
Keken menemani Michelle ke Coffee shop di daerah Barat. Tempat yang belum sepenuhnya rapi karena banyak barang yang masih berserakan dan bekas kaleng cat yang tidak ditata dengan baik.
"Aku sangat senang karena sebentar lagi Coffee Shop ini akan launching." ucap Michelle sembari masuk ke setiap ruangan dan memeriksa mana yang belum difinishing.
"Aku juga senang kamu memiliki usaha sendiri." Dengan cepat Keken merengkuh pinggang Michelle dan mengecup bibirnya.
"Kamu kebiasaan deh, nyosor nggak pake permisi." Michelle memukul ringan lengan Keken.
" Permisi... Aku mau cium lagi." kelakarnya dengan gaya hormat dan kembali mencium Michelle lagi.
"Ihh... Tuh kan! Ini bibir perlu dikaretin biar nggak nyosor terus." Michelle dengan tersenyum mencubit bibir Keken selalu mencium tanpa ijin.
" Ijin salah, nggak ijin lebih salah." Keken pura-pura mengerucutkan bibirnya.
"Ayo kita ke atas, ada rooftop disana." Michelle menarik paksa tangan Keken agar mengikutinya. Ada pembicaraan serius yang ingin ia sampaikan.
"Bagus kan kalau dilihat dari sini." Michelle menatap nanar bangunan yang berada di bawahnya. Matanya mulai sayu dan helaan nafas panjang terdengar darinya. Michelle mengingat setiap perkataan dari ayahnya bahwa ia dan Keken tidak bisa bersatu, terlalu jauh perbedaan di antara mereka. Perbedaan keyakinan merupakan salah satu hal terbesar yang tidak bisa ayah Michelle terima.
"Menikah tidak hanya setahun, dua tahun cell. Papah ingin yang terbaik untukmu."
" Kendrew memang kaya, tapi dia playboy, apa bisa dia setia dengan satu wanita? Papah tidak yakin dengannya!"
" Pada dasarnya agama manapun akan mengajarkan kebaikan, tapi kamu harus tahu kalian berbeda keyakinan, mau dibawa kemana pernikahanmu itu nantinya. "
"Kamu yang pindah atau Kendrew yang pindah! "
Setiap kalimat terdengar sangat jelas dan selalu menganggu pikiran Michelle, bayang - bayang Keken yang selalu bersama dengan banyak wanita, itu menjadi salah satu persoalan yang harus Michelle pikirkan dan menjadi salah satu beban terberatnya. Ia tahu Keken playboy dan selalu bermain wanita di belakangnya, namun Michelle selalu menutup mata dan pura-pura tidak tahu. Baginya, bersama Keken terasa nyaman dan sejak bersamanya Keken tidak pernah meminta yang lebih dari sekedar ciuman. Keken selalu menghormati dan menjaga dirinya, berpacaran bersama Keken membuat Michelle tahu bahwa dia tidak seburuk yang orang kira.
Keken selalu ramah dan baik, ia mau memberikan modal ke beberapa temannya untuk membuka usaha. Keken orang yang humoris,pecicilan dan tidak pernah pelit, ia akan dengan mudah menghamburkan uang untuk sahabatnya. Ia pun beberapa kali membebaskan wanita malam dari jeratan mucik*ri yang ingin menjual para gadis ke pria hidung belang. Keken pria yang baik.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada masalah?" Keken memeluk Michelle dari belakang, menghirup aroma khas tubuh Michelle yang membuatnya tenang.
" Ken, aku ingin bicara serius denganmu." Michelle mengurai pelukannya dan berbalik menghadap wajah pria itu.
"Apa? Kau butuh modal lagi? Mau beli kripto, kripik atau kripsus?" tanya nya dengan cengengesan. Ciri khas Keken yang tidak bisa serius.
"Ishh..., aku beneran serius ini!" dengus Michelle dengan kesal.
"Aduh.. Aduh jangan marah dong. Iya aku akan pasang wajah serius ini." Keken mengerutkan keningnya seolah sedang berpikir keras namun terlihat lucu bagi Michelle.
__ADS_1
"Kok malah senyum - senyum gitu, katanya mau serius. Ini aku sudah pasang wajah serius nih!" lanjut Keken
"Tapi nggak gitu juga, aneh tahu. Kamu seperti orang yang sedang buang air besar." Michelle kembali tersenyum simpul
"Tuh kan salah lagi, serius salah ngegombal juga salah."
"Ken, kemarilah." Michelle menggandeng tangan Keken untuk duduk beriringan di sebuah sofa.
"Ken, apa kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya dengan raut wajah serius.
Keken merasa ada yang tidak beres dengan sikap Michelle kali ini, tidak seperti biasanya Michelle yang selalu ceria dan humoris.
"Aku mencintaimu Michelle, kenapa kau bertanya lagi? Ada masalah apa, hmm..." Keken menyentuh dagu Michelle dengan lembut.
"Apa kau ingin membeli saham atau kripto?" tanya Keken
" Aku maunya kripsus alias kripik usus!" Michelle begitu gemas karena Keken sulit diajak bicara serius. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha..., tenang aku akan memberikanmu satu kontainer sayang sampai kolesterolmu naik puluhan kali lipat."
"Ya ampun Keken, yang ada aku mati mendadak! Aku masih muda dan sekarang ini ingin bicara serius denganmu. "
"Aku tidak mau uangmu." ucap Michelle
Satu yang Keken suka dari Michelle karena dia dari keluarga yang kaya, dia tidak materialistis. Coffee Shop yang dibangun Michelle memang sebagian uang pemberian dari Keken, namun Michelle tidak pernah meminta Keken untuk mengucurkan dana. Itu pemberian Keken murni.
" Dan tanpa ku tanya kamu masih suka bermain dengan banyak wanita, makanya kamu bisa berkata seperti itu." Michelle menggelengkan kepalanya.
" Ternyata aku bukan satu-satunya di hatimu. Seharusnya jika kamu cinta aku, kamu tidak akan mencintai wanita lain tapi nyatanya kamu masih sama. "Michelle semakin kecewa dengan sikap Keken yang playboy.
" Ada berapa banyak wanita disisimu Ken? "
" Kamu kan tahu aku seperti apa. "Keken tidak menjawab pertanyaan Michelle.
" Aku Pangeran Modosa. " lanjut Keken
" Sebenarnya ada apa cell, katakan padaku. "
Michelle menghembuskan nafas kasarnya sebelum memulai percakapan yang lebih serius.
__ADS_1
" Apa kau bisa setia hanya padaku? Hubungan ini terlalu rumit Ken, aku dan kamu berbeda agama, mau dibawa kemana hubungan ini? Jika kamu benar-benar mencintaiku apa kita bisa menikah sekarang? apa kamu bisa pindah keyakinan untukku?" Wajah Michelle terlihat sendu dan ini pertama kalinya Keken melihatnya.
Sesaat Keken menatap Michelle dengan lekat, wanita yang selalu ceria kini tampak sedang tidak baik-baik saja.
" A... Aku tidak bisa Michelle, aku belum ingin menikah sekarang dan aku... aku tidak bisa mengikuti agamamu,maaf." Keken mengucapkan dengan nada menyesal, ia pun terlihat menghela nafasnya dengan panjang. Terlalu berat untuknya untuk berpindah keyakinan, apalagi jika dia harus berhadapan dengan Ratu Medusa.
" Aku tahu pada akhirnya hubungan kita akan seperti ini." Michelle tersenyum getir namun buliran bening di sudut matanya kini menuruni pipi mulusnya, " Tapi ini lebih baik diucapkan sekarang daripada buang-buang waktu nantinya. "
" Ken, aku selalu mengingat setiap kalimat yang papahku katakan. Hubungan kita terlalu sulit, terlalu banyak perbedaan diantara kita. Tapi dengan mengenalmu, aku tidak pernah menyesal karena kamu selalu baik dan sopan padaku. "
" Ken, aku ingin mengakhiri hubungan kita karena kita tidak mungkin bersama,hiks..hiks..hiks..." runtuh sudah pertanahan Michelle yang sempat ia tahan, airmatanya mengucur deras mengalir di pipi.
" Baiklah jika itu keinginanmu, aku tidak akan memaksa. Aku meminta maaf karena masih menduakanmu, Michelle. Bisakah kita menjadi teman, aku butuh teman untuk berbagi cerita. "
" Tentu Ken, kita hanya bisa menjadi teman walaupun aku masih tetap mencintaimu tapi ini jalan yang terbaik. " Michelle tersenyum sembari mengulurkan tangan.
" Maafkan aku Michelle. "Keken menerima uluran tangan Michelle yang baru saja menjadi mantan.
" Kamu tidak perlu meminta maaf, aku tahu kamu belum bisa komitmen. Aku do'akan semoga suatu saat ada seorang wanita yang bisa membuat kamu bahagia dan hanya dialah satu-satunya di hati kamu Ken, bukan untuk yang lain. Jadilah pria setia dan bertanggung jawab kamu anak tunggal, orangtuamu pasti mengharapkan kamu menjadi penerus keluarga. "
" Tuh kan udah nangis masih bisa ceramah lagi. " Keken mencubit pipi Michelle dan menghapus jejak airmatanya.
" Aku sayang kamu Michelle, tapi kita tidak mungkin bersatu. " Keken merengkuh tubuh Michelle agar bersandar di bahunya.
" Kita masih bisa jadi teman dan rekan bisnis Ken, ini juga Cafe milikmu. Setiap bulan akan aku transfer penghasilan dari bisnis kita ini. " ucap Michelle
" Tidak perlu! Ini semua milikmu Cell, aku tidak berhak atas Cafe ini. Uangku banyak, aku tidak butuh recehan. " sifat sombong Keken kembali lagi dan satu pukulan mendarat di lengannya.
" Dasar sombong! Sifatmu selalu narsis dan menyebalkan."
"Memang aku kaya Cell jadi sombong itu wajar. Jangan sampai udah miskin sombong kan tidak lucu."
Michelle hanya menatap jengah.
" Carilah gadis yang baik dan tidak matre sepertiku karena jika kamu salah menikah kelar hidup lu Ken."
" Harta keluargaku tidak akan habis tujuh turunan. " Keken berkata dengan penuh kesombongan.
" Tapi sayangnya kamu keturunan kedelapan!"
__ADS_1
Dan mereka tertawa bersama dan saling bercerita hingga larut malam.