
Farah merebahkan dirinya di kasur, setelah menangis kepalanya terasa pusing dan itu sering Farah rasakan.
Dan dengan tidur salah satu cara untuk mengobatinya. Farah bukan tipe orang yang suka minum obat, jika dirinya merasa tidak enak badan maka pilihan the one and only hanya tidur. Entah itu sugesti dari alam bawah sadarnya namun setelah tidur, ia merasakan badan nya sehat kembali.
Setelah dua jam tidur, badannya terasa lebih baik. Farah merasa lapar kembali dan ia teringat dengan bungkusan pemberian adiknya. Farah membuka plastik tersebut dan melihat satu kotak batagor, baso, minuman jahe kemasan dan dua buah kaos berwarna putih.
" Kaos apa ini." Farah membuka plastik bening salah satu kaos itu dan terlihat gambar perempuan bertuliskan girl.
"Drt... Drt..." satu pesan masuk ke dalam handphonenya.
"Kaos itu untuk kakak dan bang Hilman."
"Kemarin adek beli kaos couplean untuk kakak, semoga kakak suka."
Ternyata Fadil yang pemalu dan tidak banyak bicara itu membelikan Farah hadiah. Farah terharu dengan niat baik adiknya.
"Ternyata dia manis juga." ucapnya sembari tersenyum
"Drt... Drt..." Handphone Farah kembali bergetar dan terlihat satu nama panggilan.
"Kok kamu belum jemput aku!" teriak seorang gadis diujung telepon. Farah segera menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara cempreng Dini begitu nyaring.
Sudah dua tahun Farah dan Dini tinggal bersama agar biaya hidupnya lebih ringan. Hidup di Jekardah begitu mahal apalagi untuk mengontrak sebuah rumah petak. Dini dan Farah bekerja di sebuah restoran. Dini sebagai waitress, Farah sebagai asisten chef. Mereka sudah seperti saudara, dimana ada Farah disitu ada Dini. Di hari libur terkadang mereka membantu orang tua Vania yang memiliki usaha catering. Bagi mereka mencari uang jajan lebih berharga daripada nongkrong yang tidak jelas. Nasib Dini lebih baik daripada Farah, keluarga begitu harmonis dan baik, terkadang ia pulang ke rumahnya di hari libur.
Ia lebih memilih menggunakan commuter line agar bisa tidur di kereta daripada menggunakan motor saat pulang ke rumahnya. Dan tentu saja Farah akan selalu menjemputnya di stasiun.
"Lupa!" jawab Farah.
"Ah! lu Dip, kagak asyik lu. Kan gue jadi bayar ojek online, kalau sama lu kan gratis." gerutunya di ujung telepon
" Gue ketiduran tadi, ngantuk banget."
"Mana barang bawaan gue banyak banget, ini si emak bawain kita banyak makanan eh lu malah kagak jemput!" omel Dini kembali.
Setiap Dini pulang ke rumah, ibunya selalu memberi mereka banyak makanan untuk stok di kontrakan. Ibu Dini begitu baik, ia selalu berkata agar Farah dan Dini banyak makan, jangan sampai telat makan karena pekerjaan. Sehat itu mahal. Uang bisa dicari saat kita sehat,jangan sampai kita kerja keras tapi melupakan kesehatan.
"Yaudah gue jemput sekarang, lu tunggu disitu."
"Kagak usah, gue pake ojeg aja.Nungguin lu kelamaan keburu gue jamuran.Apes banget deh, gini nih kalau kagak punya pacar nggak ada yang jemput. Jones alias jomblo ngenes."
__ADS_1
Farah hanya tersenyum mendengar omelan Dini. Diantara mereka bertiga hanya Dini lah yang belum menemukan tambatan hatinya, pembawaan yang ketus dan ceplas ceplos membuat sebagian pria enggan berhubungan serius dengannya.
" Aku datang....!! "teriak Dini dari luar rumah. Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya sampai juga di rumah kontrakan.
" Ucapkan assalamualaikum! " Farah mendengus kesal, sudah kebiasaan Dini selalu datang tanpa mengucapkan salam
" Assalamualaikum Mak, salim Mak. " kelakarnya seolah mencium tangan Farah.
" Bau ****** mak tangan lu, Cuih!" Dini menatap wajah Farah yang sembab seperti habis menangis. Namun ia pura-pura tidak tahu, lebih baik membicarakannya nanti di waktu yang tepat
" Bukan ****** tapi terasi, tadi gue habis garuk - garuk hutan rimba." kelakar Farah dengan tersenyum sembari membawa beberapa plastik dari tangan Dini
" Kampret lu! Tangan suci gue ternoda dengan bau terasi si apem!" Dini langsung berlari ke arah toilet dan mencuci tangannya.
" Ngapain lu disini Vanila! "sembur Dini, saat melihat Vania sedang rebahan di kasur mereka.
" Gue Vania bukan Vanila! "
" Gue tau lu pulang ke rumah jadi gue kesini nungguin jajanan dari emak lu, hehehe. "ujarnya tanpa dosa
" Yaelah berkurang sudah makanan gue. " Dini membuka plastik dan menaruh beberapa lauk di mangkok.
Farah membawa tiga piring untuk mereka." Ayo kita makan. "
" Woi! Seharusnya gue yang ngomong begitu, gue yang bawa makanan, kenapa lu yang langsung embat." Omel Dini kembali
"Emak lu, emak gue. Makanan lu, makanan gue." Farah tanpa dosa mengambil beberapa rendang dan langsung memakannya
"Bener itu!" Vania mengikuti jejak Farah, ia menyendok makananya dan mengambil rendang jengkol.
"Temen gue emang nggak ada akhlak! Gue yang bawa belum makan, Kalian malah duluan."
"Lu belum makan Dip? Lahap bener." ucap Dini lagi
"Udah makan tadi somay dan bakso juga cemilan dari Fadil tapi gue tergoda dengan masakan emak lu jadi makan lagi deh."
"Perut karung lu!" umpat Dini
" Biar dia tambah melar, sexy, bohay jadi bang Hilman tambah klepek - klepek." ucap Farah
__ADS_1
"Lah, lu tunangan ketemu juga weekend doang, nggak jauh dari pegangan tangan mana berani si Hilman macam-macam." ucap Vania. Ia tahu pergaulan Farah yang sangat menjaga diri, Hilman pun lelaki yang baik tidak menuntut lebih walaupun statusnya sudah bertunangan. Hilman bekerja di Bogor, sedangkan Farah di Jekardah, mereka hanya bertemu saat weekend saja.
" Iya deh yang ketemuannya setiap hari. " balas Farah, Vania dan pacarnya satu perusahaan hingga mereka bisa selalu bersama.
"Apalah diriku yang hanya sendiri." Dini berakting sedih dan memeluk Farah dengan erat
"Ih, apaan sih Din. Geli tau, jangan peluk gue ah. Gue masih normal." Farah bergidik ngeri
"Dih, najis! Gue juga masih normal Farahdilla Dipta! Gue suka pisang bukan tempe mendoan!"
Mereka tergelak tawa dan mengobrol bersama hingga makanan mereka habis.
Setelah kenyang, mereka merebahkan dirinya dalam satu tempat tidur. Mereka bertiga berhimpitan, saling memeluk seolah tak terpisahkan.
" Kasurnya tambah sempit gegara ada si Vanila! Lu ngapain sih nginep disini! Rumah lu dah gede, kasur lu empuk ngapain tidur di kasur rakyat jelata." ujar Dini dengan menendang kaki Vania dari tubuh Farah. Terkadang Vania dan Dini beradu mulut dan saling menyindir namun dari mereka tidak ada yang pernah tersinggung karena sudah tahu watak dan kebiasaan masing-masing.
" Sudah kubilang, aku minta jatah makanan dari emak lu. Gue telepon Dipta, katanya lu dah nyampe di stasiun jadi gue langsung cabut kesini."
Dini mendengus kesal, kedua temannya begitu menyukai masakan ibunya.
"Yasudah, lu dah makan kan, pulang gih sana?!" usir Dini
" Gue mau tidur sama kalian, pelit amat sih!" Vania membalas kembali dengan menendang kaki Dini
"Astagfirullah, kalian itu kalau mau berantem di depan saja sana!" Farah yang berada di tengah - tengah mereka merasa kesal karena kedua temannya selalu tidak akur.
" Jangan marah dong, kita kan bercanda." Dini mendekat ke tubuh Farah
"Iya kita cuma bercanda Dip." ucap Vania dengan menyesal. Ia pun memeluk Farah juga.
"Van, ada yang empuk tapi bukan guling." kelakar Dini
" Ah, pasti saat malam pertama si Hilman ketagihan. Kagak perlu selimut dia, si Dipta bikin anget." timpal Vania
"Otak kalian mesum!" Farah menjitak kedua temannya.
"Aku... __" belum sempat Dini bicara suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Siapa??!! " teriak Dini
__ADS_1
"Astagfirullah, Dini, pelankan suara toa mu itu!" Farah terkejut saat Dini berteriak di telinganya. Sedangkan gadis itu hanya cengengesan.