Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 90 (konsep pernikahan yang tidak masuk akal)


__ADS_3

Keken mengunjungi ibunya di mansion utama. Ia mengabarkan bahwa Farah mau menikah dengannya.


Imelda yang sebelumnya menerima telepon dari Farah sudah tahu kebenarannya. Dan gadis itu meminta satu hal pada Imelda agar bisa melepaskan Hilman dari tuntutan dan ia mengiyakan permintaan Farah karena ini adalah permainannya. Ia tahu titik terlemah Farah hanya pada kedua adiknya dan sang mantan tunangan. Farah gadis yang keras kepala dan tidak bisa dipaksa dengan kekerasan, maka dari itu Imelda menyuruh Wina untuk menarik perhatian Hilman hingga terjadi baku hantam di sebuah club malam,walaupun anaknya harus menjadi taruhan.


"Apa kau tanya Farah apa alasan kenapa dia mau menikah denganmu?" tanya Imelda saat anaknya datang dengan senyuman bahagia


"Aku tidak peduli alasannya, yang terpenting gadis itu mau menikah denganku. Aku bahagia mom." Keken memeluk ibunya dengan hangat dan menciumnya berkali-kali.


"Terima kasih mom, aku tahu ini semua campur tangan mommy." Keken berkata dengan tulus.


"Sok tahu!" ketus Imelda, " Mommy tidak melakukan apapun. " Keken hanya menggulum senyum. Mommy nya memang selalu begitu seolah-olah tidak peduli dengan anaknya dan selalu bersikap dingin nyatanya dia selalu melakukan yang terbaik.


" Keken sayang mommy. " ucap Keken sembari mencium kembali pipi ibunya. Ia tahu ibunya pasti melakukan sesuatu agar Farah mau menikah dengannya,Keken ingat saat di club malam, Wina selalu meminta maaf saat menciumnya secara bertubi-tubi. Dan ini bukan sifat gadis itu. Setelah kejadian itu, Wina tidak sekalipun menelepon atau menanyakan kabar padanya dan ini bukan sifatnya. Ia pasti akan merasa bersalah saat Keken berkelahi namun nyatanya gadis itu menghilang tanpa kabar.


" Tidak usah sok sayang, pasti kamu ada maunya. Ingat ya Ken, ancaman mommy masih berlaku. Setelah kamu menikah dengan gadis itu semua fasilitas akan mommy cabut. Hiduplah dari nol bersamanya. "


"Ah, mommy padahal aku sedang merayu loh agar semua fasilitas kembali padaku, bagaimana aku bisa hidup dari nol sedangkan aku terbiasa hidup mewah sejak bayi ." Keken mendes*h kesal karena rayuannya tidak mempan pada sang ibu.


"Hukuman tetap hukuman, mulai sekarang carilah pekerjaan dan uang sendiri karena sebentar lagi berita ini akan tersebar dengan begitu masif dan mommy harus mengambil tindakan, kamu harus dinonaktifkan sementara dari perusahaan. Nilai saham pasti akan turun dengan tajam, mommy dan papih harus turun tangan untuk mengatasi masalahmu ini. "


" Siapa yang akan menggantikan mih, padahal aku sudah nyaman kerja di perusahaan itu. Banyak sekali wanita cantik dan menarik. "kelakarnya dan ia kembali mendapat cubitan dari sang ibu.


" Kamu tidak perlu khawatir, masih ada Antoni yang menghandle semuanya. Dia pintar dan rajin tidak sepertimu yang suka mengeluh dan jangan lupa kurangi bercandamu, ini tidak lucu! Sebentar lagi kamu jadi ayah kok masih kekanak - kanakan gini!"


" Ya mommy salahkan saja papi, karena aku keturunannya maka aku jadi seperti ini,jarang serius. "


Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya kembali anaknya sangat pintar menjawab dan ini seperti sifat dari Feri. Dan tidak beberapa lama, Navysah datang bersama Inha. Mereka membawa sop ayam pesanan Keken dan beberapa buah tangan.


" Adikku sayang dan tanteku yang paling cantik. "sapa Keken, namun penciumannya menangkap suatu aroma yang lezat hingga air liurnya mau menetes. Ia mendengus kearah rantang yang dibawa Inha.


" Apa ini. "dengan cepat ia merebut rantang dari tangan Inha.


" Ya ampun! main serobot saja kaya ngambil tanah orang lain. " sindir Inha sembari mengejek

__ADS_1


" Berisik lu! Ini kelihatan enak. "Keken membuka rantangnya." Tuh kan bener, sop ayam. " matanya berbinar dan ia tersenyum senang.


Imelda dan Navysah yang melihat tingkah laku Keken hanya bisa tersenyum, mereka tahu Keken nyidam sop buatan Navysah dan baru kali ini terlaksana.


" Kok tidak cium tangan tante, sudah lupa tata krama sama orangtua?" Navysah pura-pura pundung pada Keken


"Oh ya ampun aku lupa karena terlalu senang melihat makanan ini." Keken dengan cepat mencium takzim tangan tantenya. "Maaf tan."


"Bibi, bawakan aku piring dan nasi. Aku ingin makan di ruang tamu bersama tante cantikku dan adikku yang menyebalkan!" teriaknya pada pelayan


"Siap Den!" jawab pelayan


" Terus saja begitu! Bisa jadi anak mas Keken mirip denganku."


Keken menoleh kearah Inha, ia terkesiap karena Inha pun tahu kalau sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah, dan sudah pasti tantenya tahu hal ini.


"Dih! Mana ada anak mas mirip sepertimu, tidak akan!" cibir Keken


"Maafkan aku tan, aku memang pria br*ngsek karena sudah menghamili gadis orang." Keken menunduk malu


"Minggu depan." Semua orang menatap kearah Keken, terutama mommy nya.


" Secepat itu." Navysah terkesiap dan Keken menganggukkan kepala. Ia tidak peduli mommy dan tantenya kini saling menatap satu sama lain. Mereka terlihat serius saat mengobrol tentang konsep pernikahannya. Daat ini Keken hanya menikmati makanan sembari menggoda adik sepupunya.


"Sebelah sini, Ha." Keken meminta Inha memijit tangan kirinya yang terasa kebas. Sedangkan tangan kanannya masih sibuk menyuap makanan.


" Kok jadi aku yang pijitin." gerutu Inha, baru pertama kali Keken memintanya untuk memijit tangan, biasanya saat Keken sakit pak Amin lah yang selalu siap siaga memijitnya.


"Tidak tahu, mas hanya mau kamu yang pijitin mas." kilahnya


"Sebelah sini, Ha." Keken meminta Inha memijit punggungnya dengan lembut hingga terdengar suara Keken yang bersendawa keras. "Heeee..."


"Jorok, Ih!" Inha memukul punggung Keken dengan keras

__ADS_1


"Busyet...!! Tenaga samsonwati kenceng amat, tambah pegel ini punggung mas." ucap Keken, "Inha wanita yang terbiasa olahraga taekwondo, saat ia memukul akan terasa lebih sakit.


" Kalau bukan kakak sepupu sudah aku cekik ini orang! "seru Inha seolah mencekik leher Keken


" Ampun, princess Inha. Ampun nyai ratu. "kelakar Keken, ia selesai makan dan mengerjai adiknya dengan gaya cengengesan.


" Mau konsep pernikahan seperti apa Ken? "tanya Navysah, ia yang beberapa kali menikahkan anaknya kini dengan sigap membantu Imelda yang baru pertama kali akan mengadakan pesta pernikahan untuk anak satu-satunya. Sudah pasti harus meriah karena mereka bukan dari kalangan biasa apalagi Imelda orang yang berpengaruh di perusahaan.


"Konsepnya pengen outdoor dengan nuansa alami." ucap Keken


"Tan, aku ingin Farah memakai gaun sepanjang tol Cipali, outdoor dengan konsep hutan seperti hutan Amazone, lucu kali ya tan konsep out of the box nya." ia memikirkan hal yang tidak masuk akal dan menyebalkan bagi semua orang yang kini sedang menatapnya dengan tajam.


" Konsepnya tambahkan saja anaconda dan piranha biar semua orang dimakan oleh mereka! "Navysah semakin kesal saat Keken tersenyum lebar.


" Wah, ide bagus tan. Boleh itu. " timpalnya


" Tambahkan saja singa, gorila, ikan arapaima gigas dan aligator biar acara mas Keken tambah meriah dengan kehadiran mereka. " celetuk Inha, ia pun ikut gemas dengan Keken. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa kesal karena tidak masuk akal.


" Ide yang bagus. " jawab Keken tanpa merasa bersalah. Ia kembali menyuap sop itu hingga licin tandas


" Wah sepertinya anakmu sudah tidak waras mbak! " Navysah menggelengkan kepala melihat Keken yang selalu tersenyum lebar.


" Aku juga ingin mencekiknya sampai mati." Imelda pun tak kalah kesal melihat anaknya yang selalu tersenyum bahagia


" Mom, nanti pestanya harus meriah dan jangan lupa sewa biduan si goyang arwah, Keken bakalan joget sambil sawer hahahaha..." Permintaannya kembali tidak masuk akal, mana mungkin Imelda menyewa biduan dangdut karena itu bukan levelnya. Namun, anaknya memang berbeda dengan sang ibu,ia suka dengan hiburan ala dangdut.


" Si pemilik goyangan arwah, maksudmu si kuntilanak rambut merah." timpal Navysah, ia yang suka dengan musik dangdut selalu melihat acara musik dan selalu menjuluki kuntilanak rambut merah karena biduan itu selalu menyemir rambutnya dengan warna merah.


"Iya tan, pasti rame kan kalau ada biduan itu kan lagi viral." Keken dengan semangat membicarakan sosok biduan yang kini laris manis wara wiri di televisi.


"Bagus itu, tante juga suka dengan biduan itu. Lucu kalau goyang. Seperti ini." Navysah memperagakan goyangan arwah sembari menyanyi menirukan lirik lagu sang biduan.


Imelda dan Inha yang melihat kegilaan mereka hanya bisa saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Kalian memang sama-sama gila!" kesal Imelda, ia masuk kedalam ruang kerjanya daripada berbicara dengan dua manusia yang tidak waras.


"Aku malu dengan keluarga ini." Inha pun masuk ke dalam kamar tidurnya, ia tak mau melihat ibunya yang sedang berkonser ria bersama Keken.


__ADS_2