
"Lepas Fa!" seru Keken, setelah melihat Hilman pergi baru Fafa melepaskannya.
"Seharusnya kamu jangan tahan aku, biarkan aku hajar dia!" teriaknya
"Tidak usah sok jagoan! Memangnya dengan menghajar pria itu kamu bisa tenang, tidak kan." ucapnya
" Dia itu sengaja memancing emosimu agar kalian baku hantam dan ia bisa menjebakmu untuk masuk penjara."
"Aku sengaja memilih tempat ini, kau lihat disana ada kamera cctv tersembunyi. Jadi, jika kalian baku hantam maka aku akan mengambil rekaman itu sebagai bukti." Fafa menunjuk ke sebuah pohon yang ternyata dipasang cctv kecil yang tersembunyi.
"Kamu itu seharusnya berpikir pakai otak bukan pakai selangk*ngan. Kau tidak kasihan dengan Farah jika kau masuk bui." Kali ini Fafa memberi nasihat berkali-kali pada Keken.
"Jika kau cinta dengan gadis itu seharusnya kamu buktikan kalau Farah juga mencintaimu, bukan malah berkelahi dengan pria itu. Jika tadi aku tidak menahanmu, aku yakin Farah akan bertambah kesal dan tidak mau lagi denganmu, dia masih menyukai si Hilman. Kau dengar itu! "
Keken meraup wajahnya, entah kenapa ia tidak bisa menahan emosinya saat berhadapan dengan Hilman, mungkin saja ia merasa insecure karena istrinya masih berhubungan dengan pria itu.
" Kau memang sepupuku yang paling mengerti. "Keken memeluk Fafa
" Apaan sih, Ken! Jangan peluk seperti ini, aku merasa jijik. Mereka pasti mengira kita terong - terongan. " Fafa bergedik ngeri dan melihat beberapa orang melihat kearahnya dengan tatapan geli.
Keken hanya tersenyum sembari mengerlingkan mata pada orang-orang yang melihat kearahnya dengan bergaya ala wanita.
" Dih! Najis. Pria gila itu sepertinya me sum, mereka berduaan di tempat seperti ini." ucap salah seorang wanita yang melewati mereka
"Woi...!! Masih banyak wanita kenapa memilih pria. Kalian hom*!!
" Ganteng - ganteng suka terong - terongan. "
Fafa heran kenapa orang yang melewatinya menatapnya dengan jijik bahkan mengumpatnya, lalu ia melihat kearah Keken. Dan benar saja pria itu masih saja mengerlingkan matanya menggoda setiap wanita yang lewat.
" Sialan lu!! umpat Fafa," Gue hampir aja marahin mereka karena ngomongin kita yang tidak - tidak eh ternyata emang lu yang bikin masalah, pantas saja mereka berpikiran negatif tentang kita!"
" Emang bener - bener lu Ken, biang masalah! "umpatnya
Fafa begitu kesal karena Keken bercanda dengan kelewatan, menggoda wanita dengan gaya setengah wanita. Amit - amit.
" Belum dikasih jatah Farah lu makanya begitu, minum obat biar waras dikit! "Fafa berkata dengan kesal.
" Memang iya, si Kenzi teriak mulu saat dekat dengan dia. Selama menikah si Kenzi hanya muntah dua kali itupun gue akalin si Farah makanya dia mau. "
Fafa tergelak tawa, Keken yang biasa bercinta dengan wanita kini hanya merasakan hubungan suami istri dua kali semenjak menikahi Farah. Kasihan sekali nasibnya.
" Gunakan akal bulusmu, biasanya juga lu hebat ngadalin wanita masa bini sendiri kagak bisa!" Namun Fafa masih menggulum senyum.
"Tenang saja! Gue bakal bikin Farah yang minta." Dan mereka tertawa bersama menceritakan kehidupannya masing-masing.
Keken menghubungi istrinya namun tidak pernah diangkat, ia ingin memberitahukan bahwa dia tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan. Antoni sakit dan mau tak mau Keken yang harus menghandle pekerjaan nya.
"Mungkin dia masih marah, ya sudah besok aku hubungi dia lagi."
__ADS_1
Keken menginap di mansion ibunya sembari mengerjakan tugas Antoni yang belum sempat ia kerjakan.
Disisi lain,
Farah kesal karena Keken tidak pulang bahkan suaminya tidak mengirimkan pesan untuknya. Keken hanya telepon namun ia tidak mengangkatnya karena ketiduran.
"Hari ini dia pasti pulang kan? gumamnya dalam hati. Ia khawatir Keken tidak pulang lagi karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ia merasa gelisah, hatinya tidak tenang namun ia juga malas untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.
" Apa Keken marah padaku?" tanyanya bermonolog, " Seharusnya aku yang marah kenapa dia tidak merayuku lagi." Farah hanya menghembuskan nafas panjangnya.
"Farah..." suara wanita terdengar dari luar pintu, dengan cepat Farah membukanya dan melihat Vania.
"Kau datang?" Farah melirik jam di dinding, ini sudah jam sembilan malam tapi Vania mengunjunginya.
" Aku membawa banyak makanan, ayo kita makan." ujarnya sembari melirik kearah dalam, mencari seseorang.
"Keken belum pulang?" tanyanya
"Tidak usah pura-pura, kamu pasti sudah tahu dari Dini." Farah menggerucutkan bibirnya, Vania seolah pura-pura tidak tahu tentang kondisi rumah tangga nya bersama Keken.
Ia tergelak tawa, memang benar tadi sore Dini menghubunginya dan mengatakan bahwa Keken dan Farah sedang bertengkar bahkan pria itu tidak pulang ke rumah.
Kau sudah tahu, si brengs*k itu dimana?"
Farah menggelengkan kepala.
"Kok bicaranya begitu, Keken pasti pulang." Farah begitu yakin suaminya akan pulang malam ini.
" Pastikan dulu dia pulang atau tidak, jika dia pulang itu lebih bagus jika tidak, aku akan menginap disini."
"Tidak mau ah! Masa aku duluan yang telepon dia."
"Oh ya ampun, kau masih saja keras kepala. Memangnya kamu mau Keken tidur di rumah wanita lain. Ingat, suamimu kaya dan tampan banyak wanita yang mau dengannya. Vania sengaja menakut - nakuti teman nya agar mau mengikuti saran nya.
Dengan menggerutu Farah menghubungi suaminya. Setelah tiga kali panggilan baru Keken mengangkatnya.
"Kamu dimana?" tanyanya dengan ketus. Vania hanya menghela nafas panjangnya karena Farah tidak pernah lembut saat bicara dengan Keken.
"Di mansion mommy."
"Kamu pulang kan?"
"Tidak! Mungkin seminggu lagi baru pulang karena aku banyak kerjaan. Antoni sakit jadi aku harus mengurus kerjaan nya." bohong Keken. Ia sengaja membuat Farah kesal karena terlalu lama ditinggal olehnya.
"Kok lama!" Benar saja, istrinya merajuk dan protes.
"Ini tuh tugas negara, kamu tenanglah nanti aku pulang seminggu lagi." ujar Keken sembari menahan tawa
"Bilang mommy, minta kerjaan di Utara saja jangan disana."
__ADS_1
"Tidak ah! Enakan disini, aku bisa cuci mata karena banyak cewek cantik. Kalau di Utara aku harus kepanasan karena kerja lapangan dan yang aku lihat disana hanya mandor dan pekerja bangunan."
"Yasudah, aku kerja dulu. pekerjaanku sangat banyak." Keken menutup telepon nya secara sepihak dan itu membuat Farah bertambah kesal.
"Vania bagaimana ini, Keken tidak akan pulang seminggu ini. Dia memilih kerja di kantor Selatan karena disana banyak wanita cantik. Aku benar - benar kesal padanya." Farah mulai berkaca-kaca, ia mengira Keken akan pulang nyatanya tidak.
"Besok kamu samperin ke rumah mommy, beneran tidak dia disana."
"Bawain dia makanan kesukaan nya dan rayu dia agar pulang bersamamu."
"Aku tidak tahu makanan kesukaan dia apa dan mana bisa aku merayu pria." Farah menghembuskan nafas panjangnya
"Apa!! Selama menjadi istri Keken kamu tidak tahu pria itu suka makan apa." Vania menggelengkan kepala tidak percaya, Farah begitu tidak peduli dengan suaminya.
"Kalau aku jadi Keken pasti aku sudah selingkuh!" ucapnya
"Kok kamu ngomongnya gitu!" Farah berkata dengan kesal.
"Ya jelas saja Farah, dia selalu tahu apa yang kamu inginkan, selalu perhatian tapi nyatanya kamu tidak ada perhatian sama sekali dengannya."
"Lalu aku harus bagaimana? " tanyanya lagi
"Bawakan dia makanan."
"Kalau dia tetap tidak mau pulang, bagaimana."
"Belum apa-apa sudah pesimis, kalau dia tidak mau pulang beri dia service luar dalam."
"Maksudnya?"
Vania begitu gregetan dengan sifat Farah yang polos, hingga ia tidak tahu bagaimana cara menservice suami.
"Beri dia ah, ah, ah..." Vania men desah, kata ini yang paling mudah dipahami oleh Farah.
"Apaan sih lu Van, nggak jelas banget!" Farah mendelik kesal karena Vania memberikan saran yang tidak masuk akal untuknya.
"Dih! Sudah halal masih saja malu, kalau lu butuh tinggal minta dan gue yakin Keken pasti kasih. Emang lu kagak ketagihan?"
Wajah Farah memerah, ia memang tidak bisa menyembunyikan kebohongan nya.
"Tidak usah jawab, gue sudah tahu jawaban nya. Masih butuh saja gengsi!" sindirnya
"Vania, ihhh..!" Farah mencubit lengan teman nya dengan gemas.
" Sudahlah aku tidak mau bertengkar, TERSERAH KAMU. " Ia menekankan kata terakhir. Vania membuka bungkusan makanan, ia membeli sate padang dan gorengan. Farah menelan saliva saat melihat semua makanan itu.
"Ayo kita makan, anakmu pasti kelaparan."
Sembari bercerita masa lalu mereka menyantap makanan pengganjal lapar. Tak lupa Vania menyisihkan satu bungkus makanan untuk Dini.
__ADS_1