaupun Keken mengesalkan tapi dia selalu membuat Farah nyaman saat disisinya. Apalagi saat Keken memeluk, menyentuh perutnya dan itu terasa sangat nyaman.
Keken tersenyum lalu membuka lemarinya. Memasukkan beberapa kaos ke dalam tas ranselnya dan Farah bisa melihatnya dengan jelas.
"Kok bawa baju?" Farah merasa heran karena ini pertama kalinya Keken membawa baju ganti di tas ranselnya.
"Untuk cadangan."
__ADS_1
"Memangnya kamu mau kemana?"
Keken lagi-lagi hanya mengulas senyum. Farah masih tidak mendapat jawaban yang memuaskan darinya. Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Sial! Dia tidak mau jujur!" gerutu Farah dalam hati.
"Ayah, ayah mau kemana? Adek tanya yah." Farah menirukan suara anak kecil sembari mendekat padanya. Mengelus perutnya yang sedikit
membesar. Mau tak mau Farah memakai alasan anaknya agar Keken mau jujur padanya.
"Ayah kerja Nak!"
"Kerja, ayah mau kerja apa yah?" Farah kian mendesak, membuntuti kemanapun Keken yang sedang hilir mudik memasukkan benda ke dalam tas nya.
" Ayah nanti malam mau ke club untuk urusan bisnis. Doain ayah ya." Keken kembali mengelus perut Farah. Namun ia melirik Farah yang kini menatapnya dengan tajam.
Keken seolah menghindari pertanyaan Farah dan tidak ingin ribut lagi. Ia berjalan ke ruang tamu dan membuka laptopnya.
" Keken!! Jawab aku! "teriak Farah dengan kesal
" Kamu mau cari wanita lain kan, senang - senang di club malam sampai bawa baju ganti segala. Kamu mau nginep disana kan! " rentetan pertanyaan dari Farah hanya dibalas dengan senyuman.
" Kenapa diam saja! " Farah hampir menangis karena kesal. Keken hanya mengulas senyum dan selalu membuat emosinya naik turun padahal pria itu tidak melakukan kesalahan apapun. Entah ini bawaan bayi atau dirinya yang selalu membutuhkan kehadiran Keken.
" Nggak usah nangis." Keken melihat Farah berkaca-kaca, ia menutup laptopnya dan mendudukkan Farah di pahanya. Memeluknya dengan rasa nyaman. "Jangan berpikiran buruk tentangku." lirihnya
"Bagaimana tidak berpikiran buruk, kamu kerja di club dan aku pasti akan berpikiran yang tidak - tidak." ujarnya dengan nafas yang masih naik turun.
"Ken, jangan seperti ini." Farah merasa takut karena wajah Keken begitu dekat dan tepat di curuk lehernya.
__ADS_1
"Sebentar saja." Dan hembusan nafas Keken menyapu leher Farah yang membuatnya semakin geli.
" Aku pergi ke club untuk bertemu beberapa temanku disana. Mereka kalangan atas yang sering gonta ganti mobil dan itu kesempatan untukku agar penjualan mobil semakin banyak. Aku tidak akan macam-macam sayang, percayalah." Keken berusaha menjelaskan tentang pekerjaannya dan kenapa selalu pulang dini hari.
" Apa tidak ada pekerjaan lain selain sales mobil? "
" Ada, nantinya aku akan bekerja di Cafe Michelle untuk sementara. Saat ini aku juga sibuk karena harus membereskan beberapa masalah yang aku buat. Sejak kita menikah dan gosip yang beredar itu ada beberapa orang perusahaan yang dipecat mommy dan kau tahu kan saham kita masih belum stabil bahkan proyek kerjasama dengan ayahnya Michelle kini batal. Aku harus membereskan semuanya agar kembali seperti semula. Tolong kamu pahami aku dan do'akan agar aku segera masuk ke perusahaan kembali. "
Farah melirik kearah Keken, wajah suaminya sedikit tirus dan terlihat kumis yang kini menghiasi wajahnya namun itu yang membuat suaminya kian menarik. Memang tidak mudah bagi seorang Keken untuk hidup sederhana. Awalnya Ia kesulitan tidur, rumah yang kini ditempati terbilang sempit dan pengap sangat jauh berbeda dengan kamar Keken namun pria itu mencoba untuk bertahan hidup dengannya.
" Michelle lagi, Michelle lagi." gumam Farah dalam hati.
" Aku tidak suka kamu menjadi sales mobil, pasti banyak SPG cantik yang menyukaimu."
"Memang banyak sih, mau gimana lagi aku memang tampan tiada tara." ucapnya dengan sombong. Farah melotot kembali. Ia yang notabene pernah menjadi SPG tahu seluk beluk dunia kerja di bagian itu. Cantik, menarik, putih, tinggi, langsing,perempuan idaman. Fisik yang good looking untuk menarik konsumen. Sedangkan dia, biasa saja, tidak menarik yang ada ia semakin gendut karena hamil. Merasa insecure.
" Kenapa diam , kamu cemburu?" Keken semakin jahil, tangannya tidak mau diam dan semakin memeluk Farah kian erat. Kesempatan tidak datang dua kali, pikirnya.
" Siapa juga yang cemburu, aku __" suara tertahan karena saat ini Keken mencium bibirnya untuk pertama kalinya setelah menikah. Ciuman lembut yang Keken berikan, menuntut kian dalam hingga Farah merasa sesak nafas dan memukul punggung suaminya. Namun ia tidak menolak karena Keken menciumnya begitu lembut dan nyaman.
"Sudah ah, nanti kamu ketagihan." Keken melepaskan ciumannya dan menggulum senyum.
"Apaan sih! Kamu ambil kesempatan dalam kesempitan ya." kesal Farah, wajahnya terlihat bersemu merah karena malu. Ia memukul bidang dada suaminya. Ia pun bingung kenapa tidak menolak atau menampar Keken karena berhasil menciumnya. Aneh.
" Tapi kamu suka kan." godanya, dan ia kembali mendapatkan pukulan dari Farah.
" Kalau habis mandi rambutnya diikat biar gak kayak reog. "kelakarnya sembari mengikat rambut Farah agar terkesan rapi. Istrinya tidak pintar merawat diri dan selalu terlihat apa adanya namun itu yang membuat Keken jatuh hati.
" Keken jahat banget sih masa aku disamain dengan reog!! "teriak Farah
__ADS_1