
Farah melolong karena Keken tidak mengenalinya bahkan mata pria itu terlihat kosong. Hilman pun menatap Keken dengan penuh tanda tanya namun ia masih diam tidak ingin banyak bertanya.
"Keken, ini mommy sayang." Imelda menggenggam tangan anaknya dengan erat.
"Kau kenal mommy kan?" tanyanya
Keken dengan cepat menganggukan kepala.
"Aku Farah,istrimu. Kau ingat aku kan?"
Keken menggelengkan kepala. Farah begitu lemas saat tahu Keken tidak mengingatnya, bagaimana bisa dia tidak ingat istrinya sendiri. Imelda dengan cepat menekan tombol untuk memanggil dokter.
Dokter kemudian memeriksa tubuh Keken dan anggota tubuh lainnya dan masih belum sepenuhnya bisa menggerakkan tangan.
"Mungkin tuan Keken mengalami Amnesia Retrograde, kami akan memeriksa kesehatan nya secara menyeluruh."
"Amnesia Retrograde itu Amnesia yang ditujukan seseorang yang kesulitan untuk memperoleh kembali ingatan nya di masa lalu. Hal ini disebabkan karena cidera otak atau pernah menjalani operasi di bagian kepala hingga mengakibatkan hilangnya sebagian memori." jelas dokter
" A.. apa ingatan Keken bisa kembali, dok? " tanya Farah sembari menangis.
" Tentu saja bisa, kami akan melakukan yang terbaik dan sebagai keluarga harus pelan-pelan mencoba menggali ingatan nya. " ucap dokter
" Ken, apa kamu mengenaliku?" kali ini pertanyaan dari Hilman. Keken lagi-lagi menggelengkan kepala.
"Tuan Keken mengingat orangtuanya namun tidak mengenali kalian, semoga saja dia akan segera mengingatnya kembali karena hanya sebagian saja memori nya yang hilang."
Namun Farah tidak puas dengan jawaban dokter ia kembali menggenggam erat tangan suaminya.
" Aku akan selalu bersamamu dan disisimu agar kamu ingat aku dan Ghani. " Farah menuntun kembali tangan Keken kearah perutnya dan mengelus dengan lembut.
Keken hanya diam dengan tatapan datar, tanpa merespon ucapan Farah. Namun airmata wanita hamil itu seolah menusuk ke relung hatinya, terasa begitu menyakitkan.
" Saya pergi dulu nyonya, besok kita akan melakukan pengecekan pada tubuh tuan Keken." pamit dokter
" Mom... "
" Iya sayang." Imelda kian mendekat
"Aku ingin istirahat dan hanya mommy yang menemaniku." bisiknya
"Baik sayang." Imelda menggandeng tangan Farah dan Hilman agar mengikuti nya.
" Kamu pulang dulu ya sayang." pinta Imelda pada Farah, "Mommy yang akan menjaga Keken."
__ADS_1
" Tapi mom." Farah tidak ingin meninggalkan suaminya sendiri.
"Mommy minta maaf untuk sekarang tolong bantu mommy untuk memulihkan keadaan Keken. Lusa kamu bisa kesini lagi."
"Baik mom."
"Tante, tolong beri aku kepercayaan untuk mengantar Farah pulang. Aku akan mengantarkan dia dengan selamat." Hilman tidak tega melihat Farah yang kini seperti orang linglung. Ia tahu saat ini suasana hati Farah sedang buruk.
"Baiklah, untuk saat ini aku beri kamu kepercayaan. Tolong antar menantuku ke rumah."
Hilman menggandeng tangan Farah dan itu disaksikan oleh Imelda. Tubuh wanita itu seperti lemah tak bertenaga.
"Kamu sabarlah, aku yakin Keken pasti akan mengingatmu lagi." ucapnya setelah masuk ke dalam mobil.
"Aku seperti kena serangan jantung, bagaimana bisa Keken tidak mengenaliku, a... aku tidak menyangka dia akan hilang ingatan." Farah meneteskan airmatanya lagi, entah berapa lama lagi dia akan menangisi keadaan ini.
" Ini hanya sementara, bukankah kau tadi dengar dokter bilang akan memberikan perawatan yang terbaik. Keken itu pintar dan kuat dia saja mampu melewati masa kritisnya dan koma, aku yakin dia akan mengingatmu dan Ghani." Hilman tersenyum getir, bahkan Farah dan suaminya sudah memberi nama calon anak mereka.
Hilman mengantarkan Farah sampai rumah Navysah, ia menuntunnya karena wanita hamil itu masih syok dan kesulitan berjalan.
" Farah, kenapa kau bawa pria itu kemari? "Fafa bertanya dengan tidak suka, hari ini ia pulang cepat karena ingin menjenguk Keken.
" Dia mengantarku pulang dan sudah ijin dengan mommy Imel. "
" Pergilah, jangan datang lagi kesini. Keken sedang sakit jadi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan." Fafa
" Benarkah itu Farah? " Fafa menatap ibu hamil itu
Farah menganggukan kepala namun sesaat kemudian ia menangis keras." Keken.... huhuhuaaa.... "
Fafa bingung begitupun Raffa yang baru saja turun dari lantai atas. "Ada apa ini?"
"Ken... Keken mas... huhuhu.... Keken hilang ingatan, ia tidak mengenaliku tapi dia ingat dengan mommy." Farah masih dalam mode menangis
"Apa...?!!!" semua terkejut karena hari ini mommy Imelda juga belum memberikan kabar tentang keadaan Keken.
"Aku mau melihat mas Keken." Inha yang baru turun dari lantai atas mendengar bahwa Keken sadar, ia bergegas masuk mengambil tas dan pergi.
"Aku akan kesana melihat si brengs*k itu!" Fafa
"Mas ikut." ucap Raffa
"Lalu aku sama siapa? Kalian tega meninggalkanku sendiri, huuuaaa..." Farah kian histeris. Tidak ada yang mengerti isi hatinya sekarang bahkan semua orang ingin pergi menjenguk Keken. Fafa dan Raffa membalikkan badan dan saling menatap.
__ADS_1
"Kalau kamu mau teman biarkan aku yang menemanimu disini." Hilman
"Nooooo!!!" Seru Fafa dan Raffa secara bersamaan.
"Sebaiknya kamu pulang, kami yang akan menjaga Farah. Tidak baik kamu bertamu dengan wanita bersuami,pulanglah." Raffa
"Sana pulang, menuh-menuhin rumah saja!" gerutu Fafa
Hilman menggulum senyum, lalu akhirnya pamit pulang.
Farah mengelus perutnya lalu ia duduk di meja makan. Perutnya mulai lapar kembali, bibi yang mengerti kebiasaan Farah kini menghampirinya. "Non lapar ya, bibi siapkan makanan nya."
Farah mengangguk. Raffa yang sedang menelepon mommy Imelda kini terlihat serius, entah apa yang dibicarakan namun yang pasti Farah mendengar pengobatan di Singapura. Ia mempertajam kembali pendengaran nya.
Setelah selesai menelepon Raffa duduk di meja makan. Fafa ikut menggendong Raya dan duduk di kursi makan. " Gimana mas, Keken? "
" Dia memang hilang ingatan, sebagian memori nya menghilang dan besok akan ada pemeriksaan lagi."
"Kita tidak boleh kesana sementara karena Keken harus istirahat, anggota tubuhnya masih lemah belum sepenuhnya bisa digerakkan."ucap Raffa lagi
Farah makan sembari menangis, disatu sisi dia lapar namun disisi lain hatinya sakit sekali.
" Kau itu payah selalu menangis terus! Kalau Keken hilang ingatan maka kau harus berusaha mengingatkan dia agar ingat denganmu, bukan malah menangis. Disini ada kita semua, kita juga akan berusaha membuat ingat nya kembali jadi kau tidak perlu khawatir. Yang terpenting Keken sudah ketemu itu sudah cukup. " Fafa
" Menangis tidak menyelesaikan masalah. " sambungnya lagi
" Kau itu tidak peka dengan ibu hamil, bukan nya dulu Hanin juga cengeng seperti itu jadi wajar jika Farah sensitif dan selalu menangis. "Kali ini Raffa membela Farah karena dulu pun Kinan sangat cengeng saat hamil Shifa.
" Iya ya mas, mba kinan juga sangat cengeng saat hamil malah masih mending Farah dia menangis karena suaminya hilang lah mba Kinan ___" Fafa
"Apa?!!! Kau membicarakanku dibelakang, berani ngomongin aku!" sembur Kinan yang baru saja datang dengan Shifa, ia mendengar namanya disebut.
"Gawat! Mak lampir versi muda udah ngamuk. Kabur ah daripada kena semburan gunung kembar, eh maksudku gunung berapi." Fafa dengan cepat menggendong Raya dan pergi dari tempat itu.
"Shifa nangis nyariin ayah." Kinan memberikan anaknya pada Raffa.
"Kamu yang nangis nyariin ayah atau bunda yang kangen ayah."
Kinan menggulum senyum, memang benar ia tidak bisa jauh dari suaminya. Entah mengapa ia selalu jatuh cinta pada suaminya lalu Kinan bergelayut di samping Raffa. "Aku yang kangen." bisiknya.
Raffa hanya menggulum senyum, melihat Kinan yang selalu ingin dimanja.
" Kalau aku melihat kalian seperti ini, aku jadi iri." ucap Farah sembari menghabiskan makanan nya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Kinan melihat Farah yang menekuk wajahnya dan pergi ke arah lift.
"Tidur, mana tahu ini hanya mimpi dan Keken bisa ingat denganku esok hari."