Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 169 (Kesempatan kedua)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Farah masih saja menangisi keadaan suaminya, ia ingin menjaga Keken dan merawatnya namun papih tidak mengijinkan nya.


" A....aku....tidak mau pisah sama Keken, huhuhu... " Farah masih saja menangis terisak hingga dadanya naik turun dan sakit, mau tak mau Dini harus menenangkannya.


"Iya, sudah tidak usah menangis. Ingat kamu harus tenang, anakmu akan sedih jika melihat ibunya menangis terus seperti ini."


"Besok kamu ke rumah sakit lagi, bawa keperluan Keken. Aku yakin dia akan mencarimu saat bangun nanti. Dan sekarang kita harus istirahat, besok harus lebih semangat menjaga Keken."


"Kau benar, aku harus kesana lagi, Keken pasti menungguku."


Mereka masuk ke dalam kontrakan masing-masing, namun Farah tidak bisa menutup matanya, bayang - bayang saat Keken kritis membuatnya menggila. Ia tidak ingin kehilangan pria itu, pria yang selalu membuat dirinya kesal sekaligus membuatnya nyaman saat berada disisinya.


"Keken, aku mencintaimu... "lirih Farah sembari meneteskan airmata. Hatinya terbuka saat pria itu hampir saja tiada. Farah begitu ketakutan saat wajah Keken bengkak, hatinya begitu remuk saat Keken sesak nafas bahkan tidak bisa bersuara, pria itu hanya bisa meneteskan airmatanya sembari menahan sakit.


" Semuanya gara-gara aku, Keken hampir saja tiada, huhuhu..." Farah kembali menyalahkan dirinya sendiri. Dan hingga pagi hari ia tidak tidur, hanya menangis dan menangisi suaminya.


***


Rumah sakit,


"Kau begitu kasar terhadap Farah, sayang." Imelda kini berada di kamar rawat putranya, setelah keadaan Keken membaik ia dipindahkan ke rawat inap.


"Aku melakukan ini semua demi putraku." Feri melihat wajah putra kesayangannya. Keken bertambah kurus dan kurang terawat. Setiap hari ia mendapatkan laporan dari pengawalnya dan tetap berdiam diri namun tidak untuk masalah kali ini.


" Bukankah sejak di rumah aku sudah bilang, jaga emosimu karena Farah sedang mengandung cucu kita dan aku tahu gadis itu sudah mencintai Keken namun dia tidak bisa mengungkapkan nya."


"Cih! Kau itu selalu membelanya."


" Sudahlah jangan membahas dia lagi, aku yakin besok Farah pasti akan datang kemari." Imelda


" Jangan biarkan dia bertemu anak kita lagi!" Feri


"Sayang, kita tidak boleh melakukan itu pada Farah, dia masih sah istri Keken dan kau juga tahu anak kita yang bo doh ini cinta mati dengan gadis itu."


"Aku ingin memberi pelajaran pada menantu kita tapi tidak bisa karena si brengs*k ini pasti akan menanyakan keberadaan istrinya." Feri hanya bisa menghela nafas panjangnya. Keken benar-benar tidak bisa jauh dari istrinya.


Dan benar saja pagihari Keken membuka matanya, ia mendapati kedua orangtua nya sedang tertidur. Papih ada di sofa sedangkan mommy disisinya.


" Kau sudah bangun? " Imelda melihat anaknya membuka mata namun ia seolah mencari seseorang.


" Farah mana mih?" tanyanya


"Cih! Baru bangun langsung nyariin bini." Kali ini Feri yang menjawab, tidurnya tidak bisa nyenyak karena di sofa. Badannya terasa sakit dan pegal. "Dia pulang ke rumah, sudahlah jangan mencarinya karena Papih tidak mau kamu celaka lagi."


"Pih, ini semua bukan salah Farah. Keken yang masuk ke dapur dan makan cemilan dia pih." belanya

__ADS_1


"Tapi dia teledor, andai saja dia tidak menaruh seafood itu kamu tidak akan memakan nya." Feri


"Pih, jangan salahkan Farah. Keken yang salah." ia masih membela istrinya, semua kejadian ini memang karena dirinya yang langsung makan tanpa melihat isinya.


"Kau itu selalu membelanya!" Feri


"Sudahlah, ini masih pagi kalian jangan bertengkar." pinta Imelda.


"Ken, apa ada yang sakit?" tanyanya pada sang anak


" Keken udah baikan mih, tidak seperti tadi malam rasanya hampir mati dada Keken sakit sekali."


"Bengkaknya mulai mengecil, tadi malam kau seperti monster." Imelda melihat perubahan yang signifikan di wajah anaknya yang sudah bisa dikenali. Obat yang diberikan dokter begitu paten dan Keken mulai membaik.


"Alhamdulillah mih,semuanya baik-baik saja, bercak dan kemerahan di tubuh Keken juga berkurang." Ia melihat kulitnya yang mulai normal seperti sedia kala. Infus yang diberikan dokter memberinya sedikit tenaga,rasa lemas nya mulai menghilang.


"Dan ini semua karena istrimu, dia membuatmu seperti ini. Papih tidak suka dengan nya. Lebih baik kamu cari wanita lain, ceraikan dia!"


"Papih!" seru Keken, "Dia istriku pih, sampai kapanpun dia istri Keken tidak ada yang lain!"


"Kau itu keras kepala, sudah diselingkuhi, dimaki, dihina masih saja mencintainya. Kamu laki-laki Keken!" Feri terlihat marah. Aura ketegangan kembali muncul, Feri yang biasanya membela Keken kini beralih menentang hubungan mereka.


"Pih, Farah sudah berubah dan aku bisa melihat itu. Dia cinta aku pih, dia sudah bilang cinta padaku dan selama ini dia tidak bertemu lagi dengan mantan nya pih."


"Benarkah dia bilang cinta padamu?" kali ini pertanyaan dari Imelda


"Itu hanya akal-akalan saja agar dia tidak disalahkan. Papih rasa dia masih menginginkan mantan nya.


" Tidak pih! Farah bukan gadis seperti itu. Dia wanita apa adanya dan Farah sudah tidak mencintai pria itu, Keken yakin saat melihat sorot matanya."


"Bela saja terus!" Feri, "Sudahlah lebih baik Papih pulang daripada berdebat denganmu yang selalu membela wanita itu!" kesalnya.


Dan Farah yang sejak tadi berdiri di depan pintu dan mendengar obrolan keluarga Keken, kini hanya bisa menangis. Suaminya selalu membelanya tanpa henti." Keken, kau benar-benar baik padaku. " gumamnya dalam hati. Ia mengusap airmatanya sebelum masuk ke rawat inap. " Aku bahagia memiliki suami sepertimu." lirih Farah.


Farah membuka pintu dan melihat tiga orang yang menatapnya dengan ekspresi berbeda. Papih yang diam dan membuang wajahnya, Keken yang tersenyum dan mommy yang terlihat dingin, seperti biasa selalu tidak bisa ditebak.


"Keken..." Farah mendekati suaminya sembari memeluknya dengan erat lalu beberapa kali ia menciumi wajah Keken, tak peduli saat ini kedua orangtua pria itu melihatnya, Farah hanya ingin melakukan apa yang ingin dilakukannya. Keken sempat terkesiap ia tidak pernah melihat istrinya senekat ini apalagi ada kedua orang tuanya, Keken hanya menggulum senyum, ini seperti anugerah indah yang Tuhan berikan padanya, do'a yang selama ini dipanjatkan sudah dikabulkan oleh sang Maha Pencipta.


Farah masih menangis dan meraung, menumpahkan segala perasaan bersalahnya. Ia bahkan terisak hingga dadanya naik turun. "Ma... maafkan a.. aku..." ucapnya dengan menyesal, dan dadanya terlihat bergetar.


"Ini bukan salah kamu." Keken membelai rambut istrinya.


"Ini semua salah aku, huhuhu..." Farah masih selalu menangisi suaminya


" Sudah Far, ini bukan salahmu dan lihat sekarang Keken baik-baik saja." Imelda mencoba menenangkan menantunya yang masih saja menangis.

__ADS_1


"Maafkan Farah mih, beri aku kesempatan untuk menjaga Keken dan menjadi istri yang baik untuk Keken." pintanya sembari memegang tangan mertuanya. Ia memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah ia buat terhadap Keken.


"Mommy sudah memaafkan kamu, pernikahan yang menjalani kalian. Kalau kalian masih sama-sama cinta mommy bisa apa." ucapnya.


"Terima kasih mih." Farah, ia pun kini melirik pria paruh baya, ayah dari Keken. Farah mendekati Feri seraya memegang tangan nya.


"Papih, maafkan aku. Aku memang banyak salah sama Keken, aku selalu memaki dan menghinanya, tapi aku sekarang tidak ada hubungan dengan mantan aku pih, sungguh. Aku hanya mencintai Keken, cuma Keken pih."


Namun Feri hanya diam membisu tanpa melihat kearah wajah menantunya yang masih menangis.


" Pih, aku mohon maaf atas segala kesalahanku dengan anak Papih. Dan mohon beri aku kesempatan untuk menjadi istri yang baik, membina rumah tangga yang baik bersama Keken. Farah mohon, beri aku kesempatan pih." Farah kian menangis meminta belas kasihan mertuanya.


Feri sebagai orangtua pun ingin melihat anaknya hidup bahagia dan berumah tangga seperti yang lainnya. Ia pun tidak tega melihat Farah yang menangis terus,ia luluh.


" Baiklah, papih akan memaafkanmu dan memberimu satu kesempatan.Papih pun tidak bisa memisahkan kalian karena si br*ngsek itu masih saja mencintaimu. Semoga kalian selalu bahagia. " Feri melirik anaknya yang hanya mengulas senyum.


"Terima kasih pih." Farah begitu bahagia saat mertuanya memberikan maaf untuknya dan memberinya kesempatan untuk bisa bersama Keken lagi. Farah tanpa sadar memeluk mertua laki-lakinya dan itu disaksikan oleh Imelda dan Keken.


"Ehem... Ehem..." Keken berdehem. " Pelukannya sebentar saja jangan kelamaan nanti papih ketagihan." sindir nya.


"Dasar anak sinting!" umpat Feri, " Kau menganggu saja. Ini lumayan empuk, pantas saja kau betah." kelakarnya. Dan Farah segera mengurai pelukan nya dan kembali ke sisi Keken.


Imelda melirik suaminya dengan tajam. " Cari-cari kesempatan dalam kesempitan dengan menantu sendiri. "ia mencubit pinggang suaminya.


" Bukan aku yang memeluknya sayang, kau itu cemburuan sekali. "Feri.


Akhirnya mereka pulang dan Farah menjaga suaminya.


" Lepaskan, aku bisa sesak nafas. "pinta Keken. Sejak orangtuanya pamit pulang, Farah selalu memeluknya.


" Aku takut kehilanganmu. "lirih Farah, matanya masih selalu berkaca-kaca ingin menangis lagi.


" Takut jadi janda sebelum melahirkan. "Keken menggulum senyum, ia teringat kata-kata Farah saat di mobil.


" Ishhh, itu karena aku panik dan agar kau selalu membuka matamu. Aku sangat takut jika kau menutup mata, aku benar-benar takut kau pergi, Ken. "Farah mengurai pelukannya.


" Terima kasih karena sudah mencintaiku. "Keken mengecup lembut bibir istrinya.


" Bukan kamu yang seharusnya berterima kasih tapi aku. "Kini Farah yang mencium lembut bibir suaminya.


" Terima kasih karena kamu selalu mencintaiku walaupun aku selalu memaki dan menghinamu. " Farah kembali meneteskan airmata, sejak semalam tidak pernah berhenti dia selalu menangisi Keken.


" Jangan menangis lagi, kamu tambah jelek." Keken melihat wajah istrinya yang menyedihkan, matanya begitu bengkak karena menangis.


" Aku memang jelek dan bo dohnya lagi suamiku selalu menerimaku apa adanya." Farah kini bisa tersenyum dan kembali memeluk Keken, selalu memeluknya seolah tidak mau dipisahkan. Lalu mereka saling memandang hingga kembali berciuman yang awalnya lembut kini menuntut.

__ADS_1


Tanpa disadari, pintunya dibuka oleh seorang wanita.


" Ya ampun, kalian sedang ___" Wanita itu terkejut sembari menutup mulutnya.


__ADS_2