
Setelah perginya Soun, mereka masuk dari toko satu ke toko yang lain untuk membeli baju dan sepatu. Kali ini Farah begitu dimanjakan oleh Keken. Setiap apa yang ia inginkan pasti Keken membelinya dan sudah pasti ia tidak mengeluarkan uang belanja karena Keken yang membayarnya.
"Nonton yuk." ajak Keken, ia sudah lama tidak menonton bioskop kini mengajak istrinya untuk masuk ke tempat favoritnya dulu, dimana dirinya selalu beraksi me sum bersama sang pacar daripada menonton layar besar di hadapannya. Menyentuh setiap bagian sang pacar terutama bagian bibir yang memabukkan.Dan seperti biasanya ia terkadang mendapat teriakan dan sorakan dari penonton lainnya karena terpegok sedang menjelajah liar.
"Ayo, aku juga mau nonton. Ken," ucap Farah, namun ia melirik Keken yang sedang menggulum tersenyum dan tidak menghiraukan dirinya.
"Ken!" seru Farah, ia menepuk lengan suaminya. " Mikirin apa sih kok senyum - senyum gitu!"
"Ah, tidak apa-apa." Keken terkesiap, namun istrinya sudah memasang wajah jutek.
"Nggak usah pundung gitu, kita nonton ya."
"Kamu sedang mikirin apa sih, jawab jujur!"
"Nggak mikirin apa-apa sayang." bohong Keken, ia tidak mau Farah bertambah kesal padanya jika tahu dia sedang membayangkan betapa nikmatnya dulu menonton bersama pacar.
"Mau nonton apa?" tanya Keken
"Nggak jadi, aku mau pulang saja!" Farah berjalan dengan cepat, tidak tahu kenapa rasanya kesal saat melihat Keken tersenyum bahagia dengan sendirinya.
" Jangan ngambek dong yang, yasudah kalau kamu mau pulang ayo kita naik taxi." Keken berlari kecil dan meraih tangan isterinya dengan cepat
" Aku mau naik angkot, nggak mau naik taxi!" seru Farah
"HAH..!!" Keken terkesiap kembali, ia tidak pernah naik angkutan umum sebelumnya dan sekarang istrinya ingin naik angkot.
"Naik taxi saja, adem ada pendingin udara kalau pakai angkot panas, sesak banyak orang, bau lagi." bujuk Keken
"Pokoknya aku mau naik angkot, ini kemauan anakmu. Kalau kamu tidak mau ikut yasudah!" ketus Farah, ia tetap berjalan keluar mall dan menunggu angkot yang menuju arah rumahnya. Farah berdiri di pinggir jalan sembari berteduh di sebuah pohon agar tidak terkena sinar matahari langsung. Waktu sore hari namun cuaca masih terlihat panas.
__ADS_1
" Belum lahir saja dijadikan alasan dan selalu ngidam yang dibuat - buat, kasihan nasibmu Nak." lirih Keken namun masih terdengar oleh Farah.
" Siapa yang ngidamnya dibuat-buat!" Farah mendelik dengan tajam.
"Apa." Keken menatap jengah dan membuang wajahnya kearah lain.
" Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa naik angkot sendiri sampai rumah." Farah membuang wajahnya kearah lain namun hatinya berharap Keken mau mengikuti keinginannya.
"Ayo kita naik angkot seperti keinginan amakku." Keken begitu pasrah walaupun dalam hati ia ingin berteriak keras tak ingin mengikuti keinginan istrinya tapi mau bagaimana lagi, ia tidak tega membiarkan Farah pulang sendirian. Sedangkan istrinya kini menggulum senyum dengan penuh kemenangan.
"Panas..." bisik Keken di telinga istrinya, ia tidak menyukai alat transportasi satu ini. Selain sumpek, angkot yang mereka naiki kini berhenti di tepi jalan untuk menunggu penumpang lainnya. Suara teriakan sang sopir pun sangat memekakan telinga, berkali-kali ia berteriak agar orang mau naik ke dalam angkotnya.
"Yang namanya angkot ya begini." lirih Farah. Satu persatu orang masuk dan kendaraan mulai penuh, sang sopir pun menjalankan angkotnya. Dan sepanjang jalan Keken selalu menekuk wajahnya, ia benar-benar tidak betah berada dalam satu kendaraan dengan orang lain dengan aroma bermacam-macam memenuhi indra penciumannya dan itu sangat membuatnya mual.
"Padahal ini sore hari tapi kenapa bau matahari." bisik Keken sembari mengeluh lagi
"Berisik! Nikmatin aja sih." Farah mendengus kesal karena beberapa kali Keken mengeluh padanya.
" Apa sopir itu tidak bisa menyetir, kenapa berhenti mendadak."
"Kenapa anak itu menangis terus, ini sangat menganggu kenyamanan."
" Kenapa mobil ini berhenti lagi sih!"
Dan umpatan, keluhan selalu keluar dari mulut Keken. Satu persatu penumpang mulai turun di tujuannya masing-masing dan hanya menyisakan beberapa penumpang di angkot tersebut.
Farah tertawa dalam hati karena berhasil membuat Keken kesal dengan ultahnya. Sedangkan dia menikmati sepanjang perjalanan sembari menikmati susu kotak ibu hamil yang ia beli dari supermarket.
"Udah jangan nangis lagi, diem." ucap salah seorang ibu muda yang mencoba menenangkan anak lelakinya yang masih berusia dua tahun.
__ADS_1
"Nanti ketemu ayah, sebentar lagi." sambungnya lagi. Dan sang anak masih menangis keras seperti biasanya. Keken yang berada tepat duduk di depan sang ibu muda itu hanya bisa tersenyum saat ibu muda itu menatap kearahnya.
"Kok masih nangis sih!, kalau nangis terus ne nen ibu untuk Om ganteng aja nih nanti adek gak kebagian." ancam ibu itu, dan sontak saja Keken terkesiap saat mendengar ucapan ibu itu. Begitu juga Farah hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Udah, diem ya." Ibu itu memberi anaknya permen coklat dan seketika anak itu diam.
Dua bulan sudah Keken mencoba menahan hasrat untuk tidak menyentuh Farah dan saat ini ia mendengar seorang ibu muda dengan mudahnya seolah menawarkan diri walaupun hanya sekedar candaan tapi seketika membuat naluri lelaki nya bangkit, ia melihat kearah dada ibu muda itu dan hanya bisa menelan salivanya.
"Sial! Masih kenceng pasti kenyang banget tuh suaminya." gumam Keken dalam hati. Ia tidak kuat melihatnya hingga akhirnya menundukan kepala.
"Jaga pandanganmu." bisik Farah, ia seolah tahu kearah mana mata Keken melihat. Keken hanya menggulum senyum sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kok nangis lagi!" seru ibu itu kembali. "Nanti ***** nya buat Om ganteng nih." ucapnya lagi
Keken seketika mendongakan kepala pada wajah ibu itu dan menggulum senyum dan Farah melihat itu. Ia menginjak kaki suaminya.
Keken menoleh dan melihat tatapan tajam istrinya. " Jaga matamu!" bisik Farah lagi
Anak itu kembali diam. Namun seratus meter kemudian anak itu menangis lagi.
"Beneran nih kalau masih nangis, nen nya buat Om aja kamu tidak usah minta ya." ibu itu kembali mengancam anaknya.
Keken membayangkan yang tidak-tidak dengan wajah penuh harap.
"Stop pak!!" teriak Farah, ia turun dari angkot dengan hati kesal karena mendengar celotehan ibu muda itu dan dengan terburu-buru Farah membayar ongkos angkot. Ingin rasanya ia memaki ibu muda itu namun ia urungkan karena melihat anaknya yang masih kecil. Beraninya dia menggoda suami orang walaupun hanya sekadar candaan.
"Maaf bu,sebenarnya jadi tidak ***** nya buat saya karena saat ini istri saya sudah turun." kelakar Keken pada ibu itu.
"Keken!!!" teriak Farah dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
Dan Keken tergelak tawa, berhasil membalas kejahilan Farah padanya.