
Hari ini Farah akan bertemu dengan Hilman di sebuah Cafe. Farah bertekad akan mengatakan yang sebenarnya pada Hilman tentang dirinya. Meski pahit ia harus jujur agar kedepannya Farah bisa bernafas lega hidup tanpa kebohongan walaupun ia harus bersiap dengan segala konsekuensinya.
"Apa kau yakin akan melepaskan Hilman? Farah, kau tidak bersalah ini sebuah kecelakaan yang terjadi tanpa diduga dan aku yakin Hilman akan memaafkanmu dan melanjutkan pernikahan kalian." ucap Dini
"Iya Farah, aku setuju kali ini dengan pendapat si judes. Kamu berhak bahagia Far." timpal Vania
Dini hanya melirik Vania yang selalu menyebutnya judes, ingin rasanya protes namun saat ini jawaban Farah lebih penting sekarang.
"Aku yakin, ini keputusan terakhirku. Hilman pria baik dan tidak seharusnya dia bersamaku dan menanggung semua ini. Andai dia mau menerima aku dan anakku, tapi tidak dengan keluarga nya. Aku tahu bagaimana keluarga Hilman dan aku harus sadar diri bahwa sekarang aku tidak pantas untuknya lagi. "Farah menjawab sembari berkaca-kaca, sakit sekali hatinya namun ini keputusan yang harus ia ambil.
" Andai saja aku bertemu pria br*ngsek itu, ingin rasanya aku mencekik lehernya dan menamparnya, huhuhu... "Vania menangis saking kesalnya.
" Andai aku bertemu dengan pria br*ngsek itu, akan aku ambil semua atm dan uangnya. Aku tidak peduli dia akan miskin yang penting aku senang. " timpal Dini
" Heran deh gue, otakmu terbuat dari apa? Kenapa hanya uang yang ada dipikiranmu!" geram Vania
" Sekarang harus realistis, hamil dan melahirkan butuh duit. Lihat sekarang, Farah sudah tidak bekerja dan hanya mengandalkan uang tabungan yang ia simpan di mommymu. Dia tidak mungkin bekerja saat hamil besar, mana ada perusahaan atau restoran yang mau menerima ibu hamil maka dari itu kuras saja uang si br*ngsek atau ibunya itu, eh malah si Farah cuma ngambil parfum aja, kan sinting! " Dini berapi-api saking kesalnya. Saat di rumah Keken, nyonya besar berkata apa yang diinginkan Farah dan pasti ia akan mengabulkannya namun nyatanya Farah lebih meminta parfum Keken untuk dibawa pulang. Menjengkelkan.
" Minta uang kek, mobil atau rumah istana biar bisa dijual lagi eh ini malah minta parfum yang tidak berharga. Ampun deh si Farah!" lanjut Dini masih dengan mode menggerutu.
Farah hanya menundukkan kepala, entah apa yang ada dipikiranya nya saat nyonya Imelda bertanya apa keinginannya, dan dengan cepat ia berkata ingin meminta parfum Keken yang tergeletak di kamarnya. Aneh bukan.
Vania mengerti dengan keinginan Farah saat ini, mungkin bukan keinginannya tapi keinginan si jabang bayi.
"Sorry kalo ucapan gue nyinggung lu, tapi aku begini saking keselnya." Dini
"Aku tahu kalau aku bodoh." Farah tersenyum kecut, ia tidak marah saat Dini mencacinya.
"Aku akan antar kamu bertemu Hilman." Vania dengan sigap membantu Farah, ia tak ingin sahabatnya pergi sendirian. Vania tahu walaupun Farah terlihat tegar dan mencoba tersenyum namun dalam hatinya remuk redam, pernikahan yang didambakan hancur begitu saja. Vania tidak ingin Farah merasa sendirian disaat terluka.
" Apa kau yakin akan mengantarku sedangkan hati kamu sedang kacau seperti itu." Farah melihat wajah Vania yang kusut, lusuh berantakan. Pagi ini Vania datang dengan menangis karena diselingkuhi oleh sang pacar. Vania memutuskan hubungan setelah tahu Andrew memiliki kekasih lain.
" Aku yakin, kamu tidak perlu mencemaskanku, aku baik-baik saja. tunggu sebentar aku ingin memoles wajahku agar sedikit rapi."
***
~Shine Cafe ~
"Kenapa kau ingin kita bertemu disini, seharusnya aku menjemputmu di rumah." Hilman menatap Farah dengan intens, terlihat wajahnya yang semakin tirus dengan lingkaran hitam di sekitar mata. "Apa kau kurang tidur karena memikirkan pernikahan kita yang sebentar lagi akan terlaksana?"
"Far, aku bahagia karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku." Hilman mengulas senyum saking bahagianya
Farah semakin merasa bersalah wajahnya tak mampu melihat kearah Hilman, perasaannya kian berkecamuk. Sakit, sangat sakit saat menatap sekilas pada calon suaminya. Ia merasa sangat bersalah.
" Maafkan aku. " Farah menghela nafas panjangnya, mencoba mengatur detak jantungnya yang semakin cepat.
"Ma.. maafkan aku bang." suara Farah tercekik di tenggorokan. "Maafkan aku." hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Farah
Hilman semakin gusar, ini pertama kalinya Farah mengatakan kata maaf berulang kali. Perasaannya semakin tidak enak saat melihat Farah meneteskan airmata .
"Mm...maaf untuk apa, Far?" Hilman mencoba membuang pikiran buruknya.
"Per... Pernikahan kita tidak akan terlaksana. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini dan lebih baik kita berpisah." Farah mencoba menatap wajah Hilman, pria yang selama ini ada untuknya disaat susah dan senang.
"Maksudnya gimana ini." Pikiran Hilman seolah tidak terkoneksi dengan baik, mencoba mencerna perkataan Farah yang menurutnya tidak masuk akal.
"Farah, tolong jelaskan padaku. Apa maksudmu tadi!" suara Hilman yang kini mulai meninggi
"Aku tidak bisa menikah denganmu, kita tidak bisa bersama bang." Airmata Farah kian deras, ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Suaranya selalu tercekik di tenggorokan.
"Jangan bicara omong kosong Farah, persiapan kita sudah sembilan puluh lima persen. Undangan sudah dicetak, gedung, catering sudah dipesan, gaun pengantin sudah siap, please jangan bercanda seperti ini karena aku tidak suka!" Hilman menatap tajam pada Farah yang terlihat sembab karena menangis terus. Ia bertanya-tanya apa yang menyebabkan Farah seperti ini.
" Berikan aku alasan kenapa kamu tidak bisa melanjutkan pernikahan kita? " tanya Hilman, ia mencoba menurunkan nada bicaranya. Farah bukan tipe gadis yang suka ditekan apalagi dibentak. Hilman mencoba untuk sabar agar Farah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
__ADS_1
Cukup lama Farah diam dan sesekali mengusap jejak airmatanya, dan hanya menatap sekilas pada Hilman.
"A... aku hamil bang." Farah tak mampu melihat kearah Hilman yang kini terhenyak kaget.
" A.. Apa...?!! Bagaimana bisa? Siapa pria itu!" ia mengepalkan jari tangannya. Dan semakin mengeratkan rahangnya karena marah.
"Farah!!" hardik Hilman,ia begitu tidak sabar karena Farah menutup mulutnya. Dan beberapa orang sekitarnya sempat melirik kearah mereka.
" Aku yang akan menjelaskan tapi tidak disini." satu suara wanita yang kian mendekat kearah mereka. Vania merengkuh tubuh Farah dan membawanya ke dalam mobil.
"Bisa kau jelaskan!" Hilman kembali bertanya, saat ini mereka bertiga di dalam mobil Vania dan berada di bangku penumpang tengah dengan posisi Farah di tengah-tengah mereka.
Ini alasan Vania untuk ikut bersama Farah karena salah satunya Farah akan lemas dan tak kuasa untuk mengatakan semuanya pada Hilman. Farah selalu memeluk Vania dan tidak berani melihat wajah sedih Hilman.
" Farah hamil anak si br*ngsek itu." Vania menghela nafas panjangnya
"Si br*ngsek, yang mana?!" Hilman masih geram pada Farah, gadis yang selama ini dia cintai dengan sepenuh hati kini dengan teganya mendua dan hamil dari benih pria lain.
"Abang pernah bertemu dengannya saat di restoran D & R, pria arogan yang tidak mau berjabat tangan denganmu, bang." Farah yang mulai tenang kini mengurai pelukan Vania, berusaha menjelaskan sendiri pada Hilman.
"Maksudmu pria yang saat itu bersama gadis cantik dan dia adalah bos dari Antoni!" terka Hilman,dan mendapat anggukan dari Farah
"****!! Jadi saat kita bertemu dengannya, kau sudah mengenal pria itu?" Farah kembali menganggukkan kepala
"Kau berbohong padaku?" Hilman tidak percaya Farah berani berbohong padanya.
"Maaf." ucapnya dengan menyesal. "Itu berawal dari cincin pertunangan kita."
Farah menceritakan awal mula mereka bertemu dan Vania pun ikut membenarkan perkataan Farah.
"Lalu bagaimana bisa kamu hamil anaknya, apa kau mencintainya?!"
"Tidak! aku tidak mencintainya, jauh dilubuk hati aku rasa ini masih sama,hanya abang Hilman yang aku cintai."
"Setelah kamu bercerita seperti ini, aku tidak tahu apa aku harus percaya denganmu atau tidak, karena saat ini aku sudah kecewa karena kamu berbohong padaku Far." Hilman mengucapkannya dengan tegas
"Aku tidak masalah jika abang tidak percaya padaku, itu hak abang." Farah menyusut air hidungnya yang hampir menetes. Beberapa kali ia menyeka dengan tisu dan membuangnya di bawah kakinya.
" Tapi satu hal yang harus abang percayai, aku mencintai abang. Dan saat ini aku sudah hancur, mimpiku bersama abang telah sirna dan tidak ada kebahagiaan lagi."
Vania beberapa kali mengelus punggung Farah untuk memberinya sedikit kekuatan.
"Aku juga bukan anak kandung bapakku dan aku kini tahu kenapa bapak selalu acuh tak acuh padaku."
"Aku memang egois tidak pernah memberitahukan pada abang karena takut abang akan berubah pikiran dan batal menikahiku tapi nyatanya memang tuhan berkehendak lain, aku dihamili pria br*ngsek itu disaat tidak sadarkan diri."
Hilman mengusap wajahnya dengan kasar. Antara iba, kesal, marah, kecewa bercampur menjadi satu. Mimpinya bersama Farah kian terkikis.
" Kenapa tidak lapor polisi? "
" Apa rakyat jelata sepertiku mampu melawan orang kelas atas dengan banyak kolega dan posisi tinggi. Melawannya sama saja dengan bunuh diri." Farah menerawang jauh, pikirannya kembali kosong. Mengingat kejadian buruk itu sama saja dengan membuka kembali luka yang telah ia tutup rapat - rapat. Terasa menyesakan dada.
" Apa dia mau bertanggung jawab? "tanya Hilman
" Dia tidak tahu aku hamil anaknya. "
" Apa!! Bagaimana bisa? "
" Dia sedang ditugaskan di Malang, mungkin dalam minggu ini pulang ke Jakarta. Aku akan memberitahukan padanya tapi aku tidak ingin dia bertanggung jawab, tidak ingin dia menikahiku karena memang aku tidak mencintainya."
" Jangan bilang kau akan menggugurkannya, Farah! bayi ini tidak berdosa, jangan membunuhnya. "
" Apa abang pikir aku sekeji itu? Apa abang tidak mengenaliku? " Farah berkali-kali menghembuskan nafas panjangnya
__ADS_1
" Aku bisa hidup bersamanya berdua tanpa dia. Aku ingin membesarkannya sendiri. "
" Dan kau mau anakmu hidup tanpa status yang jelas tanpa ayah, jangan bicara omong kosong Farah! "
" Lalu aku harus apa! Menerima pria br*ngsek itu! " teriak Farah, emosinya mulai tidak stabil, Farah mulai menaikan nada suaranya. Hatiku sakit saat mengenang kejadian buruk itu dan bagaimana bisa aku hidup dengan pria itu!!"
" Aku sudah hancur, bang! Hancur! "teriaknya lagi
" Apa abang pikir ini mudah untukku untuk menjalani hidup!, bahkan untuk bernafas pun terasa sangat sulit, aku bahkan ingin bunuh diri. Dicampakkan keluarga, terasingkan, menyendiri, tidak pernah dipedulikan oleh orangtua dan sekarang hamil dari pria itu, semuanya terasa menyesakkan.Sakit bang, sakit banget!! " Farah memukul - mukul dadanya, nafasnya kian memburu, dadanya seolah tertindih sesuatu yang sangat berat, pikirannya tertekan dan ingin meledak. Ia menangis terisak
" Farah, kamu tenanglah. Tenang Farah. "Vania memeluk tubuh Farah kembali. Airmata Farah mengalir deras hingga membasahi lengan baju Vania." Tenang, kamu harus tenang,jangan sampai stres ingat bayi yang ada di kandunganmu. " Vania berkali-kali mengelus punggung Farah
" Sakit Van! Sakit sekali!! Hidupku sudah tidak berharga lagi. Aku ingin pergi dari sini, pergi sejauh mungkin dan memulai hidup baru, huhuhu... " Farah terisak keras, hingga Hilman yang berada di sampingnya kini merasa iba dan tidak terasa airmatanya ikut turun di sudut matanya. Kebahagiaan yang hampir di depan mata kini sekejap hancur berkeping-keping apalagi saat ini dia melihat wanita yang dicintainya menangis keras. Hatinya pun ikut sakit.
Takdir begitu kejam dan tidak memihak padanya, wanita yang ia cintai terlihat sangat terluka dengan hal ini. Kejadian yang tidak diinginkan. Dan kini Hilman tahu bagaimana perasaan Farah.
" Aku akan tetap menikahimu, kita lanjutkan acara pernikahan kita." Hilman mencoba merengkuh tubuh Farah agar mau memeluknya. Namun Farah menolak.
Vania dan Farah saling memandang, sedetik kemudian Farah menggelengkan kepala. Hilman menarik tangan Farah agar masuk kedalam pelukannya. Farah pasrah.
" Tidak semudah itu bang. "ucap Farah" Aku tidak ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang tidak kamu lakukan. "
" Aku menerima kamu dan anak ini. " kekeh Hilman
" Mungkin kamu bisa menerimaku dan anak ini tapi tidak dengan keluargamu. " Farah mengurai pelukannya
"Menikah tidak hanya masalah kita berdua. Menikah itu menyatukan dua keluarga. Aku tahu abang anak tunggal yang sangat dibanggakan orangtua abang, lantas bagaimana bisa aku memberikan noda merah di keluarga abang dengan kehamilanku ini, apalagi ini bukan anak abang. Mereka pasti tidak bisa menerimaku dan anak ini bang, tidak bisa! "
" Aku akan bicara pada ibu, dia pasti akan mengerti. " Hilman masih mencoba meyakinkan Farah dengan keputusannya.
" Tidak perlu bang, aku sudah yakin dengan keputusanku ini dan lebih baik kita berpisah. Aku sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu ibu, malu sekali rasanya. Aku berharap abang bisa menerima keputusanku ini, semoga abang bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. " lirih Farah, suaranya semakin serak menahan airmatanya lagi.
" Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Farah aku tidak bisa menerima ini semua. " Hilman semakin frustasi, ia memeluk Farah dengan erat sembari mencium keningnya bertubi-tubi
Vania membuang wajahnya kearah luar jendela mobil, ia tak kuasa melihat sepasang kekasih ini saling menangis dan salah satunya mengucapkan kata pisah,bahkan dirinya yang saat ini masih bersedih karena diselingkuhi oleh sang pacar masih belum seberapa sakitnya, dibanding sepasang kekasih yang kini berada di dalam mobilnya.
"Aku mohon Farah, kita lanjutkan pernikahan kita." Hilman memohon dengan wajah memelas berharap Farah akan luluh saat melihat dirinya menangis
" Aku tidak bisa bang, ini tidak semudah yang abang bayangkan."
"Lalu kamu mau kita berpisah seperti ini, HAH...!" Hilman berteriak karena frustasi, mimpinya hancur berkeping-keping. Impian hidup bersama sang kekasih pupus sudah. Tak tersisa
Farah menyusut air hidungnya, ia mencoba menenangkan diri. Ini pertama kalinya ia mendengar Hilman berteriak padanya.
" Kau tahu bang, alasan aku tidak mau menikah denganmu?" Farah mengenggam erat tangan Hilman
"Bukan karena aku tak cinta, justru karena aku mencintaimu." lanjutnya lagi
"Aku hanya tidak ingin anak ini hidup seperti diriku."
"Dulu, bapak menikahi ibu karena ia mencintai ibuku. Tapi setelah ibu meninggal, tidak ada cinta yang tersisa. Aku terabaikan, hidup seolah sendirian tanpa arah dan tujuan. Bapak hanya mencintai ibu bukan aku. Aku hanya anak pria lain yang dia selamatkan agar keluarga ibu tidak menanggung malu, lalu bagaimana bisa aku mengukir sejarah ini kembali. Aku tidak ingin anakku hidup tanpa cinta, ini sangat menyakitkan untuknya nanti, bang. " ucap Farah
" Tapi aku bukan lelaki seperti itu,aku Hilman pria yang akan selalu mencintaimu dan anakmu. "
" Aku tahu, aku hanya ingin melindungi anak ini karena dulu bapak pun berjanji akan mencintai ibu dan aku tapi nyatanya janji itu memudar seiring berjalannya waktu. "
Vania yang tahu kisah hidup Farah kini hanya bisa sesenggukan, hatinya sangat sakit mengingat awal pertama kali dia bertemu Farah.
" Aku mohon Farah. " Hilman masih saja meminta belas kasihan
" Maafkan aku bang, keputusanku sudah bulat"
Hilman lagi-lagi menarik tangan Farah dan memeluknya dengan erat seolah tak ingin terpisahkan, menangisi gadis pujaannya yang mantap berpisah dengannya,hingga berulang kali Farah mengucapkan kata maaf hingga tak terhitung saking
__ADS_1
banyaknya. Dan di sudut lain sebuah mobil selalu memantau gerak gerik mereka sembari memotret kearah mobil Vania.