
Farah
Tubuhnya terasa remuk redam, entah berapa lama ia tertidur pulas.Namun dia terkejut saat mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi.
Ia meringis kesakitan di bagian inti saat akan bangkit dari tempat tidurnya. Terasa perih dan sakit luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Brengs*k!!!" satu kata yang keluar dari bibir Farah saat dia memahami situasi yang kini terjadi. Ia terduduk di kepala ranjang dan mengumpati sang pria yang telah merusak kesuciannya. Menangis tersedu-sedu karena ia merasa kotor dan sekelebat berpikir apa yang akan ia katakan pada calon suaminya jika dia tahu bahwa ternyata ia tidak virgin.
Saat terisak ia melihat sebuah pesan surat yang Keken tulis.
"Aku pergi dulu, ada yang harus aku lakukan. Telepon aku jika kau ingin pulang. Maaf, aku melakukan itu padamu. Aku akan bertanggung jawab."
Farah merobek kertas itu dan mengumpat keras. Ia tidak menyangka kedatangannya ke Bogor kini membawa petaka yang lebih besar untuknya. Pikirannya kini bertambah kacau, mahkota yang selama ini ia jaga kini terenggut tanpa sepengetahuannya.
Dan ia tak habis pikir dengan bentuk tubuhnya saat bercermin,begitu banyak jejak kepemilikan yang ditinggalkan pria itu di sekujur tubuhnya, ia hanya bisa menangis histeris dibawah kucuran shower.
"Keken, si*lan!!!" teriak Farah dengan histeris
~Keken ~
Ia pergi setelah meny*tubuhi Farah sebanyak dua kali dan dengan cepat ia pergi dari hotel itu karena pengawal sang mommy akan datang menemukan nya.
Saat itu Keken menonaktifkan ponsel agar para pengawal tidak tidak bisa melacak dimana dirinya berada. Namun setelah kejadian itu ia mengaktifkan ponselnya dan terlihat beberapa kali Fafa menelepon nya, bahkan dia mengirimkan beberapa pesan.
"Ken, lu dimana? Ratu Modosa nyariin lu?!"
"Ken, ada rapat penting sore ini. Cepatlah pulang."
"Lu pulang sekarang atau gue bakar mobil lu!!!"
"Brengs*k!!! Lu dimana?!!!
" Woi bangs*t!! Ratu Medusa sudah tahu lu dimana, cepat pulang! "
Pesan bernada umpatan dari Fafa tidak ia pedulikan, bahkan dia sudah siap jika Mommy nya menghukumnya kali ini. Pikiran Keken hanya terfokus pada Farah, gadis yang baru saja ia nodai.
"Maafkan aku." lirih Keken
" Hanya ini yang bisa aku lakukan agar bisa memilikimu, maafkan aku." berkali-kali Keken bermonolog dan meminta maaf atas sikapnya yang sudah melampaui batas.
Keken meremas jari tangannya karena Farah tak kunjung menelepon. Ia dengan cepat menghubungi nomor gadis itu untuk menanyakan keadaannya.
"Seperti biasa, tidak diangkat." Keken menghela nafas panjangnya, berulang kali ia menelepon namun Farah tidak menjawab.
Ia teringat saat pertama kali menjamah gadis itu, terasa sangat nikmat dan sempit hingga sampai detik ini rasa itu masih terasa bagi Keken. Ia tidak mengira ternyata Farah begitu menjaga kehormatannya hingga Keken terbesit rasa bersalah yang begitu besar.
"Aku kira dia sudah pernah melakukannya dengan calon suaminya, ternyata aku yang pertama." Keken mengusap wajahnya dengan kasar.
~Wina ~
Kini ia terduduk di ruang tamu apartemennya sendiri sembari menundukan kepala, ia tidak menyangka beberapa orang pria berpakaian serba hitam datang secara tiba-tiba di apartemennya. Wina sempat menadahkan kepala dan menghitung, ada lima pria bertubuh kekar yang kini menginterogasinya secara langsung. Dua diantaranya menjaga pintu depan agar tidak ada satu orang pun yang menerobos ke dalam. Dan yang lain nya duduk tepat di depan nya.
"Katakan dimana tuan Kendrew, kamu pasti tahu dimana dia?" tanya salah satu pengawal itu
Wina hanya diam membisu, ia menutup mulut rapat - rapat dan berjanji tidak akan mengatakan dimana Keken berada.
"Cepat katakan!" teriak salah satu pengawal. Entah kenapa mereka bisa tahu bahwa Wina lah yang selama ini yang menjadi mata-mata Keken untuk menguntiti Farah.
"Saya tidak tahu." Ia memberanikan diri menatap pria di depannya.
__ADS_1
"Jangan bohong!, katakan atau ibumu yang akan kami sandera."
Wina menajamkan matanya, bagaimana bisa mereka mengancam atas nama ibunya. Wina hanya tersenyum, gertakan dari pria itu sebenarnya membuatnya takut namun ia mencoba untuk menutupinya dengan tersenyum. Wina bertanya - tanya apa yang membuat orangtua Keken begitu menghalangi anaknya untuk mengejar gadis itu, Wina tahu keluarga Keken bukan orang sembarangan tapi ia sangat bingung, Keken seolah tidak mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Hidupnya selalu diatur dan diawasi oleh sang mommy.
" Terkadang yang terlihat baik-baik saja ternyata menyedihkan."
" Menjadi anak tunggal sungguh tidak menyenangkan, semuanya penuh dengan tekanan dan tuntutan. Mungkin bagi sebagian orang terlihat enak terlahir di keluarga kaya, nyatanya kita harus menjadi seperti apa yang orangtua kita inginkan. Tak banyak kebebasan karena semua beban harus dipikul oleh generasi penerus dan itu aku. "
" Harapan mereka hanya aku, tidak ada yang lain. Andai saja aku memiliki kakak ataupun adik, pasti akan sangat menyenangkan karena kita akan saling berbagi tugas."
Wina teringat setiap ucapan Keken saat bersamanya hingga kini dia tersentak oleh satu teriakan.
" Katakan! Dimana tuan muda?!!"
Namun belum sempat menjawab beberapa pengawal lainnya menggeledah rumah Wina dan mendapatkan handphonenya.
" Sial!! "gumam Wina dalam hati, ia lupa menghapus pesan yang dikirim pada Keken
" Maafkan aku Ken. "lirih Wina, ia terduduk lesu setelah kepergian pengawal.Mereka sudah mendapatkan informasi dimana Keken berada. Mereka mengambil ponsel Wina agar mereka tidak saling berhubungan lagi.
~Imelda ~
Ia meremas tangannya hingga membanting beberapa barang setelah mendapatkan kabar dari pengawalnya. Wajahnya terlihat marah mendengar anaknya telah melakukan hal terlarang dengan gadis itu.
Imelda benar-benar tidak menyangka Keken bergerak cepat mengambil kesempatan disaat gadis itu tertidur pulas karena obat penenang. Usahanya untuk menjauhkan Keken dari Farah pupus sudah. Anaknya benar-benar berani melawan nya.
"Bajing*n kecil itu benar-benar nekat melakukan hal itu, ia berusaha merebutnya dengan cara apapun." Imelda menarik nafasnya dalam - dalam. Sedikit sesak nafas saat mendengar berita itu.
"Ia tidak tahu, bukan Farah yang tidak pantas untuknya tapi justru Keken yang tidak pantas bersamanya." Imelda menerawang jauh, selama ini ia menyelidiki latar belakang Farah dan ia memang tidak merestui Keken bersamanya karena anaknya sendiri gemar bermain wanita dan gadis itu memiliki trauma yang mendalam dimasa lalu tentang sosok seorang laki-laki dimana sang ayah selalu tidak peduli. Farah yang kekurangan kasih sayang seorang ayah sudah pantas mendapatkan kebahagiaan dan pria baik seperti Hilman yang setia bukan seperti anaknya yang seorang cassanova. Imelda takut anaknya akan menyakiti gadis itu mengingat betapa banyaknya wanita yang berada di sekitar Keken.
Imelda yang hidup bersama ayah Keken yang notabene mantan cassanova, hidupnya terkadang tidak berjalan dengan baik. Sifat dan watak manusia tidak bisa berubah secara langsung walaupun mereka sudah menikah dan memiliki anak. Feri yang gemar dengan wanita cantik pun terkadang masih menggoda wanita lain. Sikap dia yang ramah pun terkadang membuat wanita salah paham dan itu beberapa kali membuat mereka bertengkar hebat. Dan rasa ketidakpercayaan Imelda pada Keken begitu besar, ia takut Farah akan mengalami seperti yang dia alami dan akan sakit hati jika hidup bersama anaknya.
"Siap nyonya." balasnya diujung telepon.
Imelda hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, masalah yang dihadapi semakin rumit. Dan dia harus siap jika gadis itu membuat laporan di kantor polisi terkait pemerk*saan yang dilakukan anaknya.
Dan beberapa hari kemudian, tidak ada satupun pesan dari Farah yang ia terima. Farah seolah menghilang begitu saja. Keken tidak bisa menghubungi Farah lagi, bahkan disaat ia datang ke kontrakan Farah, ternyata gadis itu belum kembali dari Bogor. Dini yang terkenal ketus malah bertanya apa yang terjadi, kenapa Farah tidak pulang selama dua hari dan nomor ponselnya tidak aktif, Keken hanya mengedikkan bahu.
~*Dini* ~
Ia begitu kesal manakala Farah pergi selama dua hari dan tanpa kabar. Padahal saat subuh sebelum Farah pergi, ia hanya berkata akan pulang malam setelah bertemu dengan sang tante. Namun kenyataannya, ini sudah tidak bisa ditolerir. Farah menghilang.
Di tempat kerja pun Dini selalu ditanya, kapan Farah pulang, kenapa tidak aktif handphonenya, apa yang sebenarnya terjadi. Dini merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Farah yang pergi dengan masalah yang begitu rumit.
" Dia pasti baik-baik saja kan? tanyanya pada Keken saat berkunjung ke tempatnya
__ADS_1
" Dia pasti baik-baik saja, kamu tenanglah. " balas Keken
" Ini sudah malam, apa dia masih di hotel. Perasaanku tidak enak sejak dia pergi. "gumam Dini. Karena terbiasa bersama ikatan batin mereka terjalin, setiap Farah ada masalah ataupun sebaiknya mereka akan memiliki insting. Keken hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mencoba mengontrol dirinya agar tidak gugup di hadapan Dini.
" Kau bisa membantuku? aku ingin pergi mencarinya. Kita cari dia ke Bogor." Dini
"Tidak perlu! Aku sudah datang." suara wanita terdengar dari jauh dan ternyata itu Farah datang dengan wajah datar.
"Alhamdulillah, Farah kau datang. Aku mencemaskanmu, aku hampir gila saat kau tidak kembali. Aku ingin mencarimu bersama Keken."
Keken melihat wajah Farah yang begitu dingin padanya, tanpa ada senyuman bahkan melirik pun enggan.
"Aku ingin tidur, aku lelah." jawab Farah,
" Farah, tunggu sebentar." Keken menahan lengan Farah agar tidak masuk ke dalam rumah
"Jangan sentuh aku!!!!!" teriaknya dengan keras, matanya memerah menahan amarah yang selama beberapa hari ini ia pendam. Melihat wajah pria yang merenggut kehormatannya membuat Farah murka, tak bisa dibayangkan saat pria ini menikmati tubuhnya.
" Aku tidak mau bertemu denganmu lagi, jangan pernah muncul dihadapanku. Aku benci kamu, Ken!!!" ucap Farah sembari masuk ke dalam rumah dengan membanting pintunya dengan kasar.
Dini terkejut dan hanya bisa melolong melihat perubahan sikap Farah yang baru pulang dari Bogor, tidak pernah ia sekalipun melihat Farah sekasar ini. Dan hatinya mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau ada masalah dengannya? Farah tidak pernah membanting pintu seperti ini sebelumnya."
"Ti.. tidak ada apa-apa, mungkin dia sedang lelah. Aku permisi dulu." pamit Keken dengan gugup
"Tunggu sebentar!" seru Dini, " Aku tidak peduli kamu orang kaya ataupun konglomerat. Tapi satu hal yang pasti jika kau berbuat sesuatu pada temanku akan kupastikan kau akan menyesali perbuatanmu. Kau akan berhadapan denganku dan Vania." ancamnya
Keken hanya terdiam dan berlalu begitu saja, ia tidak pernah khawatir dengan ancaman Dini. Yang Keken khawatirkan adalah kondisi Farah saat ini yang tidak mau melihat wajahnya bahkan begitu dingin terhadapnya.
__ADS_1
" Apa yang harus aku lakukan, sedangkan esok hari aku harus pergi ke Malang. Farah tidak mau memaafkanku. " Keken menghembuskan nafas panjangnya kembali. Ia pulang dengan pikiran yang rumit karena gadis itu marah dengan nya.