Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 174


__ADS_3

Kini saatnya Keken bertugas ke Malang dan Bali, ia harus pergi meninggalkan Farah untuk sementara waktu.


" Setelah urusan pekerjaan selesai langsung pulang, aku tidak mau ditinggal terlalu lama." Farah selalu merajuk bahkan beberapa hari ini selalu cengeng saat tahu Keken akan pergi ke luar kota.


" Lebih baik kamu tinggal di mansion daripada disini sendirian."


" Ke mansion nanti saja, disini juga ada Dini dan pengawal. Jika aku butuh sesuatu pasti aku telepon mommy Imelda."


"Tapi kan tidak mungkin Dini akan menginap disini setiap malam apalagi gadis itu sedang kuliah." Beberapa hari ini memang Dini sangat sibuk ke perguruan tinggi. Ia ingin kuliah sambil kerja.


"Kan ada teh Cucu dan Malika,aku masih ingin disini, Ken." pintanya


"Ya sudah terserah kamu saja. Nanti jika kau ingin ke mansion mommy bilang saja dengan pengawal."


"Iya, iya aku tahu." Farah memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, besok pagi Keken harus ke bandara.


"Apalagi yang harus disiapkan?" tanyanya


" Ini." Keken mendekat sembari menuntun tangan Farah kearah si Kenzi.


"Kau itu ada - ada saja." Farah menggulum senyum, Keken benar-benar me sum


"Ini juga penting, Kenzi harus puasa selama sebulan jadi dia harus kenyang terlebih dahulu. Memangnya kamu mau disana Kenzi buka puasa."


Farah mendelik sembari meremas Kenzi yang sedang tidur. " Berani buka puasa disana akan ku sunat dua kali!" ancam nya. Keken tergelak tawa mendengar ancaman istrinya.


" Mau aku bikin koya soto Lamongan atau ku bikin sate Madura! "ancam nya lagi. Keken tergelak tawa lagi.


" Sadis sekali istriku ini. " gumam Keken


Namun beberapa saat kemudian Farah kembali menangis tanpa sebab, seolah tidak mengijinkan Keken untuk pergi.


" Telepon aku setiap saat, aku tidak mau kamu melupakan aku dan anakmu ini."


"Jangan terlalu lama pergi atau aku akan datang kesana."


"Jangan berdekatan dengan wanita lain karena aku tidak suka!"


Farah kian posesif dan Keken mengerti perasaan nya yang sedang sedih karena dirinya akan pergi.


"Kamu tenanglah, aku pasti baik-baik saja."


Dan mereka melakukan hal itu untuk yang terakhir kalinya sebelum Keken pergi. Malam panas yang dilakukan berkali-kali hingga mereka lupa dengan waktu.


* **

__ADS_1


" Tidak perlu mengantarku ke bandara." ucap Keken pada istrinya, Farah begitu kekeh ingin mengantarkan suaminya.


"Tapi aku___"


"Tidak perlu sayang, lebih baik kamu beristirahat." Keken mendorong koper ke depan rumah dan meminta pengawal membawakannya ke dalam mobil.


"Jaga kesehatan dan anak kita." ucapnya sembari mencium kening Farah. Dan tak lupa Keken mencium perut istrinya yang membesar. " Papah pergi dulu ya Nak. Jagain mama."


"Ken, Keken,huhuhu...." Farah selalu memeluk suaminya seolah tidak ingin ditinggal.


"Kalau kamu kangen, pergilah ke Malang dihari minggu. Kita bisa jalan - jalan kesana."


"Memangnya boleh." Farah menyusut air mata nya


"Tentu saja boleh, tapi tidak sekarang karena aku akan sangat sibuk."


Farah mencium takzim tangan suaminya dan melepaskannya pergi. " Aku pasti merindukanmu."


Setelah Keken pergi Farah kembali tidur, ia masih mengantuk karena aktivitas nya semalam bersama suaminya.


Beberapa kali Imelda menelepon Farah dan menginginkan menantu nya agar tinggal di mansion. Namun Farah menolak karena ia masih ingin berada di kontrakan nya untuk sementara waktu. Mau tak mau Imelda mengalah.


Malang


Keken kembali ke kota ini untuk mengurus bisnis. Dulu ia pergi karena ibunya tidak ingin ia menganggu hubungan Farah dan tunangannya, namun sekarang Keken pergi demi keluarganya. Demi anak dan istrinya.


"Kenapa matamu sembab seperti itu?"


"Farah nangisin lu, Ken." sahut Dini dari belakang, ternyata istrinya sedang makan bareng dengan gadis itu.


"Ini kalau tidak dipaksa makan ya tidak mau makan." sambungnya lagi sembari menyuapi wanita hamil itu.


"Wah, kau seperti baby sitter istriku Din."


"Iya, aku memang baby sitter istrimu maka gajilah aku setiap bulan nya." Dini


"Enak saja minta gaji tiap bulan sama Keken, dia suamiku masa uang bulananku dibagi dua denganmu!"protes Farah. Untuk urusan uang ia pun tidak mau berbagi dengan wanita lain apalagi dipangkas limapuluh persen.


" Anggap saja aku kerja denganmu, kasihan diriku yang membutuhkan banyak uang untuk kuliah. " Dini menunjukan wajah memelasnya.


" Cuma nyuapin doang minta gaji, tekor bandar ini." Farah hanya menggerucutkan bibirnya.


"Aku kangen kamu." ucap Farah lagi


"Aku juga, sangat kangen."

__ADS_1


"Kapan pulang?" tanya Farah. Keken hanya tergelak tawa, bagaimana bisa istrinya menanyakan kapan dia pulang sedangkan sore tadi baru sampai di Malang.


"Tahun depan." Keken


"Ih, awas saja kalau kamu tidak pulang. Aku akan menikah lagi dengan pria lain!" Farah, entah kenapa beberapa hari ini Farah tidak bisa diajak bercanda.


"Dih, mau kawin lagi sama pria lain. Emang ada pria yang mau dengan wanita hamil. Kalau pun kau sudah melahirkan, memang ada yang mau dengan wanita yang sudah turun mesin." ejek Dini. Mulutnya mulai pedas untuk di dengar. Namun, Keken tergelak tawa setelah mendengar ucapan gadis itu.


" Kau benar Din, setelah melahirkan tubuh Farah akan kian bengkak dan tidak terawat. "Keken


" Kalian memang komplotan dan aku sendirian. " pundung Farah


" Besok ada pasar malam disini, aku dan Dini akan kesana,boleh ya? "Farah meminta ijin pada Keken


" Minta dianter pengawal ya. "


" Tidak perlu, cuma dideket sini kok. "


" Iya tapi itu tetap saja berbahaya sayang. Ya sudah nanti aku bilang Khaffi untuk menjagamu. "Keken


" Kalau ada pria itu aku yang tidak akan ikut, malas aku ketemu dia. "sahut Dini. Ia sudah tidak mau berurusan dengan teman Keken yang satu itu.


" Jangan gitu dong, kalau kamu tidak ikut yang ada istriku jalan sama Khaffi. Yang ada si brengs*k itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Mana boleh seperti itu! " larang Keken


Dini menatap malas.


" Hei, Din. Kau dengar tidak! "seru Keken di depan layar." Nanti aku beri uang jajan untukmu. "


Mendengar kata uang jajan Dini begitu sumringah, lumayan untuk tambahan bayar kuliah." Aku butuh jutaan bukan recehan. "


" Kau ingin memeras suamiku! "Farah mendelik pada sahabat nya.


" Pumpung pangeran Modosa nawarin duit jajan, sekarang kan duit dia banyak boleh lah berbagi denganku. "Dini mengulas senyum.


" Nggak apa-apa yang, untuk kaum dhuafa kita harus bersedekah. "Keken


" Sialan lu! "umpat Dini." Gue bukan dhuafa tapi fakir miskin jadi berikan aku uang jajan yang banyak. "


" Oke nanti aku transfer,kau tidak perlu khawatir. Tolong jaga Farah ya. "


" Oke pangeran Modosa, semua akan aman terkendali jika transferanmu lancar, hihihi. "Dini tergelak tawa.


" Dasar mata duitan! "umpat Farah


" Hidup harus realistis dan aku memang matre"

__ADS_1


Akhirnya Dini memberikan ponselnya ke Farah dan wanita itu mengobrol dengan suaminya hingga tak terasa waktu mulai malam.


__ADS_2