
Pukul sembilan malam Keken datang ke rumah. Ia pulang terlambat dan terlihat lelah karena hari ini ia bekerja di dua tempat. Pertama, kerja lapangan di daerah Utara dan kedua kerja di dealer mobil. Namun ia senang karena hari ini mendapat dua klien yang mau membeli mobil baru di dealer tempatnya bekerja.
Keken melirik Farah yang terlihat berbeda karena hanya menggunakan daster selutut dengan tali kecil di bahunya. Terlihat sexy. Namun Keken membuang wajahnya kearah lain karena tidak ingin Kenzi terbangun dan kembali berteriak. Keken sengaja menahan hasrat nya, tidak ingin menyentuh istrinya tanpa ijin.
"Aku mandi dulu." Keken membuka baju dan kali ini ia menaruhnya langsung ke mesin cuci, tidak seperti biasanya Keken selalu sembrono dan meletakan barang sesuka nya.
"Tumben," batin Farah, " Keken kenapa ya?" ucapnya dalam hati.
Ia menyiapkan makan untuk suaminya dan duduk di depan televisi sembari mengemil roti bakar yang dibawa Keken. Setiap hari Keken pasti membawa cemilan untuk Farah, karena ia tahu istrinya selalu kelaparan di malam hari.
Keken yang terlihat segar kini duduk bersila di depan Farah, aroma sabun nya menusuk di indera penciuman gadis itu hingga Farah merasa tergoda.
"Apa yang aku pikirkan, sih! Ini gara-gara film yang aku tonton hingga membuatku pusing." ucapnya dalam hati. Farah meraup wajahnya dengan kasar, agar kembali fokus dan tidak berpikiran kotor lagi.
" Kamu kenapa, ada masalah?" Keken menyuap nasi goreng buatan isterinya. Ia sempat melirik Farah yang terlihat aneh.
" Tidak ada apa-apa, memang aku kenapa?"
" Kamu aneh hari ini, pakai daster mini dan sexy begitu biasanya juga pakai daster buluk dan bau dapur. Dan tatapan matamu seperti orang mendamba sesuatu. Apa ada yang kamu inginkan? " Keken bicara tanpa menatap istrinya, takut khilaf karena Farah benar-benar menggoda dengan pakaian itu.
" Sial! Masa aku harus bilang kalau aku ingin itu, tapi memang beneran aku ingin. Ini gara-gara aku nyidam si Kenzi atau gara - gara film Dini, sih! "gumam Farah dalam hati. Ia hanya mampu menghela nafas panjangnya. Tidak mungkin dia berkata jujur pada Keken bahwa dia ingin disentuh.
" Kamu kenapa ? " Keken melirik istrinya yang diam tidak menjawab pertanyaan nya.
" Tidak ada apa-apa!" jawabnya dengan ketus
Keken tidak peduli dan hanya menghabiskan nasi goreng, ia tidak tahu kalau sekarang Farah sedang memasang wajah kesal.
"Ini uang bonusku dari dealer dan ini uang aku kerja di lapangan." Keken memberikan dua amplop coklat pada istrinya.
Dengan cemberut Farah membuka amplop itu dan begitu terkesiap saat melihat uang yang cukup banyak.
"Ini hasil kamu jualan mobil?" tanyanya. Keken hanya mengangguk.
Farah kembali membuka amplop satunya dan terlihat beberapa tumpukan uang. "Kenapa banyak sekali." ia begitu sumringah dengan hasil kerja keras suaminya. Tidak pernah menyangka Keken akan menghasilkan banyak uang seperti ini.
"Itu hanya sedikit, karena bonus ku kemarin sudah kupakai untuk membeli barang untuk keluargamu." Keken membuka tas kerjanya dan menyalakan laptop.
" Pakailah uang itu untuk belanja kebutuhan, sebagian tabunglah untuk kelahiran anakku."
" Anakku." Farah mengernyitkan dahi. Bingung,biasanya Keken akan berkata anak kita.
" Iya anakku, bukan nya kamu tidak menginginkan bayi itu."
"Deg." Hati Farah merasa tercubit dengan perkataan Keken. Dulu ia tidak menyukai bayi ini namun seiring berjalan nya waktu Farah mau menerimanya.
"Ini bayiku juga! Aku ibunya, aku yang berhak atas bayi ini bukan kamu!" sentak Farah, ia begitu sensitif dan melempar amplop berisi uang kearah Keken karena kesal. Ia pergi ke kamarnya sendiri. Menangis karena tidak terima dengan perkataan Keken.
"Dia itu kenapa? Bukankah dia yang sering menegaskan posisiku. Kenapa dia marah dan menangis." Mau tak mau Keken menutup laptopnya kembali dan merayu istrinya agar berhenti menangis.
" Kamu kenapa? Apa perkataanku ada yang salah." Keken melirik Farah yang meringkuk dan menghadap ke tembok sembari menangis.
" Aku salah apa lagi? " Keken begitu bingung karena Farah semakin kesini semakin sensitif bahkan cenderung cengeng.
"Oke, aku minta maaf." ucapnya lagi. Ia berbaring sembari memeluk istrinya dari belakang, tidak peduli jika Farah akan marah lagi padanya. Beberapa menit Keken menunggu pukulan dari istrinya, namun tidak ada tanda - tanda Farah akan memukul dada atau lengan nya seperti biasa.
" Aneh, padahal Farah masih sesenggukan dan tidak tidur ." pikir Keken
__ADS_1
Kesempatan emas yang tidak ia dia - siakan, Keken memeluk kian erat sembari menciumi rambut istrinya.
"Si*l!!" umpat Keken saat tahu Kenzi terbangun, padahal hanya mencium rambut gadis itu hasratnya kian melambung.
"Far, Far..." Keken meraba lekuk badan istrinya. Dan tanpa penolakan darinya.
" Farah waras tidak sih hari ini!" gumam Keken dalam hati, biasanya dia akan berteriak saat aku menempel padanya. Keken sedikit bingung.
"Far..." Lirih Keken dengan suara serak. Tangan nya masih bergerilya menyusuri lekuk tubuh istrinya. Keken menarik tubuh istrinya agar menghadap padanya.
"Maaf, maafkan aku yang salah. Sudah jangan menangis lagi." Ia mengusap airmata Farah dan selalu meminta maaf lagi dan lagi. Namun, Keken adalah Keken yang selalu memiliki seribu cara agar hasrat wanitanya bangkit.
" Maafkan aku ya... " ucapnya lagi.
"Jangan menangis, aku bersalah padamu." Dan kali ini kakinya sedikit mengangkat daster yang dipakai Farah. Keken memang lihai dalam memanipulasi keadaan, agar wanitanya lupa akan apa yang dia lakukan. Tangan keken mulai bergerilya, meraba-raba.
"Lumayanlah, permulaan." batin nya, sembari tersenyum licik.
"Ini anakku juga, jangan bilang ini hanya anakmu!" ucap Farah dengan kesal.
"Iya, ini anak kita." Keken mengalah, ia semakin berhasrat untuk mengobrak abrik Farah lagi. Kenzi berontak ingin dipuaskan. Ia kembali menyentuh titik - titik lemah istrinya. Namun Farah hanya bergidik geli. Keken semakin gemas dengan kepolosan istrinya.
" Saat aku pulang tadi, kulihat banyak penjual pepaya malam di jalan. Seger-seger lagi." Keken mulai beraksi tanpa Farah sadari, menyentuh kembali daerah sensitif istrinya.
" Kenapa tidak beli?"
"Kalau aku beli, kamu pasti marah." Keken menggulum senyum, istrinya begitu polos hingga tidak mengerti arah pembicaraan nya. Keken tersenyum dalam hati.
"Kenapa aku harus marah, kalau pepaya nya segar dan murah aku pasti tidak akan marah. Apalagi buah pepaya bagus untuk ibu hamil." ucapnya lagi
"Pepaya nya mahal, biasanya mereka menjual lima ratus ribu sampai satu juta." Keken terkekeh
Keken semakin terpingkal karena istrinya belum mengerti apa yang dibicarakan.
" Itu pepaya istimewa yang tidak akan habis jika dimakan." Keken mengulum senyum sembari melihat kearah dada dan memeluknya lagi.
" Emang ada pepaya seperti itu, apa jangan - jangan pepaya Jepang, biasanya harganya lebih mahal daripada yang lokal." ucapnya dengan polos.
" Ini pepaya lokal, kalau pepaya Jepang harganya bisa puluhan juta sekali tembak."
"Apaan sih, nggak jelas banget!" ketus Farah, namun otaknya mulai berpikir jernih saat Keken menyentuh buah dad* nya.
" Lepasin ah, pengap tahu! " Farah mendorong tubuh keken agar menjauh. "Pikiranmu selalu kotor dan me sum."
"Memang ada yang salah jika me sum dengan istri sendiri, Memangnya kamu mau aku me sum dengan wanita lain. Jika kau mengijinkan, aku mau menikah lagi untuk kedua kalinya." goda Keken dan benar saja Farah mencubitnya seperti biasa.
" Tidak akan aku ijinkan! Aku sedang hamil begini dan kau ingin menikah lagi!! " geramnya. Candaan Keken kali ini tidak lucu baginya.
" Kamu wanita egois yang pernah aku kenal, yang. "Keken pura-pura merajuk,
" Kenapa kamu bilang aku egois, apa alasanmu? " Farah menatap tidak suka pada suaminya, lelaki ini begitu menjengkelkan bagaimana bisa menyebutnya wanita egois.
" Aku sudah bersusah payah dan bekerja siang malam untukmu tapi nyatanya kamu berniat untuk ketemuan dengan mantanmu itu. Aku sering dimarahi bahkan tidak boleh menyentuh, sedangkan dia dengan mudah mengusap pipimu. Aku suamimu tapi nyatanya kamu tidak menghargai kerja kerasku, selalu marah dan memaki. Sudahlah terserah kamu saja, aku memang pria malang yang menyedihkan. "Keken bicara dengan menghiba agar Farah merasa bersalah karena memperlakukan dirinya dengan kurang baik. Ia bangkit dari kasur dan masuk kembali ke ruang tamu. Trik Keken agar istrinya mengejarnya. Ia tersenyum licik.
Deg, Farah merasa tersentil dengan ungkapan hati Keken. Memang benar dirinya sering marah dan benci pada Keken tapi itu semata-mata karena rasa kesal karena ulah suaminya sendiri. Ia butuh seseorang untuk melampiaskan amarah dan beban dihati. Farah merasa bersalah.
"Kita lihat saja, aku yakin pasti Farah akan membujukku dan meminta maaf." gumam nya dalam hati sembari menggulum senyum. Ia pura-pura tidur menghadap tembok.
__ADS_1
"Satu, dua, ti..." Keken menghitung berapa detik Farah akan menghampirinya lagi. Dan benar saja gadis itu datang dan duduk disisinya. Keken mengulum senyum walaupun saat ini matanya pura-pura tertutup.
"Maaf." ucapnya dengan penuh penyesalan. "Aku memang sering marah tapi itu juga karenamu."
"Ken, Keken.." Farah mengguncangkan tubuh suaminya. "Dengar aku tidak!"
"Apaan, sih! Aku mau tidur." Ia menutup wajahnya dengan bantal walaupun ingin rasanya ia terbahak karena berhasil mengerjai istrinya.
"Aku minta maaf." Farah semakin mendekatkan tubuhnya dan berbaring di samping Keken. "Ken, dengar aku tidak!?" tanyanya lagi
"Apaan, sih!" Keken membalikkan badan dengan seribu akal bulus ya ia mulai beraksi kembali.
" Malam ini Kenzi harus dapat jatah, masa puasa terus aku. Mana di dealer banyak godaan wanita cantik dan sexy." gumamnya dalam hati. Sejak bekerja disana Keken harus menahan diri untuk tidak tergoda dengan beberapa teman kerja nya. Ia memang jarang standby di kantor karena Keken lebih suka kerja di lapangan dan bertemu beberapa calon pembeli. Terkadang relasi mommy Imelda menelepon nya sekedar bertanya tentang produk terbaru. Mobil listrik yang sedang ngetren saat ini.
"Ken..." suara panggilan Farah membuyarkan lamunan nya.
"Apa?" Keken menatap Farah, berharap ia akan memberinya lampu hijau dan mengijinkan Kenzi bersilaturahmi.
" Gimana kerjaan kamu di dealer dan di lapangan?"
Gubrak!! Di luar dugaan ternyata Farah hanya bertanya tentang pekerjaan nya, ia benar - benar polos tidak bisa membaca pikiran suaminya. Biasanya wanita yang Keken temui pasti akan meminta maaf dan menawarkan diri, mereka akan melakukan apa saja asal Keken mau memaafkan, bukan bertanya tentang pekerjaan. Keken hanya menghela nafas panjangnya, Farah menjengkelkan karena tidak mengerti kode suaminya. Mau tak mau ia harus ekstra sabar agar keinginan nya terpenuhi.
"Di lapangan tidak ada masalah, sebagian besar aman terkendali. Aku hanya mengawasi pekerja agar mereka tidak malas-malasan. Yang bermasalah di tempat dealer." jawabnya
"Memangnya kenapa di dealer?"
" Saat aku setor berkas klien yang akan membeli mobil, disana banyak wanita cantik. Mereka bersiul sembari menghampiriku. Kamu tahu kan SPG mobil cantik - cantik." Keken mulai menyusun strategi agar Farah cemburu.
"Mereka sangat sexy dengan dress mini. Putih, kulitnya bagai porselen." Keken sengaja melebih lebihkan dalam bercerita.
"Mereka mendekatiku karena tahu aku anak orang kaya, bahkan ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi istri kedua, nikah siri pun tidak masalah katanya."
"Whatt!!" Farah begitu terkesiap, banyak wanita yang ingin menjadi istri Keken.
" Lalu kamu bilang apa?"
"Aku bilang istri ku tercantik di muka bumi ini, bagaimana aku bisa berpaling jika istriku saja sangat perhatian dan apapun yang aku minta selalu dituruti." Keken mulai berdrama agar Farah percaya.
Farah hanya wanita biasa yang pasti akan meleleh saat mendengar kata-kata manis. Wajahnya mulai merona dan malu.
" Lalu mereka bagaimana, apa masih menganggumu?!
"Tentu, mereka bahkan terang-terangan bisa membuatku pu as di ranjang.
" Apa!!! "
" Kamu tenanglah, mereka tidak akan mengganggu lagi karena aku bilang istriku lebih memuaskan."
Farah bernafas lega karena Keken tidak terbujuk rayu wanita lain. Ia tersenyum bahagia karena suaminya mau setia padanya.
" Far... "lirihnya dengan suara berat menahan hasratnya yang tadi sempat tertunda. Ia sengaja mengendus aroma tubuh Farah.
" Apa. "
" Aku mau... " suara kian serak dan menerpa wajah Farah
" Aku mau menengok anak kita. " lirihnya lagi. Farah mendelik, mengerti arah pembicaraan Keken.
__ADS_1
" Tadi aku bilang istriku penurut dan selalu memu*skanku di ranjang. Masa kamu nolak." Keken kembali meraba dan mencium lembut pipi istrinya. Dan Farah hanya diam menerima perlakuan Keken. Ia tidak menolak karena sebenarnya ia juga ingin,entah karena bawaan bayi atau karena film panas yang tadi siang ia tonton bersama dua sahabatnya.
Dan benar saja, tanpa ijin Keken mulai melancarkan aksinya. Ia sudah kepalang tanggung, kepala bawah sudah terasa pusing dan ingin dituntaskan. Farah yang terbuai mengikuti alur Keken dengan begitu saja, ia mulai terbiasa dengan sentuhan Keken yang begitu lembut dan membawanya ke surga dunia berkali-kali.