
Khaffi mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya, lalu menyulut rokok dan menghisap ya kuat-kuat. Saat ia berjalan menyusuri gang sempit semua mata memandang kearahnya dan ia merasa kurang nyaman. Tatapan mereka seolah mengintimidasi bahwa ada orang baru yang datang ke wilayah nya.
Khaffi kini duduk di trotoar jalan tempat dimana mobil pengawal itu berada.
"Mau duit tidak?" Kini ia bersama kedua pengawal Keken ngopi di pinggir jalan.
"Mau lah tuan, mana ada orang yang tidak mau uang." ucap salah satu pengawal Keken.
" Kerjakan sesuatu untukku, nanti aku bayar."
"Tapi tuan, kami bekerja dengan nyonya Imelda."
"Tugasnya sangat mudah, kalian juga tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Nanti ku beri tahu." Khaffi kembali menghisap rokok dan mengeluarkan hingga asap tebal membumbung tinggi.
"Maaf tuan kami tidak bisa melakukan tugas anda karena kami harus menjaga nona Farah setiap saat."
"Cih! Menjaganya setiap saat tapi kalian bisa ngopi disini sambil ngobrol. Enak sekali tugas kalian, gaji banyak cuma nongkrong doang." sindir Khaffi
"Kalau mau jagain nonamu itu kalian harus nya standby di depan rumah nya bukan disini." sambungnya lagi
" Ini permintaan nona tuan, dia tidak ingin tetangga nya banyak yang curiga jadi kami disini."
" Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus ikuti perintahku juga. "
Namun belum sempat Khaffi memberi perintah, ada enam orang yang menghampiri mereka dengan wajah garang dan berpakaian seragam.
" Ini mobil siapa? tanyanya
"Mobil kami."
"Gue denger lu sudah beberapa bulan parkir mobil disini, asal lu tahu saja ini daerah kekuasaan gue!"
" Ini jalan umum milik pemerintah bukan punya anda pak kumis!" Khaffi masih saja terlihat tenang sembari menghisap rokoknya. Ia membaca situasi bahwa pria tambun dan berkumis itu kemungkinan ketua dari salah satu ormas yang menguasai wilayah ini, terlihat dari seragam mereka.
" Ini masuk wilayah kami, ormas KBR. "ucapnya
" Apa itu KBR, kami tidak tahu? "
" Kumpulan Baru Rempong. "jawabnya
" Pantas saja rempong. "gumam Khaffi dalam hati
" Kami kesini untuk meminta uang jasa. " ucap salah seorang pria perkumpulan itu.
" Jasa apa? Kami tidak menggunakan jasa kalian. "ucap salah satu pengawal Keken.
__ADS_1
" Jasa parkir mobil anda selama tiga bulan ini. "
" Kalian sungguh aneh. "Ucap Khaffi," Sudah kubilang, kami tidak menggunakan jasa anda dan ini jalan umum, jalan milik pemerintah lalu kenapa kami harus bayar. " Khaffi
" Ini sudah peraturan dan kami minta setoran!" teriaknya
" Kau itu ormas atau ******, kenapa minta setoran." cebik Khaffi dengan gayanya yang menyebalkan.
" ******??! Anda menghina kami dengan sebutan ******! "geram mereka
" ****** itu bank keliling, aku tanya kalian ormas atau ******? "
" Kami ormas KBR. "
" Kalau kalian ormas setidaknya memberi contoh yang baik pada masyarakat bukan seperti premanisme seperti ini! "Khaffi mengilas rokoknya dengan kesal. Sudah lama lama tidak beradu fisik hingga membuat tangan nya ikut gatal tapi dia juga harus memikirkan nama keluarganya, jika dia berkelahi maka ibunya akan berurusan dengan polisi dan sudah pasti akan berimbas dengan pemangkasan uang jajan nya.
" Kami bukan preman dan kami tidak mau tahu, kalian harus bayar? "
" Kalian minta duit berapa? "Tantang Khaffi
" Lima juta! "
" Wowww... amazing! kerja kagak minta duit banyak. Ini pemerasan. "
" Brengs*k!! Berani lu sama kami!! "teriaknya, hingga beberapa orang pejalan kaki melihat kearahnya. Dan ternyata gerombolan itu membawa senjata tajam. Banyak dari pejalan kaki melarikan diri tak ingin berurusan dengan kelompok itu.
" Jangan melawan. "lirih Keken. Kedua pengawal Imelda sangat terlatih dan siap dengan segala kemungkinan, mereka siap untuk berkelahi namun Keken meminta mereka untuk menahan diri.
" Bayar atau mati!!! "teriak mereka
" Bunuh saja, kalian pikir kami takut. Tapi ingat, jika kami mati kau berurusan dengan kapolri, Pak Sigito. Kau tentu tahu, bukan? "ucap Khaffi
Mereka yang sempat merangsek maju, kini saling menatap. Pria itu mengancam nya dengan nama seorang jenderal polisi di Indonesia.
" Kami tidak takut!! "ucap salah seorang dari mereka
" Kalau kalian tidak takut yasudah, jangan nangis kalau kalian semua dihukum penjara seumur hidup atau bisa jadi hukuman mati. Jika kalian masih ingin melawan langkahi dulu prajurit elitku ini, baru diriku! " Khaffi
Kedua pengawal Keken saling memandang, mereka memang terlatih untuk melindungi diri dan melindungi pimpinan tapi mereka bukan pasukan elite yang seperti Keken ucapkan. Khaffi memang kurang ajar, dia menyuruh mereka untuk menghadapi ormas terlebih dahulu sedangkan dia masih saja santai dengan rokoknya.
Ketua dari ormas itu melihat tubuh Khaffi dari atas hingga bawah, memang dipastikan pria itu bukan orang sembarangan karena Khaffi termasuk pria bersih dan terlihat dari kalangan atas dengan beberapa brand yang menempel pada tubuhnya dan juga dua orang disisinya yang bertubuh tegap dan tinggi, mereka pasti orang militer atau polisi.
"Kau siapa nya pak kapolri?" tanyanya
" Yang pasti orang terdekatnya, jika seseorang dikawal pasukan elite berarti kau tahu kan siapa diriku?" Khaffi mulai berdusta lagi.
__ADS_1
"Mau ormas nya ditutup sama pak kapolri?!" Khaffi kian mengancam nya.
"Jangan harap besok markas kalian bisa buka pintu jika melukai kami!" sambung Khaffi lagi. Bisa jadi borgol akan datang malam hari saat kalian menyakiti kami.
"Masih tidak percaya?" Khaffi mendelik kesal, mengelabui mereka ternyata tidak mudah. Namun, saat ini ponselnya berdering dan ia sengaja berbicara dengan nada keras.
"Assalamualaikum, Om Sigito."
"Siap Om 86!"
"Baik, saya akan ke markas besar Om." Khaffi sembari menahan senyum nya. Lalu kedua pengawal Keken saling memandang.
"Ayo kita cabut!" ucap pria berkumis itu.
"Mau kenapa? Nggak jadi nih minta duit." ledek Khaffi
"Tidak bang!"
"Eits..., tunggu dulu. Belum cium tangan, pamit dulu dong sama pengawal elit." Khaffi kian mengerjai mereka.
Dan benar saja semua gerombolan itu mencium takzim tangan Khaffi dan kedua pengawal Keken. " Kalau mau duit harus kerja jangan malak orang, malu sama emak udah digedein malah jadi tukang palak! " ia berceramah layaknya emak-emak
"Iya bang maaf." Mereka dengan santun dan hormat pergi meninggalkan Khaffi.
"Woi... Khaffi lu lagi ngapain sih?!" teriak Keken diujung telepon.
"Apaan sih, ngomel mulu mirip bini lu!" seru Khaffi. "Gue dan pengawal lu digangguin preman sini." Khaffi akhirnya tergelak tawa. Ia sempat takut saat melihat gerombolan itu membawa senjata sedangkan dia hanya tangan kosong maka dari itu otaknya langsung berpikir mencari cara agar tidak terjadi kekerasan.
"Emang akal lu encer banget." Keken masih terdengar tertawa. "Tadi Farah telepon katanya lu bawa banyak makanan untuk dia, gue kaget karena Farah bilang gue yang minta lu kesana jadi daripada ribet gue iyain aja. Gue yakin lu kesana ada maksud tersembunyi dengan si judes itu,katakan padaku." Keken
"Tidak usah sok tahu, siapa juga yang kesana karena gadis sawan itu, cuih!" Dengan cepat Khaffi menutup telepon nya agar Keken tidak banyak bertanya lagi.
Sedangkan kedua pengawal Keken hanya diam dan sesekali menyesap kopi mereka yang belum habis.
"Tuan, maaf memangnya anda memiliki hubungan khusus dengan pak kapolri?" tanya salah seorang pengawal Keken.
"Tidak ada! Aku hanya menakut - nakuti gerombolan itu, memangnya kalian ingin dibunuh dengan sia-sia. Mereka membawa senjata tajam."
"Tidak tuan!!"
"Aku juga belum kawin masa mau mati duluan, ogah." Khaffi terkekeh, sedangkan kedua pengawal itu hanya menghela nafas panjangnya.
"Anda selain pelit, medit, licik juga pandai berdusta tuan. Aku ingin berguru dengan anda." ucap salah satu pengawal Imelda
"Kalau pengen mati katakan saja, tidak perlu mengejek ku seperti itu!" ancam Khaffi. Dan mereka tergelak tawa bersama.
__ADS_1