
Pagi begitu cerah, di sudut utara kota Jekardah terlihat orang - orang beraktifitas seperti biasa. Ibu - ibu ada yang menyapu dan menjemur pakaian, sebagian dari mereka berangkat kerja mengais rejeki untuk menyambung hidup. Mereka tak boleh banyak mengeluh karena hidup di ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Mereka harus tahan banting, bekerja keras untuk penghidupan.
Hidup di wilayah padat penduduk dengan rumah yang saling berhimpitan membuat Farah terbiasa mendengar suara teriakan, keributan anak-anak, dan gosip - gosip miring antar tetangga serta saling mencibir. Meresahkan pasti, namun itulah kehidupan bermasyarakat yang kini dijalani Farah di kota ini.
Terlihat satu sedan hitam berhenti tak jauh dari rumah kontrakan Farah. Wilayah yang sempit tidak memungkinkan mobil itu masuk ke dalam area kontrakan. Dan kini terlihat dua orang pria berpakaian rapi serba hitam turun dari mobil tersebut. Beberapa orang wanita yang sedang menyapu kini mulai berbisik, mereka penasaran dengan pria tersebut yang berdiri di depan pintu rumah Farah.
"Siapa ya?" tanya Dini, ia melihat dua pria itu dari atas ke bawah. Perawakannya tinggi, kekar dan rapi .
"Ganteng - ganteng banget ini orang, lumayan buat gandengan." gumamnya dalam hati
"Maaf nona, kami mencari nona Farah. Bisa anda panggilkan." ucap salah satu pengawal itu, namun Dini masih melamun dengan senyum-senyum membayangkan rasanya dipeluk oleh pria itu yang pastinya nyaman untuk bersandar.
"Hallo nona, kau mendengarkan suara saya." Pria itu melambaikan tangannya di depan wajah Dini
"Eh, kenapa." Dini mulai tersadar, bangun dari lamunan konyol nya.
"Ada nona Farah?" tanyanya lagi
"Ada, kamu siapa?"
"Saya pengawal nyonya besar, kami ingin menjemput nona Farah." ucapnya dengan tegas
"Nyonya besar siapa?" tanyanya lagi. Namun belum sempat pengawal itu menjawab, terdengar suara Farah.
"Ada tamu siapa Din?" Farah keluar dengan baju santainya. Ia melihat dua pria berbadan atletis yang sedang berbicara dengan Dini.
"Maaf nona kami menganggu,kami diperintahkan nyonya besar untuk menjemput anda."
"Nyonya besar siapa?" Farah sedikit bingung, siapa nyonya besar.
"Nyonya Imelda, ibunda dari tuan Kendrew."
Deg
__ADS_1
Farah mundur satu langkah karena merasa terkejut, ia tidak menyangka nyonya besar yang dimaksud ibu dari Keken.
"Mmm.. mau apa mencariku? A... aku tidak membuat masalah." Farah terbata, takut bertemu dengan sosok ibu dari Keken yang terkesan dingin dan tidak bersahabat.
"Saya tidak tahu nona, yang terpenting sekarang anda harus ikut dengan kami."
" Kalau Farah tidak mau, gimana!" ketus Dini, walaupun sebenarnya ia juga takut dengan dua pria itu, namun Dini dengan cepat melangkah di depan Farah sebagai tameng. Ia tidak mau ada orang membawa Farah dan menyakitinya.
" Kami akan memaksanya, tidak ada bantahan dan ini wajib dipatuhi. "
"Memangnya dia siapa! Kalau ingin bertemu, suruh dia kesini bukan Farah yang kesana atau jika kau ingin membawa temanku, aku harus ikut juga. Kami akan selalu bersama - sama!" Dengan lantang Dini memberontak, padahal dalam hatinya begitu ketakutan.
"Tunggu sebentar kami akan menelepon nyonya besar terlebih dahulu." Mereka menghubungi Imelda dan menceritakan permintaan gadis itu dan Imelda mengijinkan Dini ikut bersama Farah.
Mau tak mau Farah dan Dini kini mengikuti pengawal itu, Farah ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh nyonya besar padanya.
Di dalam mobil Dini selalu berbisik, ia begitu takut melihat dua orang yang kini berada di setir mobil dan kursi penumpang bagian depan.
"Kita mau diapain?" bisiknya di telinga Farah dan hanya dijawab dengan mengedikkan bahu.
"Baguslah kalau dibunuh jadi aku tidak perlu repot-repot bunuh diri." jawab Farah sembari berbisik
"Tapi masalahnya gue belum kawin, gue kan pengen ngerasain kawin dulu baru mati. Masa gue mati dalam keadaan perawan." bisik Dini
" Bukankah itu hal yang bagus, entar kain kafan lu bisa dicolong buat jimat,kan lu masih perawan atau setidaknya kalau lu mati bekas celana d*lam lu bisa diambil dan di lempar ke atap rumah biar Jekardah kagak ujan terus, banjir di mana-mana. "
"Sial*n lu!!" umpat Dini, " Wah.. wah yang udah ngerasain pistol ajaib kini bisa ngledekin gue yang masih perawan. Perlu lu tahu, gue bukan pawang hujan. Mana ada c*lana dalam dilempar ke atap sebagai penangkal hujan. Cuih! kagak percaya gue.Emang ****** ***** gue itu si avatar pengendali elemen air. "kelakar Dini dengan lirih agar kedua pengawal itu tidak mendengar pembicaraan mereka dan Farah memutar bola matanya dengan malas
" Kok aku jadi bayangin avatar pake c*lana dalam ya Din, mana dia botak pake tanda panah dengan jurus pengendali empat elemen,hahahaha... "Ini pertama kalinya Farah tertawa keras setelah ujian berat menghantamnya dan ini membuat Dini tersenyum bahagia.
" Bisa jadi tuh celan* dalam belinya di pasar malam yang sepuluh ribu dapat dua, hihihi... "kelakar Farah lagi.
" Terserah lu deh Far, yang penting lu seneng dan bisa ketawa. "
__ADS_1
" Gue juga punya empat elemen Far. "ucap Dini lagi
" Apa? "
" Jurus elemen gratisan, diskonan, pengiritan dan tebengan. "kelakar Dini lagi
" Itu mah lu kagak modal, selalu irit, pelit medit, cimat cimit! "
" Gue bukannya pelit tapi gue lebih mentingin kebutuhan keluarga gue. "
" Far, dua pengawal itu ganteng. Jika lu bisa memilih lu mau yang mana? " bisik Dini
" Apa - apaan sih! Kalau aku bisa memilih ya pasti aku pilih bang Hilman, ngapain milih yang belum jelas. "
" Jika hanya ada dua pilihan lu pilih kanan apa kiri? "lirih Dini, ia sembari tersenyum melihat pengawal itu dari belakang.
" Pasti hangat saat dipeluk. " gumam Dini sembari membayangkan jika dirinya dipeluk salah satu pengawal itu.
" Aku pilih yang kanan. "bisik Farah," Dia berkumis tipis, coba kalau dia berkumis tebal pasti lebih tampan. "
" Nggak jelas lu, kalau kumis dia tebal seperti itu yang ada saat makan nempel tuh di kumis. Jijik ah! " lirih Dini dengan wajah cemberut
" Lah lu yang minta gue milih malah lu yang kesel, lu tuh yang aneh! "gerutu Farah
" Far, kok aku deg-degan ya. Apa kita diculik sekarang? Mereka terlihat angker "Dini bergidik ngeri melihat dua orang pengawal itu tidak tersenyum sedikitpun bahkan lebih terkesan dingin.
" Aku juga tidak tahu, tapi mereka belum seberapa. Kau tahu emaknya si pria br*ngsek itu lebih angker, auranya mencekam saat kau bertatapan dengannya." bisik Farah, namun masih bisa terdengar oleh kedua pengawal.
"Benarkah! kalau begitu seharusnya aku tidak ikut,aku masih ingin hidup.Bagaimana kalau kita kabur saja." bisik Dini
"Maaf nona, kalian tidak bisa kabur dari mobil ini. Dan perlu anda tahu, kalian tidak diculik. Nyonya besar hanya ingin bicara dengan anda. Nyonya besar tidak seangker yang kalian pikirkan." ucap salah seorang pengawal tanpa melihat kearah Farah dan dini
"Kenapa kalian bisa mendengar percakapan kami? Apa kau punya seribu telinga?" Dini
__ADS_1
" Kami sangat terlatih nona dan tolong jaga bicara anda!" seru pengawal itu
Farah dan Dini saling menatap, mereka tidak berani berkata apa-apa lagi. Terdiam dan saling berpegangan tangan. Berharap bisa kabur dari mobil itu.