
Farah telah berdandan rapi dan ia memesan ojek online untuk pergi ke pasar. Ia terpaksa mengelabuinya dengan cara seperti ini,karena pengawal mommy Imelda tidak pernah sedikitpun beranjak dari tempatnya. Mereka selalu mengawasi kegiatan dia dan Keken.
Setelah masuk ke dalam pasar, ia mencari celah agar kedua pengawal itu tidak menemukannya. Farah keluar dari pintu belakang dimana tukang ojek berjejer rapi menunggu pelanggan, lalu Ia pergi ke sebuah Cafe di daerah Pluit.
" Akhirnya kamu datang juga." Hilman tersenyum saat melihat Farah datang, terlihat sangat cantik dengan long dress berwarna pink. Sangat Manis.
Farah duduk tepat di depan Hilman, mantan tunangannya dulu. Wajah Hilman sedikit tirus dan ditumbuhi kumis tipis. Rambut semakin gondrong seolah tidak terawat. Hati Farah terasa sakit saat melihat mantan tunangannya, gara - gara gagal menikah Hilman frustasi dan kian lusuh.
" Aku sudah memesan makanan kesukaanmu." ucapnya sembari menatap intens wajah Farah yang kian chubby. Wanita yang pernah menghiasi hatinya kini milik orang lain. Menyedihkan.
"Bang, apa yang ingin abang bicarakan padaku?" tanyanya
"Makanlah terlebih dahulu." Hilman mengiris steak kemudian menyodorkan pada Farah.
"Jus alpukat, baik untuk kesehatanmu dan calon bayi."
Farah berkaca-kaca, Hilman masih sangat peduli padanya walaupun sekarang ia telah menjadi milik orang lain. Farah meremas kedua tangannya.
"Mau aku suapin?"
"Tidak bang!" tolak Farah, ia segera menyuap makanan yang dipesankan Hilman. Mereka saling terdiam, hanya sesekali Farah berani menatap mantan tunangannya, sedangkan Hilman ia selalu menatap dengan intens wajah mantan kekasihnya.
" Perutmu sudah terlihat membesar, apa kau sudah cek ke dokter kandungan?" tanya Hilman
" Apa jenis kel*min nya?" tanyanya lagi
"Aku belum cek ke dokter kandungan, jadi belum tahu dia laki-laki atau perempuan."
"Bagaimana kalau kita kesana sekarang, bukankah dulu kita pernah bermimpi untuk pergi ke dokter kandungan bersama dan melihat anak kita." Hilman mencoba mengingatkan kembali masa lalu mereka, impian mereka untuk bisa ke dokter kandungan bersama dan mengecek kehamilan Farah namun takdir berkata lain.
Farah tidak kuasa menahan airmatanya, sakit itu yang dia rasakan. Impian bersama Hilman hancur berkeping-keping karena dia hamil dengan pria lain.
"Tidak usah bang, ini bukan tugas abang. Dan maafkan aku karena menyakitimu." ucap Farah sembari menghapus jejak airmatanya.
"Ini semua bukan salahmu, tapi salah pria itu dan sampai anak ini lahir, aku akan menunggumu, Far."
__ADS_1
"Maukah kamu menikah denganku setelah bayi itu lahir, kita bisa memulainya dari awal lagi." Hilman membuka sebuah kotak kecil berisi cincin. Sebuah cincin pernikahan yang belum sempat ia sematkan di jari manis Farah.
"Abang..." lirihnya, Hati Farah kian porak poranda saat melihat Hilman melamarnya kembali.
"Aku mohon kembalilah padaku." pinta Hilman dengan wajah memelas. " Kita rajut mimpi kita lagi setelah kamu cerai dengannya, aku akan menunggumu hingga bayi ini lahir. Aku tidak peduli bayi ini akan bersama kita atau bersama pria itu, yang terpenting kita menjadi keluarga kecil yang bahagia. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menganggap bayi ini anakku, sayang. "
Airmata Farah kian tak terbendung saat Hilman mencium tangannya dengan lembut. Wanita mana yang tidak bahagia saat pria yang dicintai nya kini memintanya untuk kembali, namun di satu sisi ia bimbang dengan perasaannya sendiri. Farah masih memikirkan bayi nya, ingin dipertahankan atau menyerahkan nya pada keluarga Keken.
"Jangan ragu denganku, sayang." Hilman melihat keraguan du wajah Farah. " Aku sangat mencintaimu sampai detik ini."
"Abang..." lirih Farah, ia selalu menangis saat melihat wajah Hilman. Ada rasa bersalah di hati Farah namun bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa terulang kembali dan nyatanya dia hamil anak Keken.
Hilman menyerahkan kotak berisi cincin itu ke tangan Farah. "Simpan ini, aku harap kamu mau menerimaku kembali. Pakailah jika kamu sudah siap"
Diantara kebimbangannya mau tak mau Farah menerima kotak cincin itu, Hilman masih sama bukan pria yang selalu memaksakan kehendaknya. Ia akan sabar menunggu jawaban dari Farah.
"Jangan menangis lagi, aku tidak mau kamu sedih." Hilman mengusap jejak airmata Farah dan mengelus rambutnya seperti biasa.
"Apa pria itu menyakitimu?"
" Jangan jatuh cinta padanya, cukup aku saja yang di hatimu." pintanya. Hilman kembali mencium tangan Farah dengan lembut namun tanpa disadari ada seseorang yang melihat mereka dari balik kaca di tempat yang sama. Ia mengeraskan rahangnya.
Keken
Ia meeting di sebuah Cafe untuk bertemu dengan sekretaris pak Michael, ayah dari Michelle. Ia merasa berterima kasih dengan wanita itu karena telah membantunya untuk membuat pertemuan dengan bos nya . Dan Keken meeting sembari membahas beberapa kerjasama diantara dua perusahaan mereka. Khaffi yang ditunggu tidak kunjung datang, seharusnya ia membawa beberapa berkas yang harus ditangani oleh tuan Michael lagi.
Namun saat meeting berlangsung ia menangkap sesosok pria yang ia kenal. Mantan tunangan istrinya, namun Keken tidak peduli. Anggap saja tidak melihatnya karena memang mereka terpisah oleh sebuah kaca pembatas berwarna hitam. Kaca yang tidak bisa dilihat dari luar namun tampak dari dalam. Keken bisa melihat pria itu sedang sibuk menelepon seseorang.
Yang lebih mengejutkan lagi saat Keken tahu siapa yang pria itu temui, ternyata istrinya sendiri. Si*l!
Farah ternyata berbohong padanya, ia bilang ingin istirahat nyatanya dia bertemu secara diam-diam dengan mantan tunangannya. Keken bertambah kesal, ternyata Farah memakai dress hamil pemberian darinya . Long dress berwarna pink. Padahal Keken berharap istrinya bisa menggunakan disaat dirumah atau saat mereka pergi bersama ke klinik, tapi nyatanya Farah menggunakan dress itu untuk menemui sang mantan. Benar-benar si*lan!!
Keken masih sabar dan melirik beberapa kali kearah istrinya. Namun kesabarannya habis saat pria itu berani menyentuh wajah istrinya dan saat tangan Farah dicium pria itu, Keken tidak terima. Ia berusaha menyelesaikan meeting nya dengan segera dan ingin melabrak istrinya.
"Kau disini." Keken mendekat kearah Farah. Istrinya menoleh lalu terkesiap saat melihat Keken di Cafe yang sama.
__ADS_1
"Ke.. Keken." lirihnya
"Sudah selesai, ayo kita pulang." Keken seolah tidak tahu, ia masih bersikap tenang dan tidak ingin membuat keributan.
" Masih ada yang ingin dibicarakan." ucap Hilman
"Ya sudah, aku tunggu disini juga." Keken menarik sebuah kursi tepat disisi Farah. Istrinya begitu salah tingkah seolah tertangkap basah sedang selingkuh.
"Abang, aku pulang dulu." Farah menarik lengan suaminya agar cepat meninggalkan Cafe itu. Farah tidak ingin terjadi keributan antara Keken dan Hilman. Namun saat diparkiran Hilman mengejar dan menahan lengan Farah.
"Tunggu dulu, ini ketinggalan." Hilman menyerahkan kembali kotak cincin yang belum sempat Farah bawa karena terlalu gugup saat menarik suaminya.
"Apa-apaan ini!" Keken mulai terpancing saat melihat kotak cincin itu lagi dan saat Hilman menyentuh tangan istrinya.
"Lepaskan!" ia menepis tangan Hilman dari tangan istrinya
"Sudah, sudah. Aku ambil cincin ini." Farah menarik cepat kotak cincin itu dari tangan Hilman. "Ayo kita pulang." Ia menggandeng tangan Keken agar segera mengikutinya dan pergi dari Cafe ini.
"Tunggu dulu!" Keken menepis tangan istrinya, ia begitu geram saat Farah menerima cincin itu. " Buang cincin itu!" ia menatap tajam pada Farah, istrinya benar-benar membuatnya kesal.
"Kenapa kamu memaksanya untuk mengembalikan cincin itu! Jangan bertingkah seperti suami sungguhan karena setelah Farah melahirkan dia akan bersamaku lagi!" Hilman sengaja menyulut emosi Keken
"Kurang ajar!" Keken merangsek dan memukul wajah Hilman dengan keras hingga teriakan Farah begitu menggema.
"Keken, jangan Ken!!" Farah berteriak dan menahan tangan suaminya agar tidak memukul Hilman lagi. "Jangan Ken, aku mohon!"
Hilman tak mau kalah, ia pun memukul balik wajah Keken saat pria itu lengah. Mereka saling baku hantam hingga beberapa orang dan security ikut membantu melerai mereka.
"Khaffi, cepetan bantu Keken!" teriak Farah saat melihat Khaffi yang baru saja turun dari mobilnya.
Khaffi sempat bingung dengan kejadian ini, Keken menghajar seorang pria namun saat melihat wajah pria itu, Khaffi mengerti bahwa Keken sedang berusaha melindungi miliknya.
"Ayo cepetan masuk." Ia bergegas ikut menahan tubuh Keken dan membawanya ke dalam mobil. Tak ingin berlama-lama di tempat itu karena takut polisi datang dan akan lebih panjang urusannya, Sedangkan Hilman hanya tersenyum menyeringai.
"Dia milikku, aku akan mengambil apa yang kamu rebut dariku!!! " teriak sembari menyentuh bekas luka di bibirnya karena pukulan Keken.
__ADS_1