
Keken masih setia menunggu Farah siuman. Saat Farah pingsan tadi, Keken segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia begitu mengkhawatirkan kondisi Farah. Tubuh gadis itu terasa ringan saat digendong Keken. Wajahnya pucat dan tampak jelas lingkaran hitam di sekitar matanya.
"Anda tenang saja pak, kondisi ibu hamil memang rentan sakit, apalagi saat awal kehamilan. Istri anda hanya kurang cairan, dan asupan gizi, sepertinya istri anda mengalami morning sickness yang cukup parah. Saya sarankan besok pagi periksakan istri anda ke bagian obgyn." ujar dokter itu.
" Baik dok. " balas Keken. Saat ia membawa Farah ke rumah sakit, Keken sengaja mengaku bahwa dia suami Farah dan ia juga mengatakan bahwa istrinya sedang hamil. Keken ingin ada tindakan yang tepat untuk Farah, ia begitu takut dokter memberi obat yang salah dan berakibat fatal pada janin nya.
Keken selalu mengenggam tangan Farah ,seolah tidak ingin melepaskannya. Beberapa kali ia mencium kening dan punggung tangan Farah.
Khaffi yang melihat raut wajah Keken begitu serius kini hanya bisa menggulum senyum, ia tidak menyangka teman gilanya itu benar-benar jatuh cinta pada gadis sederhana itu.
"Apa ini yang terakhir?" tanyanya tanpa melihat kearah Keken
"Tanpa menjawab pun kamu sudah tahu jawabanku." ketus Keken
"Akhirnya si Pangeran Modosa akan menjadi calon ayah, aku tidak menyangka. Aku harap kamu bahagia dengannya walaupun ini tidak mudah." Khaffi menggelengkan kepala, ia tahu pengorbanan Keken saat mengejar cinta Farah.
Khaffi mengingat kembali saat di perusahaan. Ia melihat Keken yang panik setelah mendapat telepon dari pengawal bahwa Farah akan bunuh diri. Keken bilang bahwa Farah hamil anaknya. Ia sempat melolong saat tahu kebenarannya, namun dengan cepat dia tersadar karena Keken meminta bantuan nya untuk mencari Farah.
"Kamu sudah tahu konsekuensinya kan? Mommymu tidak akan tinggal diam." Khaffi sangat tahu tentang perjanjian Keken dan ibunya
"Aku tahu dan aku sudah siap untuk semuanya. Aku harus siap apapun yang terjadi."
" Sebelum semuanya terlambat, transfer semua asetmu ke rekeningku agar kau bisa hidup setidaknya untuk dua tahun kedepan. Hidup dari awal itu sangat menyusahkan, Ken." ujar Khaffi
" Tapi sayangnya semua ini sudah terlambat, mommyku selalu satu langkah dariku. Semua asetku sudah dibekukan. " Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya. Saat ia akan membayar tagihan rumah sakit dengan black card miliknya, transaksi itu tidak berhasil. Hingga akhirnya ia menggunakan kartu gold yang tersisa sedikit di tabungannya. Keken sempat mengecek seluruh tabungan nya namun hasilnya nihil, semua dibekukan tanpa ia sadari.
" Ratu Medusa memang luar biasa, aku begitu kagum dengan kepintarannya dan ia juga begitu menyeramkan, hii..." Khaffi bergidik nyeri.
Keken kembali menghela nafas panjangnya, ia tahu kedepannya akan seperti apa jika ibunya sudah turun tangan.
Saat ia menutup wajah berpikir keras untuk kedepannya, kini tangan Farah mulai bergerak. Matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
"Farah kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?" tanyanya
Farah memegang kepalanya dan melihat kearah kanan kiri, seolah asing berada di tempat yang serba putih. Dan saat tahu pertama kali yang dilihat adalah Keken, ia dengan cepat menepiskan tangannya.
"Lepaskan...!!" Farah menatapnya dengan tajam dan membalikkan tubuhnya. Entah kenapa dengan melihat Keken hatinya bertambah buruk, kesal dan ingin berteriak.
"Maaf." satu kata yang meluncur dari bibir Keken. "Aku tahu aku salah, tapi ku mohon kamu mau makan terlebih dahulu. Ini demi anak kita."
"Ini anakku bukan anakmu." Farah menatapnya dengan tajam.
" Aku tidak mau melihatmu karena itu membuatku bertambah kesal, sangat kesal!" ketusnya
"Aku membencimu!!" teriak Farah lagi
"Oke, oke. Aku akan keluar dari ruangan ini tapi bisakah kamu berjanji, setelah aku keluar kamu harus makan." pintanya
__ADS_1
Farah tidak menjawab, ia masih membalikkan tubuhnya.
Keken meminta Khaffi untuk menjaga dan membantu Farah agar mau makan, sedangkan ia keluar ruangan entah kemana.
" Dia sudah pergi. "ucap Khaffi," Makanlah,tadi aku yang membeli semua makanan ini bukan dia. "sambungnya lagi. Ia memang membeli semua makanan dan buah sesuai perintah Keken. Ia sengaja bicara seperti itu agar Farah mau makan.
" Apa ini semua kamu yang beli? "Farah meyakinkan kembali. Ia tidak mau jika Keken yang membelinya
" Iyalah masa iya dong. Duren aja dibelah bukan dibedong. "kelakarnya."
Apa mau aku suapin? "
" Aku bisa makan sendiri. "Farah buru-buru mengambil sendok dan memakan nya. Ia tidak terbiasa disuapi oleh pria lain selain adiknya, Fadil.
" Ada martabak juga, apel dan anggur. Apa kau mau? "
Farah menganggukkan kepala, ia benar-benar sangat lapar. Ia menikmati makan malamnya dengan penuh semangat dan beberapa kali tersenyum kearah dengan Khaffi. Keken yang sedang mengintip di balik pintu kini merasa lega karena Farah makan dengan lahap.
Keken kembali duduk di kursi luar sembari mengecek ponselnya. Ia hanya bisa menghela nafas panjangnya saat menerima pesan dari Antoni untuk jadwal besok.
"Mommy..." Keken melihat ibunya datang bersama sang ayah.
" Mommy, aku__" Keken tidak melanjutkan ucapanya karena sang ibu memberi tanda padanya untuk diam.
"Mommy tahu apa yang akan kamu tanyakan, kita bicarakan di rumah saja. Sekarang, mommy ingin melihat keadaan gadis itu."
Dulu Keken sempat menolak untuk menikah muda karena dia masih ingin bersenang-senang, sedangkan kedua orang tuanya sudah menua. Feri takut akan meninggal sebelum melihat cucu keturunannya.
"Dasar suami gila! Anak ngehamilin gadis itu malah senang bukan kepalang." kesal Imelda, sejak memberi kabar pada suaminya tentang Keken dan Farah, Feri malah tertawa bahagia seolah tidak ada beban. Bahkan dia menelepon beberapa kerabat kalau dia akan menikahkan Keken segera karena menghamili anak gadis orang. Gila.
" Aku senang akan punya cucu, aku akan pamer sama Davian.Emang dia aja yang bisa punya cucu, gue juga bisa!" ujarnya. Feri begitu iri dengan kehidupan adik iparnya yang begitu bahagia apalagi saat mereka menimang cucunya. Feri pun sangat ingin memilikinya.
Imelda hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia masuk ke dalam ruangan Farah.
" Sebentar lagi kamu jadi ayah, kenapa wajahmu seperti itu." Feri melihat anaknya dengan wajah kusut dan tidak bersemangat
"Dia hamil tapi masih saja menolakku untuk bertanggung jawab. Dia tidak mau menikah denganku pih." Keken menundukkan kepalanya.
" Baru kali ini papih melihatmu insecure seperti ini. Kendrew Putra Feriansyah, cuma segini nyalimu untuk mendapatkan gadis itu! " ejek Feri
" Aku memang tidak percaya diri saat berhadapan dengannya. Dia masih mencintai pria itu, pih."
" Papih akan membuat jawaban dia yang tadinya tidak menjadi iya. Kamu tenang saja, serahkan semuanya pada papih dan mommymu. Pernikahanmu akan segera dilaksanakan, kamu tidak perlu khawatir tapi ingat, perjanjianmu dan mommymu itu tidak bisa dibatalkan. Kamu harus menanggung resiko dari kesalahanmu, kamu harus mulai dari nol. Kamu mengerti kan maksud papih. "
" Iya, Keken tahu. Dan Keken yakin Farah mau menerimaku apa adanya, dia terbiasa dengan kesederhanaan dan aku akan berusaha maksimal untuk membahagiakan dia walaupun ini terasa sangat sulit. "
" Kamu jangan khawatir, jika kau butuh sesuatu hubungi papah. Ingat, ini hanya kita berdua yang tahu jangan beri tahu mommymu karena itu berbahaya, bisa- bisa papih tidak dapat jatah olahraga malam, hehehe." Disaat seperti ini ayahnya masih bisa berkelakar, namun ini yang Keken suka dari sosok ayahnya. Ia selalu menghibur dan menjadi orang nomor satu yang selalu mendukungnya.
__ADS_1
" Keken sayang papih. " ia memeluk ayahnya dari samping.
" Dih! sudah mau jadi ayah modelnya masih gini, malu sama kumis atas dan kumis bawah." bisiknya di telinga Keken.
Mereka tertawa bersama dan seolah tak ada beban yang dipikirkannya.
Sedangkan di ruangan lain,
Imelda masuk dan melihat Farah makan dengan lahap ditemani Khaffi.
" Tante. "sapa Khaffi, ia mencium takzim dan memberi kursi pada Imelda agar bisa duduk di dekat Farah.
" Aku keluar dulu tan. " pamit Khaffi, ia pergi dari ruangan itu karena sudah ada tante Imelda yang akan menemani Farah dan sudah pasti mereka akan berbicara serius.
"Apa cucuku begitu merepotkan?" tanya Imelda, ia melihat wajah Farah yang semakin tirus dan kurus.
" Tidak mih, hanya saja mual di pagi hari dan akhir - akhir ini memang aku malas makan."
"Besok kita ke dokter kandungan dan mommy tidak mau kamu menolak. Mommy ingin melihat calon cucu mommy." ucapnya sembari mengupas kulit buah apel dan memberikannya pada Farah
"Terimakasih." Farah menerima buah itu dan memakannya.
"Dia masih menunggumu di luar, apa boleh dia masuk?" tanya Imelda
"Aku tidak mau!" Farah menggelengkan kepala, "Aku benci sama dia mih, kesel banget, rasanya aku ingin memukulnya sampai dia pingsan!"
"Pukul saja, biar hati kamu merasa tenang dan lebih baik. Mommy ikhlas kok."
Farah menatap wajah Imelda dengan menelisik, baru kali ini ada orangtua yang memperbolehkan untuk memukul anaknya. Biasanya mereka akan melindungi anaknya jika terjadi suatu masalah.
" Memangnya mommy tidak takut kalau Keken babak belur? Dia kan anak kesayangan mommy."
" Kalau anak salah tidak boleh dilindungi, dia harus mendapatkan hukuman sesuai dengan kesalahannya. Mommy pun sedih karena gagal mendidik anak, Keken seperti itu juga karena mommy yang lalai dengannya. "
" Lalu bagaimana, kamu mau menerima Keken dan menikah dengannya? "tanya Imelda lagi
" Tidak mih. " Farah menggelengkan kepala," Dia tidak menerima anak ini, dia hanya ingin bertanggungjawab karena mengira aku akan bunuh diri. "
" Benarkah seperti itu. " Imelda mengenyitkan dahi, sepertinya ada kesalahan pahaman diantara mereka berdua karena yang Imelda tahu anaknya begitu mencintai Farah bahkan tidak ingin kehilangan dirinya.
" Dia diam saat aku memberi tahu bahwa aku hamil. Mommy tenang saja, aku akan merawat anak ini sendirian. Aku tidak ingin menikah dengannya, Aku bisa melewati semua ini mih."
"Ternyata kamu keras kepala juga." ucap Imelda. " Mommy tidak akan memaksamu, tapi satu hal yang pasti, besok kita periksa ke dokter kandungan dan Keken harus ikut karena dia ayah dari si bayi."
Farah hanya diam tidak menyahuti.
"Setelah ini tidurlah, mommy akan menjagamu." Imelda mengelus puncak rambut Farah dengan lembut. Dibalik sosoknya yang terlihat galak, Imelda selalu memberikan kehangatan sebagai seorang ibu dan Farah menyukai hal itu. Dirinya merasa nyaman dan tenang saat bersama Imelda.
__ADS_1