Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 212


__ADS_3

‌Farah tidak masalah jika dia harus tidur tanpa pelukan suami asal masih satu ranjang dengannya. Keken, pria itu masih terlihat tampan walaupun saat tidur. Farah tidak pernah bosan melihatnya. Namun saat suaminya menggeliat Farah kembali memunggunginya.


"Jangan sampai Keken tahu kalau aku menatapnya sejak tadi." gumamnya dalam hati


Keken hanya menggulum senyum, sebenarnya dia sudah melihat Farah sejak tadi namun ia sengaja membiarkan nya karena wanita itu selalu mengelus perut saat menatapnya.


"Mungkin dia sedang nyidam." gumam Keken


Farah pelan-pelan turun dari ranjang dan mandi sebelum Keken bangun.


Keken pun turun dari lantai atas setelah mandi dan melihat Farah menyiapkan makanan nya.


"Hari ini aku bikin nasi goreng dengan telur dadar serta kopi hitam. Ini makanan kesukaan mu saat di kontrakan." ujarnya


"Benarkah." Keken menyuap makanan itu dan memang tidak asing di lidah, rasanya enak dan beberapa kali ia mengingat kembali tiap kepingan puzzle tentang kejadian ini. Keken sedikit mengingatnya.


" Jangan minum kopi hitam, Keken masih masa pengobatan." Imelda meminta pelayan untuk menyingkirkan kopi hitam itu.


"Maaf mom, aku lupa kalau Keken masih sakit." Farah menyesal


"Tidak apa-apa, tapi besok biarkan bibi yang menyiapkan segalanya, mommy tidak ingin kamu kelelahan sayang."


Farah mengangguk daripada harus berdebat dengan mommy Imelda.


"Mom, aku suka masakan nya biarkan Farah yang memasak untukku." ucap Keken


Farah terkesiap, ia tidak menyangka Keken menyukai masakan nya. "Kalau kamu suka, aku setiap hari akan memasak untukmu."


"Aku kan asisten chef di restoran Utara."


Keken menganggukan kepala, kepingan puzzle mulai dirangkai nya dalam otak, Keken mulai berpikir di setiap kejadian di masa lalu.


"Ken, kenapa kamu melamun?" Farah melihat suaminya diam


"Tidak ada apa- apa. "


Imelda hanya bisa menarik nafasnya, membaca setiap pikiran Keken walaupun hanya dengan melihatnya. "Sepertinya anakku tidak asing dengan situasi seperti ini." gumamnya dalam hati.


"Apa kau ingat ini?" Imelda menyodorkan sepiring udang krispi pada Keken


"Mommy!! Apa yang kau lakukan, aku alergi seafood lalu kenapa mommy menyajikan ini!" Keken terlihat marah saat melihat makanan yang ia benci tersaji di meja.


"Memorinya masih bagus bahkan dia masih ingat kalau alergi seafood, aku yakin dalam beberapa bulan Keken akan mengingat kembali." gumamnya dalam hati


"Mommy lupa maaf." Hanya itu yang Imelda katakan, lalu meminta pelayan untuk menyingkirkan udang itu.


* **


Rumah sakit,


Keken menjalani fisioterapi di rumah sakit dengan ditemani Farah dan mommy nya. Karena Imelda tidak akan membiarkan anaknya begitu saja maka kemanapun Keken pergi dia akan mendampinginya.

__ADS_1


"Kira-kira berapa kali Keken harus fisioterapi mom?" tanya Farah


"Seminggu dua kali, dia harus rutin agar kesehatan nya pulih dan anggota tubuhnya normal seperti semula."


"Kenapa mommy tidak membawa fisioterapis kerumah saja jadi mommy tidak perlu lagi repot-repot kesana kemari."


"Mommy bisa saja melakukan hal itu namun tidak akan mommy lakukan, bukan masalah biayanya tapi agar Keken keluar rumah jadi dia bisa menghirup udara dan tidak bosan, lalu agar dia mengingat jalan dan kejadian di masa lalu karena dengan begitu Keken akan cepat sembuh. "


" Benarkah. "Farah begitu senang saat mendengar Keken akan segera sembuh.


"Setelah ini kita ke bagian obgyn ya Far, mommy kangen dengan Ghani. Sudah lama tidak melihatnya."


"Iya mom."


Dengan setia Farah menunggu suaminya selama satu jam. Ia pun melihat ibu mertuanya mengobrol dengan seorang dokter. Dan selesai terapi mereka ke tempat tante Ifa.


" Kenapa bukan Ifa." Imelda melihat dokter muda yang memakai kacamata,karena biasanya Ifa yang bertugas hari ini.


"Dokter Ifa sedang pulang kampung nyonya." jawab suster


"Oh, pantas saja aku tidak melihatnya akhir - akhir ini."


Seperti biasa Farah berbaring dan dokter menggunakan stik yang telah diolesi gel. Ia menekan-nekan perut Farah dengan lembut.


"Bayinya sedang aktif, dia berjenis kelamin laki-laki."


"Umurnya sudah tiga puluh delapan minggu, bulan depan hari persalinan."


"Jangan terlalu banyak pikiran karena itu akan mempengaruhi janin nya.


" Jangan lupa menyiapkan fisik dan mental. Bapak sebagai suami juga harus menjadi suami siaga ya pak." Dokter itu melirik kearah Keken


"Eh, iy... iya dok." Keken, lalu menatap kearah monitor yang terlihat sebuah gambar bayi.


"I... itu anakku mom?" tanyanya


"Iya sayang itu Ghani, itu anakku. Mommy merasa dia mirip denganmu, lihat bagian hidungnya mancung sepertimu."


Keken menggulum senyum, entah kenapa hatinya menghangat saat melihat calon anaknya. Seperti ada kebagiaan tersendiri.


Farah begitu senang karena respon keken seolah menerima kehadiran anaknya padahal sejak kemarin Farah berpikir kalau Keken lupa akan anaknya dan pasti tidak akan menerima, nyatanya tidak. Farah sangat bersyukur.


" Jika ingin menengok bayinya boleh tetapi jangan terlalu kasar ya pak, kasihan bayi yang di dalam kandungan. Di semester akhir memang tidak masalah untuk berhubungan badan namun perlu diketahui bahwa ibu hamil juga sudah kurang nyaman saat tidur jadi tolong dikondisikan dengan baik dan jangan sering - sering. "jelas dokter


Keken menatap Farah yang tersipu malu sedangkan dia hanya menatap datar tidak merespon ucapan dokter.


" Sudah selesai kan mom, aku ingin pulang. " Hanya itu yang Keken katakan lalu dia pergi dari ruangan itu. Farah mengikuti suaminya dan meminta Keken untuk menggandengnya.


" Ken, apa kau tidak ingin makan diluar denganku?"


"Tidak, aku lelah ingin istirahat." Keken menggandeng tangan Farah dan masuk ke dalam mobil sedangkan Imelda masuk dan duduk di kursi bagian depan.

__ADS_1


"Apa kakimu masih sakit?" tanya Farah


"Masih nyeri dan kepalaku pusing lagi." Keken memijat kepalanya yang sedikit sakit.


" Nanti aku pijitin saat kamu dirumah." Farah


" Tidak perlu Farah, Keken tidak boleh dipijat sembarangan. Tiga hari lagi kita akan kembali ke rumah sakit dan__" Imelda menggantung kalimatnya sembari menghela nafas panjangnya


"Dan apa mom?" tanya Farah


"Minggu depan Keken harus ke Singapura untuk menjalani pengobatan, ada dokter Neurologi dan fisioterapi terbaik disana."


"Aku ikut mom."


"No!! Kamu sedang hamil sayang, kamu harus disini bersama tante Navysah. Mommy, papih dan om Davian akan pergi kesana dan kemungkinan juga mommy akan operasi jantung."


"Tapi mom." Farah berkaca-kaca, benar-benar ingin bersama Keken. Farah kembali memeluk lengan suaminya. Keken hanya menatapnya datar


" Farah ini semua demi Keken agar dia cepat ingat denganmu."


"Berapa hari disana mom?"


Imelda terkekeh, bagaimana bisa Farah bertanya beberapa hari sedangkan pengobatan Keken membutuhkan waktu yang lumayan lama.


"Sekitar dua bulan."


"HAH...!! Apa!!" Farah terkesiap lagi. " Kenapa lama sekali?"


"Mau bagaimana lagi, ini semua untuk Keken."


"Mom, ijinkan aku ikut. please?" Farah menghiba


" No! Farah, kamu akan melahirkan disini bersama tante Navysah. Jika kamu ikut siapa yang akan menjagamu, mommy mohon mengertilah."


Farah mengusap airmatanya, bagaimana bisa dia jauh dari Keken lagi. Hatinya sakit dan sesak. Keken melirik istrinya yang selalu mengusap airmatanya.


" Ijinkan aku sembuh, kamu mau kan menungguku pulang. "Keken menatap istrinya dengan intens


Farah kian terisak, saat Keken memintanya untuk sabar menunggu. Ia tidak menjawab malah kian menangis keras. Harapan Farah pupus saat tahu Keken akan pergi berobat padahal ia sangat ingin disaat melahirkan anak Keken menemaninya, namun apalah daya ini semua jalan yang terbaik untuk keluarganya.


"Farah, tenang Nak! Kau dengarkan kata dokter, kau tidak boleh banyak pikiran dan stress." Imelda ingin sekali memeluk menantunya namun saat ini dia berada di bangku penumpang depan.


Keken hanya diam dan melihat Farah tanpa ada rasa ingin menenangkan ataupun memeluk wanita itu. Biarkan dia menangis sepuasnya agar lega,pikirnya.


Mobil memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di pintu utama. Farah dengan cepat masuk ke dalam mansion tanpa memperdulikan panggilan Imelda ataupun Keken. Ia menangis di kamarnya.


" Kamu persiapkan mental dan kesehatan, nanti mommy yang akan bicara pada Farah." ujar Imelda


"Biar aku yang bicara dengan Farah mom." Keken


"Baiklah terserah kamu saja."

__ADS_1


__ADS_2