
Esok Hari,
Farah mengulas senyum setelah kejadian kemarin Keken mulai perhatian kembali, ia juga menelepon disaat kerja. Farah sangat bersyukur keadaan rumah tangga nya mulai membaik lagi.
Beberapa kali ia melihat ponselnya dan terlihat panggilan tidak dijawab sebanyak tiga kali dari Hilman. Ia dengan cepat menonaktifkan ponselnya. Kejadian kemarin membuatku dirinya sadar bahwa Keken sangat berarti. Ia pria bertanggung jawab dan sayang dengan keluarga maka dari itu Farah memutuskan untuk menghindari Hilman. Ia mencoba membuka hati untuk suaminya.
"Pelan-pelan, aku harus mencintai suamiku dan setia dengannya." lirih Farah.
"Aku yakin, aku bisa."
Jam baru menunjukkan pukul empat sore, ia sudah memasak untuk Keken namun saat ini ia nyidam jajanan.
"Aku mau yang pedas dan berkuah. Aku akan ajak teh Cucu jalan-jalan ke depan beli makanan.
Dan mereka pergi ke perempatan jalan, tempat dimana banyak orang menjual makanan.
" Teteh dan Malika mau beli apa?
"Mmm... Malika mau beli takoyaki tan."
"Takoyaki? Benar juga, tante juga mau, sudah lama tidak makan itu."
Mereka membeli dua porsi takoyaki isi seafood yang terlihat begitu lezat.
" Teteh, mau beli apa?"
"Aku ingin mie ayam saja." ucapnya.
"Malika mau baso mah." pintanya
"Kok kamu seperti neng Farah sekarang, makannya banyak." goda teh Cucu.
"Mama juga makan nya banyak kalau malam suka buka kulkas dan makan mie instan." sahutnya. Beberapa kali ia melihat ibunya makan tengah malam.
"Kalau teteh tidak punya uang bilang padaku, jangan makan mie instan terus setiap malam. Jaga kesehatan teh." Farah, ia yang pernah mengalami masa sulit seperti teh Cucu dan hanya bisa makan mie instan disaat malam sebagai pengganjal perut.
"Teteh takut nggak bisa balikin neng, makanya makan seadanya yang penting bisa makan dan Malika, Ratih bisa sekolah dengan baik." Teh Cucu tersenyum kecut.
Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya,merasa iba dengan keadaan teh Cucu yang masih kekurangan namun semangat untuk kerjanya sangat tinggi. Ia ingin anaknya hidup dengan baik dan sekolah dengan nyaman.
" Bang, baso dua dan mie ayam satu, sambal ya dipisah" pinta Farah.
"Siap neng."
Farah membayar semuanya dan berjalan kembali.
"Aduh jadi nggak enak dibayarin neng Farah semua, teteh malu neng."
__ADS_1
" Kenapa harus malu, teteh juga baik. Saat aku tidak punya makanan, teteh yang anterin. Saat aku dan Dini sakit, teteh yang beliin obat ke apotek."
" Terima kasih ya neng, neng Farah sama Dini sudah baik banget sama teteh. Si Dini walaupun terlihat judes, kalau dikontrakan dia mau beberes dan ngasih uang jajan untuk Malika. "ucapnya
" Dini memang begitu teh, hatinya baik walaupun orangnya terkesan tidak peduli. "Farah
" Teteh sebenarnya mau ucapin terima kasih sama si kasep tapi dia sibuk terus dan jarang di rumah. Karena dia teteh dapat pekerjaan di Cafe. Mba Michelle baik orangnya, gaji teteh juga cukup untuk bayar sekolah anak teteh di kampung, coba kalau teteh masih ngojek seperti biasa mana cukup untuk sehari - hari. "
" Nanti saya sampaikan sama Keken teh, dia malam ini pulang kok. "
" Alhamdulillah ya neng, si kasep sudah tampan baik hati lagi, sayang banget sama neng. Semoga langgeng terus pernikahan neng dan kasep. "
" Aamiin... "Kali ini Farah mengamini dari seseorang yang mendo'akan pernikahan mereka.
" Neng Farah juga berubah setelah menikah dengan A kasep."
"Benarkah? Apanya yang berubah?" Farah terkekeh
"Neng lebih sering tertawa, walaupun diawal pernikahan selalu ribut sampai terdengar dari rumah teteh tapi sekarang sudah membaik. Dan Aura neng lebih bersinar berbeda saat dengan bang Hilman, neng jarang tertawa lepas walaupun tidak pernah bertengkar tapi entah kenapa sepertinya dulu menjalani hubungan yang datar. "
Farah mencerna perkataan teh Cucu, ia memang merasa berbeda saat berhubungan dengan Hilman dan saat berhubungan dengan Keken. Hilman lebih dewasa secara pemikiran dan selalu bersikap tenang, sangat berbeda dengan Keken, pria itu selalu membuat suasana ramai dengan candaan dan rayuan nya yang menggoda. Farah baru menyadari itu.
Mereka bercerita sembari berjalan melewati banyak gerobak makanan, dan indera penciuman Farah menangkap sesuatu aroma lezat, ia kemudian berhenti.
"Ada apa neng?" tanya Teh Cucu saat melihat Farah berhenti mendadak.
"Teteh mau?"
"Tidak neng, kan teteh sudah beli mie ayam."
Farah memesan seblak seafood dengan beraneka topping lalu ia membayarnya.
"Pengen banget ya neng?" Teh Cucu melihat wajah Farah yang lucu saat melihat proses pembuatan seblak, bahkan wanita itu selalu mengelus perut buncitnya.
"Iya teh, lagi pengen yang pedes dan hangat."
Mereka berjalan pulang, setelah membeli semua jajanan yang diinginkan.
"Neng Farah hari ini jajan banyak sekali." Teteh tersenyum saat melihat bawaan Farah, ada cilok, baso, seblak, jus mangga.
"Lagi pengen cemilan." Farah, ia mengajak teh Cucu ke dalam sebuah minimarket dan membeli kebutuhan pokok.
Farah membeli beras, gula, minyak serta jajanan untuk Malika. Ia memenuhi keranjangnya dengan banyak makanan.
"Malika mau jajan yang mana?" tanyanya
"Memangnya Malika boleh jajan lagi tan?"
__ADS_1
"Tentu boleh, memangnya kenapa?"
"Kata mama jangan kebanyakan jajan, harus berhemat karena uang mama untuk bayar kontrakan dan biaya sekolah teteh di kampung."
Farah berkaca-kaca, usia Malika memang masih kecil namun ia mengerti kondisi keuangan ibunya.
"Hari ini Malika bebas membeli jajanan apapun." Farah menarik tangan gadis kecil itu dan berhenti di sebuah showcase pendingin.
"Malika mau susu itu." Ia menunjuk kotak besar susu cair putih berisi satu liter, "Boleh tan."
"Tentu saja boleh." Farah mengambilnya dan memasukkan dua susu kotak itu ke dalam keranjang beserta satu kotak jus mangga.
Mereka membawa dua keranjang ke depan kasir dan membayarnya.
"Teteh mau beli apa lagi?" Farah melirik teh Cucu hanya diam di sisi kasir. Ia tidak berani mengambil sesuatu di rak karena tidak punya uang.
"Tidak neng, dirumah masih banyak makanan." Ia tersenyum kecut
"Kata mama bohong itu dosa, tapi kenapa mama berbohong kali ini." sahut Malika, ia pun segera mendapatkan pelototan dari ibunya.
"Stok makanan di rumah kan habis mah." Malika berkata dengan polosnya. Dan Teh Cucu kembali memberi pelototan pada anaknya.
Farah hanya menggulum senyum melihat Malika menundukkan kepala dan teh Cucu yang menghela nafas panjangnya.
"Pakai ojek aja teh, dianterin depan rumah." ujar Farah. Ia melihat seorang tetangga nya yang biasa mangkal di dekat minimarket.
"Bang, anterin ke kontrakannya teh Cucu ya, taruh depan rumah. Ini uang ojeknya." perintah Farah
"Siap Neng." Ia membawa dua kantong plastik besar beserta beras
"Habis borong ya teh?" tanya bang Malik.
"Eh! Enggak bang, ini milik Farah." Teh cucu
"Ini milik teh Cucu, buat Malika juga."
Mereka berjalan kearah trotoar, ia tidak mungkin bisa membawa banyak beban maka dari itu Farah menyuruh tukang ojek.
"Neng Farah, yang belanjaan tadi beneran buat teh Cucu semua?"
Farah menganggukan kepala.
"Beneran neng, ya allah makasih banyak neng." Ia berkaca-kaca karena mendapatkan banyak makanan hari ini bahkan tidak perlu berbelanja untuk dua minggu ke depan,sebenarnya memang stok makanan di rumah sudah habis namun ia malu jika ada orang yang tahu.
" Semoga rejeki Neng dan A kasep lancar terus, bahagia dunia akhirat dan semoga persalinannya lancar. "
" Aamiin. "Lagi-lagi Farah selaluengaminkan do'a dari orang lain, sangat berbeda dulu ia tidak peduli bahkan tidak pernah mengamini doa itu.
__ADS_1
Mereka pulang ke rumah dengan bahagia terutama teh Cucu bisa bernafas lega. Ia tidak perlu berpikir esok akan makan apa karena hari ini mendapat banyak hadiah dari Farah.